
Hari ini Devan lagi-lagi tidak datang ke sekolah. Bahkan pesan itupun belum sampai kepadanya karena aku begitu malas keluar membeli kuota. Lagi pula, aku akan mengabarinya kalah nanti dia sudah datang ke sekolah.
"Selamat pagi, Adel." Kak Rega tiba-tiba saja datang ke kelasku dengan wajahnya yang begitu ceria.
"Kenapa, Kak?" tanyaku sambil menatap manik matanya yang berwarna coklat tua itu.
"Ke kantin, yok," ajaknya.
Aku beranjak dari kursiku dan berjalan di samping Kak Rega yang menggenggam tanganku erat menuju ke kantin. Aku tidak peduli dengan tatapan-tatapan cewek yang melihatku sepanjang koridor sekolah. Bukannya takut, aku malah merasa diriku seperti menjadi seorang artis. Diperhatikan sepanjang jalan dan di puji dalam bisikan. Benar-benar menakjubkan.
"Kamu tunggu di sini. Aku pesan dulu."
Kak Rega pergi tanpa bertanya apa pesananku. Apa dia tidak akan memesankan makanan untukku? Aku akan menyusulnya jika itu benar-benar terjadi. Aku kemudian mengambil tempat ternyamanku untuk duduk. Pandanganku tiba-tiba teralih pada Wildan yang baru saja masuk ke kantin. Dia menatapku lalu menghampiriku yang saat ini sedang duduk sendirian.
"Ada apa?" tanyaku.
"Devan tidak ke sekolah. Aku akan menemanimu di sini." Dia menarik kursi di hadapanku.
Kak Rega tiba-tiba saja datang sebelum aku menanggapi ucapan Wildan. Kak Rega meletakkan sepiring nasi dan gado-gado yang dibawanya di atas meja lalu menarik kursi di samping Wildan. Aku juga dengan refleksnya pindah ke kursi di sampingku sehingga berhadapan dengan Kak Rega.
"Ini nasi gorengmu." Kak Rega memberiku nasi goreng itu tanpa memperdulikan keberadaan Wildan di sana lalu mulai melahap makanan yang ada di depannya.
"Ekhmm." Wildan yang sepertinya merasa terabaikan atau mungkin penasaran, pura-pura batuk sehingga membuat Kak Rega menoleh.
"Ada apa?" tanya Kak Rega kepadanya.
"Maaf, Kak. Kamu siapanya Adel?"
"Pacarnya," jawab Kak Rega dengan singkat, padat dan jelas kemudian kembali fokus ke makanannya.
Tanpa pamit, Wildan berdiri dan meninggalkan kami berdua. Dia pergi dengan wajah yang di tekuknya. Sepertinya dia sedang marah. Aku yang menatap ekspresi Wildan berusaha menahan tawaku. Sungguh, ekspresinya benar-benar lucu. Andai saja aku sudah akrab dengan Kak Rega, aku mungkin sudah tertawa terbahak-bahak.
"Dia siapa?" tanya Kak Rega penasaran.
"Mantan teman kelas, Kak. Kami dulu sekelas waktu kelas X," jawabku.
"Dia sepertinya menyukaimu." Kak Rega terkekeh pelan.
Sebegitu jelasnya kah Wildan menunjukkan perasaannya padaku. Tetapi aku adalah seorang Adel yang nggak peka, aku bahkan baru tahu Wildan menyukaiku dari Devan.
"Btw, dari mana Kakak tau kalau aku suka sama nasi goreng?" tanyaku mengganti topik pembicaraan.
“Setiap kau kekantin pasti pesannya ini,” jawabnya.
“Eh?”
“Ini lomboknya, kau suka makanan pedis, bukan?”
“Eh?” ucapku spontan, lagi.
Dia melihatku, tersenyum kemudian melanjutkan makannya. Tenang, Del, itu baru dua yang dia ketahui tentang aku. Mungkin saja hanya suatu kebetulan. Mana mungkin dia tahu banyak tentang aku.
Aku mulai menyatap makanan favoritku, nasi goreng yang sudah aku campur dengan lombok.
"Eh? Kenapa kakak melihatku seperti itu?" tanyaku saat aku sadar ternyata dia sedang menatapku dari tadi. Bukannya memalingkan wajah, dia malah tersenyum.
__ADS_1
"Kau ini selalu bilang 'Eh'." Dia tertawa kecil. "Kalau di perhatikan, kau benar-benar cantik. Tetapi apa salahnya menatap pacar sendiri?"
Blushh.. pipiku memerah, aku yakin itu. Daripada nanti semua wajahku memerah, lebih baik aku menghabiskan makananku dengan cepat dan beranjak dari sini.
"Tunggu, Kak." Aku menghentikan makanku sebentar, begitu pula dengannya.
"Ada apa?" tanyanya.
"Ayah aku pengen ketemu sama Kakak, hari ini bisa?" tanyaku pelan.
"Wow, baru sehari pacaran sudah di ajak ketemuan sama calon mertua."
"Eh?"
"Itu 'Eh' yang ke empat." Dia lagi-lagi tersenyum. "Aku akan singgah nanti."
***
"Menurut Kakak cinta pertama itu apa?" tanyaku mengawali topik pembicaraan di dalam mobil yang hening itu.
"Cinta pertama?" Kak Rega mengulangi pertanyaanku.
"Iya, Kak."
