
Aku memperhatikan angka-angka yang ada di bukuku lalu mulai mengerjakannya. Sesekali aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal itu. Aku mendongak saat Rasti memanggilku dan aku jawab dengan menaikkan kedua alisku. Dia memintaku untuk menemaninya pergi ke ruang guru. Aku menghela nafas pelan lalu menatap sekeliling, ternyata hanya tinggal kami berdua di ruangan ini.
"Baiklah," ucapku pasrah. Aku bukan tipe orang yang akan membiarkan temanku sendiri jika dia sudah meminta padaku. Tetapi andai saja ada orang lain di kelas ini, tentu saja permintaannya itu akan aku tolak.
Dia berjalan di sampingku, terlihat berupaya menyejajarkan cepatnya langkahku. Aku juga heran kenapa gadis sepertiku berjalan dengan langkah yang cepat. Bahkan Devan pun pernah protes karena langkahku ini. Tiba-tiba saja langkahku terhenti saat aku mendengar suara Kak Rega. Aku menoleh dan mendapatinya duduk di bangku taman dengan Devan.
"Ras, aku akan menunggumu di sini," bisikku. Rasti sedikit terlihat kecewa tetapi dia tetap mengangguk. Aku kemudian bersembunyi di balik pohon di belakang mereka dan mendengar apa yang mereka bicarakan. Aku sudah kayak mata-mata saja.
"Kamu harus percaya denganku. Aku akan selalu menjaganya, aku tidak akan membiarkan air mata itu tumpah,” pinta Kak Rega dengan suaranya yang berat itu.
"Bagaimana bisa gw percaya?" Suara Devan terdengar judes. Lihatlah dia, tidak punya etika sama yang namanya kakak kelas.
“Bagaimana aku harus membuktikannya?”
Devan menghela nafas -bahkan aku bisa mendengar suara angin yang di timbulkan dari helaannya itu. “Biarkan dia tetap bahagia. Hanya itu. Aku tidak akan menyuruhmu untuk menjaga air matanya karena aku begitu mengenal Adel. Tetapi saat dia mengadu padaku tentang kau. Maka aku ingin kalian pisah.”
Kak Rega tampak berpikir, “baiklah. Jadi kamu merestuiku sekarang?”
“Mau bagaimana lagi?”
Seseorang menepuk bahuku dan membuatku terperanjat kaget, untung saja aku tidak mengeluarkan suara. Itu Rasti, sepertinya dia sudah selesai dengan urusannya. Padahal aku masih ingin menguping pembicaraan seru ini.
×××
"Uuuu, Devanku." Aku mencubit pipinya, gemas. Dia mengaduh kesakitan dan berusaha melepaskan tanganku. Alisnya juga terangkat yang mengisyaratkan bahwa dia kebingungan. Ini pertama kalinya aku bertemu dengan Devan setelah pembicaraannya dengan Kak Rega tadi. "Bunda mencarimu, kau tidak ingin ke rumah?" tanyaku setelah melepas cubitanku di pipinya.
"Kebetulan, perutku juga lapar. Ayo naik."
Devan melajukan motornya di jalan yang ramai seperti biasanya. Aku meletakkan daguku di bahunya dan membisikkan sebuah ungkapan terima kasih. Aku tidak peduli dia mendengarnya atau tidak.
"Sepertinya ada yang baru saja akur," goda ayah saat kami baru saja tiba di depan rumah. Ayah sepertinya juga baru pulang dari kantor.
Setelah memarkirkan motornya, Devan segera menyalami tangan ayah sedangkan aku memeluk ayah. Kami kemudian masuk ke dalam rumah dan di sambut dengan wanginya masakan bunda.
"Devan? Terakhir kali bunda melihatmu waktu kau menjenguk Cila. Kenapa kau jarang datang," tanya bunda saat Devan menyalami tangannya. Dilihat dari raut wajah bunda, sepertinya dia merindukan Devan. Entah bagaimana Devan mencuri hati kedua orang tuaku.
Devan tidak menjawab pertanyaan bunda melainkan hanya menggaruk tengkuknya lantas tertawa kecil. Malu.
