
Aku pulang ke rumah sebentar untuk mandi. Bau badanku sudah mulai menyebar. Sebenarnya, aku tidak berniat untuk pulang, hanya saja nanti orang malah terganggu karena kehadiranku. Setelah mandi, aku kembali bersiap-siap untuk kembali lagi ke rumah sakit.
“Apa bunda sudah makan?” gumamku saat melihat jam di dinding menunjukkan pukul 7 malam. Ini biasanya adalah waktu makan malam untuk keluarga kecilku. “Pasti bunda belum makan.” Aku lalu membuat sekotak bekal untuk bunda. Bunda tidak boleh sakit, dia harus makan.
Aku kembali ke rumah sakit dengan ojol, berjalan menemui bunda di tempat sebelumnya. Tampaknya bunda terlihat begitu sedih dari tempatku berdiri. Aku mempercepat langkahku.
“Cil,” sapa bunda yang wajahnya terlihat memerah karena menangis.
“Bunda, makanlah,” ucapku duduk di sampingnya dan membuka bekal yang aku buat itu.
“Bunda rasanya tidak lapar, Cil,” tolak bunda.
“Bunda harus makan. Bukankah biasanya bunda selalu memaksaku agar aku makan?”
Bunda meraih kotak bekal itu, memakannya tiga sendok. Dia berhenti sejenak, menatapku lantas berkata, “kau juga pasti belum makan, Cil.”
Aku tidak bisa berbohong kepada bunda sehingga membuatku menggeleng pelan. Bunda lalu mulai menyuapiku. Aku tidak peduli di mana aku sekarang saat aku terlihat seperti anak kecil yang disuapi. Lagi pula lorong ini cukup sepi.
Aku menggelengkan kepalaku pelan saat tidak lagi ingin makan. Aku meraih tote bag kecil yang tadi aku letakkan di lantai dan mengambil air botol. Aku menawarkannya terlebih dahulu kepada bunda sembari memasukkan kembali kotak bekal itu ke dalam tas kecilku itu. Bunda lalu memberikanku sisa airnya.
Beberapa menit menunggu, aku berdiri, menatap dari balik kaca ruangan ayah. Ayah sedang tertidur dengan lelapnya walau selang-selang membalut tubuhnya.
Suara pintu terbuka dari dalam memperlihatkan seorang dokter yang baru saja keluar, berjalan ke arah bunda. Begitu pun denganku yang juga refleks mengikuti arah langkah kaki dokter itu.
“Pasien butuh darah tetapi stok darah yang dibutuhkan pasien sedang kosong saat ini.”
“Aku akan mendonorkannya,” ucapku tanpa pikir panjang.
“Cil?” Bunda menatapku dengan tatapan heran yang aku balas dengan senyuman tulus. Bunda sebenarnya tahu kalau aku begitu takut dengan jarum suntik.
“Baiklah, ikut denganku.”
Aku berjalan, mengikuti langkah besar dokter itu masuk ke ruang pemeriksaan. Dokter itu lalu berbicara dengan seorang perawat. Dan aku ditangani oleh perawat itu. Dia mengambil darahku. Setelah hasil pemeriksaan keluar, hasil tes menunjukkan darahku cocok dengan ayah. Tentu saja, aku putri kesayangan ayah.
Aku kemudian di tuntun masuk ke dalam ruangan di mana ayah berada dan aku di suruh untuk berbaring di kasur yang satunya. Aku menoleh ke kiri, menatap wajah ayah yang jaraknya kisaran 2 meter dariku, lantas tersenyum tipis. Aku kembali menoleh, menatap langit-langit ruangan ini lalu mencoba menutup mata.
×××
__ADS_1
"Cil." Sentuhan hangat di lenganku membuatku terbangun. Aku menatap wajah bunda yang menampilkan raut wajah sendunya. Tunggu, ini ruangan yang berbeda dengan sebelumnya.
"Ayah mana, Bun" tanyaku.
“Masih di ruangan yang sama," jawab Bunda.
"Bagaimana keadaannya?"
"Kau sudah sehat, kan? Ayo ikut Bunda." Bunda menggenggam erat tanganku, kembali melangkah ke ruangan yang sama dengan yang sebelumnya.
Aku berjalan kembali menatap ayah dari balik jendela itu bersama bunda yang merangkulku. Di sana ayah masih belum sadar juga.
"Bunda, apa ayah koma?" lirihku setelah melihat layar monitor yang berada di samping ayah.