"Hmm." Kak Rega tampak berpikir. "Cinta pertama itu ya saat kau mulai tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Nah saat kau jatuh cinta, kau akan lebih sering mengingat orang itu, tersenyum karena tingkahnya atau kau sendiri malah salah tingkah saat berada di hadapannya," jelas Kak Rega sambil tetap melihat ke arah jalanan.
"Cinta pertama Kakak siapa?" tanyaku penasaran.
"Kamu," jawabnya yang membuatku salting. "Kalau kamu?"
"Aku nggak tau, Kak."
"Aku juga nggak tau, Kak."
"Gini aja, kau pernah pacaran sebelumnya?" tanya Kak Rega lagi.
"Tidak, kak."
"Itu berarti, bisa saja aku nantinya yang akan menjadi cinta pertamamu," ucap Kak Rega dengan santainya sambil tertawa kecil.
"Nanti?" Aku menyeritkan keningku, bingung.
"Aku tahu, Del. Kau belum mencintaiku. Tetapi aku percaya suatu saat nanti, kau akan mencintaiku," ucap Kak Rega.
Aku diam, tidak tahu ingin membalasnya dengan kata apa. Kak Rega sepertinya benar, aku belum mencintainya walau aku adalah pacarnya. Maafkan aku, Kak. Aku akan mencoba mencintaimu.
"Jangtungku kok kayak berdegup lebih kencang?" tanya Kak Rega saat kami sudah berada di depan rumah. Aku beranjak turun dari mobil, begitu pula dengannya.
"Ayah nggak akan makan orang kok." Aku terkekeh melihat betapa gugupnya dia.
Aku membuka pintu, masuk dalam rumah diikuti oleh Kak Rega. Padahal aku sudah menyuruhnya untuk masuk lebih dulu.
"Duduklah, Kak." Kak Rega kemudian duduk. Dia masih saja gugup, wajahnya menunduk. "Tenang saja, Kak, santuy. Aku masuk bikinin minuman dulu, Kak," pamitku.
"Tunggu, Del." Dia menahan tanganku. "Tidak perlu, temani saja aku di sini," pintanya.
__ADS_1
"Sebentar saja, Kak." Aku mencoba meyakinkannya dan akhirnya dia membiarkanku pergi.
Aku berjalan ke dapur, membuat dua gelas minuman dingin. Satu untuknya dan satu untuk ayah jika dia pulang nanti.
"Kau hanya membawa minuman?" tanya Bunda di sela-sela sibuknya memasak. "Bawakan cemilan sekalian."
Aku mengambil cemilan dan kembali ke ruang tamu, membawa nampan dengan hati-hati. Bersamaan saat aku ke ruang tamu, ayah juga telah pulang. Aku meletakkan nampan itu di atas meja dan menyabut ayah dengan pelukan hangat. Itu sudah menjadi kebiasaanku.
"Jadi ini pacarmu, Cil?" tanya Ayah menatap Kak Rega. Kak Rega kemudian berdiri dan menyalami tangan Ayah lalu duduk kembali saat Ayah mempersilahkannya.
"Siapa namamu?" tanya Ayah.
"Rega, Om."
"Sudah kelas berapa?"
"Kelas 12, Om."
"Tinggal di mana?"
"Perumahan indah, Om."
"Nama bapakmu siapa?"
"Dandi, Om."
"Yang seorang arsitek itu, bukan?"
"Iya, Om."
"Hebat banget bapakmu itu. Aku benar-benar takjub dengannya. Kau tahu? Dia adalah teman dekatku waktu SMP dulu. Dia begitu rajin dan juga pintar," ujar ayah.
Rega hanya menanggapi dengan tawa kecil.
"Cil, pergilah ke kamarmu mandi, kau bau," ucap Ayah tiba-tiba kepadaku, membuatku mendengus kesal.
Apa iya aku memang bau? Aku berjalan dengan malasnya ke kamar lalu mandi, meninggalkan Kak Rega berdua dengan ayah.
Seusai mandi dan berpakaian, aku mengeringkan rambutku dengan hair dryer, membiarkannya terurai dan berjalan menemui mereka.
"Kawaaaaaii." ucap Ayah dan juga Kak Rega bersamaan di depan televisi. Mereka nampaknya sedang asik menonton anime. Ok, Ayahku adalah wibu, mungkin Kak Rega juga.
"Cil, pergilah makan. Mereka sudah makan lebih dulu karena kau mandi begitu lama," ucap Bunda yang sedang sibuk memainkan ponselnya.
Aku makan sambil melihat betapa seriusnya mereka melihat adegan demi adegan, seolah tanpa berkedip sedikitpun. Mereka benar-benar fokus menonton.
"Kak, sudah jam tiga," ucapku sehingga mengganggu fokus mereka berdua. Kak Rega sudah satu jam lebih di sini. Itu tidak masalah, hanya saja nanti ibunya mencari dia.
"Serius?" Kak Rega kemudian beralih menatap jam dinding. "Aku harus pulang."
"Kenapa buru-buru?" tanya Ayah.
"Aku harus antar mama pergi arisan, Om." jawabnya kemudian menyalami tangan ayah.
"Sering-sering ke sini, Ya."
__ADS_1
Kak Rega hanya mengangguk. Aku mengantar Kak Rega keluar rumah. Dia kemudian mengendarai mobilnya setelah pamit padaku.
Ternyata mereka begitu cepat akrab.