Terjebak Dalam Ambigu

Terjebak Dalam Ambigu
Dia Ayahku


__ADS_3

Hari-hari yang aku jalani di sekolah benar-benar sepi, tetapi kesepian itu terkadang tertutupi oleh kehadiran Reni yang entah mengapa sering mengajakku berbicara, menemani di waktu istirahatku dan mengajakku ke kantin


"Sampai jumpa, Adel." Dia melambaikan tangannya saat kakaknya datang menjemput.


"Bye, Bye." Aku membalas lambaian tangannya.


Aku kemudian pulang dengan ojol. Setelah membayar, aku masuk ke dalam rumah.


Jam menunjukkan pukul 14.00. Aku segera menuju kamar, mengambil buku dari rak, dan mulai belajar. Semenjak hari di mana Kak Rega memperlihatkan surat itu, di hari itu pula aku semangat untuk mendapat surat yang sama.


Terkadang aku lelah belajar sepanjang hari, tetapi aku selalu berharap perjuanganku ini mendapatkan hasil. Sebentar lagi aku lulus, hanya kisaran 1 bulan lagi. Setelah lulus aku akan mendaftar di dua sekolah, satu yang sama dengan Kak Rega dan satunya lagi di Harvard. Aku begitu tertarik dengan kampus itu.


"Adel, ayo makan malam," teriak ayah.


"Satu soal lagi, Yah," balasku dengan teriakan kecil.


Setelah menyelesaikan soal itu, aku kemudian segera menuju meja makan, duduk di samping hadapan ayah.


"Kau benar-benar bekerja keras agar bisa ke sana, Adel. Walau begitu, kau harus tetap mengingat kesehatanmu."


"Iya, Ayah."


***


Hari terus saja berganti, pengumuman kelulusan sudah di umumkan dan ijazah sekolahku pun sudah keluar. Aku telah mengirim seluruh berkas dan sekarang aku hanya ikut tes dan hkari ini mungkin akan jadi hari terakhirku berjuang untuk kuliah di sana. Karena saat aku selesai tes, maka aku hanya akan menunggu pengumuman.


"Bunda, ayah mana?" tanyaku.


"Kau akan berangkat tes?"


"Iya, Bunda."


"Mau Bunda temani?" tawar Bunda.

__ADS_1


"Tidak perlu, Bunda. Bunda di rumah aja. Kalau begitu, aku pergi dulu yah Bunda. Doakan aku."


"Itu pasti."


Aku melangkahkan kakiku berjalan keluar rumah. Selamat berjuang untuk diriku sendiri dan sampai ketemu Kak Rega. Aku akan berusaha untuk menjawab semua soal itu.


***


Aku menghela nafas lega. Aku telah menjawab hampir semua soal itu walau masih terbilang sulit. Tetapi aku sedikit ragu atas jawabanku karena saat aku lagi asyik-asyiknya mengerjakan soal, perasaanku tiba-tiba saja tidak enak. Semoga semua baik-baik saja.


Aku melihat jam di pergelangan tanganku yang menunjukkan pukul 17.00. Rumahku berjarak 500 meter dari sini. Pulang jalan kaki sepertinya bagus, sudah lama aku tidak jalan-jalan. Tubuhku harus bergerak.


"Hai, Del," sapa Wildan yang tiba-tiba saja menghentikan motornya di sampingku saat aku sudah menempuh jarak sejauh kurang lebih 200 meter.


"Eh, Wildan. Ada apa?"


"Kau mau ke mana?"


"Mau aku antar?"


"Tidak usah. Sudah dekat, kok. Terima kasih."


"Baiklah, sampai jumpa," ucapnya lalu melajukan motornya, menjauhiku.


Walau capek, setidaknya suasana sore di kota ini benar-benar menganggumkan. Gedung-gedung tinggi membuatku benar-benar takjub. Belum lagi efek matahari yang berwarna orange.


Langkahku terhenti saat melihat banyak orang yang berkumpul. Hasrat kepoku tiba-tiba muncul. Aku kemudian menerobos kerumunan itu. Penglihatanku pertama kali berada pada dua buah mobil. Salah satu mobill itu seperti sudah tidak asing bagiku. Mobil dengan plat nomor yang selalu aku lihat di pagi hari.


Jangtungku tiba-tiba saja berpadu dengan cepat, mencucurkan keringat dingin, belum lagi suasana yang tiba-tiba mencengkam. Aku kemudian menglihkan penglihatanku pada dua orang korban yang sedang berbaring di tanah.


Kakiku terasa lemas saat aku memperhatikan wajah salah satu dari mereka. Aku melangkah, kemudian duduk di samping orang itu. Air mataku tumpah.


"Dia ayahku, cepat panggilkan ambulans," teriakku pada siapapun yang saat ini mengelilingi kami.

__ADS_1


Aku segera mengeluarkan kotak P3K dari dalam tasku. Kotak itu tidak pernah absen dari dalam sana. Air mata tidak pernah berhenti mengalir dari mataku. Aku melakukan pertolongan pertama pada ayah, menghentikan pendarahan dari kepala ayah, dan memperbannya dengan kain kasa. Terkadang mataku memburam karena berusaha membendung air mataku itu.


"Bagaimana dengan ambulannya?" teriakku sekali lagi.


"Sedang dalam perjalanan," jawab seorang pria. Aku tidak menoleh ke arahnya. Hanya mendengar dari suaranya.


Aku kemudian beralih untuk memberikan pertolongan pertama pada orang yang juga di baringkan di samping ayah, mungkin saja dia lebih parah.


Seseorang kemudian memegang pundakku. Aku menoleh, menatap wanita itu.


"Biar aku saja. Aku mahasiswa semester akhir dan benar-benar sudah mengerti tentang ini."


Aku kemudian mengangguk, kembali berjalan ke samping ayah, menatap wajah tampan ayah.


"Ayah, ayo bangun. Putrimu menunggumu, yah," ucapku dengan suara serak. Tidak peduli dengan orang-orang yang hanya melihat kami.


Dua ambulans datang, mereka segera menggotong ayah dan orang itu. Aku ikut naik ke ambulans dengan ayah.


Ayah lalu di masukkan ke dalam sebuah ruangan. Aku duduk menunggunya lantas menelpon bunda. Tentu saja, bunda sangat kaget dan awalnya tidak percaya, sama sepertiku.


Aku mengelap air mataku yang belum pernah berhenti untuk membasahi pipiku. Aku sangat takut kehilangan ayah.


"Cila," teriak bunda yang saat ini sedang berlari ke arahku. Aku berdiri menghadapnya dan dia kemudian memelukku sangat erat.


"Ayah ada di dalam, Bunda." Aku menangis dalam pelukaan bunda. Aku menangis dengan tersedu-sedu. Melampiaskan semua kecemasan dan ketakutanku dalam tangis ini.


"Ayah akan baik-baik saja, Cil," ucap bunda dengan suara serak sambil mengusap-usap pundakku. Aku tahu, bunda juga pasti ingin menangis sekarang, tetapi dia mencoba untuk terlihat tegar. Aku ingin menjadi seperti bunda.


Bunda kemudian memegang pundakku, menyuruhku untuk kembali duduk lalu memberikan bahunya sebagai tempatku untuk bersandar.


"Tenang saja, Cil," ucap Bunda.


"Aku akan pergi mengurus mobil ayah, Bunda." Aku beranjak. Aku serasa tidak sanggup berada di tempat ini. Karena setiap kali menatap ke arah pintu itu, aku selalu saja ingin menangis. Hatiku terlalu lemah untuk sekarang ini.

__ADS_1


__ADS_2