Terjebak Dalam Ambigu

Terjebak Dalam Ambigu
Ini Namanya Pacaran?


__ADS_3

Hari ini Devan lagi-lagi tidak datang ke sekolah. Bahkan pesan itu pun belum sampai kepadanya karena aku begitu malas keluar membeli kuota. Tenang saja, aku akan mengabarinya kalau nanti dia sudah datang ke sekolah, mungkin besok. Tetapi apa Devan akan marah karena aku lambat mengabarinya?


"Selamat pagi, Adel." Kak Rega tiba-tiba saja datang ke kelasku dengan wajahnya yang menebar senyum bersahabat -tidak seperti Kak Rega sebelumnya, dia terlihat lebih ceria.


"Kenapa, Kak?" tanyaku sambil menatap manik matanya yang berwarna coklat tua itu.


"Ayo ke kantin!" ajaknya, tetapi lebih terdengar seperti perintah.


Aku berdiri dari kursiku dan berjalan di samping Kak Rega yang menggenggam tanganku erat. Aku tidak peduli dengan tatapan-tatapan cewek yang melihatku sepanjang koridor sekolah. Bukannya takut, aku malah merasa diriku seperti menjadi seorang artis. Diperhatikan sepanjang jalan dan di puji dalam bisikan. Benar-benar menakjubkan. Wait, aku tidak gila, bukan?


"Kamu tunggu di sini. Aku pesan dulu."


Kak Rega pergi tanpa bertanya apa pesananku. Apa dia tidak akan memesankan makanan untukku? Aku akan menyusulnya jika itu benar-benar terjadi. Aku kemudian mengambil tempat ternyamanku untuk duduk. Pandanganku tiba-tiba teralih pada Wildan yang baru saja masuk ke kantin. Dia menatapku lalu menghampiriku yang saat ini sedang duduk sendirian.


"Ada apa?" tanyaku.


"Devan tidak ke sekolah. Aku akan menemanimu di sini." Dia menarik kursi di hadapanku.


Kak Rega tiba-tiba saja datang sebelum aku menanggapi ucapan Wildan. Kak Rega meletakkan sepiring nasi goreng dan gado-gado yang dibawanya di atas meja lalu menarik kursi di samping Wildan. Aku juga dengan refleksnya pindah ke kursi di sampingku sehingga berhadapan langsung dengan Kak Rega.


"Ini nasi gorengmu." Kak Rega meletakkan dengan pelan piring nasi goreng itu di depanku tanpa memedulikan keberadaan Wildan di sana. Dia lalu mulai melahap makanannya dengan santai.


"Ekhem." Wildan yang sepertinya merasa terabaikan atau mungkin penasaran, pura-pura batuk sehingga membuat Kak Rega menoleh.


"Ada apa?" tanya Kak Rega, menoleh kepadanya dan menghentikan makanannya sejenak.


"Maaf, Kak. Kakak siapanya Adel?" tanya Wildan ramah.


"Pacarnya," jawab Kak Rega dengan singkat, padat dan jelas kemudian kembali fokus ke makanannya.


Tanpa pamit, Wildan berdiri dan meninggalkan kami berdua. Dia pergi dengan wajah yang di tekuknya. Sepertinya dia sedang marah. Aku yang menatap ekspresi Wildan berusaha menahan tawaku. Sungguh, ekspresinya benar-benar lucu. Andai saja aku sudah akrab dengan Kak Rega atau setidaknya Devan yang berada di hadapanku saat ini, aku mungkin sudah tertawa terbahak-bahak. Wajah lucu itu lebih mendominasi dibanding wajah marahnya. Astaga, humorku.


"Dia siapa?" tanya Kak Rega penasaran.


"Mantan teman kelas, Kak. Kami dulu sekelas waktu kelas X," jawabku.


"Dia sepertinya menyukaimu,” kekeh Kak Rega.


Sebegitu jelasnyakah Wildan menunjukkan perasaannya padaku? Tetapi aku adalah seorang Adel yang tidak peka, aku bahkan baru tahu Wildan menyukaiku dari Devan. Sepertinya aku harus belajar untuk lebih peka terhadap lingkunganku .


