Terjebak Dalam Ambigu

Terjebak Dalam Ambigu
Sendu


__ADS_3

"Bukuku sudah kamu baca?" tanyaku saat Devan memarkirkan motornya di parkiran sekolah.


"Lima lembar lagi, jam istirahat aku balikin," balas Devan tanpa menatapku, dia masih saja sibuk dengan motornya. Apa sesulit itu memarkirkan motor?


"Ayo pergi," ajaknya saat urusan dalam memarkirkan motornya telah selesai.


"Kau benar-benar hampir menghabiskannya dalam satu malam?" tanyaku antusias dan juga takjub. Rekor membaca bukuku adalah tiga hari, tapi dia? Aku mengakui kalau dia benar-benar jenius.


"Kau tidak percaya? Mau aku spoilerkan isi bukunya?" tanyanya kemudian berjalan menuju ke kelas sambil merangkulku. Oh no, aku rasa pipiku memerah, biasanya b aja saat dia merangkulku kemarin-kemarin, Oh my God.


Pagi itu sekolah masih sepi, hanya ada beberapa siswa yang terlihat duduk di depan kelas menunggu temannya yang lain, mungkin, atau malah menikmati sejuknya udara pagi. Berbeda dengan Pak Rama yang sibuk patroli sana sini, entah apa yang di carinya pagi-pagi begini.


"Eh, kalian berdua, Devan, Adel." Suara berat pak Rama menghentikan langkah kami. Dia berdiri dengan gagahnya di hadapan kami sekarang. "Ini sekolahan, main rangkul-rangkul aja," tegurnya.


"Yaellah, pak. Adel ini sudah aku anggap seperti adik kandungku, bapak liat sungguh manisnya adikku ini?" Devan mencubit pipiku pelan. "Uhh, gemessnya. tetapi tumben banget bapak negur, biasanya bodo amat, atau jangan-jangan bapak cemburu? Mau aku rangkul juga?" goda Devan.


"Kau ini Devan, selalu saja mencari masalah denganku. Mau aku hukum di lapangan, rangkul tiang basket? Hah?"


Devan dengan segera melepaskan rangkulannya. "Tanganku mana genap pak untuk ngerangkul tiang basket."


"Devan, ke BK sekarang!"


"Ayo lari, Del." Devan menarikku, mengajakku berlari, sehingga membuatku tersentak kaget. Tidak peduli dengan Pak Rama yang dari tadi mulai mengoceh dari kejauhan. Aku bahagia mengatakan bahwa Pak Rama sudah berumur, sehingga dia tidak mampu mengejar kami.


Aku mengeluh kepada Devan saat kami tiba di depan kelasku, siapa suruh menarikku paksa tadi.


"Dellong, pergi ke kelasku nanti jam istirahat," ucapnya kemudian berlalu dan hanya aku tanggapi dengan senyuman halus.


Setelah menunggu tiga jam lamanya untuk mendengar bunyi istirahat, aku kemudian berjalan ke kelasnya.


"Di mana Devan?" tanyaku pada Wildan, mantan teman kelasku yang saat ini sekelas dengan Devan.


"Oh, nyariin Devan?"


Aku mengangguk pelan.


"Nggak ada tuh, paling lagi di kantin main sama cewek," ucapnya judes. Aku tidak tahu punya masalah apa Devan sama Wildan, tetapi terlihat jelas raut wajah Wildan yang begitu membenci Devan.


"Dellong?" Suara Devan membuatku menoleh. "Ngapain di sini?"


"Orang punya nama bagus malah di panggil Dellong," sindir Wildan kemudian berjalan meninggalkan kami.

__ADS_1


"Ada apa dengannya?" tanyaku penasaran sambil berbisik.


"Dia nggak suka aku dekat kamu, karena dia suka sama kamu," jawab Devan datar.


Aku mengangguk paham."EH??!!! SUKA SAMA AK." Devan tiba-tiba saja menutup mulutku, tidak membiarkankanku melanjutkankan kataku. Dia kemudian meletakkan telunjuk tangan kanannya di bibirnya, mengisyaratkan agar aku diam. Setelah aku mengangguk, dia baru melepas tangan kirinya.


"Tanganmu bau." Aku memutar bola mataku.


"Maaf, tadi abis boker."


"APA???!! AKHHH,,, DEVAAAAAAN."


"Maaf." Dia hanya tersenyum cengengesan sementara aku sibuk membersihkan mulutku dengan tissue. "Oh ya, bukumu di pinjam sama Yolanda." Dia menatapku dengan cengiran khasnya. Dua kesalahan berturut-turut. Huft, aku menghela nafas kasar.


"Devan, gw nggak mau tau. Buku itu harus di kembalikan padaku hari ini juga." Aku melipat tanganku di depan dada yang menandakan bahwa aku sedang ngambek.


Bukannya pelit, tetapi Yolanda tidak pernah mengembalikan bukuku, tidak peduli seberapa sering aku memintanya. Alasanya selalu sama, 'besok, aku lupa membawanya'. Aku sudah bosan mendengar kata itu dari Yolanda. Sudah ada empat bukuku di tangannya, di tambah sama buku yang kemarin Devan ambil, buku pemberian Ayah yang belum pernah aku baca.


