
Alex membawa Marinka ke mansionnya, dia sangat senang sekali dengan gadis yang datang padanya di pesta itu. Dia akan menawan Marinka juga di mansionnya dan mencari tahu bagaimana dengan Felix itu.
"Tuan Alex, apakah saya akan di tahan juga di mansion anda?" tanya Marinka.
"Tidak. Nona tenang saja, saya akan mencari tahu dulu tempat tinggal dan keluarga nona. Baru saya akan bantu nona pulang." jawab Alex dengan senyum misterinya.
"Ooh, ya. Terima kasih sebelumnya tuan Alex." kata Marinka.
Alex hanya tersenyum saja, dia semakin berniat untuk mengurung Marinka di mansionnya. Ingin tahu juga, bagaimana bisa Felix membawa gadis relawan ke mansionnya. Dan dia ingin tahu reaksi Felix ketika dia memberitahu Marinka ada di mansionnya.
"Pelayan, antarkan nona ini ke kamarnya. Dia kelelahan dan butuh istirahat." kata Alex pada pelayan rumahnya.
"Baik tuan." kata pelayan.
Marinka merasa tidak enak, tapi dia pun akhirnya menurut ikut dengan pelayan. Pikirannya melayang ketika baru pertama kali masuk mansion Felix. Sama persis adegan itu, menyuruhnya istirahat dan masuk ke kamar yang di sediakan.
Hanya bedanya mungkin kamarnya tak semewah di kamar mansion Felix. Marinka melihat seluruh kamar yang akan dia tempati, sama-sama besar. Tapi biasa saja.
"Nona istirahat di kamar ini. Anda bisa memakai baju yang ada di dalam lemari." kata pelayan tersebut.
"Emm, apakah saya boleh minta makan? Saya lapar." kata Marinka.
"Tentu saja nona, saya akan bawakan ke dalam kamar anda. Silakan anda menunggu di dalam." kata pelayan lagi.
"Baik, terima kasih sebelumnya."
Marinka masuk ke dalam kamar, dia mencari lemari yang katanya berisi beberapa pakaian. Mengganti bajunya yang basah karena bertukar pakaian dengan perempuan di dalam kamar mandi di gedung pesta itu.
Sementara itu, Felix yang mendapatkan laporan kalau Marinka hilang di pesta pangeran Gabriel pun marah. Dia memarahi Freid yang di tugaskan menjaga Marinka.
"Bagaimana bisa kamu lepas pengawasan pada Marinka hah?!" tanya Felix dengan menarik kerah baju Freid.
"Maafkan saya tuan, saya melihat ada dua orang keluat dari kamar kecil itu. Satunya memang memakai baju yang sama dengan nona Marinka. Dan satunya lagi tidak, tapi ketika saya mau mengejar. Saya mendapat telepon kalau kasino di bagian barat di serang lagi." jawab Freid.
Felix melepas kerah baju Freid yang tadi dia tarik. Matanya masih berkilatan kemarahan, kenapa bisa Marinka pergi tanpa ada yang mengetahuinya.
"Cari tahu cctv di pesta itu. Minta perlihatkan oe semua sudut, barangkali dia pergi dengan pengunjung lain. Aku tidak akan mengampuni orang itu jika berani membawa Marinka dan berlaku macam-macam pada wanitaku!" ucap Felix dengan geram.
"Baik tuan. Tapi, bagaimana dengan kasino di bagian barat? Troy memberi informasi kalau kasino itu di serang lagi." kata Freid.
__ADS_1
"Kerahkan anak buah untuk menyerang balik pada genk motor itu. Cari markasnya dan ledakkan sekalian markasnya itu, aku tidak peduli mereka mati semua. Benar-benar membuatku jengkel!" ucap Felix.
Pikirannya kacau karena Marinka pergi dan entah sama siapa. Dia yakin ada orang lain yang melindungi dan menyembunyikan Marinka.
"Freid, cari tahu di bandara. Apakah dia pergi dengan pesawat untuk pulang ke negaranya? Pokoknya kamu harus bergerak cepat untuk menemukan Marinka. Bawa dia kembali ke mansionku" ucap Felix lagi.
"Baik tuan."
"Kamu sebar anak buahmu itu mencari tahu di mana keberadaan Marinka." kata Felix lagi.
