Terjebak Dalam Ambigu

Terjebak Dalam Ambigu
Dia Sahabatku


__ADS_3

Setelah membayar tagihan taksi, aku menginjakkan kakiku di Jalan Salo ini. Aku tidak tahu kenapa namanya Jalan Salo tetapi di sini ada sebuah sungai besar yang membela daerah ini menjadi dua. Jalan Salo Kanan dan jalan Salo Kiri. Di jalan Salo Kanan, rumah-rumah di sana sederhana, tempatnya bersih dan terawat, berbeda dengan Jalan Salo Kiri yang benar-benar berbanding terbalik. Rumah di sana bisa di bilang jauh dari kata layak. Daerahnya benar-benar kumuh.


"Permisi," teriakku sambil mengetuk pintu rumah Devan. Rumah itu berwarna kuning dengan pekarangan yang di penuhi bunga-bunga yang begitu subur. Emak benar-benar merawat tempat ini walaupun ini adalah rumah sewa.


Seorang wanita paruh baya yang berparas cantik membukankan pintu rumah itu untukku. "Eh? Adel? Sudah lama kau tidak ke sini lagi," sambutnya dengan senyuman hangat dan juga bersahabat. Dia mempersilahkanku untuk masuk, duduk. Seperti kebiasaannya, dia tidak pernah lupa menawarkanku segelas minuman.


"Tidak usah, Mak. Aku hanya mau bertemu dengan Devan," tolakku halus.


"Devan ada di kamarnya. Mau emak panggilkan atau kamu yang menghampirinya?"


Aku tampak berpikir sejenak. "Biar aku saja, Mak."


“Kak Adel.” Seseorang langsung saja memelukku. Untung saja aku sedang duduk, kalau tidak bisa-bisa aku terjungkal ke belakang karenanya.


“Mesya, kamu sudah gede ya sekarang?”


Mesya memperbaiki duduknya di sampingku, menatapku dengan mata berbinar-binar. Senyuman tidak berhenti terkembang di wajahnya.


“Kak Adel kenapa baru datang sekarang? Mesya sangat rindu sama Kak Adel.”


“Aku juga rindu sama Mesya.” Aku mengusap rambutnya yang berwarna hitam legam itu.


“Nanti kita bicara lagi ya, kak. Aku mau mandi dulu. Pasti bau keringat karena tadi habis latihan basket.” Dia berdiri kemudian masuk ke dalam. Aku beralih menatap emak, dia tersenyum lalu pamit untuk melanjutkan masakannya katanya sempat tertunda. Mungkin saja karena kehadiranku.


Aku beranjak dan membuka pintu kamar Devan yang tidak terkunci itu. Dia sedang berbaring di atas sofa -yang sudah mulai memperlihatkan gabus berwarna kuning- dengan konsol game di tangannya. Matanya terfokus pada TV tabung di hadapannya.


"Ada apa, Mak?" Devan tiba-tiba saja memperbaiki posisinya menjadi duduk saat mendengar suara engsel pintu kamarnya berbunyi. "Eh? Dellong." Dia tampak kaget saat melihatku.


"Boleh aku masuk?" tanyaku.


"Kamu ini, biasanya langsung main selonong saja tanpa izin dulu," sinisnya lalu melanjutkan baring dan juga gamenya itu.


Aku duduk di pinggir kasurnya, melihat ke sekeliling kamar. Aku lupa kapan terakhir kali berkunjung ke sini. Tetapi tidak ada yang berubah dari kamar ini. Poster dinding Ebiet G. Ade masih berada di sana. Ya, aku dan Devan sama-sama mengidolakan Ebiet. Sebenarnya Devan yang memperkenalkanku pada lagu-lagunya dan itu membuatku begitu tertarik.


"Ada apa? Tumben-tumbennya kau datang ke sini lagi," tanya Devan tanpa mengalihkan penglihatan dari gamenya itu.


"Memangnya tidak boleh main ke rumah sahabat sendiri?" ketusku.


"Ini sudah mau malam loh, nanti ayah cari kamu. Btw, bukannya tadi kamu mau pergi sama Kak Rega?" tanyanya.


"Tadi sudah."


"Kau pasti lagi punya masalah kan?" Devan memperbaiki posisi duduknya, menjeda gamenya dan meletakkan konsol game itu di sampingnya. Dia bersiap untuk mendengar keluh kesahku.


"Well, hanya masalah kecil. Tidak usah di permasalahkan lebih besar," lirihku pelan.


"Ya sudah kalau tak mau cerita." Dia menghela nafas kasar. "Main PS yuk," ajaknya.


"Lagi enggak mood," jawabku singkat.


"Itu terlihat jelas dari wajahmu, sih." Devan terkekeh padahal tidak ada yang lucu saat ini.


