Terjebak Dalam Ambigu

Terjebak Dalam Ambigu
Ibuku yang Lembut


__ADS_3

Aku kembali ke rumah sakit setelah membawa mobil ayah kebengkel. Hatiku juga sudah merasa sedikit tenang walau belum sepenuhnya. Aku kemudian berlari ke ruangan di mana ayah sedang berada.


Aku berdiri, menatap dari balik kaca ruangan ayah. Ayah sedang tertidur dengan lelapnya walau selang-selang membalut tubuhnya.


"Cil, Dokter berterima kasih karena telah di lakukannya pertolongan pertama, tetapi." Bunda berhenti sejenak.


Aku berjalan dan duduk di samping Bunda. "Tetapi apa, Bun?" tanyaku.


"Ayahmu butuh darah. Apa kamu mau mendonorkan darahmu?" tanya bunda.


"Tanpa di minta pun, aku akan tetap melakukannya, Bunda." Aku menggengam tangan bunda. "Kalau begitu, aku akan pergi untuk mengecek darahku. Semoga saja cocok," lirihku.


Aku berjalan masuk ke ruang pemeriksaan. Dokter mengambil darahku. Setelah hasil pemeriksaan keluar, syukurlah darahku cocok dengan ayah. Aku kemudian di tuntun masuk ke dalam ruangan di mana ayah berada. Aku menatap wajah ayah lalu tidur di kasur sebelah ayah.


Aku menoleh ke arah ayah, menatap wajah ayah yang mengajariku arti keberanian dan juga kekuatan. Tetapi sekarang dia sedang berbaring dengan lemahnya di sana. Semua akan baik-baik saja, ayah. Aku kembali, menoleh, menghadap ke arah langit-langit ruangan ini lalu mencoba menutup mata.


***


"Cil." Sentuhan hangat di lenganku membuatku terbangun. Aku manatap wajah bunda yang menampilkan raut wajah sendunya.


"Ayah mana, Bunda?" tanyaku.


"Sudah di pindahkan ke ruangan lain," ucap Bunda.


"Ke ruangan mana, Bunda?"


"Kau sudah sehat, kan? Ayo ikut Bunda." Bunda menggenggam erat tanganku, menuntunku ke sebuah ruangan dengan pintu yang tertutup dan bertuliskan 'hanya dokter dan perawat yang boleh masuk'.


Aku berjalan mendekati jendela itu, menatap ayah dari balik jendela pintu itu. Di sana ayahku benar-benar terbaring dengan tidak berdaya.


"Bunda, apa ayah koma?" lirihku setelah melihat pasien monitor yang berada di samping ayah.

__ADS_1


Bunda diam, tidak menjawab. Dia menundukkan kepalanya, memperhatikan jari-jarinya yang dia mainkan.


Aku duduk di kursi samping bunda, menatap kosong ke dinding. Semoga saja ayah baik-baik saja. Aku benar-benar mengharapkan itu.


"Ini sudah tengah malam, Cil. Kau harus pulang," lirih Bunda tanpa menatapku. Dia masih memainkan jari-jarinya.


"Aku tidak ingin pulang sampai aku bisa meyakinkan diriku bahwa ayah akan baik-baik saja, Bunda," isakku. Aku tidak tahu, sejak kapan air mata mulai membasahi pipiku.


"Ayah akan baik-baik saja, percayalah," ucap Bunda dengan suara menyakinkan walaupun dalam hatinya sendiri dia tidak yakin. Aku melihat dari ekor mataku bahwa Bunda sedang menatapku, tetapi penglihatanku masih terfokus pada dinding itu.


Monitor pasien milik ayah tiba-tiba saja berbunyi nyaring. Aku berdiri, berlari untuk masuk ke ruangan itu, tetapi perawat melarang."Biarkan dokter melakukan tugasnya," katanya.


Aku kembali duduk ke tempatku, melihat seorant dokter masuk ke ruangan ayah.


"Bunda, apa yang terjadi dengan ayah?." Aku menangis, menutup wajahku dengan kedua tanganku. Bunda kemudian membawaku dalam pelukannya.


"Tenang saja," ucap bunda yang saat ini mengusap kepalaku. Tetapi aku tidak bisa tenang, aku benar-benar khawatir.


Beberapa menit aku menunggu, tetapi dokter belum juga keluar dari ruangan itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi di dalam. Aku berdiri, menatap ke dalam melalui jendela di pintu itu, tetapi penglihatanku terhalang oleh seorang perawat yang sedang berdiri membelakangiku.


"Bukankah ayah akan baik-baik saja, Bunda?" ucapku mencoba tegar.


Bunda menatapku lalu tersenyum tipis. "Kau sama seperti ayahmu. Selalu mencoba menenangkan orang lain padahal dia sendiri dalam kecemasan," lirih bunda.


"Bukankah bunda juga begitu? Aku rasa sifatku menurun dari kalian berdua."


"Aku ingat, kau pernah bertanya padaku perihal cinta pertama? Kau sudah mengetahui jawabannya?" tanya Bunda yang mencoba mencairkan suasana yang sangat mencengkam bagiku.


"Cinta pertama adalah dia yang saat dia pergi kita akan merasa begitu takut. Cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya. Ayah yang selalu mengajariku banyak hal, bahkan lewat ayah pula aku belajar arti keberanian," lirihku.


"Kau sudah tau jawabannya," balas Bunda. "Bunda juga pernah mencari tahu tentang hakikat cinta pertama sampai pada akhirnya, bunda percaya bahwa kakekmu adalah cinta pertama bunda."

__ADS_1


"Maaf, Bu. Bapak akan di pindahkan ke ruang inap." Seseorang menghentikan pembicaraan kami.


"Bagaimana keadaan ayah?" tanyaku.


"Dia sekarang sudah baik-baik saja. Hanya tinggal menunggu dia bangun."


"Syukurlah," aku memeluk bunda dengan perasaan bahagia. Air mata bahagia membasahi pipiku.


***


"Putrimu sangat menghawatirkanmu," ucap Bunda yang baru saja datang, membawa tas. Hari ini, hari kedua ayah di rumah sakit. Pasti besok, dia sudah bisa pulang.


"Benarkah?" tanya ayah. "Kenapa kamu tidak mengataknnya." Ayah beralih menatapku yang saat ini duduk di kursi sampai ranjangnya.


"Malah bunda yang lebih khwatir, Yah. Ayah sih tidak melihat wajah bunda yang memerah." Aku terkekeh, berdiri dari kursiku dan duduk di ranjang ayah, di samping ayah.


"Kau ini, Cil." Bunda kemudian duduk di tempatku sebelumnya. "Ayo makan. Bunda bawa 3 porsi utnuk di makan bersama."


"Punyaku mana, Bun?" tanyaku.


"Ada di tas,"


"Wah, perutku akhirnya terisi," sorakku.


"Kau ini, Cil, seperti tidak pernah makan aja." Ayah terkekeh.


Aku mengabaikan ucapan ayah dan berjalan mengambil sekotak nasi milikku itu lalu kembali duduk di tempatku.


"Bagaimana tesmu, Cil?" tanya ayah.


"Begitulah, yah. Sulit," jawabku.

__ADS_1


"Kau ini, bahkan 1 tambah 1 pun kalau bilang sulit." Ayah tertawa, beberapa detik kemudian tesedak.


"Kunyah dulu baru bicara, yah," tegur bunda sambil menyodorkan air ke ayah. Bunda lalu meletakkan kotak nasi itu dan membantu ayah bangun.


__ADS_2