"Btw, dari mana Kakak tahu kalau aku suka sama nasi goreng?" tanyaku mengganti topik pembicaraan.


“Setiap kau ke kantin pasti pesannya ini,” jawabnya.


“Eh?” refleksku.


“Ini lomboknya, kau suka makanan pedis, bukan?”


“Eh?” ucapku spontan, lagi.


Dia melihatku, tersenyum kemudian melanjutkan makannya. Tenang, Del, itu baru dua yang dia tahu tentang aku. Mungkin saja hanya suatu kebetulan dan mana mungkin dia tahu banyak tentang aku.


Aku mulai menyantap makanan favoritku, nasi goreng yang sudah aku campur dengan lombok. Aku sudah tidak sabar memenuhi permintaan cacing dalam perutku itu.


"Eh? Kenapa kakak melihatku seperti itu?" tanyaku saat aku sadar bahwa dia sedang menatapku dari tadi. Bukannya memalingkan wajah, dia malah tersenyum.


"Kau ini selalu bilang 'Eh'." Dia tertawa kecil. "Kalau di perhatikan, kau benar-benar cantik. Tetapi apa salahnya menatap pacar sendiri?"


Blush. Pipiku memerah, aku yakin itu. Dari pada nanti semua wajahku memerah, semerah kepiting rebus, akan lebih baik aku menghabiskan makananku dengan cepat -tetapi masih mencoba anggun- dan segera beranjak dari sini


“Adel, bentar lagi ada lomba. Mungkin saja kamu minat untuk ikut yang mata pelajaran astronomi,” ujar Kak Rega yang membuatku menoleh.


“Kakak juga akan ikut?”


“Sepertinya. Peluang ini harus dimanfaatkan, bukan? Lagi pula kau belum pernah ikut lomba. Mau mencoba pengalaman baru?”


“Aku belum belajar, Kak.”


“Karena itu aku memberitahumu lebih awal, Sayang.” Kak Rega mengacak-acak rambutku. Sensasinya benar-benar berbeda dibanding saat ayah yang melakukannya. “Lombanya masih ada dua bulan. Masih cukup untukmu belajar, Del,” lanjutnya.


“Hanya mata pelajaran astro?” tanyaku lagi.


“Sembilan mata pelajaran. Tetapi bukankah kau punya minat dan bakat di astro?” Kak Rega terkekeh.

__ADS_1


Aku diam lalu melanjutkan makanku. Aku memang selalu berminat pada pelajaran astronomi. Hanya saja ini soal bakat dan pengetahuan, aku nihil kedua hal itu. Huaaa, aku akan mempertimbangkannya. Dan ini membuat suasana di meja ini sepi, walau suasana kantin ini ribut.


“Rega, “ panggil seseorang yang membuat kami berdua menoleh -namaku bukan Rega sih.


“Hai, Dira.”


“Dia siapa?” tanya seseorang yang dipanggil Kak Rega dengan nama Dira.


“Adel,” jawab Kak Rega.


“Dira.” Orang itu menyulurkan tangannya yang aku balas sembari menyebutkan namaku kembali. “Oh ya, aku ke sana dulu,” tunjuknya pada seseorang yang sedang melambaikan tangan ke arahnya. Aku dan Kak Rega hanya menganggapinya dengan senyuman. Beberapa detik kemudian, Kak Dira sudah duduk di samping orang yang di tunjuknya tadi.


“Dia siapa, Kak?” tanyaku penasaran.


“Bukankah dia sudah memperkenalkan diri?”


Aku memayungkan bibirku. Kak Dira hanya memperkenalkan namanya. Kelasnya belum, dan yang lebih penting ingin aku tahu adalah hubungannya dengan Kak Rega. Maaf, tetapi rasa penasaranku tiba-tiba saja mendadak muncul.


“Dia cuma teman, Del,” jawab Kak Rega kemudian diam sejenak, mengambil nafas. “Sebenarnya dia suka sama aku.”


“Kakak kepedean banget,” candaku.


