
Aku menatap ayah lekat-lekat. Dia masih sibuk dengan laptopnya dan mengabaikan putrinya ini. Entah sibuk bekerja atau hanya pura-pura bekerja. Sudah 30 menit aku menatapnya seperti ini tetapi ayah tak pernah bergeming sedikit pun.
"Ayah," panggilku untuk ke 100 kalinya lebih.
Ayah masih tak memperdulikanku. Dia bahkan tak pernah melirik sedikit pun ke arahku, apalagi untuk menoleh.
"Baiklah-baiklah. Sana bersiap-siaplah." Akhirnya ayah mengeluarkan suara pasrahnya.
"Aku sudah siap, Ayah. Ayo pergi." Aku menarik tangan ayah. Sudah tidak sabar untuk pergi ke toko buku yang sudah lama tak aku kunjungi itu.
"Hei, ayahmu belum ganti baju." Dia menahan tanganku.
"Pakai baju kaos seperti itupun. Ayahku ini sudah tampak ganteng," rayuku.
Aku menunggu ayah mengganti pakaiannya. Walau tidak selama wanita saat mengganti baju, ayah tetap saja lama bagiku yang sedang tidak sabaran ini.
"Ayahku sangat tampan," pujiku.
Ayah menatapku sekilas, sepertinya dia masih marah atas kejadian semalam. Aku tanpa sengaja merusak benda pemberian temannya, benda itu di kirim langsung dari temannya yang merupakan orang singapura. Karena itu dia marah padaku dan dia baru mengajakku berbicara barusan ini.
Aku sebenarnya takut untuk mulai mengajaknya berbicara, tetapi buku terbaru dari series yang aku ikuti baru saja terbit, jadi aku memaksa ayah untuk menemani sekaligus membelikanku buku itu.
"Kau masih mau melamun? ayo turun," ucap ayah yang membuatku tersentak kaget. Sepajang perjalanan aku melamunkan kejadian malam tadi.
Toko ini tampak sepi seperti biasa, berbeda dengan malam minggu, akan ada banyak para jomblo yang menghabiskan waktunya membaca buku di tempat ini.
"Kau carilah buku itu, ayah mau mencari buku lain," ucap Ayah. Aku mengangguk kemudian ayah meninggalkanku di antara rak-rak itu.
Aroma buku-buku baru yang di pajang di dekat pintu masuk benar-benar memjadi aroma favorirku. Benar-benar tidak sabar untuk membeli satu buku, membuka plastiknya dan mencium baunya.
"Adel." Panggilan itu membuatku menoleh.
"Eh? Kau? Aku pikir kau ada di Amerika sekarang," tanyaku pada
"Aku belum berangkat, mungkin besok lusa. Lagi pula belum ada pemberitahuan dari pihak universitas kapan pembelajaran di mulai," jelasnya.
"Kau punya banyak waktu di negara ini."
"Begitulah. Oh ya, aku punya pekerjaan, sampai bertemu nanti," pamitnya.
Aku kembali mencari buku itu dan menemukannya dalam beberapa menit, covernya yang menarik untuk bisa di temukan dengan cepat. Setelah mendapatkannya, aku mencari buku lain untuk menjadi koleksi bacaanku jika saja buku ini habis aku baca.
Aku duduk di kursi depan kasir, sambil menunggu ayah yang entah masih mencari buku apa. Aku terkadang memperhatikan A yang sedang sibuk mengeluarkan buku-buku baru yang sepertinya tiba hari ini dari dalam dos.
"Kamu sudah menunggu dari tadi, Cil?" tanya ayah yang membawa 3 buku di tangannya.
"Seperti yang ayah lihat." Aku menghela nafas pelan lalu beranjak dari kursiku, mengikuti ayah yang berjalan memuju ke kasir.
***
"Mau singgah ke supermarket?" tanya ayah.
"Mau beli apa, yah?"
__ADS_1
"Bahan buat bikin kue. Bukankah hari ini sampai besok pagi bunda tidak ada di rumah, bagaimana kalau kita masak kue nanti malam?" ajak ayah.
"Boleh tuh, yah," seruku.
Aku turun dari mobil, berjalan di samping ayah dan masuk ke supermarket ini selalu saja ramai everyday and everytime.
"Apa yang kita butuhkan, Cil?" tanya ayah.
"Memangnya ayah mau bikin kue apa?"
"Kue Bolu kayaknya enak nih."
Aku mengangguk-nganggukkan kepalaku, memikirkan apa saja bahan yang di butuhkan sekaligus mengingat saat dulu bunda memasak kue itu.
"Jadi Cil?" tanya Ayah.
"Apa?"
"Bahannya?"
"Nggak tau," jawabku polos. Ayah kemudian mengacak acak rambutku membuatku memanyungkan bibirku, jengkel.
"Cek di internet gih."
"Ponsel Ayah aja, ponselku tertinggal di rumah."
"Ponsel ayah nggak punya kuota. Eh Cil. Ada ibu-ibu tuh, coba kau tanya." Ayah mendorongku pelan.
"Permisi, bu," ucapku membuat wanita itu menoleh lalu tersenyum. " Saya mau tanya, bahan untuk buat kue bolu apa saja?" tanyaku mencoba seramah mungkin.
