Terjebak Dalam Ambigu

Terjebak Dalam Ambigu
Aneh


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu saat aku berbicara dengan Gergia di Cafe itu. Semua kembali normal. Devan yang setiap jam istirahat selalu pergi ke kelas, Kak Rega yang masih sama seperti biasa, dan Gergia yang telah mendapat teman baru sehingga tidak selalu bersama Devanku.


"Dellong, ponselmu bentar," Devan memajukan tangannya. Tanpa bertanya lebih lanjut, aku memberikan ponselku. "Ayo ke mall. Aku sudah kirim pesan sama Ayah."


"Eh? Aku nggak bawa uang."


"Tenang saja, aku aku bawa uang lebih."


"Jadi aku bebas nih pilih apa saja?" candaku.


Dia mengangguk. Ada apa ini? Aku ragu Devan yang ada di hadapanku, di parkiran ini, bukan Devan yang sama yang aku lihat kemarin dan beberapa tahun sebelumnya.


"Ayo naik,"


"Ayo," semangatku. Kapan lagi Devan baik hati seperti sekarang ini.


***


"Mau beli apa?" tanyanya.


"Beli baju couple-an yok. Baju ini masih mau di pakai besok," ucapku sambil melihat baju putih yang aku kenakan.


"Nanti Kak Rega marah kalau beli baju couple-an."


"Hadeuh, Kak Rega nggak gitu orangnya kok."


"Yaudah, yok."


Aku menarik tangannya ke tempat yang sering aku kunjungi kalau ingin membeli hoodie. Selain murah, kualitas kainnya di tempat itu juga bagus, belum lagi kalau di pakai nyaman banget.


"Bagusan warna army atau warna mustard?" tanyaku memegang dua hoodie berbeda warna itu.


"Army aja deh," jawabnya.


"Ok, ukuran apa?"


"Aku L, Kau XXL," Dia terkekeh.


"Kau pikir tubuhku ini besar sekali? Malahan gendutan kau." Aku menatapnya tajam. "Ayo, ambil celana."


Aku kemudian masuk ke ruang ganti baju. Setelah memastikan tidak ada cela untuk mengintai, Aku mulai mengganti pakaianku, rambut yang tadi terikat aku biarkan terurai.


"Lama banget," sambut Devan saat aku baru saja membuka pintu."Widih, couple-an kita."


"Yamaap. Wait, label harganya belum kau buka?" tanyaku saat melihat kertas putih itu bergantungan di kerah lehernya.


"Biar orang tahu kalau ini baju baru," jawabnya pede.


"Yaudah," jawabku acuh, berjalan menuju ke kasir.


"Eh, Dellong, bantu bukain," teriaknya lalu lari menyusulku.


Setelah melepas label harganya itu, Devan kemudian membayar hoodienya dan mengemas baju seragam kami dalam tas kertas.


"Mau beli apa lagi," tanyanya.


"Jalan-jalan dulu aja, nanti kalau ada yang menarik, kita beli," ucapku.


Aku dan Devan berjalan mengelilingi mall itu. Aku tidak melihat sesuatu yang menarik perhatianku sampai saat ini.


"Dellong, sini bentar." Devan menarik tanganku menuju ke toko aksesoris.


"Mau beli apa?" tanyaku saat kami sudah berada di dalam sana.


"Kalung apa gelang?" tanyanya. "Gelang aja deh," jawabnya tanpa menunggu jawabanku lebih dulu.


"Devan, bagus nih," tunjukku pada gelang berwarna coklat. Gelang dengan perpaduan kayu dan juga kain. Devan melihat gelang itu, mengangguk, dan menyarangkan aku untuk mengambilnya. Itu tentu saja.


Devan membeli tiga gelang sedangkan aku hanya dua. Aku langsung memakainya di lenganku walau tertutup hoodie.

__ADS_1


Kami kembali berjalan-jalan, mengitari mall yang ramai pengunjung ini.


"Kamu lapar, nggak?"


"Makan junkfood sama es krim enak nih."


