
Aku menghabiskan waktu istirahatku di bangku taman sekolah, menatap bunga-bunga, menunggu pucuk yang entah kapan mulai mekar menjadi bunga yang indah. Hanya itu, menikmati waktuku sendiri.
"Kau di sini, Dellong?" Suara yang tidak asing itu membuat senyuman tipis di wajahku. Aku mendongak, ternyata dia tidak sendiri. Itu membuat senyuman di wajahku kembali menghilang.
Aku berdiri dari bangkuku, beranjak, meninggalkan Devan yang menatapku dengan wajah heran. "Del." Dia menahan tanganku sehingga aku menghentikan langkahku.
"Aku lagi badmood, Devan," lirihku. Enggan untuk menoleh ataupun menatap mereka berdua.
"Tetapi kenapa?" tanyanya.
Dengan terpaksa aku menoleh, melihatnya dengan tatapan malas dan mengisyaratkan untuk melepas genggaman tangannya dengan tatapan mata. Dia mengerti, lalu melepas tanganku dengan pelan. Aku ingin rasanya menangis. Akhh, aku tidak paham dengan diriku sendiri.
Aku berjalan ke kelas, kembali duduk di bangkuku dengan menopang dagu, menunggu mata pelajaran selanjutnya walaupun nanti ujung- ujungnya nggak nyimak. Aku hanya ingin pulang ke rumah lebih awal.
"Mau pulang bersamaku?" tanya Devan saat aku sedang berdiri di gerbang sekolah.
"Aku sama Kak Rega," ucapku padahal aku belum punya janji dengan Kak Rega. Semoga saja Kak Rega akan mengantarku pulang.
Aku menghampiri Kak Rega yang baru saja akan masuk ke dalam mobilnya. Dengan senyum yang bersahabat, Kak Rega mengangguk.
"Kak, apa kakak tidak marah denganku?" tanyaku memecah keheningan di dalam mobil itu. Aku hanya menatap ke depan, tanpa menoleh ke arahnya.
"Marah?" tanya Kak Rega balik.
"Aku tidak mengerti dengan hatiku sendiri, Kak. Aku tidak suka saat melihat ada seseorang yang dekat dengan sahabatku," lirihku.
"Jadi kamu dari kemarin badmood gara-gara cewek yang dekat dengan Devan?" Kak Rega tertawa kecil. "Del, tenang saja. Itu wajar kalau kau cemburu saat ada yang dekat sama sahabatmu. Itu artinya kau takut kehilangan dia. Kalau kau tanya bagaimana perasaanku, apa aku marah? Tenang, aku baik-baik saja. Serius. Seperti Devan merestui aku dekat denganmu, aku juga akan tenang-tenang saja saat kau dekat sama Devan. Dalam pemikiranku, aku menganggap Devan adalah kakakmu," ucap Kak Rega yang masih fokus pada jalanan yang ada di hadapannya.
Aku menghela nafas pelan, mencerna kata-kata Kak Rega.
"Aku akan bertanya padamu? Apa seseorang yang baru masuk dalam hidup orang lain punya hak untuk melarang orang itu dekat dengan kakaknya sendiri?"
Aku tidak mengangguk ataupun menggeleng. Hanya terdiam. Apa mungkin perasaanku ke Devan hanya seperti perasaan adek ke kakaknya, yang takut kehilangan kakaknya? Entahlah.
"Sampai ketemu besok di sekolah, sayang." Kak Rega melambaikan tangannya dari dalam mobil kemudian melajukan mobilnya menjauh dari rumahku.
Aku melangkah, masuk ke dalam kamarku lalu mengganti pakaian dengan kaos oblong hitam kebesaran dan celana yang panjangnya hanya selutut.
Ucapan Kak Rega seperti memberi setitik cahaya di dalam hatiku, membuat keambiguan dalam hatiku mulai berkurang.
Suara ketukan membuatku menoleh ke arah pintu kamarku yang sedang tertutup itu. Aku berjalan untuk membukanya. Dia, Devan, sedang berdiri di hadapanku dengan senyuman tipisnya. Dia bahkan masih
__ADS_1
"Boleh aku masuk?" tanyanya.
Aku mengangguk pelan dan menyuruhnya duduk di kursi meja belajarku, sedangkan aku hanya berdiri menghadap ke jendela.
"Kau ingin mengatakan sesuatu?" Dia mulai membuka topik di siang hari yang mendung itu.