"Oh kue bolu? Bahan dasarnya cuma tepung terigu, mentega sama telur. Untuk bahan tambahan seperti tbm, susu kaleng, vanili dan gula. Itu yang saya ingat," ujarnya lembut.
Aku tersenyum lalu mengucapkan terima kasih. Dia kemudian melanjutkan aktifitasnya dan aku menghampiri ayah.
"Ayah, bahannya te."
"Ayah tau." Ayah memotong ucapanku.
"Dari mana ayah tahu?"
"Tadi Bunda nelpon," jawab ayah cuek lalu beranjak untuk mencari bahan itu. Aku menggerutu kesal. Jadi untuk apa aku menanyakan bahan makanan pada orang asing?
***
"Hola Bunda, jadi aku sama ayah akan buat kue nih,Bun. Ayah salam ke bunda nih," ucapku mengarahkan kamera berwarna hitam itu pada Ayah.
"Kamera sekarang bisa vid-call?" tanya Ayah sambil mengeluarkan barang belanjaan tadi.
"Ini cuma video ayah, kalau bunda sudah pulang nanti kita kasih liat."
"Astaga, Palingan bunda pulang besok. Tetapi Halo Bunda," ucap ayah dengan semangatnya ke kamera dan melambaikan tangannya. "Cil, ambil buku resep di lemari."
Aku meletakkan kemera itu di rak-rak dapur untuk merekam aktifitas kami berdua, seakan-akan membuat video seperti koki.
__ADS_1
"Bahan yang pertama apa, Cil?"
"Aku bahkan belum menemukan resepnya, yah." Aku menggerutu kesal. Aku mulai mencari halaman demi halaman. "Ayah, 400 gram tepung terigu, 2 butir telur, 100 gr mentega, 1 sdm tbm, 1" ucapku.
"Pelan-pelan, Cil."
Aku kemudian mengulangnya perlahan sampai semua bahan yang aku sebutkan sudah tercampur di mangkok depan ayah. Aku beranjak dari tempatku dan menghampiri ayah.
"Ayah, ada sesuatu di wajahmu. Biar aku bersihkan." Aku mengelap wajah ayah dengan tangan penuh tepung.
"Cil, kau tidak mengolesi tepung di wajahku, kan?" tanya Ayah mengintrogasi dengan memicingkan tatapannya.
"Ayah." Aku menghela nafas kasar saat ayah juga mengoleskannya dengan cepat di pipiku, membuatku seperti anak balita yang di penuhi bedak di wajahnya.
Aku balas membalas dengan ayah sehingga dapur dipenuhi dengan tepung. "Ayah, kurang lipstik tuh." Aku memberi ayah pewarna makanan merah dan ayah mengolesinya di bibirnya. Aku juga melakukan hal yang sama. Aku dan ayah benar-benar menikmati masa anak dan ayah saat ini.
"Perutku sakit karena tertawa, Cil. Ayo selesaikan adonan itu dan bersihkan dapur ini."
Setelah aku memindahkan adonan itu di loyang, aku memasukkannya ke dalam oven. Ayah yang mengatur suhu dan waktunya. Setelah itu bersih-bersih dapurpun di mulai.
"Huft, lelahnya. Ayah, aku mandi dulu." Aku bergegas ke kamar. Rambut dan bajuku sudah penuh dengan tepung. Aku akan mandi dan keramas di bawah guyuran shower.
"Segarnya." Aku mengibaskan rambutku di depan cermin setelah memakai piyama. Aku kemudian menemui ayah di dapur. Sepertinya ayah juga baru selesai mandi. Dia sedang menonton tv dengan santainya.
"Ayah cium bau hangus,nggak? tanyaku.
"Astaga, Cil, kuenya." Ayah memukul kepalanya dan segera berlari ke dapur, membuka oven dan mendapati kue bikinan kami gosong, benar-benar berwarna hitam pekat.
Aku mengambil kamera dan mendekatkannya ke kue itu. "Jadi Bunda, kue bikinan kami gosong, tadaa." Aku kemudian mematikan kamera itu dan meletakkannya di samping tv.
"Jadi malam ini kita makan apa, Yah?" tanyaku.
"Nasi padang aja," jawab ayah yang masih menyesali kuenya yang hangus itu.
Suara ketukan pintu membuatku segera berlari untuk membukanya, mungkin saja itu bunda yang sudah pulang malam ini.
"Hai, Dellong," sapanya dengan senyuman hangat.
"Kenapa ke sini?" tanyaku.
"Ayah manggil, aku bawah nasi goreng 2 bungkus untuk kalian." Dia memperlihatkanku sebuah kantong hitam.
"Terima kasih, Devan." Aku mengambil kantong itu dan menyuruhnya masuk.
"Devan sudah datang, ayo kita main ps."
"Jadi ayah manggil Devan buat main ps doang?" tanyaku.
"Ya, jarang-jarang Bunda tidak di rumah. Apa kantong itu makanan?" tunjuk ayah pada kantong yang masih aku pegang itu.
Aku mengangguk. "Dari Devan."
"Wah, terima kasih, ayo kita makan dulu, Devan."
__ADS_1