Terjebak Dalam Ambigu

Terjebak Dalam Ambigu
Awal yang manis


__ADS_3

Hari ini aku tidak menemukan Devan di kelasnya. Bahkan hari ini dia tidak datang menjemputku tanpa mengabariku. Hampir saja aku terlambat dibuatnya kalau aku menunggunya pagi tadi.


Jam istirahat kali ini benar-benar membosankan. Biasanya Devan yang usil itu akan datang menggangguku mengerjakan tugas. Tetapi hari ini tidak ada tugas dan juga tidak ada Devan. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang.


Aku mengeluarkan ponselku, mencari nama Devan di kontakku dan mengirimkannya pesan singkat.


woi, kamu di mana?


Ceklis satu. Dia tidak aktif. Aku akan menunggunya membalas pesanku sambil men-scroll beranda ig yang sudah tidak lama aku lihat untuk menutupi kebosananku ini.


"Adel," panggil Sasa, teman kelasku, membuatku menoleh dan menaikkan satu alisku. "Kak Rega mencarimu, dia ada di luar," lanjutnya kemudian berlalu pergi ke bangkunya.


Kak Rega? Kenapa dia mencariku? Aku akan mengetahui jawabannya jika aku menemuinya. Dengan malasnya, aku melangkahkan kakiku. Menuju pintu yang jaraknya sangaaatlaaaahh jauh.


"Ada apa, Kak?" tanyaku saat aku melihat dia sedang gusar dan juga terlihat begitu gugup.


"Eh, Adel?" Dia menatapku sekilas, kemudian kembali beradu dengan pikirannya.


"Iya, Kak?"


"Ikut aku bentar, ya." Dia beranjak, berjalan entah menuju ke mana. Aku berjalan di belakangnya, mengikuti langkahnya dengan pikiranku yang penuh tanda tanya. Entah apa yang akan dilakukannya. Dan di sinilah kami sekarang, di taman tengah sekolah ini. Tempat di mana biasanya para siswa menghabiskan waktu istirahatnya.


Dia mengajakku duduk di salah satu bangku dan aku menurutinya begitu saja. Dia kemudian duduk di sampingku.


"Adel, aku sudah tidak tahan lagi dengan perasaan ini. Aku tidak tahu bagaimana perasaan ini muncul." Aku menyeritkan keningku bingung, tidak mengerti dengan apa yang dia ucapkan dan untuk apa dia mengucapkan itu. "Waktu pertama kali melihatmu di masa MOS, kau membuatku penasaran dengan dirimu. Karena rasa penasaran itu, aku semakin mencari tahu tentang dirimu," lanjutnya yang entah kenapa membuat jantungku berpacu agak cepat.


"Adel, apa kau mau menjadi pacarku?" Tiba-tiba saja dia sudah berlutut di hadapanku, menawarkan sebuah bunga mawar. Hatiku saat ini benar-benar berkecamuk, bahkan jantungku terasa lebih cepat dari sebelumnya.


"Beri aku waktu untuk menjawabnya, Kak. Akan aku jawab pulang sekolah nanti." Aku tidak tahu bagaimana kata itu keluar begitu sajadari mulutku. Dan aku tidak tahu kenapa aku akan menjawabnya pulang sekolah. Kenapa aku tidak memberikan jeda kepada diriku sendiri untuk menjawabnya lebih lama. Aku lalu beranjak dan berlari menuju kelas.

__ADS_1


Aku duduk di bangkuku, menopang dagu dan mengingat-ingat kejadian barusan. Sebuah bunyi pesan mendarat membuatku mengecek ponselku lantas melihat isi pesan itu.


Gw lagi sakit. Pipiku bengkak karena gigiku, belum lagi flu yang entah datang dari mana.


Dia bahkan mengirimkanku fotonya yang sedang memamerkan betapa besarnya pipinya itu. Belum lagi hidung yang memerah dan ekspresi sendunya. Di foto itu dia seperti orang yang benar-benar butuh belas kasihan, sungguh.


Huaaa wajahmu sungguh imuuuttt. Aku bahkan tidak tahu apa bedanya kau dengan hamster wkwk


Aku tidak bisa menahan tawaku melihat ekspresi wajahnya itu. Astaga, ini benar-benar lucu.