"Kuylah."


Hari ini Devan benar-benar aneh. Dia tidak lagi pelit dan juga begitu penurut. Biasanya dia akan membantahku untuk makan inilah, makan itulah. Sungguh, ini benar-benar aneh. Tetapi apa salahnya menikmati hari ini dulu, anehnya belakangan.


"Udah nggak sabar nih," ucapku melihat makanan pesanku sudah di sajikan di hadapanku. Ini seperti paket kombo.


"Hua, siapa yang peduli sama berat badan saat ini," ucap Devan sambil menyantap makanannya.


"Kau benar."


***


"Devan sudah jam 4," ucapku saat melihat jam dinding besar yang terpajang di tembok mall itu.


"Aku nggak sadar kalau kita udah keliling mall ini 3 jam lebih," ucapnya. Dia kemudian mengecek jam tangannya untuk memastikan bahwa jam besar itu menunjukkan angka yang benar.


"Ayo pulang," ajakku.


"Nanti aja."


Aku menurut, lagi pula Devan sudah minta izin sama ayah, jadi ayah tidak akan marah saat aku pulang terlambat.


"Jadi kita kemana lagi?" tanyaku.


"Aku bosan di mall terus, ke kebun binatang aja yuk."


"Boleh, tetapi singgah rumah bentar ya, mau taruh belanjaan sebanyak ini. Lagi pula kita kan lewat depan rumahku." Aku mengankat tas itu.


"Tentu saja," ucapnya.


Kami berdua berjalan menuju ke parkiran.Devan kemudian melajukan motor tuanya itu dan menghentikannya depan rumahku.


Aku kemudian berlari, menuju kamarku dan menyimpan barang-barang itu. Ada 8 kantong belanjaan yang aku letakkan di atas kasur begitu saja.


"Ayah, Bunda, Aku pergi lagi," teriakku lari kembali kepada Devan yang masih duduk dengan santainya di atas motornya itu.


"Ayo berangkat," ucapnya.


***


"Eh, Cil, kembaranmu tuh," tunjuknya pada kandang gorilla yang berada di sebelah kiriku. Aku menoleh dan mendapati seekor gorilla yang sedang makan cemilan sore ini.


"Bukannya itu malah mirip kau, yah?" tanyaku balik.


"Ayo mendekat," Devan menarik tanganku dan membawaku tepat di depan kandang itu. "Hai gorilla, kenalin, dia priciliaku," teriaknya ke arah gorilla itu.


Aku menatap ke arahnya lantas tersenyum dan dia malah balik menatapku sehingga membuat tatapan kami bertemu, beberapa detik kemudian, tertawa.


"Sekarang giliranku." Aku menarik tangannya sambil berlari, menuju ke sebuah kandang yang agak jauh dari sini.


"Kenapa ke kandang harimau?" tanyanya.


"Tunggu bentar," Aku melepas tangannya dan mulai menoleh ke arah harimau yang sedang tertidur itu. "Hai, harimau, kenalin, dia Devanku. Kalau kau lapar, temui dia saja, tetapi jangan memakannya, karena aku sayang dia," teriakku.


"Kau ini." Devan menabok kepalaku lantas terkekeh pelan.


"Sakit tau,' keluhku sambil mengusap-usap kepalaku.


"Lebay," acuhnya.


Kami kemudian berkeliling kebun binatang ini sampai ada peringatan untuk pulang karena kebun binatang ini akan di tutup, walau sebentar, aku sudah cukup puas berjalan-jalan di tempat ini.


"Adel, makan yuk, lapar nih."

__ADS_1


"Ada penjual nasi goreng dekat dari sini. Enak kok, aku sering beli di sana."


***


"Nasi gorengya beneran enak, Del," ucap Devan saat kami berada di atas motor.


Malam ini jalanan cukup sepi karena langit baru saja berubah menjadi gelap. Waktu-waktu begini, orang-orang di kota tempat ku tinggalku akan lebih memilih untuk tinggal di rumah dan bercengkrama dengan keluarga masing-masing.


