
Aku melihat jam di pergelangan tanganku untuk ke sekian kalinya. 07.55. Aku mulai mengamati suasana, mencari jeda agar tidak memotong penjelasan Bu Ega. Dia begitu lancarnya menjelaskan tentang pelajaran Bahasa Indonesia.
Aku mengangkat tanganku yang di balas dengan raut wajah kebingungan Bu Ega sembari mengangkat satu alisnya sebagai isyarat kata 'apa'
“Maaf, Bu. Perutku sangat sakit. Apa boleh aku ke UKS,” ujarku dengan memegang perutku, berpura-pura rasanya begitu sakit. Belum lagi aku memasang ekspresi wajah yang begitu mendukung.
“Pergilah. Rasti temani dia,” pinta Bu Ega.
“Aku bisa sendiri, Bu. Kalau Rasti menemaniku, nanti dia ketinggalan pelajaran,” tolakku.
Bu Ega tampak berpikir, dan detik berikutnya dia mengangguk. Aku kemudian beranjak, berjalan ke UKS. Di tengah perjalanan, tiba-tiba saja seseorang menarikku dan membuatku terkejut. Hampir saja aku berteriak jika dia tidak menutup mulutku.
"Ugh. Kau membuatku terkejut. Tidak bisakah kau memanggilku saja tanpa menarikku seperti ini?" Aku memutar bola mataku.
"Kau ini kenapa sih? Di panggil enggak menoleh, hampir sepuluh kali aku memanggilmu dan sekarang kau malah marah-marah enggak jelas," balasnya protes.
"Sudahlah. Sekarang apa?" tanyaku.
Dia kemudian menarik tanganku, mengendap-endap seperti seorang pencuri menuju ke belakang kelas, tidak lupa dia mengawasi sekitar, jaga-jaga saja saat ada yang melihat. Btw, ini pertama kalinya dalam hidupku, tentu saja membuatku waswas.
"Nah." Dia menunjukkan sebuah dinding padaku.
"Kau mau memanjat dinding itu? Kau tidak bercanda kan? Aku pakai rok, memang bisa?" cibirku.
"Kita hanya perlu melompat. Di sana ada kotak-kotak yang tersusun," tunjuknya pada setumpuk kotak yang terbuat dari kayu. Tumpukan kotak itu tinggi sehingga kita bisa mencapai atas dinding itu.
Aku mengikuti Devan kemudian melompat di tempat yang menurutku aman. "Sekarang apa lagi?" tanyaku setelah kami melompat. Aku tidak percaya benar-benar bolos untuk pertama kalinya semenjak aku SMA. Hehe, waktu SMP aku sudah melakukannya lima kali karena ajakan Devan, tetapi trauma saat ketahuan sama guru BK.
"Lari dulu....." teriak Devan kemudian berlari, membuatku refleks mengejarnya. Setelah cukup jauh dari sekolah. Devan mengajakku untuk membeli baju kaos agar nanti pakaian kami tidak kotor. Uang siapa? tentu saja uang Devan.
"Ambil hoodie saja," suruhnya.
"Panas."
"Pilih panas atau kulit kamu jadi lepek karena sinar matahari?" sindirnya. "Kamu enggak capek perawatan?” kekehnya
Aku memayungkan bibirku kemudian pergi mencari hoodie berwarna pastel favoritku, tidak lupa dengan celana jeans, tetapi bukan jeans yang berwarna hitam, karena celana itu sudah hampir memenuhi lemariku. Bagi cewek sepertiku, lebih baik kepanasan dari pada perawatan kulitku sia-sia. Aku kemudian kembali menemui Devan setelah mengganti pakaianku.
"Kita ke mana dan naik apa?"
"Pantai Ancol, terus naik mobil teman aku."
"Teman kamu?"
"Iya."
__ADS_1
Aku hanya mengangguk, mengikuti langkah Devan yang berjalan keluar dari toko baju itu. "Nah, itu dia," tunjuknya pada mobil kecil berwarna putih yang terparkir rapi di depan toko ini.
"Hai yo. Apa kabar? Lama tak melihatmu," sapa Fadel. Dia masih sama sejak terakhir aku melihatnya, hanya saja dia lebih tinggi dibanding dulu. Tidak banyak yang berubah darinya, selain wajahnya yang tentu saja bertambah tua. Wajar saja, dia usianya tiga tahun lebih tua dari kami. "Untung, saja kau mengajakku, Bro. Kalau tidak kapan lagi kita bisa ketemu."
Devan hanya tertawa dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Dia siapa?" tanya Fadel ke Devan saat melihatku.