Aku menghempaskan tubuhku di kasur, menatap langit-langit kamar Devan yang berwarna putih itu. Aku ingin mengadu kepadanya tentang Kak Rega, tetapi sepertinya aku sudah tahu akan jawabannya. Aku menghembuskan nafas pelan lalu menutup mataku, mencoba berdamai dengan hati dan juga pikiranku.


×××

__ADS_1


"Delloooong." Suara teriakan itu membuatku bangun dengan kaget. Aku menatap langit-langit rumah ini sambil mengumpulkan kembali nyawaku.


"Akh, kau mengagetkanku, Gila,” umpatku. Aku bangun dan duduk bersila di atas kasur, nyawaku masih setengah terkumpul.


"Kau mau bermalam di sini?" tanyanya judes. "Gw bosan nungguin lu yang tidur sudah kayak kebo. Gw rindu sama kamar gw. Gara-gara lu, gw harus mengungsi ke depan TV," omel Devan.


Aku baru sadar, ternyata aku ketiduran di rumahnya. "Lu tidak melakukan se-sua-tu ke gw kan?" tanyaku sambil memicingkan mata, menatapnya dengan penuh kewaspadaan sembari memeluk tubuhku sendiri.


"Dellong, Dellong. Apa Devan yang masih polos dan imut ini akan melakukan itu? Kalau kau tak percaya, tanya saja sama emak, atau enggak Si Mesya. Sejak sadar kau tidur, aku keluar dari kamar, memberitahu emak kalau kau tidur, lalu emak menyelimutimu pakai selimut itu. Aku enggak pernah masuk kamarku sejak 3 jam yang lalu," celoteh Devan panjang lebar lalu mengakhirinya dengan memutar bola matanya dan melipat tangannya di depan dada.


Aku beranjak dari kasur dan merapikannya sedikit. "Aku akan pulang. Aku menunggumu di luar. Antar aku," ucapku, berjalan melewatinya.


“Tunggu, Long. Kamu tembus.”


“WHAT??!!”


Aku menoleh ke arah Devan yang saat ini sedang memperhatikan kasurnya dengan begitu teliti. “Syukurlah, kasurku masih aman,” ucapnya sembari menghentangkan tangannya di kasur -seperti memeluk- dan menyandarkan kepalanya. Dia lalu beranjak membuka lemari pakaiannya. “Pakai ini.” Dia melemparkanku sesuatu dan untung saja aku refleks menangkapnya.


“Celana?”


“Kau harus mengganti celanamu, Long.”


“Celana cargo yang panjangnya cuma selutut doang?” protesku. “Antar aku pulang saja, nanti aku gantinya di rumah.”


“NGGAK MAU. Motorku nanti ternodai,” ucapnya dengan gaya berlebihan. “Kalau kagak mau, pulang saja naik taksi.”


Aku memeriksa kantong celanaku. “Goceng doang. Mana cukup?”


“Sana, ganti celana di WC.” Devan mendorong bahuku keluar dari kamarnya. “Mesya, Dellong butuh pembalut,” teriaknya di samping telingaku.


Mesya tiba-tiba saja muncul dan memberikan ‘roti’ itu kepadaku. Aku meraihnya dan berterima kasih lalu berjalan menuju WC.


“Tapi kak, aduh.” Ucapan Mesya membuatku menoleh. Mesya saat ini sedang menatap Devan dan Devan malah menoleh ke arahku, menampilkan deretan giginya yang rapi itu. Sudahlah, pasti itu masalah keluarga.


×××


Aku membuka pintu kamar Devan dan mendapatinya sedang berbaring dengan santai di sana sembari memainkan ponselnya. Aku lalu melemparkan celana dan pembalut yang belum terbuka itu ke arahnya sehingga membuatnya tersentak kaget.


"LO NGERJAIN GW?" Teriakku.


Dia bangun lalu tertawa terbahak-bahak. "Makanya di cek dulu. Ada cermin di sana. Langsung percaya saja." Dia memegang perutnya.


"NGGAK LUCU, WOI." Aku meraih bantal Devan lalu melemparkan ke arahnya. "Gw mau pulang, antar gw."


"Galak amat, kalau minta yang baik-baik."


Aku mengabaikannya dan berjalan keluar dari kamar Devan, menemui emak yang sedang melipat baju di depan TV. Aku duduk di hadapannya, berterima kasih dan pamit pulang. Tetapi emak malah menyuruhku -lebih tepatnya memaksaku- untuk makan lebih dulu.


Aku kemudian berjalan menuju ke meja makan, mengambil sedikit nasi di piringku. Makanan yang begitu sederhana tersaji di hadapanku : sayur asam, ikan kering dan juga sambal pete. Aku mulai mencicipinya, satu suap, dua suap, tiga suap, aku sepertinya ketagihan. Dan tentu saja membuatku menambah porsi makanku 2 kali lipat dari biasanya malam ini.


