
Aku memperhatikan rumah berwarna kuning dengan pekarangan yang di penuhi bunga-bunga yang begitu subur sama seperti beberapa hari yang lalu. Aku mulai mengetuk pintu rumah itu. Beberapa menit tidak ada jawaban, aku mencoba untuk memutar knop pintunya. Terkunci. Mungkin saja Devan dan emak pergi ke rumah sakit karena sakit gigi Devan lagi kambuh. Huft, Menunggu mereka mungkin tak akan butuh waktu lama. Aku berjalan, duduk di kursi teras rumah itu sembari menunggunya.
Aku menatap jam di pergelangan tanganku. Sudah beberapa menit aku menunggu tetapi tidak ada tanda-tanda Devan, emak atau daddy yang akan menghampiriku di sini. Tetapi jika aku pulang lalu beberapa menit saat aku pulang mereka datang, waktu menungguku percuma saja ya kan?
Perhatianku teralih ke arah pagar saat melihat seorang pria paruh baya yang berjalan mendekat ke arahku. “Namamu Adel?” tanyanya saat dia sudah tepat berada kisaran 2 meter di hadapanku.
"Ada apa ya, Pak?" Aku berdiri. Tidak sopan bagiku berbicara dengan seseorang yang lebih tua di saat aku sedang duduk dan dia berdiri.
"Aku pemilik rumah ini. Aku mengenal Devan, dia anak yang benar-benar baik. Dia menitipkan kepadaku sebuah kotak, katanya aku harus memberikannya kepada seorang gadis yang akan duduk di kursi itu, entah itu hari ini atau besok. Dan untuk memastikan, dia memberitahuku namamu," ucapnya sembari memberikan kotak seukuran tempat sepatu yang sudah di bungkus dengan kertas kado berwarna merah, tidak lupa pita merah yang terikat indah di sana. Tunggu, ulang tahunku masih lama, masih ada dua bulan lagi.
"Apa isi kotak itu? Dan di mana Devan?" tanyaku.
"Pertanyaanmu akan terjawab nanti. Kalau begitu saya pergi dulu, ada hal yang harus saya kerjakan di rumah. Permisi," pamit pria paru baya itu.
"Terima kasih, Pak," teriakku saat dia sudah ada di pintu pagar. Dia kemudian mengacungkan jempolnya ke arahku sebagai balasan.
Aku kembali duduk di tempatku semula. Rasa penasaran lebih memenuhi otakku dibandingkan keinginan untuk pulang. Jadi aku putuskan untuk membukanya di sini sembari masih tetap menunggu.
Gantungan kunci menyambut penglihatanku waktu pertama kali membuka kotak itu. Gantungan beruang kecil berwarna merah muda yang sedang tersenyum. Imut. Tidak bisakah aku mendapatkan yang ukuran jumbonya?
Kemudian aku menemukan beberapa lembar foto kami berdua, bahkan foto yang tadi malam pun ada di antara lembaran foto tersebut. Ada kisaran 11 lembar, kalau di ingat-ingat memang hanya itu foto kami yang bagus di setiap momen.
Aku meletakkan kembali foto itu dan mulai mengambil buku-buku yang berada di bawahnya, memperhatikan setiap judul buku. Ternyata itu adalah bukuku yang pernah aku pinjamkan kepada Yolanda. Ah, dia mengembalikannya. Aku pikir aku tidak pernah melihat bukuku lagi. Terima kasih, Devan.
Dan yang terakhir aku menemukan sepucuk surat. Surat yang aku kenal dari tulisannya adalah tulisan tangan Devan yang dia tulis dengan begitu rapi dan juga kalimatnya yang begitu panjang.
__ADS_1
“Dasar Devan, kau bisa memberitahuku langsung tanpa melalui surat. Kayak orang jaman dulu saja pakai surat. Apa jangan-jangan kau mau menyatakan perasaanmu juga?” Aku bersenandika lantas tertawa dengan ucapanku sendiri.
Hai Pricilia Adel, kau pasti sedang duduk dengan terheran-heran saat membaca surat ini, kan? Tenang saja, surat ini akan menjawab pertanyaanmu tentang apa tujuan aku menulis surat ini dan di mana aku sekarang.
"Apa sih, kalimatmu berlebihan tahu tidak?” ucapku seraya membayangkan Devan ada di hadapanku. Tetapi kalimat pembukanya itu benar-benar mewakili keadaanku saat ini. Tetapi itu pembuka yang cukup menarik.
Kau sudah melihat gantungan kunci itu, bukan? Sangat cantik. Iya-iya, aku memang berbakat dalam memilih barang. Aku membelinya saat SMP, sudah lama sekali, sih. Tenang saja, itu masih bagus kok. Dulu aku berniat memberikannya tetapi entah kenapa aku malu. Jadi aku berikan saja sekarang dari pada menumpuk di kamarku. Kalau dibuang juga malah sayang. Harganya mahal.
Nah tentang foto itu, aku tidak yakin kau memilikinya. Jadi aku cuci saja untukmu, sebagai pengingat juga bahwa kau pernah bertemu dengan pria setampan dan semanis Devan.
Aku tersenyum geli. “Masih saja ke-PD-an, always.”
Biar aku beritahu kenapa aku mengajakmu foto semalam. Jadi begini, pas aku cuci foto itu (kemarin malamnya malam kemarin), penjaga tokonya bilang “Kak, cuci sepuluh foto bisa cuci satu foto gratis,”. Dari pada menyia-nyiakan kesempatan emas itu, aku mulai mencari foto di galeriku, tetapi enggak dapat. Jadi aku cuci foto malam kemarin, pas pulang dari rumahmu. Hitung-hitung demi sebuah bonus. Untung saja kau mau di ajak foto.
