Terjebak Gairah Dua Mafia

Terjebak Gairah Dua Mafia
09. Makan Malam


__ADS_3

Marinka sedang memberingkan tubuhnya di ranjang. Dia sangat bingung sekali dengan keadaannya kini, di sekap tapi di biarkan bebas di dalam kamar mewah itu. Dia juga kesal kenapa laki-laki bernama Felix itu tidak menjumpainya.


Jika dia menjumpai Felix, ingin sekali dia bicara dan memohon padanya untuk membebaskannya dari tahanannya di kamar itu.


Satu pelayan masuk membawakan gaun cantik, satu lagi pelayan juga membawakan beberapa kotak perhiasan. Marinka heran, apa yang akan mereka lakukan. Dia duduk dan pelayan itu menunduk hormat padanya, tidak bicara hanya berdiri saja.


Masuk lagi kepala pelayan dengan tersenyum, dia pun mendekat pada Marinka dan menunduk hormat.


"Maaf nona, saatnya anda bersiap untuk acara makan malam." kata kepala pelayan.


"Makan malam?" tanya Marinka.


"Ya, anda akan makan malam dengan tuan Felix. Anda harus bersiap dan berpakaian selayaknya makan malam dengan tuan Felix." kata kepala pelayan itu.


"Bukankah setiap hari makan malam di meja makan. Lalu aku harus apa? Dan kenapa juga membawa gaun serta peralatan make up seperti ini?" tanya Marinka.


"Tuan Felix ingin anda memakai gaun, katanya ini makan malam spesial. Jadi anda harus tampil lebih anggun." kata kepala pelayan.


"Memang mau makan di mana? Di luar?" tanya Marinka.


Jika makan malam di luar, dia bisa kabur dari cengkeraman Felix itu. Dan bisa meminta tolong pada pegawai restoran kalau dia di culik oleh Felix, entah siapa Felix Marinka tidak tahu. Yang jelas dia tahu Felix orang kaya, karena pelayannya banyak sekali. Begitu pikiran Marinka.


"Hanya di halaman belakang saja nona, tuan Felix ingin melihat anda lebih baik. Nanti jika memang tuan Felix menyukai anda, dia akan membawa anda ke pesta." kata kepala pelayan.


"Pesta?"


"Maafkan saya nona, sekarang anda bersiap lebih dulu. Dua jam lagi tuan Felix datang dan acara makan malam spesial akan segera di mulai." kata kepala pelayan.


Marinka merasa aneh, bingung dia dengan semuanya. Apakah ada gadis lain yang sama nasibnya dengannya? Di sekap di dalam kamar lain? Pikiran Marinka lari, membayangkan kalau ada perdagangan manusia di dalam rumah ini.


Tapi dia tidak bisa menyelidiki, apakah memang benar dengan pikirannya itu? Perdagangan manusia, seperti halnya dia pernah dengar kalau ada mafia yang memperdagangkan para gadis dan di jual oleh bos-bos mafia juga.


Marinka mengedikkan tubuhnya, jika memang benar itu ada di rumah Felix itu. Berarti dia salah satu korbannya.


"Nona kenapa?" tanya kepala pelayan.

__ADS_1


"Oh tidak, emm saya hanya aneh saja." jawab Marinka.


"Mari nona, anda akan mandi aroma terapi. Lalu nanti para pelayan akan mendandani anda, agar tuan Felix merasa nyaman dengan anda." kata kepala pelayan.


"Aku tidak mengerti apa yang mereka inginkan. Tapi sebaiknya menurut saja, aku juga ingin tahu apa yang laki-laki itu inginkan." gumam Marinka dengan bahasanya sendiri.


_


Waktu makan malam pun sudah siap, halaman belakang di buat seindah dan seromantis mungkin. Memang ini hanya sebuah percobaan saja, apakah Marinka bisa membuat Felix tertarik. Tapi sejak pertama melihatnya, Felix sudah tertarik pada Marinka. Hanya saja dia terlalu dingin dan sangat susah untuk mendekatinya.


Marinka di bawa ke halaman belakang, dia melihat sekeliling seperti di film-film romantis. Tempat duduk dua bangku dan ada lilin di meja itu. Suasana redup itu menambah keromantisan di sana. Marinka tersenyum sinis, dia seperti berada di negeri dongeng.


Bahkan baju yang dia pakai saat ini seperti seorang putri yang tersasar ke sebuah pesta. Cinderella dari kamp pengungsian, dia ingin tertawa. Tapi ini yang dia alami.