Devan kemudian berjalan meninggalkanku, aku harap dia pergi untuk mengambil buku itu. Tetapi sejauh aku mengenal Devan, aku yakin dia tidak akan melakukan itu. Oh,bukuku, yang akan aku rindukan, aku akan sangat merindukanmu walau belum pernah membacamu.


***


"Apa?" balasnya sambil berteriak.


"Singgah taman bentar."


"Apa?"


"Singgah taman."


Devan kemudian memarkirkan motornya di taman yang berada di pusat kota. Siang hari begini, taman masih saja ramai.Aku berjalan menuju bangku taman yang masih kosong di bawah rindangnya pohon. Mengamati kegiatan yang berlansung di sekitarku.


"Ngapain ke sini?" Devan tiba-tiba saja duduk di sampingku, menghadap kepadaku dan salah satu kakinya dia naikkan ke atas bangku.


"Pengen aja," lirihku pelan.


"Kau terlihat begitu sendu? Apa kau punya masalah? Atau kau marah padaku karena kejadian tadi? Maafkan aku," Devan memegang telinganya, dia benar-benar minta maaf.


Aku menghela nafas kasar, beradu dengan otakku untuk merangkai kata yang pas untuk saat ini. Otakku merasa ini akan menjadi sebuah kesalahan, tetapi hatiku malah sebaliknya.


"Hei, kenapa kau melamun?" tanyanya polos, menunggu jawaban.

__ADS_1


"I don't know." Aku mulai menghirup nafas dalam-dalam, mencoba untuk merilekskan pikiranku. "Kau tidak bersalah, lagi pula ini bukan masalah karena kejadian tadi ." Aku berhenti sejenak, "ada yang salah dengan hatiku."


Devan memperbaiki posisi duduknya, berusaha untuk memahamiku, itu terlihat jelas dari raut wajahnya. Fokusnya benar-benar ada padaku sekarang.


"Aku menyukaimu," ucapku seraya tertunduk, tidak berani untuk menatap matanya.


Diluar dugaanku, Devan malah tertawa. "Hei? Kau menyukaiku? Itu wajar, kaukan sahabatku, bagaimana mungkin kau bisa bersahabat denganku kalau kau nggak menyukaiku, bukan?"


"Tidak." Aku menatap matanya. "Bukan begitu maksudku, aku menyukaimu seperti perempuan pada umumnya, bukan sebagai sahabat. Aku mencintaimu, Devan," ucapku tanpa jeda yang membuat ekspresi wajah Devan berubah drastis.


Devan diam untuk beberapa detik. "Maaf, aku tidak bisa merusak hubungan persabatan yang sudah terjalin hampir 10 tahun ini dengan ikatan yang namanya pacaran. Karena pada akhirnya, hanya akan ada dua kemungkinan yang akan terjadi, putus untuk menikah atau putus yang akan menciptakan jarak." Devan berhenti sejenak, menghirup nafasnya pelan kemudian meraih tanganku. "Priciliaku, aku tidak pernah ingin ada jarak di antara kita, aku tidak pernah ingin kehilanganmu, sungguh." Devan menyandarkan kepalaku di pundaknya lalu mengusap kepalaku dengan lembut.


Aku menangis, air mataku tumpah membasahi pipiku. Aku baru melihat Devan sedewasa ini saat hatiku sedang rapuh. "Aku ingin pulang," lirihku.


"Aku akan mengantarmu."


"Aku akan pulang naik taksi."


"Tapi, Del?"


Aku berdiri, menghentikan taksi yang melewati jalanan yang ada di hadapanku sekarang. Langit mulai sendu bersamaan dengan setiap langkah yang aku lewati.


"Perpustakaan, Pak."


Air mata tidak pernah berhenti mengalir di atas pipiku sekuat apapun aku coba untuk menghentikannya, membuat penglihatanku buram karena tumpukan air mata yang coba aku tahan.


"Kita sudah sampai, mbak."


Aku hanya mengangguk, membayarnya, dan berjalan masuk ke perpustakaaan. Gerimis mulai membasahi kota, menerpa rambutku yang entah sejak kapan mulai terurai, aku bahkan tidak peduli di mana ikat rambutku sekarang.


Perpustakaan ini sepi. Aku mengambil asal sebuah buku yang tergapai oleh tanganku tanpa membaca judulnya lalu menuju meja perpustakaan yang berada di dekat jendela. Jendela yang memperlihatkan aktivitas kota. Hujan mulai turun lebat, sepertinya hari ini langit juga bersedih. Orang-orang mulai berlari untuk mencari tempat berteduh.


Pikiranku kembali mengenang kejadian tadi, berpikir bahwa ternyata hatiku salah. Otakku benar, ini adalah sebuah kesalahan saat menyatakan perasaan pada sahabatmu sendiri.


Sesekali aku menghela nafas kasar, mengamati kembali setiap tetesan hujan yang mendarat di tanah dan menciptakan percikan air. Buku yang tadinya aku ambil, aku biarkan berada di atas meja, tidak terbuka, bahkan aku tidak berniat untuk membacanya sama sekali.


Kau di mana, Cil?


Pesan dari ayah yang hanya aku balas dengan kata 'perpus'. Hatiku benar-benar kacau. Sangat sulit untuk berdamai dengan hatiku saat ini. Semuanya berubah karena salahku.


Aku menyesal telah melakukannya.

__ADS_1


__ADS_2