"Kau tak mengenalnya? Atau kau melupakannya?" tanya Devan dengan tatapan menginterogasi.
Fadel kembali menatapku intens, mengamati setiap detail inci wajahku lantas mengerutkan keningnya, bingung. Diperhatikan seperti itu tentu saja membuatku tersipu malu.
"Dia Adel," imbuh Devan.
"Adel?" Fadel tampak berpikir. "Oh yang bocah ingusan itu, ya? Yang dulu sering kita ejek karena wajahnya kusam?"
"Eh, apa gw seburuk itu?" Aku memutar bola mataku. Aku mulai berpikir tentang bagaimana aku dulu, tetapi gagal, aku tidak bisa mengingatnya. Tetapi apa benar aku seburuk itu?
"Oh, Adel," panggil Fadel dengan nada puitisnya. Dibentangkan tangannya di hadapanku, seperti hendak memeluk.
"Eh? Kau tidak boleh melakukannya." Devan tiba-tiba saja berdiri di hadapanku untuk menghalauku dari Fadel. "Aku tidak memperbolehkan itu. Awas saja jika kau macam-macam," ancam Devan dengan nada marah yang dibuat-buatnya, sehingga terlihat seperti candaan.
"Lu siapa? Ck,” decak Fadel. “Tetapi sungguh, dia benar-benar cantik," puji Fadel. "Kau sudah punya pacar?" tanyanya padaku yang aku tanggapi dengan menggelengkan kepalaku pelan dan juga senyum simpul. "Kalau begitu jadi pacarku saja."
"Ngga," tolak Devan mentah-mentah. "Kamu playboy, suka main perasaan cewek, enggak peka, suka kasar, enggak pengertian, enggak bisa di percaya, suka kasih janji manis, suka."
"Woi stop. lu mau mulut lu gw kasih selotip hitam. Itu tidak benar. Gw pria baik-baik." Kini Fadel yang balik mengancam.
Aku masuk ke dalam mobil dan duduk di jok tengah sendirian. Fadel kemudian melajukan mobilnya, membelah padatnya jalan kota ini. Aku kembali menatap jam di pergelangan tanganku, pukul 08.32.
"Fad, bagaimana kuliahmu?" tanyaku, membuka topik pembicaraan yang dari tadi hening. Aku tidak memanggilnya dengan embel-embel ‘kak’ karena itu adalah sebuah kebiasaan dari kecil. Akan sangat aneh bagi kami jika aku menggunakan itu.
"Seperti biasa. Tetapi kalau kuliah nanti, kamu lanjut ke kampus yang sama denganku, ya. Biar nanti kalau aku sudah jadi mahasiswa semester akhir, aku akan semangat," celutuk Fadel. Aku hanya tersenyum, tidak mengangguk ataupun menggeleng. "Oh ya, sudah berapa lama kita tidak ketemu? Terakhir kali ketemu waktu kamu masih dekil-dekilnya." Dia terkekeh.
"Itu pertanyaan atau ejekan?" sindirku.
"Terakhir ketemu pas aku masih kelas lima," jawab Devan yang tiba-tiba masuk dalam inti percakapan. "Itu karena kamu yang melanjutkan pendidikan di luar negeri. Kan kita jadi pisah. Baru kembali ke Indonesia pas sudah kuliah,” ujar Devan dengan tatapan tanpa menoleh, hanya fokus pada jalan di depannya padahal bukan dia yang menyetir.
"Sifat lu masih belum berubah, ya. Dasar." Fadel beralih mengejek Devan. "Masih childish begitu." Aku yang pernah melihat sifat dewasa Devan hanya diam, tidak ingin menyanggah ataupun menambah.
"Serah-serah." Devan melipat tangannya di depan dada, merajuk. Lihat, betapa childish-nya dia.
×××
Hari ini langit mendung, tampaknya hujan akan turun. Tempat ini masih ramai pengunjung. Tetapi setidaknya cuaca mendung ini dapat mengurangi rasa panas di jam yang mulai menuju tengah hari. Hawa bahkan menjadi agak dingin dengan tambahan angin sepoi-sepoi yang menusuk kulitku.
Aku turun dari mobil dan di sambut dengan tarikan tangan oleh Devan, menuju ke pinggir pantai. Dia kemudian memainkan pasir pantai dengan kakinya tanpa peduli pasir yang mulai masuk melalui cela-cela sepatunya.