Aku menghela nafas kasar lalu duduk di pinggir kasur, menghadap ke arahnya.
"Kamu mengabaikanku," ucapku lalu melipat tanganku di depan dada.
"Kapan?"
"Kemarin di kantin, kau bahkan tidak menyapaku."
"Aku tidak melihatmu."
"Bagaimana mungkin? Jarak kita begitu dekat."
"Aku benar-benar tidak melihatmu."
Aku kembali menghela nafas kasar. Yang aku tahu, Devan tidak pernah berbohong kepadaku.
"Gadis itu, dia anak pindahan, belum punya teman di sekolah ini. Mana mungkin aku membiarkannya sendiri."
"Kau kan bisa memanggilku lebih dulu."
"Nanti gadis itu tahu bagaimana sikap Dellongku saat di ajak ke kantin. Lagi pula, kalau mau ke kantin kau harus di paksa atau nggak harus di traktir."
"Jadi kamu lebih milih traktir gadis itu dari pada aku?"
"Nggak, kita bayar sendiri-sendiri. Nggak kayak kamu yang minta traktir saar makan."
"Ada cermin di sana. Kenapa kau tidak bercermin." Aku memanyungkan bibirku.
"Lupakan itu."
"Kau meninggalkanku dan pulang sama wanita itu."
"Aku tidak meninggalkanmu. Sebelum ke kantin hari itu, aku ketemu sama Kak Rega dan meminta tolong untuk mengantarmu pulang karena aku harus mengantar gadis itu."
"Paginya, kenapa kau tak menjemputku?"
__ADS_1
"Aku terlambat bangun, Dellong. Belum lagi aku punya janji sama Pak Sandi. Jadi aku ambil jalan pintas supaya cepat sampai ke sekolah."
"Aku benci gadis itu," ucapku jujur, menatap lekat manik matanya. Dia tidak menjawabku, hanya diam lalu mengecek ponselnya, seperti menghubungi seseorang. Saat mendapat balasan atas pesannya, dia kemudian berdiri, menarik tanganku keluar dari kamar.
"Kita mau kemana?" tanyaku.
"Ikut saja,"
"Woi, baju gw kek gembel."
Devan mengabaikanku. "Ayah, aku pinjam dellong bentar," ucapnya sama ayah yang baru saja pulang.
"Ok sip," jawab Ayah dengan cueknya.
Devan kemudian menyuruhku naik ke atas motornya, entah kenapa aku nurut begitu saja. Dia membawaku ke sebuah cafe. Wait, cafe? Aku dengan bajuku ini masuk ke cafe? Tunggu, ini kesalahan. Tetapi Devan tidak peduli, hanya terus menarikku masuk ke dalam.
"Terima kasih sudah menunggu," ucap Devan kepada wanita itu, wanita dengan seragam SMA yang aku temui kemarin dan juga tadi. Wanita yang aku benci itu.
"Hai, Adel," sapanya kepadaku, membuatku menyeritkan kening, bingung. Aku tidak mengenalnya. "Kenapa kau menatapku seperti itu? Jangan bilang kau melupakanku," ucapnya sambil terkekeh.
"Aku tak mengenalmu." Aku berdecak kesal.
"Hai, bukankah kita dulu pernah berdamai, kenapa sekarang kau masih marah?" tanyanya lagi.
Aku mulai berpikir, mengingat siapa orang yang ada di hadapanku. Jika dia mengatakan itu, berarti kami pernah bertemu sebelumnya.
"Gergia?" tanyaku ragu.
"Syukurlah, aku pikir kau melupakanku." Dia tertawa.
"Ini beneran kau? Kau tambah cantik, aku bahkan tak mengenalmu."
"Iya, aku dulu memang hitam dan buriq banget. Tetapi sekarang aku siap merebut Devan dari kamu," ucapnya terang-terangan di hadapanku dan Devan.
"Coba aja," tantangku.
"Nggak deh, susah banget pisahin kalian, aku nyerah aja." Dia lagi-lagi tertawa.
Lupakan soal kebencian, bertemu teman lama ternyata semenyenangkan ini. Dia Gergia, teman SD-ku dengan Devan. Kelas 3 SD, aku selalu saja bertengkar dengannya. Dia selalu mengatakan akan merebut Devan dariku, dan ucapannya itu selalu saja membuatku menangis. Devan? Dia hanya acuh tak acuh, menikmati masa kecilnya.
"Cie udah akur," ucap Devan tiba-tiba yang hanya menyimak dari tadi.
__ADS_1