
Hari-hari yang aku jalani di sekolah benar-benar sepi semenjak kepergian Devan dan juga disusul oleh Kak Rega. Tetapi kesepian itu terkadang ditutupi oleh kehadiran Rasti yang entah mengapa sering mengajakku berbicara, menemani di waktu istirahatku dan mengajakku ke kantin.
"Sampai jumpa, Adel." Dia melambaikan tangannya saat kakaknya datang menjemput.
"Bye, Bye." Aku membalas lambaian tangannya disertai dengan senyum merekah.
Aku kemudian pulang dengan ojol. Aku menghemat uangku dengan tidak menggunakan taksi lagi. Aku butuh uang untuk membiayai biaya tesku, belum lagi buku seberat 0,5 kg yang aku butuh itu masih terpajang di toko buku. Aku bisa saja meminta agar ayah membelikannya, tetapi mengingat harga buku itu membuatku rasanya tidak enak untuk meminta.
Jam menunjukkan pukul 14.00. Aku segera menuju kamar, mengambil buku dari rak, dan mulai belajar. Semenjak hari di mana Kak Rega memperlihatkan surat itu, di hari itu pula aku semangat untuk mendapat surat yang sama. Karena itulah aku berjuang untuk belajar, tidak peduli dengan tanganku yang lelah, mataku yang menahan kantuk dan juga tubuhku yang merindukan rebahan.
Terkadang saat aku ingin beristirahat sebentar dari lelahnya belajar sepanjang hari, aku selalu takut jika istirahatku ini yang seharusnya membuatku lulus malah tidak lulus. Tetapi tenang saja, aku menghabiskan hari mingguku dengan istirahat total, benar-benar sendirian tanpa gangguan. Dan ya, sebentar lagi pengumuman tamat SMA. Hanya kisaran satu bulan. Setelah lulus aku akan mendaftar di dua sekolah, satu yang sama dengan Kak Rega dan satunya lagi di Harvard. Aku begitu tertarik dengan kampus itu.
"Adel, ayo makan malam," teriak ayah.
"Satu soal lagi, Yah," balasku dengan teriakan kecil.
Setelah menyelesaikan soal itu, aku kemudian segera menuju meja makan, duduk di hadapan ayah lalu mulai memenuhi permintaan cacing yang ada di dalam perutku.
"Kau benar-benar bekerja keras agar bisa ke sana, Adel. Walau begitu, kau harus tetap mengingat kesehatanmu."
"Iya, Ayah. Tenang saja."
×××
Hari terus saja berganti, pengumuman tamat sudah di umumkan dan ijazah sekolahku pun sudah keluar. Aku telah mengirim seluruh berkas dan sekarang aku hanya tinggal ikut tes. Kalau sudah tes maka semuanya sudah selesai, aku hanya akan menunggu pengumuman yang pasti akan membuatku risau dengan hasilnya nanti.
"Bunda, ayah mana?" tanyaku.
"Kau akan berangkat?"
"Iya, Bunda."
"Mau bunda temani?" tawar Bunda.
__ADS_1
"Tidak perlu, Bun. Bunda di rumah saja. Kalau begitu, aku pergi dulu ya Bunda. Doakan aku."
"Itu pasti."
Aku melangkahkan kakiku berjalan keluar rumah. Selamat berjuang untuk diriku sendiri dan sampai ketemu Kak Rega. Aku akan berusaha untuk mendapatkan nilai terbaik. Semangat diriku sendiri!
×××
Aku menghela nafas lega. Aku telah menjawab hampir semua soal tes itu walau masih terbilang sulit. Tetapi aku sedikit ragu atas jawabanku karena saat aku lagi asyik-asyiknya mengerjakan soal, perasaanku tiba-tiba saja tidak enak. Ah, mungkin itu cuma efek begadangku akhir-akhir ini.
Aku melihat jam di pergelangan tanganku yang menunjukkan pukul 17.00. Rumahku juga berjarak 500 meter dari sini. Pulang jalan kaki sepertinya bagus, sudah lama aku tidak jalan-jalan. Tubuhku seharusnya banyak bergerak.
"Hai, Del," sapa seseorang yang tiba-tiba saja menghentikan motornya di sampingku saat aku sudah menempuh jarak sejauh kurang lebih 200 meter.
"Eh, Wildan,” sapaku balik saat aku telah melihat wajahnya di balik helm hitam yang dia kenakan. “Ada apa?"
"Kau mau ke mana?"
"Pulang," jawabku.
"Tidak usah. Sudah dekat, kok. Terima kasih."
"Baiklah, sampai jumpa," ucapnya lalu melajukan motornya, menjauhiku dan menghilang di perempatan sana.
Ngomong-ngomong soal Wildan, dia pacaran sama Rasti. Menurutku, mereka benar-benar cocok. Tetapi bagiku hubungan mereka sedikit aneh. Ah, lupakan itu. Aku hanya berharap yang terbaik untuk mereka.
Aku menghirup nafas dalam-dalam, menikmati aroma bunga anggrek di samping taman kecil kota ini. Lelah. Itulah yang dirasakan oleh kedua kakiku saat ini. Walau begitu, setidaknya suasana sore di kota ini benar-benar mengagumkan, seakan membuat mata tak ingin melewatkan sedetik pun pesonanya, bahkan hanya untuk sekedar berkedip. Gedung-gedung tinggi dan juga cahaya oranye matahari menciptakan perpaduan yang sangat indah.
