
Aku menghela nafas kasar, duduk menopang dagu di kursiku. Aku sedang menunggu kedatangan Devan atau Kak Rega ke kelas. Benar-benar membosankan di jam istirahat ini.
"Adel, Bebeb Devanku lagi berkelahi dengan Kak Rega." Suara panik milik Rasti membuatku refleks ikutan panik.
"Di mana?"
Dia tidak menjawab pertanyaanku, melainkan langsung keluar dari sana sambil menarik tanganku, membuaku harus menyesuaikan langkahku dengan langkahnya yang sedang berlari itu. Dia membawaku ke tempat yang dikerumuni beberapa siswa -- atau mungkin hampir semua siswa sekolah ini.
Aku menerobos kerumumanan itu dan mendapat Devan yang sedang menghajar Kak Rega, tetapi kak Rega hanya diam saja, tidak membalas, membiarkan dirinya di pukuli begitu saja.
"Devan." Aku menghentikannya sebelum pukulan selanjutnya mengenai wajah Kak Rega. Devan menatapku, menurunkan tangannya dengan perasaan marah lalu menghela nafas kasar. Aku kemudian menarik tangan kedua pria itu, membawanya menghindari kerumunan.
"Ada apa?" tanyaku pelan.
"Bukankah dia membuatmu menangis kemarin?" Devan mendesis, sepertinya dia benar-benar emosi.
"Dari mana kau tahu aku menangis?" tanyaku penasaran. Padahal aku benar-benar membersihkan bekas tangisanku kemarin.
"Mata dan hidungmu masih merah." Devan memutar bola matanya lalu melipat tangannya di depan dada.
Aku tampak berpikir. Perasaan saat bercermin di ponselku kemarin, semuanya seperti biasa-biasa saja. Ah lupakan itu, bukankah Devan selalu jujur denganku?
"Dan kenapa kakak tidak melawan. Wajah Kakak hampir lebam?" Aku beralih menatap wajah Kak Rega.
"Ini memang salahku, wajar saja jika dia memukuliku. Tetapi Del, aku hanya menangkap Yolanda yang hampir terjatuh kemarin. Kau salah paham, A."
"Aku tadi bertanya sama Yola, dia bilang kalian memang berpelukan," ucap Devan memotong ucapan Kak Rega tanpa melirik sedikitpun ke arahnya.
Beberapa detik kemudian, seorang gadis menghampiri kami dan mengatakan kalau Kak Rega dan Devan dipanggil ke ruang BK. Mereka berdua mengangguk dan berjalan ke ruang BK. Tentu saja Pricilia Adel ini sangat kepo dengan apa yang akan terjadi, jadi aku mengikuti mereka berdua.
"Devan,Devan, kamu bikin masalah lagi," sambut Pak Romi yang sudah menunggu kami. "Sama murid kesayangan bapak pula," lanjutnya.
"Dia yang membuat masalah, Pak. Dia membuat Dellongku menangis," jujurnya.
__ADS_1
"Maaf, Pak, aku tidak bermaksud melakukan semua itu."
"Oallah, masalah anak muda rupanya." Pak Romi terkekeh.
Setelah di ceramahi panjang lebar oleh Pak Romi, mereka berdua di hukum untuk hormat di tengah lapangan menghadap ke Bendera yang sedang berkibar karena hembusan angin.
"Kenapa kau ikut, Adel?" tanya Kak Rega, dia menatapku tanpa menurunkan tangannya.
"Mana mungkin sahabat dan pacarku di hukum, aku malah duduk dengan santainya di kelas. Lagi pula hari ini Bu Farah sakit, jadi syukur kelasku free." Aku terkekeh. "Kau masih marah, Van?" tanyaku kini beralih menatap wajah Devan.
"Nggak tau," jawabnya cuek.
***
"Yolanda." Aku menarik tangannya saat melihatnya berjalan menuju koridor pagi ini. Dia menoleh ke arahku lalu menghempaskan tangaku begitu saja, membuatku mengadu kesakitan.
"Kalau soal Kak Rega, kami memang berpelukan. Lagi pula kenapa nggak lu lupain aja? Bukankah itu tiga hari yang lalu?" ucapnya sinis.
