Terjebak Dalam Ambigu

Terjebak Dalam Ambigu
Kasih Sayang Sepenuhnya


__ADS_3

Aku menatap jam di dinding kamarku yang menunjukkan pukul 14.53. Di hari Sabtu ini ayah mengajak kami untuk pergi berkemah di bukit yang jaraknya kurang lebih 50 km dari rumah. It's q-time. Hanya kami bertiga : aku, ayah dan bunda.


Aku mengemas barang-barang penting di dalam ransel kecilku. Seperti buku, kamera, earphone, radio mini, dan yang paling penting yaitu ponsel. Setelah memastikan tidak ada lagi yang tertinggal, aku segera berlari menuju ke luar. Ayah pasti sudah menunggu untuk mengunci pintu rumah


.


"Semua sudah siap? tidak ada yang tertinggal, bukan?" tanya ayah sembari memasang sabuk pengamannya. Bersiap untuk melajukan mobilnya, menempuh perjalanan yang pasti memakan waktu lebih satu jam itu.


Kami telah menempuh kisaran jarak 20 km . Jalan aspal yang kami lewati saat ini berada di tengah-tengah hutan. Saat kau melihat ke arah kiri, kau akan melihat hutan. Hal yang sama pun saat kau melihat ke arah kanan. Tetapi saat kau menoleh ke arah depan ataupun belakang, kau akan melihat jalanan aspal yang di apit oleh hutan. Sudahlah.


Aku mencondongkan tubuhku sedikit ke depan lantas menekan tombol bluetooth kemudian menghubungkan audio ponselku dengan speaker yang terpasang di mobil ini.


Aku kemudian memperbaiki posisi dudukku, bersiap untuk menggelar konser tanpa penonton. Beberapa detik kemudian, suara petikan gitar mulai terdengar dari speaker itu.


“Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa. Benturan dan hempasan terpahat di keningmu.”


“Kau tampak tua dan lelah, keringat mengucur deras.” Suara bunda yang ikutan menyanyi membuatku malah diam membisu. Tiba-tiba saja suaraku menjadi insecure saat mendengar betapa merdunya suara bunda.


×××


“Yeay, sudah sampai,” teriakku girang.


Aku segera beranjak turun dari mobil dan berlari ke arah yang lebih tinggi lagi dari bukit ini. Pandanganku tiba-tiba saja terpaku saat melihat apa yang ada di hadapanku, mulutku seakan tidak berhenti untuk berkata ‘wow.’ Aku segera mengambil kamera dan mengabadikan keindahan alam ini.


“Nanti saja foto-fotonya, Cil. Bantu ayah memindahkan barang-barang dari mobil," sahut ayah setelah mencari lokasi yang tepat untuk membangun tenda. “Apalagi pas senja, kau mungkin akan pingsan karena keindahannya,” kekehnya. Aku segera menyusul ayah yang telah menuju mobil.


"Huaaa, ini apa, Ayah? Berat sekali," keluhku sambil membawa kardus yang memiliki besar kisaran 40x50 cm. Lupakan soal ukurannya, kardus ini benar-benar berat.


"Mau ayah bantu?"


"I can do it my self, Dad."


"Alright."


Aku lalu meletakkan kardus itu di samping bunda yang sedang sibuk membangun tendanya. Terlihat jelas Bunda sedang berpikir, memegang dagunya kemudian memegang tenda itu lagi. Begitu seterusnya sampai tenda itu benar-benar berdiri dengan kokohnya.


Aku segera berlari dan membaringkan tubuhku di tenda, lelah, padahal hanya sedikit barang dan nyatanya badanku seperti butuh istirahat panjang.


"Cila, sini." Suara berat ayah membuatku segera bangun dan berlari menyusulnya.