"Kan aku sudah bilang, emang enak. Murah lagi," balasku.


"Kau ini suka banget cari yang murah,"


"Eh? Jangan salah, kalau ada yang murah, kenapa harus yang mahal," kekehku.


Devan kemudian menghentikan motornya di sebuah taman, taman yang sama saat aku menyatakan perasaanku pada Devan, tempat yang sama saat aku merasa sepi di tempat yang ramai waktu itu.


Taman ini mulai ramai, orang-orang mulai berdatangan dengan keluarganya, atau mungkin pacarnya. Walau tidak seramai saat malam minggu, tetap saja tempat ini masih ramai.


Devan berjalan menuju ke sebuah bangku taman yang masih kosong dan duduk dengan santainya, menatap aktivitas yang ada di hadapan kami.


"Kenapa ke sini?" tanyaku.


"Emang nggak boleh ke sini?" tanyanya balik.


"Engga apa-apa sih."


Keadaan hening menyelimuti kami. Aku tidak tahu akan memulai topik apa saat melihat Devan yang dengan seriusnya menatap arah di depannya, tidak menoleh sedikit pun. Sepertinya dia sedang melamun.


"Dellong, ayo foto," ucapnya tiba-tiba.


"Tumben banget."


"Coba lu ingat, kapan terakhir kita foto bareng? Yang waktu di pantai itu bukan? Dan kalau di pikir-pikir, kita jarang banget foto bareng."


"Astaga, yaudah, kuy."


Devan kemudian memegang hpnya di hadapan kami. Aku mengambil pose dengan memasan wajah yang orang lain kata 'wajah jelek'. Devan juga melakukan hal yang sama.


"1x aja?" tanyaku saat Devan menaruh ponselnya kembali ke sakunya.


"Yang penting udah, ayo, aku akan mengantarmu pulang." Devan beranjak dan aku mengikutinya.


Devan kemudian mengantarku pulang. Sesampainya di rumah, Devan juga ikutan masuk ke dalam rumah. Katanya mau ketemu sama ayah dan juga bunda.


Devan menghabiskan waktu kisaran 1 jam di rumah ini. Saat dia menyalami tangan ayah dan juga bunda untuk pamit pulang, aku segera ke kamar dan pergi mengambilkan barang belanjaannya tadi. Aku memberikan tas itu sebelum dia keluar dari rumah.


"Antar aku ke depan, Dellong,"


"Eh? Kenapa?" tanyaku.


"Ikut aja," Devan menarik tanganku di hadapan ayah dan bunda, tetapi respon mereka biasa saja.


"Kenapa kau menyuruhku mengantarmu ke sini?" ucapku saat Devan menaruh barang yang tadi aku berikan itu di pinggir motornya.


"Aku boleh minta satu hal?" tanyanya sembari menatap manik mataku.


"Apa?" tanyaku balik.


"Boleh aku memelukmu?"


Aku terperanjat kaget, ini benar-benar aneh. Devan sebenarnya sudah sering memelukku, tetapi kali ini rasanya berbeda. Dia biasa memelukku secara spontan, terakhir kali dia memelukku waktu dia lagu bahagianya banget saat di pindahkan ke kelas khusus itu.


"Kau benar-benar aneh hari ini, Devan. Biasanya kau langsung memelukku tanpa meminta izin." Aku memutar bola mataku, malas.


Setelah aku mengucapkan itu, Devan langsung memelukku, membawaku ke dalam dekapannya yang begitu hangat. Aku kemudian membalas pelukan itu, menyandarkan kepalaku di dada bidangnya. Ini membuatku merasa nyaman.


Dia melepas pelukannya, lalu memegang bahuku, kembali menatap mataku dengan lekat.


"Terima kasih, Pricilia Adel." Dia tersenyum, lalu naik di atas motornya, melajukannya menjauh dari rumah ini.

__ADS_1


Devanku hari ini benar-benar aneh.


__ADS_2