Terjebak Gairah Dua Mafia

Terjebak Gairah Dua Mafia
10. Penolakan


__ADS_3

Makan malam masih berlanjut, Felix masih belum menyudahinya meski makan malam sudah selesai. Marinka ingin sekali pergi dari tempat itu, tapi sepertinya Felix masih menahannya.


"Tuan Felix, aku mau masuk kamar." kata Marinka.


"Masuk kamar? Apa kamu mau melayaniku?" tanya Felix dengan santai.


"Tidak. Bukan begitu, aku mengantuk dan ingin tidur." kata Marinka.


"Hemm, sepertinya tidur denganmu sangat menyenangkan. Baiklah, ayo kita tidur." kata Felix lagi.


"Tidak. Tidak! Aku tidak mengantuk. Baiklah, apa yang anda inginkan?" tanya Marinka serba salah.


"Hemm, ceritakan mengenai dirimu. Meskipun aku sudah tahu." kata Felix menyilangkan kedua tangannya di dada.


Marinka menghela nafas panjang, tatapannya mengarah pada laki-laki dingin yang sedang menatapnya juga. Dia menunduk, entah apa yang dia pikirkan. Merasa bingung sendiri menghadapi laki-laki di depannya itu.


"Ma rin ka?"


"Apa yang ingin anda tahu? Bukankah anda sudah tahu siapa aku, tuan Fe lix." kata Marinka meniru ucapan Felix.


"Hahah! Kamu ternyata lucu. Baiklah, aku menyukaimu." kata Felix.


"Ck, aku mohon tuan Felix. Lepaskan aku, di sana semua pasti memgkhawatirkan aku. Teman-temanku, ketua rombonganku dan juga yayasan yang mengirimku ke tempat itu. Terutama mamaku, beliau pasti sedih mendengar anaknya hilang di tempat itu. Apa anda tidak merasa kasihan padaku?" tanya Marinka kembali memohon pada Felix.


"Tidak." jawab Felix singkat.


Wajah datarnya tidak tampak merasa kasihan pada Marinka. Marinka kesal, kenapa dia berjumpa dengan manusia tak berhati seperti itu.


"Manusia apa anda ini? Tak punya hati!" kata Marinka kesal sekali.


"Memang, aku manusia tidak punya hati. Siapa saja yang menggangguku dan milikku, akan aku bunuh." kata Felix dengan tatapan tajam pada Marinka.


Membuat gadis itu bergidik ngeri dengan tatapan itu. Dia lalu bangkit dari duduknya dan hendak pergi, tapi kemudian tangannya di tarik kasar oleh Felix. Hingga gadis itu terjerembab jatuh mengenai tubuh Felix.


Sesaat keduanya saling pandang, mata Felix mengarah pada bibir mungil Marinka. Dia terpejam dan maju lebih dekat ingin menyentuh bibir Marinka. Tapi kemudian Marinka menoleh ke samping, dia pun memejamkan matanya.


Felix diam, dia merasa marah karena Marinka menolaknya hendak menciumnya. Tapi dia kemudian mendorong Marinka agar posisinya berdiri lagi.

__ADS_1


Di tarik kasar nafasnya, benar-benar harga dirinya hilang karena penolakan Marinka itu. Tapi dia sabar, lalu duduk kembali. Marinka masih berdiri dan membuang wajahnya ke samping.


"Duduklah, kali ini aku sedang berbaik hati tidak memaksamu. Biasanya sudah aku tampar dan kusuruh cepat pergi perempuan yang menolak kucium. Tapi kamu, hah! Bisa-bisanya aku masih sabar padamu." kata Felix tertawa sinis.


Marinka masih diam, dia menghela nafas lega. Dia tidak mau di paksa oleh laki-laki yang menyebalkan bagi Marinka.


"Kamu mau duduk atau aku paksa untuk menyentuhmu malam ini?!" kata Felix dengan suara keras.


Marinka pun duduk, dia melirik pada Felix yang berwajah dingin karena marah. Marah harga dirinya tercabik di tolak oleh Marinka, namun anehnya dia masih bersabar dan bicara lebih rendah meski nadanya mengancam.


"Apa kamu punya seorang kekasih di negaramu?" tanya Felix.


Meski dia tahu tentang identitas Marinka, tapi dia ingin tahu langsung dari Marinka sendiri.


