Terjebak Dalam Ambigu

Terjebak Dalam Ambigu
Secarik Surat


__ADS_3

Pintu rumah Devan terkunci, aku sudah mengetuknya berulang kali tetapi belum juga ada yang membukanya. Mungkin saja Devan dan emak pergi ke rumah sakit karena gigi Devan lagi kambuh. Aku berjalan, duduk di kursi teras rumah itu sembari menunggunya.


Aku menatap jam di pergelangan tanganku. Sudah beberapa menit aku menunggu tetapi tidak ada tanda-tanda Devan, emak atau daddy yang akan menghampiriku di sini.


"Namamu Adel?" tanya seorang pria paruh baya yang tidak aku ketahui siapa dia.


"Ada apa ya, Pak?" Aku berdiri. Tidak sopan bagiku berbicara dengan seseorang yang lebih tua di saat aku sedang duduk dan dia berdiri.


"Aku pemilik rumah ini, tetapi aku mengenal Devan, dia anak yang benar-benar baik. Dia menitipkan kepadaku sebuah kotak, katanya aku harus memberikannya kepada seorang gadis yang akan duduk di kursi itu, entah itu hari ini atau besok," ucapnya sembali memperlihatkan kotak kecil itu dan memberikannya padaku.


"Apa isi kotak itu? Dan dimana Devan?" tanyaku.


"Pertanyaanmu akan terjawab saat kau membuka kotak itu. Kalau begitu aku pergi dulu, ada hal yang harus aku kerjakan di rumahku," pamit pria paru baya itu.


"Terima kasih, Pak," teriakku saat dia sudah ada di gerbang. Dia kemudian mengacungkan jempolnya ke arahku.


Aku membuka kotak berukuran kisaran 10x15 dengan tinggi 5 cm, di bungkus dengan kertas kado berwarna merah muda dan di ikat dengan pita merah.


Aku melihat gantungan kunci waktu pertama kali melihatnya, gantungan itu berbentuk beruang kecil berwarna merah muda yang sedang tersenyum.


Kemudian aku menemukan beberapa lembar foto kami berdua, bahkan foto yang tadi malampun ada di antara lembaran foto tersebut.


Dan yang terakhir aku menemukan sepucuk surat. Surat yang aku kenal dari tulisannya adalah tulisan tangan Devan yang dia tulis dengan serapi mungkin dan juga kalimatnya yang begitu panjang. Aku kembali duduk ke kursi tersebut dan mulai membaca tulisan dalam surat itu.

__ADS_1


Hai Pricilia Adel, kau pasti sedang duduk dengan terheran-heran saat membaca surat ini, kan? Tenang saja, surat ini akan menjawab pertanyaanmu tentang apa tujuan aku menulis surat ini dan dimana aku sekarang.


"Apasih, kalimatmu alay tau nggak," aku bersenandika, membayangkan Devan ada di hadapanku. Tetapi kalimat pembukanya itu benar-benar mewakili keadaanku saat ini.


Okey, aku mulai dari mana yah? Dari bagaimana aku mengenalmu? Aku ingin mengunkit itu lagi, mungkin kau lupa bagaimana kau tersipu-sipu malu saat aku mengajakmu berkenalan. Oh ya? Kau belum tahu bukan?, kenapa aku memilih untuk mengajakmu berkenalan di banding dengan anak-anak yang lebih cantik waktu kita tk dulu? Kau penasarankan? Itu karena kamu adalah satu-satunya orang yang menangis waktu orang tuamu pamit untuk pulang setelah mengantarmu ke sekolah. Jangan tanya padaku kenapa aku tertarik untuk mendekati gadis cengeng sepertimu.


"Kau benar-benar aneh, Devan. Jujur saja, setiap tingkahmu terkadang aku tidak bisa menebaknya. Bahkan kau juga aneh karena mengirim surat ini padahal kau bisa bicara langsung."


Aku senang sekali bisa menjadi temanmu di TK itu. Satu tahun menghabiskan waktuku denganmu benar-benar menyenangkan. Aku pun berencana mengambil SD yang sama denganmu. Syukurlah, kita masih menghabiskan waktu kita bersama di SD selama 6 tahun.


"Kau tahu, Devan, aku juga bahagia kau mengajakku berkenalan waktu itu di TK, menjadi temanmu, menjadi sahabatmu. Aku masih ingat saat kau waktu itu mengajakku untuk menjadi sahabatmu saat aku sedang menangis karena masalah nilai."


Kelas 6 SD, aku ingat saat aku belajar mati-matian agar bisa masuk ke SMP favorit bersamamu. Seseorang yang paling bodoh di kelas punya mimpi untuk masuk di SMP paling ternama di kota ini? Tetapi rasa lelahku tergantikan saat melihatmu tersenyum. Tersenyum karena mendapatkan namaku di papan nama yang waktu penerimaan mahasiswa baru, walau namaku berada di urutan terakhir sedangkan namamu masuk ke dalam urutan 10 besar.


