Terjebak Dalam Ambigu

Terjebak Dalam Ambigu
Siapa Gadis Itu?


__ADS_3

Ini aneh, sudah 10 menit semenjak bel istirahat berbunyi tetapi Devan belum datang ke kelasku. Kalau Devan tidak datang ke kelasku berarti aku yang akan pergi ke kelasnya. Kak Rega? Aku bisa memakluminya, mungkin dia sedang sibuk belajar karena ujian semakin dekat. Aku menghela nafas pelan lalu beranjak dari kursiku dan berjalan keluar kelas.


"Adel?" Kak Rega menarik tanganku sehingga membuat langkahku terhenti.


"Iya Kak?"


"Ayo ke kantin."


"Tetapi aku mau ke kelasnya Devan, Kak."


"Nanti saja kita singgah, aku lapar." Kak Rega tampak memegang perutnya dengan wajahnya yang dia buat memelas. Bukannya kasihan, wajah itu benar-benar versi wajah imutnya Kak Rega. Bolehkah aku mencubit pipinya itu?


Aku mengangguk dan dengan pasrahnya di tarik Kak Rega ke kantin -diculik cogan asyik nih. Lagi pula aku juga sepertinya butuh sesuatu untuk di masukkan ke dalam perutku. Cacing dalam perutku bahkan terdengar memberontak, meminta jatah makan siangnya.


Setibanya di kantin, aku mendengar suara yang sudah sangat akrab di telingaku, aku mencari ke sekeliling dan mendapat Devan sedang makan dengan seorang gadis di meja ujung sana. Dia begitu bahagia, senyuman dan juga tawa terpancar jelas di wajahnya. Siapa gadis itu? Aku tidak bisa melihat wajahnya karena dia membelakangiku.


"Kau mau makan apa, Adel?"


"Eh, Kak? Aku tidak lapar." Ugh! nafsu makanku hilang.


"Serius?"


Aku menatap wajah Kak Rega dan mengangguk pelan. Aku lalu mengambil kursi yang agak jauh dari Devan, kursi yang berada di dekat pintu masuk. Aku duduk, melihat Kak Rega makan sambil sesekali melirik ke arah sahabatku itu.


"Mau aku suap?" tanya Kak Rega sambil tertawa kecil yang aku tanggapi dengan gelengan kepala pelan. Aku benar-benar tidak mood saat ini.


Devan berdiri dari kursinya dan saat itu aku melihat wajah gadis yang bersama Devan. Dia gadis dengan kulit putih, pipi tirus, mata sipit dan bodygoals banget. Dia benar-benar cantik sehingga membuatku merasa insecure.


Mereka berdua lewat di sampingku. Aku tidak tahu Devan pura-pura mengabaikanku atau tidak. Dia baru saja lewat di sampingku. Bagaimana mungkin dia tidak melihatku? Apa aku melakukan kesalahan kepadanya? Ah, entah. Tetapi apa salahnya hanya sekedar menyapaku.


Aku menghela nafas kasar, diabaikan olehnya membuatku ingin meneteskan air mata. Mataku bahkan mulai memanas seiring dengan setiap langkah mereka berdua. Aku tidak mengerti ada apa dengan hatiku sekarang. Aku tidak sedang cemburu, bukan?


"Ada apa, Adel?" tanya Kak Rega yang membuyarkan lamunanku.

__ADS_1


"Kak, maaf, tetapi aku ingin ke kelas lebih dulu."


Kak Rega menatapku heran, tetapi tanpa bertanya lebih lanjut, dia menganggukkan kepalanya. "Nanti pulang bareng, Adel. Tunggu aku di gerbang," ucapnya yang aku jawab dengan senyuman tipis.


×××


Sudah beberapa menit ini aku menunggu Kak Rega di gerbang tetapi dia tak kunjung datang, malahan yang aku dapat yaitu Devan yang lewat di hadapanku dengan motor dan juga gadis itu. Lagi? Hatiku kembali teriris, rasanya begitu pilu.


Biasanya aku yang di gandeng di motor itu, di antar menuju ke rumahku sambil bercanda ria. Dari pagi tadi, aku tidak pernah berbicara dengan Devan, terlebih lagi, menatap langsung matanya.


"Adel."


Aku menoleh dan mendapati Kak Rega yang sudah duduk di atas mobilnya. Dengan berat, aku melangkah dan naik duduk di samping Kak Rega. Aku menyandarkan kepalaku, hanya diam, enggan bersuara walau Kak Rega sedang asyiknya bercerita di sampingku.


"Terima kasih, Kak,” lirihku.