“Kau pasti belum pernah merasakan yang namanya di tembak sama cewek,” jawab Kak Rega datar, kembali melahap makanannya. Aku menggigit bibir bawahku, geram. Bolehkah pria tampan yang berstatus pacar di hadapanku ini aku tabok dengan sepenuh hati?


“Kenapa menatapku seperti itu? Kau pasti penasaran kenapa aku tidak menyebutmu sebagai pacarku di hadapannya,” ujar Kak Rega.


Kak, biar aku perjelas. Ini bukan wajah penasaran, ini wajah geram. Huaaa apa aku tidak pandai membuat ekspresi wajah sehingga wajah penasaran di samakan dengan wajah geram.


“Aku tahu, Kak. Kakak pasti tidak ingin menyakiti perasaannya, bukan? Akan sangat menyakitkan jika tahu gebetan yang pernah menolakmu dengan alasan ‘aku tidak ingin pacaran’ malah punya pacar baru,” kekehku.


“Hai.” Kak Rega menatapku tajam. “Bukan itu alasanku menolaknya.”


“Terus kenapa kakak menembakku di.” Ucapan terpotong saat bel masuk berbunyi. "Tunggu, Kak,” hentiku saat melihat Kak Rega mulai berdiri dari kursinya sehingga membuatnya kembali duduk.


"Ada apa?" tanyanya


.


"Ayah aku ingin ketemu sama Kakak, hari ini bisa?" pungkasku pelan, menatap matanya seakan menuntut jawaban.


"Eh?"


"Itu 'Eh' yang ke empat." Dia lagi-lagi tersenyum. "Aku akan singgah nanti."


×××


"Menurut Kakak cinta pertama itu apa?" tanyaku mengawali topik pembicaraan di dalam mobil yang hening itu.


"Cinta pertama?" Kak Rega mengulangi pertanyaanku.


"Iya, Kak."


"Hmm." Kak Rega tampak berpikir. "Cinta pertama itu ya saat kau mulai tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Nah saat kau jatuh cinta, kau akan lebih sering mengingat orang itu, tersenyum karena tingkahnya atau kau sendiri malah salah tingkah saat berada di hadapannya," jelas Kak Rega sambil tetap melihat ke arah jalanan.


"Cinta pertama Kakak siapa?" tanyaku penasaran.


"Kamu," jawabnya yang membuatku salah tingkah.


"Kalau kamu?"


"Aku tidak tahu, Kak,” jawabku jujur.


Dia tersenyum. "Apa kau pernah jatuh cinta?"


"Aku juga tidak tahu, Kak."


"Begini saja, kau pernah pacaran sebelumnya?" tanya Kak Rega lagi.


"Tidak, kak."


"Itu berarti, bisa saja aku nantinya yang akan menjadi cinta pertamamu," ucap Kak Rega dengan santainya sambil tertawa kecil.


"Nanti?" Aku mengerutkan keningku, bingung.

__ADS_1


"Aku tahu, Del. Kau belum mencintaiku. Aku tidak tahu apa alasanmu menerimaku. Walau begitu, aku bersyukur dengan kesempatan yang kau berikan, dan aku percaya suatu saat nanti, kau akan mencintaiku," ucap Kak Rega dengan penuh optimis.


Aku diam, tidak tahu ingin membalasnya dengan kata apa. Kak Rega sepertinya benar, aku belum mencintainya walau aku adalah pacarnya. Maafkan aku, Kak. Aku akan mencoba mencintaimu. Dan jujur saja, bukan aku yang memberikanmu kesempatan, tetapi kamulah yang memberikannya untukku, Kak.


"Jantungku kok kayak berdegup lebih kencang, Del?" tanya Kak Rega saat kami sudah berada di depan rumahku. Aku beranjak turun dari mobil, begitu pula dengannya.


"Ayah enggak akan makan orang kok, Kak,” kekehku saat melihat ekspresi gugupnya untuk kedua kali.


Aku membuka pintu, masuk dalam rumah diikuti oleh Kak Rega. Padahal aku sudah menyuruhnya untuk masuk lebih dulu.