“Kak Adel sudah mau pulang?” tanya Mesya yang baru saja keluar dari kamarnya.


“Aku masih makan. Mau ikutan makan juga?”


“Baru saja tadi sudah.” Mesya menarik kursi di hadapanku, menatapku yang sedang makan dan mulai berceloteh tentang banyak hal. Aku selalu suka mendengar celotehnya itu. Betapa pandainya dia bercerita seakan membawaku merasa ada di dalam ceritanya.

__ADS_1


"Dellloooong." Lagi-lagi suara itu mengganggu ketenangan jiwa dan batinku yang sedang menyimak cerita Mesya. "Aku sudah menunggumu di luar, ternyata kau asyik makan di sini.”


Aku lagi-lagi mengabaikannya lalu menghabiskan sisa makananku, sedangkan Mesya hanya diam. Air putih yang segar ini menjadi penutup makan malamku dan melengkapi kekenyanganku.


"Kenyang." Aku bersandar di kursi sambil memegang perutku. Beberapa detik kemudian, bersendawa.


"Del-long." Devan kembali mengusik ketenanganku. Aku kemudian berdiri, mengangkat piringku ke tempat cuci piring lalu mencucinya. Sepertinya emak baru saja selesai cuci piring, karena tak ada satu pun piring kotor di sini.


"Ayo pulang, Devan," ajakku. “Sampai jumpa lagi, Mesya.” Aku melambaikan tanganku ke arahnya yang juga di balas dengan lambaian tangan dan senyum manisnya.


"Ada gula-gula di lemari. Ambil dua dan makan itu. Mulutmu bau.” Pasti dia baru saja mengasah mulutnya.


Aku menghembuskan udara dari mulutku ke tanganku lalu menciumnya. Devan benar, aku butuh gula-gula itu. Setelah mengambil dan memakannya, aku kembali menemui emak, berterima kasih dan pamit untuk kedua kalinya hari ini.


×××


Aku mengetuk pintu rumahku. Jam menunjukkan pukul 9 malam pas saat ayah membuka pintu untukku. Ayah menatap wajahku dengan begitu datar dan membiarkanku masuk. Setelah aku masuk, dia kembali mengunci pintunya. Apa ayah akan marah kepadaku


"Ayah pikir kau lupa pulang," sinis ayah, menatapku tajam. Aku benar-benar merasa waswas sekarang.


"Maaf ayah, aku lupa mengabari ayah." Aku tertunduk, takut menatap wajah ayah yang mungkin saat ini sedang marah.


"Ayah tadi sangat marah tetapi tiba-tiba kamu menelepon ayah. Ayah menjawabnya dan ternyata itu Devan. Devan bilang putri ayah ketiduran dan dia tidak tega untuk membangunkanmu," jelas ayah. Aku mendongak, menatap wajah ayah yang saat ini sedang tersenyum tipis. " Kau sudah makan?"


"Masakan emak enak banget, Yah," ucapku bersemangat. "Apalagi sambal pete itu. Rasanya benar-benar enak, Ayah."


"Sambal pete? Sudah lama ayah tak memakannya. Kenapa kau tidak membungkusnya untukku?” kekeh ayah. “Besok kita minta ke bunda buat masak itu. Sekarang kamu pergilah ke kamarmu. Tidur nyenyak ya, Cil." Ayah mencium keningku sebelum aku pergi ke kamarku.


"Oh ya, Cil." Ayah menghentikan langkahku. "Tadi Rega cari kamu. Dia datang pas jam 7. Katanya dia sudah mengirim pesan kepadamu, tetapi kau belum membalasnya."


"Aku akan segera membalasnya, Ayah." jawabku lalu masuk ke dalam kamar.


Aku duduk di sofa kamarku, mencari pesan Kak Rega. Pesannya telah di baca? Aku rasa aku belum pernah membacanya. Jadi siapa yang membaca pesan Kak Rega sebelum aku? Bukankah tadi ayah bilang kalau Devan meneleponnya. Apa jangan-jangan Devan yang membacanya? Aku lalu membuka isi pesan itu.


Adel, kau salah paham


Ini tidak seperti yang kamu bayangkan


Aku hanya menangkap Yolanda


Dia tersandung dan hampir jatuh


Kami tidak berpelukan, Del


Adel


Sayang


Maaf


Aku benar-benar minta maaf karena telah menciptakan kesalahpahaman ini.


Aku meletakkan kembali ponselku. Mungkin memang benar apa yang di katakan Kak Rega. Tetapi yang aku lihat tadi, Yolanda memeluk Kak Rega. Aku tidak tahu harus percaya dengan apa yang aku baca atau apa yang aku lihat.


Tunggu, jika Devan yang membaca ini? Bagaimana tanggapannya? Tetapi tadi ekspresinya masih baik-baik saja. Huaaa.

__ADS_1


Semoga besok semua baik-baik saja.


__ADS_2