Aku tersenyum, menatap tulisan itu. Pikiranku kembali melayang ke masa lalu, saat aku sama Devan benar-benar menunggu pengumuman itu, berharap nama Devan tercantum di sana. Aku bahkan sempat berpikir akan mengikuti Devan di mana dia sekolah jika saja dia tidak di terima waktu itu.


"Dan kau berhasil mewujudkan mimpimu itu sehingga 2 tahun kami sekelas," kekehku. Aku masih belum mengerti maksud dan tujuan Devan menulis surat ini, tetapi surat ini benar-benar membuatku flashback.


Satu hal yang tak bisa aku lupakan di masa SMPku itu saat kau mengajakku untuk menemui orang tuamu pertama kali. Rasanya benar-benar deg-degan tetapi kau mengatakan semua akan baik-baik saja. Kau benar, ayah dan bunda benar-benar baik. Aku sangat berterima kasih denganmu karena telah memperkenalkan mereka. Aku bahkan menganggap mereka seperti orang tuaku


"Bahkan ayah dan bunda bersyukur bisa mengenalmu, Devan."


*Sa*at pertama kali masuk SMA, sebuah kebetulan karena kita kembali sekelas, tetapi waktu naik ke kelas dua aku bahagia bisa di tempatkan di kelas khusus tetapi sedih karena tidak sekelas denganmu lagi walaupun begitu bukankah aku selalu menyempatkan di jam istirahat untuk pergi ke kelasmu?

__ADS_1


Aku menatap jam di tanganku, sudah 1 jam sejak aku berada di tempat ini. Tinggal beberapa peragraf lagi yang harus aku baca untuk menjawab dua pertanyaanku.


Aku sebenarnya tidak tahu merangkai kata, bahkan aku menulis kisah 11 bulan itu hanya dalam 7 peragraf. Aku bahkan tidak mengerti untuk apa aku menuliskannya? Mungkin saja agar kamu tidak melupakanku suatu saat nanti.


"Hai, Devan. Setiap hari kita bertemu di sekolah, setiap hari aku melihat wajahmu yang nyebelin itu. Bagaimana mungkin aku akan melupakanmu?" kekehku.


Okey, pada akhirnya aku benci menulis peragraf-peragraf terakhir ini, Dellong. Tetapi mau bagaimana lagi, aku harus memberitahumu, bukan? Baiklah, hirup nafasmu dulu dalam-dalam kemudian hembuskan secara perlahan.


Aku melakukan seperti apa yang Devan suruh dalam surat itu walau aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Bagaimana aku mengatakannya? Sebelumnya, aku benar-benar minta maaf. Saat kau membaca ini , aku sudah tidak ada lagi di sekitarmu, sudah tidak ada lagi di kota di mana tempat kita tumbuh, mungkin aku masih dalam perjalanan atau mungkin, sudah sampai di negara tujuanku.


Aku membaca kalimat itu berulang-ulang, mencoba memahaminya, dan saat aku memahaminya, mataku memanas, mengembun, lalu menjatuhkan bulir bening. Aku menangis.


*Aku tidak tahu bagaimana ini terjadi, semuanya benar-benar terjadi begitu cepat ,Dellong. Malam hari, sejak daddy menerima telepon bahwa nenek sakit, saat itu juga aku tahu apa yang akan daddy lakukan. Sebenarnya Daddy akan berangkat malam itu juga tetapi aku memohon, meminta waktu agar berangkat besok malam. Aku bersyukur, Daddy menerima permintaanku. Satu hari yang daddy izinkan padaku aku habiskan bersamamu, memenuhi setiap permintaanmu dan menjadikannya sebagai saat-saat bahagia dalam hidupku.


Kemarin adalah saat terakhirku melihatmu di sekolah, Dellong. Dan malam harinya, di taman itu, aku berencana untuk mengatakan padamu tentang ini, tetapi aku terlalu pengecut, aku takut melihat air matamu tumpah di hadapanku. Aku tidak kuat untuk itu. Saat melihat senyumanmu, melihat betapa cerianya kau, aku tidak tahu apa yang terjadi dalam otak dan juga hatiku.


Aku sebenarnya tidak sanggup menyalami tangan ayah dan bunda saat mengingat jadwal penerbanganku 2 jam lagi. Dan pada akhirnya, air mataku tumpah saat aku mendekapmu, Pricilia Adel*.


Aku membalik kertas itu, berharap ada sambungannya. Tetapi namaku di surat itu, mengakhirnya. Air mata tak henti-hentinya mengalir membasahi pipiku.


"Kau jahat, Devan. Akhh."

__ADS_1


Aku berlari ke jalan raya, mencari taksi, aku hanya ingin pulang ke rumah dan mengadu pada ayah dan juga bunda tentang bagaimana jahatnya Devan.


"Ini ketiga kalinya kau naik di taksiku. Dan setiap kau naik pasti selalu saja menangis."


__ADS_2