Bunda diam, tidak menjawab. Dia menundukkan kepalanya, memperhatikan jari-jarinya yang dia mainkan. Beberapa menit berlalu, kami di selimuti oleh keheningan. Aku dan bunda duduk di kursi yang sama sebelumnya.
"Ini sudah tengah malam, Cil. Kau harus pulang," lirih bunda yang hanya menatap lurus ke arah depan.
Aku terdiam, tidak tahu harus membalas ucapan bunda dengan apa
Monitor pasien milik ayah tiba-tiba saja berbunyi nyaring. Aku berdiri, berlari untuk masuk ke ruangan itu, tetapi perawat melarang. “Biarkan dokter melakukan tugasnya," katanya.
"Bunda, apa yang terjadi pada ayah?." Aku menangis, menutup wajahku dengan kedua tanganku. Bunda kemudian membawaku dalam pelukannya. Aku benar-benar khawatir saat ini. Perasaanku benar-benar bercampur aduk.
"Tenang saja," ucap bunda yang saat ini mengusap kepalaku.
Beberapa menit aku menunggu, tetapi dokter belum juga keluar dari ruangan itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi di dalam. Aku berdiri, menatap ke dalam melalui jendela tetapi penglihatanku terhalang oleh seorang perawat yang sedang berdiri membelakangiku.
Aku kembali berjalan ke samping bunda, menatap wajah bunda yang saat ini memerah.
"Cil, aku ingat, kau pernah bertanya padaku perihal cinta pertama? Kau sudah mengetahui jawabannya?" tanya bunda yang aku tahu sedang mencoba mencairkan suasana yang sangat mendebarkan bagiku.
"Aku sudah mengetahuinya, Bunda. Aku juga sudah tahu siapa cinta pertamaku," lirihku.
"Kau sudah tahu rupanya," balas Bunda. "Bunda juga pernah mencari tahu tentang hakikat cinta pertama sampai pada akhirnya, bunda percaya bahwa kakekmu adalah cinta pertama bunda."
"Maaf, Bu. Pasien akan di pindahkan ke ruang inap." Seseorang memotong pembicaraan kami.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan ayah?" tanyaku pada orang itu.
"Dia sekarang sudah baik-baik saja.”
"Syukurlah," aku memeluk bunda dengan perasaan bahagia. Air mata bahagia membasahi pipiku. Perasaan tidak tenang di hatiku juga mulai perlahan memudar mendengar kabar itu. Terima kasih, Tuhan.
×××
"Putrimu sangat menghawatirkanmu," ucap bunda yang baru saja datang dengan kantong di tangannya. Hari ini, hari kedua ayah di rumah sakit. Pasti besok atau lusa, dia sudah bisa pulang. Bahkan ayah sekarang sudah terlihat begitu sehat, berbeda saat beberapa jam yang lalu.
Ayah baru saja sadar tadi pagi tetapi masih menatap kami dengan wajah datar dan tanpa mengucap sepatah kata pun. Siangnya, ayah kembali tidur dan bunda juga pamit pulang sebentar. Beberapa menit kemudian, ayah bangun dan mulai mengajakku berbicara sama seperti biasanya.
"Benarkah?" tanya ayah. "Kenapa kamu tidak mengatakannya." Ayah beralih menatapku yang saat ini duduk di kursi sampai ranjangnya.
"Malah bunda yang lebih khawatir, Yah. Ayah sih tidak melihat wajah bunda yang memerah karena benar-benar mengkhawatirkan, ayah." Aku terkekeh, berdiri dari kursiku dan duduk di ranjang, di samping ayah.
"Kau ini, Cil." Bunda kemudian duduk di tempatku sebelumnya. "Ayo makan. Bunda bawa 2 porsi untuk di makan bersama.
"Punyaku mana, Bun?" tanyaku.
"Ada di tas,"
"Wah, perutku akhirnya terisi," sorakku.
"Kau ini, Cil, seperti tidak pernah makan saja." Ayah terkekeh.
Aku mengabaikan ucapan ayah dan berjalan mengambil sekotak nasi milikku itu lalu kembali duduk di tempatku. Aku menatap bunda yang mulai menyuapi ayah setelah membantu ayah untuk duduk.
"Bagaimana tesmu, Cil?" tanya ayah.
"Begitulah, Yah. Sulit," jawabku.
"Kau ini, bahkan 1 tambah 1 pun kalau bilang sulit." Ayah tertawa, beberapa detik kemudian tersedak.
"Kunyah dulu baru bicara, Yah," tegur bunda lalu meletakkan kotak nasi itu di meja sampingnya seraya menyodorkan sebuah botol minum kepada ayah.
Keluarga kecilku yang bahagia.
__ADS_1