Di tempat aku berdiri, di belakang ayah, membuatku mematung. Kami menghadap ke arah barat dan menyaksikan indahnya matahari tenggelam yang biasa orang sebut dengan kata ‘senja’. Sangat indah, sungguh. Aku dibuat takjub karenanya. Aku lalu berjalan perlahan menuju ke samping ayah dan duduk hanya beralaskan rerumputan. Aku benar-benar tidak ingin memalingkan wajahku bahkan untuk sedetik pun.


"Ayah suka sekali dengan senja.”

__ADS_1


Aku diam sejenak, masih mengamati keindahan senja itu. “Kenapa, Yah?”


“Kau tidak melihat cahaya indah itu, Cil?” Ayah menghembuskan nafas pelan lalu terdiam. “Setiap kali ayah melihat senja, ayah ingat bagaimana gugupnya ayah saat melamar bunda tetapi perasaan gugup itu berubah menjadi kebahagiaan terbesar saat bunda tersenyum sembari mengangguk pelan. Dan saat itu, ayah melihat dua keindahan, keindahan senja dan keindahan senyum bunda.”


Kalau bunda ada di sini, pasti bunda sudah blushing karena ayah. Aku sendiri bahkan membayangkan seakan aku ada di sana, menyimak betapa romantisnya orang tuaku dulu -walau sekarang tak kalah romantisnya.


×××


"Oh, cacing dalam perutku mulai demo meminta makanan," celetukku sambil memegang perutku yang dari tadi bersuara itu.


Ayah menatapku kemudian mengacak-acak rambut yang sudah aku tata dengan ikatan kucir kuda. Mungkin bagi beberapa orang, gaya itu hanya gaya biasa tetapi aku suka menata rambutku seperti itu. Dan sepertinya aku harus memperbaiki ikatannya lagi.


"Kita akan membuat ayam bakar BBQ," ucap bunda.


"Cil, ambilkan kardus yang kamu bawa tadi.”


Aku menuruti permintaan bunda dan berjalan menuju tenda. Untung saja jaraknya tidak sejauh tadi. “Pantas saja berat,” keluhku saat bunda membuka kardus yang berisi alat panggang itu.


Bunda mulai memanggang ayam yang bumbunya dia racik tadi di rumah. Aku duduk di samping Bunda, mengamati bara api di alat panggang itu, belum lagi asap-abu-abu yang di keluarkannya.


“Bunda, cinta pertama itu apa?” tanyaku membuka topik pembicaraan berdua dengan bunda.


“Cinta pertama?” tanya bunda kembali.


Aku dan ayah kemudian menyusun kayu bakar untuk api unggun. Setelah apinya menyala, aku dan ayah menyibukkan diri dengan main catur. Sedikit lagi aku akan menang, tetapi aku menghela nafas kasar saat gajah ayah memakan bentengku yang tadinya akan aku gunakan untuk memakan menteri milik ayah.


"Makanya lain kali harus teliti," ucap ayah dengan nada antara memberi nasehat atau malah mengejekku.


"Sekakmat." Aku tertawa. " Sekarang siapa yang harus lebih teliti?" ucapku yang jelas-jelas menyindir ayah tetapi ayah malah mengacuhkanku.


Bau ayam buatan bunda mulai tercium oleh indra penciumanku, membuat cacing di perutku makin berkobar dalam melakukan demonya untuk meminta makanan. OK, ini berlebihan, cacing dalam perutku tidak demo, mungkin saja mereka sedang rebahan dan menunggu makanan tiba-tiba saja ada di sampingnya.


Aku merapikan piring anyaman rotan bekas makan kami, membuang alas kertas itu di tempat yang seharusnya kemudian ikut bergabung dengan ayah dan di depan api unggun.


"Nyanyi lagu apa?" tanya Ayah yang sudah siap dengan gitar berwarna coklat miliknya. Tua-tua begini, ayahku mantan gitaris band loh, hanya saja band-nya belum sempat mencapai puncaknya, eh malah bubar. Katanya karena ingin mengejar cita-cita mereka atau kata lain, menyanyi bukan minat mereka.


