
Reni menghampiriku yang sedang sibuk mengerjakan tugas di jam istirahat ini. Dia memintaku untuk menemaninya pergi ke ruang guru. Aku menghela nafas pelan lalu menatap sekeliling, ternyata hanya tinggal kami berdua di ruangan ini.
"Baiklah," ucapku pasrah. Aku bukan tipe orang yang akan membiarkan temanku sendiri jika dia sudah meminta padaku.
Dia berjalan di sampingku, terlihat menyamai cepatnya langkahku. Aku juga heran kenapa gadis sepertiku berjalan dengan langkah yang cepat. Bahkan Devan pun pernah protes karena langkahku ini.
Langkahku terhenti saat aku mendengar suara Kak Rega. Aku menoleh dan mendapatinya duduk di bangku taman dengan Devan.
"Ren, aku akan menunggumu di sini," bisikku. Aku kemudian bersembunyi di balik pohon di belakang mereka dan mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Kamu harus percaya denganku. Aku akan selalu menjaganya, aku tidak akan membiarkannya di sakiti oleh wanita lain."
"Bagaimana bisa gw percaya?" Suara Devan terdengar judes.
"Aku akan membuktikannya, aku akan melakukan apapun untuknya."
"Baiklah, tetapi dengan satu syarat. Kau harus siap memutuskannya kalau sesuatu terjadi padanya, apalagi jika dia sampai meneteskan air mata."
Seseorang menepuk bahuku dan membuatku terperanjat kaget, untung saja aku tidak mengeluarkan suara. Itu Reni, sepertinya dia sudah selesai dengan urusannya. Padahal aku masih ingin menguping pembicaraan seru ini.
***
"Uuuu, devankuuu." Aku mencubit pipinya, gemas. Dia mengaduh kesakitan dan berusaha melepaskan tanganku dengan alis yang menyerit kebingungan. Ini pertama kalinya aku bertemu dengan Devan setelah pembicaraannya dengan Kak Rega. "Bunda mencarimu, kau tidak ingin ke rumah?" tanyaku setelah melepas cubitanku di pipinya.
"Kebetulan nih, perutku juga lapar. ayo naik."
Devan melajukan motornya di jalan yang ramai seperti biasanya. Aku mengadahkan daguku di bahunya dan membisikkan sebuah ungkapan terima kasih. Aku tidak peduli dia mendengarnya atau tidak.
"Ada yang sudah baikan nih," goda ayah saat kami baru saja tiba di depan rumah. Ayah sepertinya baru saja pulang dari kantornya. Dia masih mengenakan jas kantornya.
Setelah memarkirkan motornya, Devan segera menyalami tangan ayah. Kami kemudian masuk ke dalam rumah dan di sambut dengan wanginya makanan bunda.
"Devan? Terakhir kali bunda melihatmu waktu kau menjenguk Cila. Kenapa kau jarang datang," tanya Bunda saat Devan menyalami tangannya. Dilihat dari raut wajah bunda, sepertinya dia merindukan Devan. Entah bagaimana Devan mencuri hati kedua orang tuaku.
Devan tidak menjawab pertanyaan Bunda melainkan hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu lantas tertawa cekikan.
__ADS_1
Bunda kemudian mengajak kami untuk makan siang. Tentu hal inilah yang dari tadi di tunggu Devan.
"Bagaimana harimu, Devan?" tanya Ayah yang mengawali topik makan siang hari ini.
"Ayah hanya bertanya pada Devan? Dengan anak sendiri tidak?" ucapku memutar bola mataku, malas.
"Baik, ayah. walau seperti biasanya. Hari ayah bagaimana?" tanya Devan.
"Ya, hanya masalah biasa yang terjadi di kantor, lagi pula ini akan cepat selesai," jawab ayah.
Huft, mereka berdua mengabaikanku, seakan-akan aku tidak berada di tengah-tengah mereka. Aku mulai terbiasa dengan ini. Menikmati makan siangku tanpa memperdulikan percakapan mereka lebih baik untuk saat ini.
"Dellong, Dell ." Panggilan Devan membuatku mendongak ke arahnya. Dia bahkan memukul bahuku pelan. "Ayah bicara padamu. Kau tak mendengarnya?" tanya Devan.
"Saat aku bicara tak ada yang mendengar." Aku menghela nafas kasar dan memanyungkan bibirku.
"Dasar anak ayah. Kamu lagi pms ya?" tanya ayah diselah tawa kecilnya.
Setelah menghabiskan waktu di rumah ini, Devan pamit pulang dan aku segera naik ke kamarku untuk mengganti pakaian. Jam sudah menunjukkan pukul 15.30. Aku hampir lupa kalau aku ada janji dengan Kak Rega. Sebentar lagi dia pasti akan datang menjemputku.
***
"Boleh, Kak."
"Kau ini selalu saja memanggilku 'Kak'. Bukankah aku sudah melarangmu? Lebih baik kamu memanggilku dengan nama Rega atau nggak 'sayang'."