"Tidak. Dan untuk apa anda mau tahu urusanku?" tanya Marinka.


"Hanya ingin tahu, jika kamu punya kekasih. Akan aku cari dia dan mencincangnya di hadapanmu." kata Felix dengan tenang dan santai.


"Kamu laki-laki berhati binatang jika sampai melakukan itu!" kata Marinka.


"Kamu gila!" kata Marinka.


"Baiklah, ayo berdansa denganku." kata Felix bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya.


Marinka menatap Felix, merasa aneh. Dia menggelengkan kepalanya dan tersenyum sinis. Laki-laki aneh, pikirnya.


Namun, Felix menarik tangan Marinka dengan cepat. Hingga tubuh gadis itu pun terangkat, mau tidak mau dia mengikuti apa yang di inginkan Felix.


Musik berdendang seiring jentikkan jari Felix pada pelayan di belakang. Kini musik melow dan romantis bermain pelan. Felix menarik tubuh Marinka dan menari pelan, hanya gerakan kesamping kanan dan kiri serta maju mundur.


Marinka mengikuti langkah kaki Felix, dia bingung namun akhirnya bisa mengimbangi. Felix tersenyum, menatap Marinka dalam. Marinka yang merasa aneh sikap Felix itu hanya menunduk. Sesekali dia juga menatap laki-laki aneh di depannya.


"Kamu cantik, tapi sayang terlalu angkuh untukku." kata Felix.


"Tuan Felix, kita tidak mengenal satu sama lain. Rasanya aneh jika kita sedekat ini. Seperti sepasang kekasih saja, apakah ini tidak aneh menurut anda?" tanya Marinka.


"Emm, sejujurnya memang aneh. Tapi aku bisa melakukan apa saja, juga bisa menaklukanmu juga. Tapi mungkin perlu kesabaran, meskipun ini terlalu cepat bagimu." kata Felix.

__ADS_1


"Tuan Felix, siapa anda sebenarnya? Kenapa anda membawaku ke mansionmu? Terus terang aku merasa asing di sini, dan memang asing bagiku. Aku juga merasa bersalah telah meninggalkan tugasku di kamp tersebut. Bisakah anda mengerti rasa bersalahku karena mengabaikan tugasku?" kata Marinka mencoba membicarakan masalah kebingungannya selama ini.


Juga harapannya bisa lepas dari laki-laki bertubuh tinggi tegap, bermata biru dan berrambut cokelat itu. Bagi siapa pun pasti akan terpesona dekat dengannya, tapi Marinka merasa aneh sendiri dengan semua itu.


"Tunggu aku puas denganmu, lagi pula aku belum menyentuhmu. Kamu bahkan menolak kucium, jadi aku harus mengembalikan harga diriku lebih dulu. Baru aku akan melepasmu." kata Felix dengan senyum smiriknya.


Marinka menatap tajam pada laki-laki yang sedang berdansa dengannya itu. Musik pun berhenti, Felix melepas dekapannya pada Marinka. Dia duduk kembali ke kursinya dan menenggak sampangne di gelasnya.


Dia lalu mendekat pada Marinka dan berbisik pelan.


"Kita akan melakukan ini setiap malam, jadi kamu siapkan saja setiap malam untuk makan malam dan berdansa." kata Felix.


Dia lalu pergi meninggalkan Marinka yang masih terdiam. Marinka menatap kepergian Felix yang berjalan cepat meninggalkannya. Merasa bingung kenapa laki-laki itu berbuat seperti itu padanya.


"Aneh, kenapa dengannya?" gumam Marinka.


Marinka duduk lagi di kursinya, meminum air putih di gelas. Kepala pelayan menghampiri Marinka yang sedang duduk itu.


"Nona sudah selesai?" tanya kepala pelayan itu.


"Kenapa tuanmu seperti itu?" tanya Marinka.


"Karena tuan Felix menyukai nona." jawab kepala pelayan itu.


"Heh, aneh bagiku. Menyukaiku?"


"Ya nona."


"Sudahlah, aku tidak peduli dengan perasaannya. Aku akan berusaha untuk meminta padanya membebaskanku dan mengirimku kembali ke kamp pengungsian di sana." kata Marinka.


Dia lalu bangkit dan pergi menuju mansion. Di dampingi dua pelayan yang akan mengawalnya sampai ke kamarnya.


_


_


*******************

__ADS_1


__ADS_2