Langkahku terhenti saat melihat banyak orang yang berkumpul di depanku. Hasrat penasaranku tiba-tiba muncul sehingga membuatku menerobos kerumunan itu. Penglihatanku pertama kali terarah pada dua buah mobil. Salah satu mobil itu seperti sudah tidak asing bagiku. Mobil dengan pelat nomor yang selalu aku lihat di pagi hari.
Jantungku tiba-tiba saja berpacu dengan cepat, mencucurkan keringat dingin, belum lagi suasana yang tiba-tiba berubah mencengkam. Aku dengan perasaan takut bercampur khawatir mulai mengalihkan penglihatanku pada dua orang korban yang sedang berbaring di tanah. Kakiku saat ini seakan tidak bisa menahan bobot badanku, begitu lemas saat aku memperhatikan wajah salah satu dari mereka. Aku melangkah, kemudian berlutut di samping orang itu. Air mataku tumpah begitu saja.
"Dia ayahku, cepat panggilkan ambulans," teriakku pada siapa pun yang saat ini mengelilingi kami.
__ADS_1
Aku segera mengeluarkan kotak P3K dari dalam tasku. Kotak itu tidak pernah absen dari dalam sana. Air mata juga tidak pernah berhenti mengalir membasahi pipi. Aku melakukan pertolongan pertama pada ayah, menghentikan pendarahan dari kepala ayah, dan memerbannya dengan kain kasa. Terkadang mataku memburam karena berusaha membendung air mataku.
"Bagaimana dengan ambulansnya?" teriakku sekali lagi.
"Sedang dalam perjalanan," jawab seorang pria. Aku tidak menoleh ke arahnya. Hanya mendengar dari suaranya yang berat.
Aku kemudian beralih untuk memberikan pertolongan pertama pada orang yang juga di baringkan di samping ayah, mungkin saja dia lebih parah dari ayahku. Seseorang kemudian memegang pundakku. Aku menoleh, menatap wanita itu.
"Biar aku saja. Aku mahasiswa semester akhir kedokteran dan benar-benar sudah mengerti tentang ini,” ucapnya sembari memperlihatkan kartu mahasiswanya.
Aku kemudian mengangguk, kembali duduk di samping ayah, menatap wajah tampannya yang kini hampir semuanya tertutupi darah.
"Ayah, ayo bangun. Putrimu menunggumu, Yah," ucapku dengan suara serak dan juga pelan. Tidak peduli dengan orang-orang yang menjadikanku pusat perhatian, aku hanya ingin ayahku bangun.
Dua ambulans datang, mereka segera menggotong ayah dan pria itu. Aku ikut naik ke ambulans dengan ayah. Ayah akan baik-baik saja. Aku menggenggam tangan ayah dengan begitu erat.
Ayah lalu di masukkan ke dalam sebuah ruangan. Aku duduk menunggunya di kursi tunggu lantas menelpon bunda. Tentu saja, bunda sangat kaget dan awalnya tidak percaya, sama sepertiku.
Aku mengelap air mataku yang belum pernah berhenti untuk membasahi pipiku. Aku sangat takut kehilangan ayah. Lebih tepatnya aku belum siap. Mengingat kecelakaan itu begitu parah.
"Cila," teriak bunda yang saat ini sedang berlari ke arahku. Aku berdiri menghadapnya dan dia kemudian memelukku sangat erat. Untung saja bunda tidak melompat ke arahku karena kalau iya, bisa di pastikan kami berdua pasti terjatuh.
"Ayah ada di dalam, Bunda." Aku menangis dalam pelukaan bunda, menangis tersedu-sedu. Melampiaskan semua kecemasan dan ketakutanku dalam tangis ini. Huaaa, air mataku kenapa tidak mau berhenti.
"Ayah akan baik-baik saja, Cil," ucap bunda dengran suara serak sambil mengusap-usap pundakku. Aku tahu, bunda juga pasti ingin menangis sekarang, tetapi dia mencoba untuk terlihat tegar. Apa menjadi tegar itu bagus?
Bunda kemudian memegang pundakku, menyuruhku untuk kembali duduk lalu memberikan bahunya sebagai tempatku untuk bersandar.
"Tenang saja, Cil," ucap Bunda.
"Aku akan pergi mengurus mobil ayah, Bunda." Aku beranjak. Aku merasa tidak sanggup berada di tempat ini. Karena setiap kali menatap ke arah pintu itu, aku selalu saja ingin menangis. Hatiku terlalu lemah untuk sekarang ini untuk menerima kenyataan bahwa ayahku terbaring tak berdaya di dalam sana.
“Bunda sebenarnya ingin kamu di sini. Bunda takut jika ini juga terjadi sama kamu, Cil. Tetapi kalau kamu tidak ingin di sini, pergilah. Kau harus merelakskan otakmu sebentar. Hati-hati, ya.”
__ADS_1
Aku menatap bunda, mencoba membuat senyuman kecil yang begitu dipaksakan lalu mulai berjalan menjauh. Di setiap langkahku tidak henti-hentinya aku berdoa untuk ayah. Semoga ayah baik-baik saja, Tuhan.