__ADS_1
Bunda kemudian mengajak kami untuk makan siang. Tentu saja hal inilah yang dari tadi di tunggu Devan. Bahkan suara perutnya tanpa sengaja terdengar dan berhasil menciptakan tawa di keluarga ini.
"Bagaimana harimu, Devan?" tanya ayah yang mengawali topik makan siang hari ini.
"Ayah hanya bertanya pada Devan? Dengan anak sendiri tidak?" ucapku memutar bola mataku, malas.
"Baik, ayah. Walau seperti biasanya. Hari ayah bagaimana?" tanya Devan.
"Ya, hanya masalah biasa yang terjadi di kantor, lagi pula ini akan cepat selesai," jawab ayah.
Aku kembali menghela nafas, mengoceh dalam hati, mereka berdua mengabaikanku, seakan-akan aku tidak berada di tengah-tengah mereka. Lebih baik menikmati makan siangku tanpa memedulikan percakapan mereka saat ini.
"Dellong, Dell ." Panggilan Devan membuatku mendongak ke arahnya. Dia bahkan memukul bahuku pelan. "Ayah bicara padamu. Kau tak mendengarnya?" tanya Devan.
"Saat aku bicara tak ada yang mendengarku,” ketusku.
"Dasar anak ayah. Kamu lagi pms ya?” tanya ayah diselingi tawa.
Setelah menghabiskan waktuku, Devan pamit pulang dan aku segera naik ke kamarku untuk mengganti pakaian. Jam sudah menunjukkan pukul 15.30. Aku hampir lupa kalau aku ada janji dengan Kak Rega. Sebentar lagi dia pasti akan datang menjemputku.
×××
"Es krim, Kak.”
“Adel, Adel, kita memang lagi di kedai es krim, Sayang.” Panggilan dari Kak Rega itu membuatku tersipu malu, menciptakan semburat merah di pipiku.
“Hehe, maaf, Kak.” Aku mendadak menjadi canggung.
"Kau ini selalu saja memanggilku 'Kak'. Bukankah aku sudah melarangmu? Lebih baik kau memanggilku dengan nama Rega atau enggak 'sayang'." Kak Rega tersenyum. Manisnya pacarku. Apa salahku sehingga dikelilingi oleh orang-orang manis.
"Bagiku tidak sopan memanggil kakak kelas tanpa embel-embel 'kak'."
"Kamu ini." Kak Rega lagi-lagi tersenyum. Coba saja hitung berapa kali dia berhasil membuatku meleleh karena senyumannya itu. "Aku pacarmu apa kakak kelasmu?" Kak Rega mencubit hidungku pelan. Akh, aku merasa ada semburat merah di pipiku yang kembali muncul tiba-tiba dan membuatku ingin pingsan sekarang juga. Ok, aku berlebihan.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Kak Rega menatap manik mataku dengan lekatnya, menambah semburat merah di pipiku yang mungkin sudah menyebar ke seluruh wajah. "Wajahmu memerah, kau sakit? atau kamu alergi panas matahari?"
“Pacarku yang SOK polos,” gumamku pelan dan hanya di balas dengan tawa kecil. Tetapi entah kenapa jantungku saat ini berdenyut lebih cepat.
__ADS_1
“Tunggu sebentar," Kak Rega mengangkat tangannya, memanggil sang waiter yang sedang berdiri di samping pintu masuk. Waiter itu kemudian menghampiri kami.
“Strawberry and bubble gum” ucap Kak Rega yang di beri anggukan oleh waiter tersebut.
Dalam beberapa menit es krim itu sudah di suguhkan di hadapanku. Makan es krim sambil menikmati aktivitas kota di sore hari benar-benar merelakskan, hanya saja masih terlalu awal untuk menginginkan senja saat ini. Walaupun begitu, tetap saja sama menyenangkannya.
"Ada noda es krim di wajahmu, Kak." ucapku. Aku kemudian segera mengambil tisu yang tak pernah absen dari tasku. Baru saja aku ingin menyodorkannya, tetapi wajahnya sudah bersih.