Aku menutup pintu mobil milik Kak Rega, berjalan dengan lunglainya menuju kamarku lantas melemparkan tasku begitu saja ke kasur. Tubuhku yang rasanya sangat lelah aku hempaskan begitu saja di atas kasur dengan posisi tengkurap.


Apa aku egois? Apa aku mencintai Devan dan menjadikan Kak Rega sebagai pelampiasan? Tetapi bagaimana mungkin? Aku menyukai Kak Rega. Dia baik, pintar, perhatian, dan juga dewasa, sangat berbeda dengan Devan yang benar-benar menjengkelkan.


"Akh, apa itu cinta? kenapa rasanya serumit ini?" Aku mengacak rambutku kasar.


"Cil?" Ayah mengetuk pintu kamarku yang sedang terbuka itu. Aku dengan segera duduk lalu menatap wajah ayah. "Ayo turun makan. Tetapi tunggu. Kau habis kesetrum listrik? Kenapa rambutmu berdiri semua?"


"Ayah, Devan dekat dengan wanita lain dan dia mengabaikanku," ucapku to the point.


Ayah melangkah masuk, duduk di sampingku. "Sebenarnya bukan salah Devan jika dia dekat dengan wanita lain, dia punya hak untuk itu, Adel. Bukankah kau juga dekat dengan Kak Rega? Bahkan kau adalah pacarnya. Dan lagi pula, ayah yakin Devan tidak akan bersikap seperti itu tanpa ada sebab,” ujar ayah sambil menyisir rambutku dengan tangannya, memperbaiki rambutku yang teracak tidak jelas itu.


"Apa aku menjadikan Kak Rega sebagai pelampiasan, Yah?"


"Kau menyukai Rega?" Ayah balik bertanya.


"Sepertinya, Yah."

__ADS_1


"Kau akan tahu jawaban atas pertanyaanmu sendiri, Cil," ujar ayah dengan lembut. Aku menatap wajah ayah yang sedang tersenyum kepadaku. " Ayo turun makan."


×××


"Dia belum datang juga, Cil?" tanya ayah yang baru saja keluar dengan membawa tas kerjanya. Kemudian di bukanya kunci mobil itu dengan remot di tangannya.


"Belum, Yah." Aku menghela nafas kasar.


"Biar ayah yang mengantarmu ke sekolah."


Aku menatap jam di pergelangan tanganku, "5 menit lagi, Yah,” pintaku yang membuat ayah ikut duduk di sampingku.


Lima menit waktuku terbuang sia-sia menunggu kehadirannya. Aku tidak pernah menunggu seperti ini sebelumnya. Biasanya jika dia terlambat datang, aku mengabaikannya dan pergi dengan ayah. Tetapi baru hari ini dan itu membuatku benar-benar merasa kecewa dengan diriku sendiri yang menaruh harap pada sesuatu yang tidak pasti.


Aku berjalan dengan malasnya masuk ke dalam mobil, seperti enggan untuk ke sekolah. Enggan menatap wajah gadis itu dan enggan saat Devan mengabaikanku.


"Sudahlah, Cil. Kau temui dia dan bicara baik-baik dengannya. Jangan terpengaruh oleh prasangkamu sendiri yang malah merusak mood-mu," ucap ayah di tengah perjalanan.


"Sudah sampai, ayo turun,” ujar ayah. Aku menatap sekeliling, rupanya kami sudah berada di depan gerbang sekolah. Aku meraih tangan ayah, menyalaminya, lalu melangkahkan kakiku dengan begitu malas.


Sosok pria itu tiba-tiba saja berada di hadapanku, berjalan sendirian dengan tergesa-gesa. "De." Ucapanku terpotong saat gadis yang sama menyapa Devan yang berada sepuluh meter di hadapanku. Devan menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah gadis itu. Mereka lalu berjalan berdampingan.


Setibanya di kelas, aku melempar tasku ke atas meja dan duduk dengan menopang dagu, kesal. Sangat kesal.


"Kau kenapa, Del?" tanya Rasti.


"Bebeb Devanmu jalan sama cewek lain," ucapku judes.


"Kau serius? OMG, OMG, OMG," ucap Rasti dengan hebohnya, tetapi untuk saat ini aku tidak peduli. Hai, otak. Tidak bisakah kita berdamai?


Huaaa, aku benci gadis itu. Siapa pun dia, aku akan sangat membencinya. Aku tidak pernah menganggap seseorang musuhku, tetapi gadis itu akan menjadi yang pertama kali.


Bolehkah aku berkelahi dengannya? Atau menjambak rambutnya? Akh

__ADS_1


__ADS_2