"Bagiku itu tidak sopan memanggil kakel tanpa embel-embel 'kak'."
"Kamu ini." Kak Rega tersenyu. "Aku pacarmu apa kakelmu?" Kak Rega mencubit hidungku pelan. Akh, aku merasa ada semburat merah di pipiku yang muncul tiba-tiba yang membuatku ingin pingsan sekarang juga. Ok, aku alay.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Kak Rega yang tiba-tiba beralih dari samping ke hadapanku, menatap manik mataku dengan lekatnya, menambah semburat merah di pipiku yang mungkin sudah menyebar ke seluruh wajah. "Wajahmu memerah, kau sakit? atau kamu alergi panas matahari?"
Aku tidak tahu apa Kak Rega beneran polos apa bagaimana? Yang aku tahu sekarang, jantungku berdetak lebih kencang di tatap seperti itu.
"Mau makan apa, Adel?" tanyanya sekali lagi.
__ADS_1
"Es krim aja, Kak. Sore-sore gini enak banget makan es krim," ucapku mencoba bersikap biasa saja.
"Baiklah tunggu di sini, aku akan membawakannya untukmu."
Aku mengangguk. Aku menatap punggung Kak Rega yang semakin menjauh lalu beralih menatap jernihnya air laut yang berwarna biru tua itu.
Kak Rega kembali dengan dua es krim cone di tangannya. Itu rasa favoritku, vannila. Aku tidak heran lagi saat Kak Rega tahu banyak mengenai diriku.
Makan es krim sambil menikmati pantai benar-benar merilekskan, hanya saja kurang senja. Walaupun begitu, tetap saja sama menyenangkannya.
"Ada noda es krim di wajahmu, Kak." ucapku. Aku kemudian segera mengambil tissue yang tak pernah absen dari tasku. Baru saja aku ingin menyodorkannya, tetapi wajahnya sudah bersih.
"Terima kasih." Dia menatap wajahku yang mungkin saat ini terlihat sedang kesal. "Kenapa?" tanyanya.
"Seharusnya aku yang mengelapkan tissue di wajah Kakak. Kakak membatalkan ke-uwu-an ini," ucapku yang membuatnya menyeritkan kening. Tampaknya dia bingung dengan apa yang aku katakan.
Beberapa detik kemudian dia tertawa sedangkan aku menunduk, menatap pasir berwarna coklat di bawahku.
"Adel." Panggilannya membuatku mendongak, menatapnya. Dia menujuk bawah pipi kirinya. Ada noda es krim di sana.
Aku kemudian mengelap mulutnya, melupakan kejadian tadi. "Pacarku yang manis," gumamku pelan.
"Kau ini." Kak Rega mengacak-acak rambutku pelan. Membuat semburat merah di pipiku kembali muncul. Aku rasa aku baperan deh. "Ayo pulang, calon ayah mertuaku pasti sudah menunggu putrinya." Lagi?
Kak Rega berdiri lebih dulu lalu menyodorkan tangannya kepadaku. Aku meraih tangannya dan berdiri dengan bantuannya. Jangan tanya lagi tentang semburat merah di pipiku.
"Kak Rega? Adel?" Suara itu menghentikan langkah kami berdua. Itu Yolanda, mantan teman kelasku juga. Saat ini, dia sekelas dengan Devan. Seseorang yang sampai saat ini belum pernah mengembalikan bukuku.
Dia kemudian berjalan ke arah kami. Aku menatap ke arah laut sebentar sembari menunggunya sampai di hadapan kami. Tunggu, aku tidak bisa percaya, hanya sebentar aku mengalihkan mataku dan sekarang mereka -- Kak Rega dan Yolanda -- berpelukan.
Tanpa basa-basi, aku berbalik, meninggalkan Kak Rega dan juga Yolanda berdua. Sebagai seorang wanita, aku tidak bisa menerima begitu saja saat pacarku memeluk wanita lain di hadapanku.
"Adel, tunggu aku." Aku mengabaikan panggilan Kak Rega. Aku berlari, entah Kak Rega mengejarku atau tidak, aku tidak peduli. Saat ini mataku terasa memanas. Aku menghentikan taksi yang melintas di jalan raya di hadapanku. Naik dan duduk menatap kota dari balik jendela taksi ini.
"Ke Jalan Salo."
__ADS_1
"Kamu sudah dua kali naik ke taksi ini dan dua kali pula kau menangis," ucap supir taksi itu. "Aku ingat waktu mengantarmu ke perpustakaan, kamu sedang menangis bukan?" lanjutnya.
Aku mengabaikannya, mencoba menahan air mata selanjutnya yang akan turun. Aku akan ke rumah Devan, tetapi aku tidak ingin Devan melihatku menangis karena Kak Rega. Aku belum siap harus putus dengan Kak Rega yang telah menjadi pacarku 4 hari yang lalu.