“Sifatku menular ke Devan,” celutukku, entah memuji atau malah mengutuk sifatku yang tidak tahan sama yang namanya bonus atau gratisan itu.
“Wait, saat ke sekolah wajahnya mulus. Astaga, Devan. Bahkan dalam surat pun kau masih mengejek orang lain.” Aku tertawa terbahak-bahak. Humorku anjlok hanya karena kalimat itu. Aku tidak bermaksud mengejek Yolanda, hanya saja, ah sudahlah, lupakan itu sebelum semua aib Yolanda terbongkar.
WARNING !!! PRAGRAF SELANJUTNYA MENGANDUNG SPOILER.
Sudah diperingatkan begitu, aku masih saja melanjutkan bacaanku tanpa melampaui sebaris kata pun. Walau aku benci spoiler, rasanya aneh saat melewatkan bagian itu.
Tentang buku yang tidak pernah kau baca itu. Yang katanya buku pemberian ayah, aku begitu suka dengan tokoh utamanya. Saat dia ditinggalkan oleh orang yang sangat dia sayangi, dia begitu sabar. Bahkan hari-hari yang di alaminya sangat sulit, seperti sendirian dalam dunia ini. Tidak memiliki sanak saudara, hanya sebatang kara, tetapi dia mampu untuk menjalani hidupnya.
“Eh? Ini spoiler.”
__ADS_1
Sudah aku bilang itu spoiler tetapi kau pasti tetap membaca itu kan, Dellong? Dasar, si tukang penasaran. Aku jadi tahu apa alasan takdir membuat ayahmu memberikan itu padamu. Tetap sabar dan jangan menyerah pada apa yang terjadi padamu nantinya. Semangat.
Pembicaraan Devan dalam surat ini mulai terasa aneh. Jantungku berpacu dengan cepat. Apa arti dari kalimat itu? Apa seseorang yang aku sayang juga akan pergi meninggalkanku dan aku di tuntut untuk bersabar?
Well, aku sepertinya berputar-putar pembahasan. Padahal kalau di perjelas hanya ada satu kalimat yang ingin aku beritahu padamu, Dellong. Kalimatnya mudah, tetapi terasa berat untuk mengatakannya padamu. Sangat berat, jadi biar aku merangkainya dengan kalimat-kalimat panjang.
Sebenarnya aku benci menulis paragraf-paragraf terakhir ini, Dellong. Tetapi mau bagaimana lagi, aku harus memberitahumu, bukan? Kau juga pasti telah menghabiskan banyak waktu duduk di depan rumahku. Aku bahkan yakin kau belum meminta izin pada ayah. Nanti ayah akan mencarimu jika kau lebih lama lagi di sini. Aku akan menuliskannya dari pada harus menulis paragraf-paragraf baru yang tidak penting. Baiklah, hirup nafasmu dulu dalam-dalam kemudian hembuskan secara perlahan.
Aku melakukan seperti apa yang Devan perintahkan dalam surat itu walau aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Bagaimana aku mengatakannya? Sebelumnya, aku benar-benar minta maaf. Saat kau membaca ini , aku sudah tidak ada lagi di sekitarmu, sudah tidak ada lagi di kota di mana tempat kita tumbuh, mungkin aku masih dalam perjalanan atau mungkin, sudah sampai di negara tujuanku.
Aku membaca kalimat itu berulang-ulang, mencoba memahaminya, dan saat aku memahaminya, mataku memanas, mengembun, lalu menjatuhkan bulir bening. Aku menangis. Setetes air mata membasahi kertas itu.
Aku tidak tahu bagaimana ini terjadi, semuanya benar-benar terjadi begitu cepat ,Dellong. Malam hari, sejak daddy menerima telepon bahwa nenek sakit, saat itu juga aku tahu apa yang akan daddy lakukan. Sebenarnya Daddy akan berangkat malam itu juga tetapi aku memohon, meminta waktu agar berangkat besok malam. Aku bersyukur, Daddy menerima permintaanku. Satu hari yang daddy izinkan padaku aku habiskan bersamamu, memenuhi setiap permintaanmu dan menjadikannya sebagai saat-saat bahagia dalam hidupku.
Kemarin adalah saat terakhirku melihatmu di sekolah, Dellong. Dan malam harinya, di taman itu, aku berencana untuk mengatakan padamu tentang ini, tetapi aku terlalu pengecut, aku takut melihat air matamu tumpah di hadapanku. Aku tidak kuat untuk itu. Saat mengingat senyumanmu, melihat betapa cerianya kau, aku tidak tahu apa yang terjadi dalam otak dan juga hatiku. Aku tidak ingin senyum itu memudar, apalagi jika keceriaan itu berubah menjadi suram.
Aku sebenarnya tidak sanggup menyalami tangan ayah dan bunda saat mengingat jadwal penerbanganku 1 jam lagi. Dan pada akhirnya, air mataku tumpah saat aku mendekapmu, Pricilia Adel.
Aku membalik kertas itu, berharap ada sambungannya. Tetapi namaku di surat itu, mengakhirnya. Air mata tak henti-hentinya mengalir membasahi pipiku. Bagaimana bisa aku tak melihat air mata yang dia sembunyikan malam itu?
"Kau jahat, Devan. Akh."
Aku berlari ke jalan raya, mencari taksi. Aku hanya ingin pulang ke rumah dan mengadu pada ayah dan juga bunda tentang bagaimana jahatnya Devan. Dia benar-benar pengecut yang tidak berani berbicara langsung. Dia adalah orang yang sangat-sangat jahat.
__ADS_1
"Ini ketiga kalinya kau naik di taksiku. Dan setiap kau naik pasti selalu saja menangis.”