
Ini aneh, 15 menit lagi bel masuk berbunyi, tetapi Devan belum datang ke kelasku. Kalau Devan tidak datang ke kelasku berarti aku yang akan pergi ke kelasnya. Aku beranjak dari kursiku dan berjalan keluar kelas.
"Adel?" Kak Rega menarik tanganku sehingga membuat langkahku terhenti.
"Iya, Kak?"
"Ayo ke kantin."
"Tetapi aku mau ke kelasnya Devan, Kak."
"Nanti aja kita singgah, aku lapar." Kak Rega tampak memegang perutnya.
Aku mengangguk dan dengan pasrahnya di tarik Kak Rega ke kantin, lagi pula aku juga sepertinya butuh sesuatu untuk di masukkan ke dalam perutku.
Setibanya di kantin, aku mendengar suara yang sudah sangat akrab di telingaku, aku mencari ke sekeliling dan mendapat Devan sedang makan dengan seorang gadis di meja ujung sana. Dia begitu bahagia, senyuman terpancar jelas di wajahnya. Siapa gadis itu? Aku tidak melihat wajahnya, dia membelakangiku.
"Kau mau makan apa, Adel?"
"Eh, Kak? Aku tidak lapar."
"Serius?"
Aku menatap wajah Kak Rega dan mengangguk pelan. Aku lalu mengambil kursi yang agak jauh dari Devan, kursi yang berada di dekat pintu masuk. Aku duduk, melihat Kak Rega makan sambil sesekali melirik sahabatku itu.
"Mau aku suap?" tanya Kak Rega sambil tertawa kecil yang aku tanggapi dengan gelengan kepala. Aku benar-benar tidak mood saat itu.
Devan berdiri dari kursinya dan saat itu aku melihat wajah gadis yang bersama Devan. Dia gadis dengan kulit putih, pipi tirus, mata sipit dan bodygoals banget. Dia benar-benar cantik sehingga membuatku merasa inscure.
Aku tidak tahu Devan pura-pura mengabaikanku atau tidak. Dia baru saja lewat di sampingku, bagaimana mungkin dia tidak melihatku? Apa aku melakukan kesalahan kepadanya? Entahlah.
Aku menghela nafas kasar, diabaikan olehnya membuatku benar-benar ingin menetekan air mata. Mataku mulai memanas. Aku tidak mengerti ada apa dengan hatiku sekarang.
"Ada apa, Adel?" tanya Kak Rega.
__ADS_1
"Kak, maaf, tetapi aku ingin ke kelas lebih dulu."
Kak Rega menatapku heran, tetapi tanpa bertanya dia menganggukkan kepalanya. "Nanti pulang bareng, Adel. Tunggu aku di gerbang," ucapnya yang aku jawab dengan senyuman tipis.
***
Sudah beberapa menit aku menunggu Kak Rega di gerbang tetapi dia tak kunjung datang, malahan yang aku dapat yaitu Devan yang lewat di depanku dengan motor dan juga gadis itu. Lagi? Hatiku kembali pilu.
Biasanya aku yang di gandeng di motor itu, di antar menuju ke rumahku sambil bercanda tawa. Dari pagi tadi, aku tidak pernah berbicara dengan Devan, ataupun menatap langsung matanya.
"Adel."
Aku menoleh dan mendapati Kak Rega yang sudah duduk di atas mobilnya. Aku duduk di samping Kak Rega, hanya diam, enggan bersuara walau Kak Rega sedang asyiknya bercerita di sampingku.
"Terima kasih, Kak."
Aku menutup pintu mobil milik Kak Rega, berjalan dengan lunglainya menuju kamarku lantas melemparkan tasku begitu saja ke kasur. Aku juga menghempaskan tubuhku dengan posisi tengkurap. Otak dan Hatiku lagi butuh kedamaian.
Apa aku benar-benar mencintai Devan dan menjadikan Kak Rega hanya sebagai pelampiasan? Tetapi bagaimana mungkin? Aku menyukai Kak Rega. Dia baik, pintar, perhatian, dan juga dewasa, sangat berbeda dengan Devan yang benar-benar menjengkelkan.
"Akh, apa itu cinta? kenapa rasanya serumit ini?" Aku mengacak rambutku kasar.
"Cil?" Ayah mengetuk pintu kamarku yang sedang terbuka itu. Aku memperbaiki dudukku dan menatap wajah ayah. "Ayo turun makan. Tetapi tunggu. Kau habis kesentrum? Kenapa rambutmu berdiri semua?"
"Ayah, Devan dekat dengan wanita lain dan dia mengabaikanku," ucapku to the point.
Ayah melangkah masuk, duduk di sampingku. "Kau harus pastikan, itu Devan atau bukan? Karena ayah yakin, Devan tidak akan pernah benar-benar mengabaikanmu," ucap ayah sambil mengelus rambutku.
"Apa aku menjadikan Kak Rega sebagai pelampiasan, Yah?"
"Kau menyukai Rega?" Ayah balik bertanya.
"Sepertinya, Yah."
__ADS_1
"Kau akan tahu jawaban atas pertanyaanmu sendiri, Cil," ujar ayah dengan lembut. Aku menatap wajah ayah yang sedang tersenyum kepadaku. " Ayo turun makan."
***
"Dia belum datang juga, Cil?" tanya ayah yang baru saja keluar dengan membawa tas kerjanya, sepertinya dia akan berangkat ke kantor.
"Belum, Yah." Aku menghela nafas kasar.
"Biar ayah yang mengantarmu ke sekolah."
Aku menatap jam di pergelangan tanganku, "5 menit lagi, Ayah"
Lima menit waktuku terbuang sia-sia menunggu kehadirannya. Aku tidak pernah menunggu seperti itu sebelumnya. Baru hari ini dan itu membuatku benar-benar merasa kecewa dengan diriku sendiri yang menaruh harap.
Aku berjalan dengan malasnya masuk ke dalam mobil, seperti enggan untuk ke sekolah. Enggan menatap wajah gadis Devan dan enggan saat Devan mengabaikanku.
"Sudahlah, Cil. Kau temui dia dan bicara baik-baik dengannya. Jangan terpengaruh oleh prasangkamu sendiri yang malah merusak moodmu," ucap ayah di tengah perjalanan.
"Sudah sampai, ayo turun." Aku menatap sekeliling, rupanya kami sudah berada di depan gerbang sekolah. Aku turun tanpa pamit pada ayah.
Sosok pria itu berada di hadapanku, berjalan sendirian dengan tergesa-gesa. "De." Ucapanku terhenti saat gadis yang sama menyapa Devan yang berada sepuluh meter di hadapanku.
Setibanya di kelas, aku melempar tasku ke atas meja dan duduk dengan menopang dagu, kesal. Sungguh.
"Kau kenapa, Del?" tanya Rasti.
"Bebeb Devanmu jalan sama cewek lain," ucapku judes. Moodku benar-benar hancur, lagi pula ini adalah jadwalku.
"Kau serius? OMG,OMG, OMG," ucap Rasti dengan hebohnya, tetapi untuk saat ini aku benar-benar tidak peduli.
Aku benci gadis itu, siapapun dia, aku akan sangat membencinya. Aku tidak pernah menganggap seseorang musuhku, tetapi gadis itu akan menjadi yang pertama kali.
Aku telah mengibarkan bendera kebencianku kepada gadis itu.
__ADS_1