"Lagu Ebiet G Ade, Yah. Yang judul lagunya Berita kepada kawan."


"Kau tidak bosan? Setiap malam kau putar lagu di kamarmu, habis itu kau gelar konser yang penontonnya cuma para boneka,” ejek ayah dan beberapa detik kemudian mulai tertawa terbahak-bahak.


"Eh? dari mana ayah tahu?" Aku memasang wajah terkejut kemudian beralih ke tatapan sinis.


Ayah masih belum berhenti tertawa. Apa ayah begitu puas mengejek putrinya ini? Mungkin karena lelah, ayah kembali fokus pada gitarnya itu. Petikan gitar ayah mulai menciptakan nada dengan irama seperti lagu aslinya dan aku mulai mengikuti irama petikan gitar itu, bernyanyi tanpa peduli betapa jeleknya suaraku.

__ADS_1


"Astaga, apinya padam, pasti karena sudah enggak sanggup dengar suara kamu, Cil," ejek ayah lagi. Jujur saja, aku bahkan heran dengan diriku sendiri. Ayahku punya suara yang bagus, begitu pula bunda, dan aku? Ah, entah.


"Biarkan saja api itu. Ayo tidur di bawah bintang," ajak Bunda yang lebih dulu beranjak untuk menggelar tikar.


Aku membaringkan diriku di tengah-tengah mereka, menatap ke langit malam yang dipenuhi dengan bintang dan pantulan cahaya bulan yang menembus atmosfer bumi. Aku tak pernah menyangka akan melihat ratusan bintang malam ini. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali melihat bintang karena polusi udara di kota menghalangi cahaya bintang-bintang itu.


"Andai saja Devan ikut," ujar Ayah tiba-tiba. Aku menoleh ke arah ayah yang masih tetap menatap bintang di langit.


"Memangnya kenapa kalau dia ikut, Ayah?"


"Ya pasti makin seru saja, ayah sudah menganggap Devan seperti anak ayah sendiri. Orangnya baik, pintar, belum lagi ketampanannya hampir melampaui ketampanan ayahmu ini." Ayah terkekeh pelan.


"Baik? Devan itu orangnya sangat menyebalkan, Ayah,” decakku kesal, jelas-jelas Devan selalu saja bisa memancing emosiku.


"Bunda malah setuju sama Ayah,” sahut bunda.


"Lupakan soal Devan, Ayah dan Cila paling suka sama rasi bintang yang mana?" lanjut bunda.


"Cassiopedia, ayah suka sama rasi bintang itu karena bentuknya cantik dan juga sederhana."


"Cantikkan mana dibanding bunda?" tanyaku yang berhasil membuat ayah batuk.


"Ya elah, kau sudah tahu jawaban ayah. Lagi pula sulit membandingkan sesuatu yang benar-benar berbeda. Tetapi pastinya cantikkan bunda." Ayah menjawab dengan santainya di sertai nada gombalan.


Aku menatap Bunda yang tersipu malu. Dia langsung bangun dan memegang pipinya. Aku rasa semburat merah itu kembali muncul menghiasi wajah cantiknya. Dasar ayah yang selalu saja menciptakan semburat merah itu.


"Kalau kau, Cil? Suka rasi bintang yang mana?" tanya ayah.


"Yang apa lagi namanya, Yah? Yang awalannya O itu? Ah ya, Orion."


"Elah, suka tapi namanya lupa," sindir ayah. "Kenapa suka yang itu?


"Entah, suka saja dengar namanya."


"Kau mau ayah ceritakan tentang kisahnya?"


Tetesan air menerpa pipiku di saat aku mulai bersiap untuk mendengarkan cerita Ayah.


"Hujan."


Ayah tiba-tiba saja bangun dan membuatku refleks mengikuti gerakannya, menggulung tikar dan berlari menuju tenda.


Hujan itu tiba-tiba saja datang tanpa tanda.

__ADS_1


__ADS_2