"Nona, anda silakan duduk di sana. Nanti tuan Felix akan datang sebentar lagi." kata kepala pelayan.


"Ini aneh." kata Marinka.


"Ya, memang aneh dan mengejutkan nona." kata kepala pelayan itu.


"Mengejutkan bagaimana? Apa dia sering melakukan seperti ini?" tanya Marinka.


"Tapi dia mengatakan aku akan menjadi budaknya. Aku hanya ingin kembali ke kamp pengungsian, mereka pasti mencariku dan mengkhawatirkanku." kata Marinka lagi masih memikirkan di kamp pengungsian.


Kepala pelayan itu diam saja, dia menyuruh Marinka duduk di kursi yang sudah tersedia. Dia pun menurut, duduk dengan manis. Menunggu orang yang sudah menculiknya itu. Pikirannya berputar, bagaimana dia akan merayu laki-laki dingin dan datar.


Lagi pula, dia ingin tahu siapa sebenarnya Felix itu. Apakah orang kaya penting di negara ini?


Para pelayan pun pergi, hanya pelayan khusus menyiapkan makanan di meja makan. Ada sampagne dan juga anggur merah di meja, di tuangkan di gelas Marinka.


"Aku tidak minum itu." kata Marinka.


"Ooh, maaf nona. Saya ganti minumannya." kata pelayan.


"Air putih saja." kata Marinka.

__ADS_1


"Baik nona."


Pelayan pergi mengambil air putih, suara langkah kaki terdengar pelan. Marinka menoleh ke arah suara langkah kaki itu, menatap pada laki-laki yang memakai jas lengkap. Dia menatap juga pada Marinka, tatapan dingin dan juga menusuk itu. Membuat Marinka mengalihkan pandangannya.


Pertama kali melihat laki-laki itu, tidak seperti itu. Tatapan tajam tapi tidak menusuk ke dalam hati. Ada perbedaan di terima Marinka, tapi kemudian dia menatap Felix yang berdiri di depannya.


"Kamu berbeda." kata Felix datar.


"Aku memang berbeda, tidak sepertimu. Aneh." kata Marinka.


"Hahah! Aneh ya? Aku aneh." kata Felix tertawa keras.


Dia duduk di depan Marinka, pelayan pun menghidangkan makanan spesial. Semua serba mewah, entah apa maksud Felix mengajak Marinka makan malam romantis yang nyatanya tidak ada romantis sama sekali di antara mereka.


Marinka makan dengan cepat, dia memikirkan mau bicara apa pada laki-laki di depannya itu.


"Tuan Felix, aku tidak tahu anda itu siapa dan bagaimana. Bisakah anda kembalikan aku oe kamp pengungsian itu?" kata Marinka memohon.


"Tidak. Kamu sudah ada di sini, tidak bisa kemana-mana." kata Felix.


"Tapi untuk apa anda menculikku? Bukankah aku ini bukan siapa-siapa, hanya perempuan relawan di kamp pengungsian. Tidak ada harganya sama sekali, jika anda seorang penjahat tentu saja aku tidak ada apa-apanya yang harus di tebus. Keluargaku miskin, bukan orang kaya. Aku bahkan bekerja di perusahaan kecil, dan pegawai biasa saja. Jadi, apa keuntunganmu menculikku?" tanya Marinka.


"Tidak ada keuntungan sama sekali, kamu itu menarik. Jadi aku sangat tertarik, itu saja." kata Felix.


"Heh! Apakah anda seorang mafia perdagangan manusia?" tanya Marinka dengan kesalnya..


Kali ini Marinka mengeluarkan unek-uneknya mengenai mafia perdagangan manusia. Dia sering sekali mendengar itu di negaranya.


"Apa?! Hahah! Kamu sangat lucu. Baiklah, itu membuatku dapat ide kalau menjadi mafia perdagangan manusia sangat menguntungkan." kata Felix tertawa senang.


Dia tahu banyak tentang mafia perdagangan manusia, di dunia mafia apa saja di lakukan. Bahkan memperdagangkan organ tubuh manusia pun banyak di lakukan oleh mafia-mafia tersebut. Tapi dia tidak melakukan itu, hanya memperdagangkan senjata api modern dan juga mengelola kasino.


Dia juga punya perusahaan besar dan arena gulat yang di jadikan perjudian bagi orang-orang yang menyukai laga pertarungan.


_

__ADS_1


_


******************


__ADS_2