"Iya tuan. Saat ini sudah saya sebarkan ke setiap sudut kota.
"Jangan lupa minta cctv pada petugas di pesta itu, aku yakin ada yang menyembunyikan Marinka." kata Felix lagi.
Dia menghisap rokoknya dan menguarnya ke atas. Pikirannya kacau karena Marinka hilang, lebih tepatnya kabur darinya. Felix memikirkan bagaimana bisa Marinka pergi dengan mudah. Dalam sekejap, atau beberapa menit dari pandangan Freid.
Dia bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju ke jendela. Matanya menatap gedung-gedung tinggi menjulang. Kemudian kembali duduk lagi di kursi kerjanya. Tak lama pintu di ketuk oleh seseorang, lalu terbuka. Tampak sekretaris Felix melangkah mendekati mejanya.
"Tuan, ada paket untuk anda." kata sekretaris Felix itu.
"Apa itu?" tanya Felix.
Felix mengambil amplop berwarna cokelat itu. Membuka pengaitnya dan mengambil isinya. Betapa terkejutnya dia dengan lembaran beberapa foto besar itu menampilkan wajah Marinka yang sedang tidur dan makan di sebuah halaman rumah.
Wajah Felix memerah, matanya menajam dan menatap pada sekretarisnya.
"Siapa yang mengirim ini?!" tanya Frlix dengan marah.
"Kurir tuan, dan tidak ada namanya." jawab sekretaris melihat sekilas foto itu.
"Brengsek! Jadi Marinka ada sama orang lain. Dia menculiknya?" ucap Felix.
"Tuan, apalah paket itu ...."
"Kamu boleh pergi." ucap Felix.
"Baik tuan."
Sekretaris itu pun berbalik melangkah keluar. Sedangkan wajah marah Felix terlihat jelas sekali. Dia memandangi foto Marinka yang sedang tidur itu. Nafasnya memburu, pikirannya mencari siapa yang berani menculik gadis itu.
__ADS_1
"Akan aku bunuh dia kalau sampai Marinka dia perlakukan tidak baik! Siapa pun dia akan aku bunuh!" ucap Felix dengan geram.
Dia pun mengambil ponselnya dan menghubungi Freid.
Tuuut.
"Halo tuan, ada apa?" tanya Freid.
"Aku dapat kiriman foto Marinka, entah siapa yang mengirimnya. Kata Sandra itu di kirim oleh kurir. Kamu cari tahu siapa yang mengirimnya dan di mana Marinka berada. Cepat kamu cari, Freid!" kata Felix tidak sabar.
"Iya tuan, aku sedang menyelidikinya. Anda tenang saja, pokoknya nona Marinka akan kembali lagi pada anda tidak akan lama lagi." ucap Freid.
"Cepat bodoh!" umpat Felix.
Dia benar-benar kacau sekali hari ini. Marinka tidak ada dan entah siapa yang menculiknya lagi. Dia kehilangan gadis itu, sebelum dia merasakan jika hatinya menyukai Marinka. Bukan hanya di bibir saja, tapi hatinya juga. Hanya saja dia terlalu gengsi dengan mengakuinya.
Entah sejak pertama kali dia sudah takjub dan menyukai Marinka, dia tidak tahu. Yang jelas Felix tidak akan rela Marinka jauh darinya. Apa lagi harus bersama dengan laki-laki lain, dia yang menemukan gadis itu dan membawanya pergi dari kamp relawan di negara konflik.
"Aaaargh! Sialan! Kemana dia? Siapa yang membawanya pergi. Siapa yang mengirim paket ini." ucap Felix.
Dia pun ingat dengan cctv di depan gedung, lalu dia mengambil gagang telepon dan menghubungi Sandra.
"Ya tuan Felix?"
"Halo Sandra, kamu cari cctv yang ada di depan gedung. Cari cctv yang menampilkan kurir membawa paket tadi. Cari dia, nanti Freid akan mencari kurir tersebut. Di suruh siapa dia mengirim paket ke kantorku." kata Felix.
"Baik tuan."
"Secepatnya Sandra, lima menit kamu cepat dapatkan cctv itu!"
"Tapi tuan ..."
"Jangan membantah!"
Klik!
_
_
__ADS_1
*********************