"Bagaimana mungkin aku melupakannya? Karena kamu, ada jarak yang tercipta di antara Kak Rega dan juga Devan. Aku mohon, ucapkan yang sejujurnya pada Devan agar Devan bisa memaafkan Kak Rega."
Ucapan Yolanda membuatku tertegun. Apa ini memang kesalahanku? Aku sedang beradu dengan pikiranku saat ini. Yolanda berdecih, kemudian meninggalkanku yang saat ini berdiri mematung.
"Selamat pagi, Dellong," suara itu membuatku kembali tersadar. "Btw, kenapa kau berangkat sekolah lebih dulu?"
"Eh? Aku menunggumu, tetapi kau tidak datang. Dari pada terlambat, jadi aku ikut sama ayah."
"Yaudah, ayo ke kelas."
"Adel." Panggilan itu menghentikan langkah kami berdua dan membuat kami menoleh.
"Aku ke kelas duluan," ucap Devan tiba-tiba.
Kak Rega kemudian berlari menghampiriku. "Dia masih marah?" tunjuknya ke arah Devan.
__ADS_1
"Mungkin saja, Kak. Tetapi aku yakin, semua akan baik-baik saja."
***
Aku baru saja kembali dari wc sekolah saat melihat Kak Rega dengan Yolanda sedang duduk berdua di bangku taman. Karena aku adalah orang yang kepo, Aku memilih bersembunyi di balik tembok dan menguping pembicaraan mereka.
"Gimana gw nggak ngejauhin lu, Lu ngebuat Devan marah sama gw. Apa salahnya lu jujur sama Devan kalau gw cuma nangkap lu kemarin." Suara Kak Rega terdengar judes.
"Kalau aku jujur sama Devan? Apa kakak tidak akan marah lagi?" tanya Yolanda.
"Mungkin saja."
Setelah mendengar itu, aku memilih untuk kembali ke kelas karena aku sudah mengerti arah pembicaraan mereka.
"Kau dari mana? Aku lelah menunggumu di sini, belum lagi kalau Rasti tiba-tiba saja datang." ucap Devan dengan kesalnya.
"Devan." Yolanda tiba-tiba saja berdiri di belakangku. "Gw mau ngomong sesuatu." Dia menundukkan kepalanya.
"Apa?"
"Kak Rega benar, dia hanya menahanku karena kemarin itu aku hampir saja jatuh. Maaf karena telah berbohong. Maafkan aku juga, Del."
"Ok." Hanya kata itu yang di ucapkan Devan. Sepertinya dia enggan untuk menanggapi lebih lanjut. Sedangkan aku? aku tidak ingin bersuara, sudah terlanjur kecewa dengan Yolanda atau mungkin aku kecewa dengan diriku sendiri. Entahlah.
Setelah mengatakan itu, Yolanda pamit, dia berjalan entah pergi ke mana, mungkin menemui Kak Rega untuk mengatakan bahwa dia telah melakukannya. Ya, Kak Rega memang pacarku, tetapi karena dia tidak membatasi pertemananku, apa aku harus membatasi kepada siapa dia ingin bergaul?
"Makan yuk, Del. Aku traktir," ajak Devan.
"Seriusan nih? Tumben banget lu traktir gw." Aku terkekeh.
Kami kemudian pergi ke kantin. Aku segera memesan makananku kepada wanita paruh baya itu.
"Mie goreng, bakso, es teh sama bakwannya 5k, Bu," pesanku yang di tanggapi dengan anggukan pelan wanita paruh baya itu. "Aku menunggumu di sana. Bawakan pesananku," perintahku pada Devan yang saat ini sedang menggerutu kesal.
__ADS_1
Devan datang dengan membawa baki berisi makanan di depannya. "Kalau di traktir, sadar diri kek, malah ngabisin uang gw. Tau nggak, sih?" omelnya.
Aku menghiraukan omelannya dan menikmati makananku. Perutku akan terisi penuh hari ini. Ternyata kalau ditraktir itu nikmatnya bertambah jadi double.