__ADS_1
Devan lalu mengajakku berfoto dengan bantuan Fadel. Tetapi setiap poseku selalu saja di rusaknya. Saat aku memperbaiki poseku, dia kalau tidak mengganggu ya pasti mendorongku. Aku bahkan tidak yakin kalau ada fotoku yang bagus nanti. Ugh.
"Kalian ini pacaran enggak sih?" tanya Fadel dengan wajahnya yang memperlihatkan raut kesal. Mungkin saja, dia sudah malas meladeni tingkah kami berdua yang selalu minta agar fotonya di ulang.
"Tidak. Dia sahabatku." Aku tersenyum.
"Dia adikku yang benar-benar manis. Uh, gemas." Lagi, dia lagi-lagi mencubit pipiku setiap kali mengatakan kalimat itu lantas memperlihatkan wajah jeleknya di hadapanku seakan-akan menganggap aku anak kecil.
"Woi, sakit." Aku melepaskan tangannya dari pipiku.
"Sudahlah. Ayo pergi minum. Haus banget," ajak Fadel.
Aku mengikuti langkah besar keduanya, berjalan menuju ke sebuah tenda di pinggir pantai. Duduk dan memesan minuman dingin.
"Fadel yang bayar," ucap Devan seraya menaruh gelas kedua yang sudah kosong di atas meja.
"Eh? kok aku?"
"Karena kau yang paling tua," sahutku yang berada di pihak Devan.
“Karena kau yang mengajak,” tambah Devan
"Enggak," tolak Fadel mentah-mentah.
"Huaaa Fadel jahat." Aku merajuk seperti anak kecil, begitu pula dengan Devan yang mulai mengikutiku.
"Kau yang mengajak kami makan ke sini. Huaaa."
"Kau yang harus bayar. Hiksss."
"Apaan sih kalian, kekanak-kanakan banget. Iya, iya, gw yang bayar," pasrah Fadel. Dia kemudian mengambil dompet di saku celananya dan menyerahkan uang biru.
“Yes,” ucapku dan Devan sembari tos kemenangan.
Aku beranjak dari dudukku dan berjalan mengikuti Devan, berusaha menyejajarkan langkahku dengan langkahnya yang telah pergi lebih dulu. Kami meninggalkan Fadel yang tadi sibuk berbicara dengan penjualnya itu. Wajar saja, penjualnya seorang gadis.
Devan menghentikan langkahnya tepat di atas jembatan pantai itu. Devan kemudian berhenti, menatap indahnya laut dari atas jembatan ini.
"Indah, ya," gumamnya tanpa menoleh. Pandangannya masih mengarah ke arah laut itu. Aku tidak menjawab, sibuk dengan pikiranku sendiri saat melihat ke arah laut sana. "Aku harap bisa ke sini lagi denganmu,” lanjutnya.
Aku menoleh, menatap wajahnya dari samping dan dia juga menoleh kepadaku, sehingga mata kami terpaku satu sama lain. "Del, terima kasih karena telah menjadi sahabatku. Aku benar-benar bahagia," ungkapnya. Aku sebaliknya, malah diam membeku. "Terima kasih juga karena telah hadir dan menjadi bagian dalam setiap mimpi-mimpiku," lanjutnya yang membuatku mengerutkan keningku. Aku tidak mengerti dengan arti kata mimpi yang di ucapkannya.
"Terima kasih juga karena telah menjadi pria men-jeng-kel-kan yang pernah aku kenal dan yang selalu membuat hidupku tidak monoton," balasku dengan penuh penekanan tetapi malah membuatnya terkekeh.
"Woi, kalian tega banget meninggalkan daku yang sangat khawatir karena kalian hilang entah ke mana dan daku begitu takut jika kalian di culik oleh orang yang terjebak dalam pikiran mereka sendiri di saat kalian tidak tahu apa-apa.” Fadel menghela nafas sejenak sedangkan aku dan Devan saling menatap, heran dengan apa yang di katakan pria di hadapan kami ini. “Sudah jam 12.00, kalian harus kembali ke sekolah.” Aku kembali menatap jam di pergelangan tanganku. Dia benar, kami harus segera kembali ke sekolah.
__ADS_1
Di perjalanan pulang, aku meminjam ponsel Devan dan melihat foto-foto kami tadi. Di antara semua foto aku dan Devan yang bagus hanya satu. Di foto itu aku menatap Devan dengan wajahnya yang cemberut sedangkan Devan menatapku dengan senyum menjengkelkannya. Aku mengirim foto itu ke ponselku, aku akan mencucinya dan membingkainya untuk aku simpan di kamarku, lebih tepatnya di atas nakas samping tempat tidurku.
Andai. saja waktu dapat di perlambat.