Kau*?!! 😡👊


Aku meletakkan ponselku, tidak ingin membalasnya lagi. Tiba-tiba saja aku teringat tentang Kak Rega. Aku harus memberitahu Devan untuk meminta pendapatnya, padahal aku ingin sekali berbicara lansung dengannya. Tetapi kalau aku menelponnya, percuma saja, itu malah akan membuat giginya lebih sakit.


Devan, Kak Rega nembak aku. Dia bilang apa aku mau jadi pacarnya? Aku sangat butuh pendapatmu. Apa aku harus menerimanya atau nggak? Batas waktuku hanya sampai pulang sekolah nanti.


Aku menekan tombol send kemudian meletakkan ponselku di tas karena guru sejarah tiba-tiba saja masuk.


Bel berbunyi yang menandakan waktu pulang membuyarkan lamunanku. Saat guruku keluar, aku langsung mengecek ponselku, penasaran dengan jawaban Devan.


Akkh, pesanku tidak terkirim karena kuotaku tiba-tiba saja mendadak habis di keadaan sangat genting begini, pending. Ini seperti memaksaku untuk membuat keputusanku sendiri.


Aku berjalan menuju gerbang sekolah, mencari keberadaan Kak Rega. Aku melihatnya sedang berdiri di sana, melambaikan tangan dengan penuh semangat. Aku seperti di tariknya menuju ke sana.


"Bagaimana keputusanmu?" tanyanya menatap langsung manik mataku. Aku tidak pernah merasakan perasaan semendebar ini sebelumnya.


"Hmm." Aku tampak berpikir. Aku tidak punya alasan untuk menolak pria sepertinya. "Tetapi, Kak, aku punya satu permintaan."


"Apa?"

__ADS_1


"Aku tidak ingin terlalu di kekang, Kak. Aku juga tidak ingin pertemananku di batasi," ucapku tertunduk.


"Hei, aku tidak akan pernah menekan ataupun membatasi pertemananmu karena kau punya hak untuk melakukan apapun yang engkau mau selama semuanya masih baik-baik saja."


Aku menatapnya dengan senyuman tulus lantas mengangguk kecil. Aku rasa pipiku sudah mulai memerah.


"Iya? Itu berarti kau saat ini adalah pacarku?" Mata Kak Rega berbinar, dia sepertinya benar-benar gembira.


Aku kembali mengangguk untuk kedua kalinya. Satu alasan utama aku menerimanya karena aku tidak tahu kapan lagi mendapat kesempatan untuk menjadi pacar seorang Rega. Aku merasa diriku benar-benar beruntung untuk saat ini.


"Aku akan mengantarmu pulang."


***


Aku menghempaskan diriku di kasur, menatap ke langit-langit kamar dan membayangkan wajah Kak Rega yang manis itu. Aku sudah mengenal Kak Rega sejak lama. Dia mengajakku berkenalan waktu MOS. Diperkenalkannya namanya dan juga jabatannya sebagai panitia. Aku ingat betul bagaimana dia bersikap ramah padaku dengan senyumnya yang terlihat begitu tulus.


"Kenapa putri ayah tersenyum seperti itu?" tanya ayah yang melihatku dari luar kamar karena aku lupa menutup pintu kamarku. Aku kemudian duduk bersila di atas kasur. Ayah masuk dan duduk di kursi meja belajarku, menghadapkan kursinya ke arahku.


"Apa ayah akan marah kalau aku punya pacar?" tanyaku was-was dengan nada suara yang pelan.


"Kalau dia membuatmu bahagia, kenapa ayah harus marah?" jawab ayah dengan santainya. "Tetapi, kalau dia membuat putri ayah menangis, ayah tak akan mengampuninya," lanjutnya.


"Ayah, hari ini Kak Rega menembakku dan aku menerimanya."


"Boleh ayah bertemu dengannya?" tanya Ayah dengan ekspresi wajah serius.


"Aku akan memberitahunya, Yah. Kapan Ayah ingin bertemu dengannya?"


"Kalau bisa besok, ajak dia ke rumah untuk makan siang." Ayah kemudian beranjak keluar dari kamarku. Semoga saja semua akan baik-baik saja dan ayah akan menerima Kak Rega.

__ADS_1


Aku harap itu pilihan yang tepat.


__ADS_2