"Terima kasih." Dia menatap wajahku yang saat ini memasang ekspresi kesal. "Kenapa?" tanyanya.
"Seharusnya aku yang mengelapkan tisu di wajah kakak. Kakak membatalkan ke-uwu-an ini," gumamku pelan sembari memanyungkan bibi. Dia meenatapku dengan raut wajah bingungnya. Tampaknya dia tidak mengerti dengan apa yang aku katakan.
Beberapa detik kemudian dia tertawa, sepertinya ucapanku baru selesai diprosesnya. Aku menunduk, malu. Ingin rasanya aku mengutuk diriku sendiri yang mengucapkan itu tanpa berpikir lebih dahulu. Aku benar-benar malu sekarang.
"Del." Panggilannya membuatku mendongak, menatapnya. Dia menunjuk bawah pipi kirinya. Ada noda es krim di sana.
Lupakan soal yang tadi, kesempatan ini tidak boleh di sia-siakan. Aku kemudian mengelap mulutnya dengan lembut. "Pacarku yang manis," tuturku pelan.
"Kau ini." Kak Rega mengacak-acak rambutku pelan. Membuat semburat merah di pipiku kembali muncul. Sudahlah, hatiku benar-benar lemah karena tingkahnya itu. "Ayo pulang, calon ayah mertuaku pasti sudah menunggu putrinya." Lagi?
Kak Rega berdiri lebih dulu dan menyodorkan tangannya kepadaku. Rambunya yang di terpa cahaya matahari menambah ketampanannya. Dia seperti pangeran berkuda yang di dambakan setiap wanita. Huaaa, mimpi apa aku sampai-sampai Kak Rega bisa menjadi pacarku.
“Tunggu, Kak. Tali sepatuku terlepas.” Aku membelakanginya, menghadap ke arah lain kursi dan mulai mengikat sepatuku itu. Jangan mengharapkan adegan romantis di sini, pipiku sudah lelah menyemburatkan warna merah berulang kali.
“E, Kak.” Suara itu membuatku segera menoleh ke arah pacarku itu. Tunggu, aku tidak bisa percaya, hanya sebentar aku memalingkan wajah, tetapi Kak Rega sudah memeluk wanita lain di hadapanku. Tubuh Kak Rega sedikit menghalangi wajah wanita itu dari pandanganku dan wanita itu juga malah tertunduk.
“Kak?” lirihku. Dan dengan cepatnya Kak Rega melepaskan wanita itu. “Yolanda?” gumamku. Aku tidak salah lihat, kan? Itu benar Yolanda.
Aku mengepal tanganku, geram. Tanpa basa-basi, aku langsung berbalik, meninggalkan Kak Rega dan juga Yolanda berdua. Sebagai seorang wanita, aku tidak bisa menerima begitu saja saat pacarku memeluk wanita lain apalagi di hadapanku.
"Adel, tunggu." Aku mengabaikan panggilan Kak Rega. Aku berlari, entah Kak Rega mengejarku atau tidak, aku tidak peduli. Saat ini mataku terasa memanas. Aku lalu menghentikan taksi yang melintas di hadapanku. Duduk dengan kalemnya di dalam sembari menatap kota dari balik jendela taksi ini.
"Ke Jalan Salo Kanan,” lirihku.
Dulu, aku menganggap Devan childish ternyata aku juga sama. Aku belum bisa bersikap dewasa saat ini, aku tidak ingin mendengar penjelasannya lebih dulu atau hanya sekedar pamit. Egoku masih lebih tinggi untuk saat ini.
"Kamu sudah dua kali naik ke taksi ini dan dua kali pula kau menangis," ucap sopir taksi itu, memecah lamunanku. "Aku ingat waktu mengantarmu ke perpustakaan, kamu juga sedang menangis, bukan?" lanjutnya.
__ADS_1
Aku kembali mengabaikannya, mencoba menahan air mata selanjutnya yang akan turun. Aku akan ke rumah Devan, tetapi aku tidak ingin mengadu kepada sahabatku tentang pacarku. Aku belum siap untuk putus dengan Kak Rega yang telah menjadi hubungan denganku 4 hari yang lalu.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Ah, entah.