"Duduklah, Kak." Kak Rega kemudian duduk. Dia masih saja gugup, wajahnya menunduk. "Tenang saja, Kak. Kata orang, sih, ‘Santuy’. Aku masuk bikin minuman dulu, Kak," pamitku.


"Tunggu, Del." Dia menahan tanganku. "Tidak perlu, temani saja aku di sini," pintanya.


"Sebentar saja, Kak." Aku mencoba meyakinkannya dan akhirnya dia membiarkanku pergi.


Aku berjalan ke dapur, membuat dua gelas minuman dingin. Satu untuknya dan satu untuk ayah jika dia pulang nanti.


"Kau hanya membawa minuman?" tanya Bunda di sela-sela sibuknya memasak. "Bawakan makanan sekalian. Ada di lemari. "


Aku mengambil makanan yang ibu maksud dan kembali ke ruang tamu, membawa nampan dengan hati-hati. Bersamaan saat aku ke ruang tamu, ayah juga telah pulang. Aku meletakkan nampan itu di atas meja dan menyambut ayah dengan pelukan hangat, seperti sebelumnya.


"Jadi ini pacarmu, Cil?" tanya Ayah menatap Kak Rega. Kak Rega kemudian berdiri dan menyalami tangan ayah lalu duduk kembali saat ayah mempersilahkannya.


"Siapa namamu?" tanya Ayah.


"Rega, Om."


"Kelas berapa?"


"Kelas 12, Om."


"Tinggal di mana?"


"Perumahan indah, Om."


"Nama bapakmu siapa?"


"Dandi, Om."


"Yang seorang arsitek itu, bukan?"


"Iya, Om."


"Hebat banget bapakmu itu. Aku benar-benar takjub dengannya. Kau tahu? Dia adalah teman dekatku waktu SMP dulu. Dia begitu rajin dan juga pintar," ujar ayah.


Kak Rega hanya menanggapi dengan tawa kecil.


"Cil, pergilah ke kamarmu, mandi, kau bau," ucap Ayah tiba-tiba beralih menatapku, membuatku mendengus kesal.


Apa iya aku memang bau? Aku berjalan dengan malasnya ke kamar lalu mandi, meninggalkan Kak Rega berdua dengan ayah. Mungkin saja mereka punya pembicaraan penting yang tidak harus di perdengarkan olehku.


Seusai mandi dan berpakaian, aku mengeringkan rambutku dengan hair dryer, membiarkannya terurai dan kembali berjalan menemui mereka.


" Kawaii,” ucap Ayah dan juga Kak Rega bersamaan di depan televisi. Mereka sepertinya sedang asyik menonton anime. Ok, Ayahku memang suka -tetapi jarang- menonton anime, mungkin Kak Rega juga.


"Cil, pergilah makan. Mereka sudah makan lebih dulu karena kau mandi begitu lama," ucap bunda yang saat ini sedang sibuk memainkan ponselnya di kursi santai yang berada di sudut ruangan.


Aku makan sambil melihat betapa seriusnya mereka melihat adegan demi adegan, seolah tanpa berkedip sedikit pun. Mereka benar-benar fokus menonton.


"Kak, sudah jam tiga," ucapku setelah membereskan bekas makanku. Ayah dan kak Rega kemudian menoleh ke arahku yang merupakan sumber suara. Kak Rega sudah satu jam lebih di sini. Itu tidak masalah, Sih.”


"Serius?" Kak Rega kemudian beralih menatap jam dinding. "Aku harus pulang."


"Kenapa buru-buru?" tanya ayah.


"Aku harus antar mama pergi arisan, Om." jawabnya kemudian menyalami tangan ayah lalu bunda.


"Sering-sering ke sini, Ya."


“Iya, Om,” jawab Kak Rega disertai anggukan. Aku mengantar Kak Rega keluar rumah. Dia kemudian mengendarai mobilnya setelah pamit padaku.


Aku kembali beranjak masuk ke dalam rumah, menemui ayah yang kini beralih menonton berita. Ayah menoleh ke arahku, menatapku lantas mengangguk dan tersenyum. Itu adalah isyarat bahwa dia setuju dengan pilihanku.

__ADS_1


Ternyata mereka begitu cepat akrab.


__ADS_2