
Buddy membawa Felix menuju rumah jenderal Bima. Dia akan menginap sementara di sana, sedangkan Marinka di rumahnya cemas memikirkan bagaimana keadaan Felix tadi yang di tembak secara mendadak.
"Marinka, dia itu siapa? Kenapa kamu begitu cemas padanya?" tanya mamanya.
"Dia yang menyelamatkan aku ma. Dia yang membawa aku pergi. Aku cemas dengan keadaannya." jawab Marinka.
"Tapi, kecemasanmu itu seperti bukan cemas orang biasa." katanya lagi.
"Aku cemas keadaannya bagaimana. Apakah dia selamat?" ucap Marinka bicara sendiri.
Mamanya ikut khawatir, meski dia senang anaknya kembali lagi. Tapi tidak di sangka, rumahnya ada kejadian penembakan tak terduga. Seumur hidup dia tinggal dan menjadi istri tentara, tidak pernah ada yang meneror ingin menembak dirinya atau anak-anaknya.
Lalu sekarang, bertemu dengan anaknya lagi. Di antar oleh orang asing, tapi orang asing itu justru di tembak. Bahkan anaknya sampai sangat khawatir dengan keadaannya yang sekarang entah di bawa kemana.
"Marinka, mama nggak mengerti dengan semuanya. Kenapa kamu bisa terlibat dengan orang-orang jahat? Apa orang-orang di negara konflik itu punya dendam sama kamu?" tanya mamanya.
"Kok mama larinya kesana? Bukan dari negara konflik. Tapi entah itu siapa yang menembak Felix, dia punya banyak musuh. Dia itu ...." ucapan Marinka terputus.
Di jelaskan mamanya juga tidak akan mengerti tentang siapa Felix. Bahkan dia baru tahu kalau Felix itu adalah mafia dari Inggris, dan seorang mafia banyak musuhnya.
Malam ini Marinka sangat gelisah, dia ingin bertanya tentang keadaan Felix. Tapi pada siapa?
_
Sementara itu, sejak penembakan itu. Felix di bawa ke rumah pribadi jenderal Bima. Dia di rawat dengan intensif oleh dokter yang di panggil oleh jenderal Bima.
Buddy sudah memberi kabar pada Freid kalau Felix tertembak oleh gangster Indonesia. Jenderal Bima juga tahu siapa gangster itu, tapi dia tidak punya wewenang untuk mengusut kelompok tersebut.
"Mereka bergerak dengan rapi. Tapi kenapa tuan Felix yang di incar?" tanya jenderal Bima.
"Mereka hanya ingin coba-coba kekuatan baru jenderal. Mereka tahu tuan Felix dan tahu kedatangannya kemari. Hanya tidak tahu tujuan kami datang." kata Buddy.
"Jadi, tuan Felix hanya mengantarkan anak perempuan komandan Ragil yang di tugaskan jadi relawan itu?" tanya jenderal Bima.
"Ya." jawab Buddy.
"Kenapa bisa tuan Felix menemukan gadis itu?" tanya jenderal Bima.
"Sebenarnya tuan Felix yang membawa nona Marinka ke Inggris sewaktu dia salah masuk kamp. Dia di bawa oleh tuan Felix sampai ke Inggris, dan banyak sekali sih yang terjadi yang tidak bisa di jelaskan." kata Buddy.
"Hemm, jadi mungkinkah tuan Felix menyukai gadis tawanannya itu?" tanya jenderal Bima.
__ADS_1
"Ya, begitulah. Tuan Freid yang tahu semuanya."
Perbincangan mereka pun terhenti ketika perawat yang merawat Felix datang dan memberitahu kalau Felix sudah sadar.
"Maaf tuan, pasien sudah sadar." kata perawat.
"Oh ya, kami segera kesana." kata jenderal Bima.
Jenderal Bima dan Buddy segera bangkit dan menuju ke kamar Felix. Terlihat Felix sudah bisa duduk, Buddy mendekat. Dia senang bosnya sekarang sudah sadar.
"Tuan bagaimana keadaan anda?" tanya Buddy.
"Aku sudah lebih baik." jawab Felix.
"Syukurlah, anda sudah lebih baik. Tinggal pemulihan saja, tuan. Tunggu beberapa hari anda di sini." kata jenderal Bima.
"Saya merepotkan anda jenderal Bima." kata Felix.
"Tidak tuan, jangan sungkan. Aku sudah mengirim beberapa mata-mata untuk mencari tahu siapa mereka, dan kata Buddy mereka tidak terlalu besar kekuatannya. Tapi kenapa mereka mengincar anda?" tanya jenderal Bima.
"Karena mereka tahu siapa saya, jenderal Bima." jawab Felix.
"Hemm, selama ini mereka tidak melakukan pergerakan yang membuart masyarakat resah. Dan tidak terdeteksi kalau kelompok mereka itu adalah gangster." kata jenderal Bima.
Karena dia tahu berbagai mafia dan gangster di dunia, semua dia pelajari di berbagai negara. Dan di Indonesia baru kali ini dia melacak kelompok tersebut, karena kelompoknya kecil. Jadi tidak bisa dia melakukan pelacakan.
"Bisa jadi, nanti aku selediki kelompok mereka." kata jenderal Bima.
"Buddy, bagaimana dengan Marinka? Apa dia baik-baik saja?" tanya Felix.
"Nona Marinka baik-baik saja tuan. Tapi mungkin dia merasa khawatir dengan anda, karena anda tergeletak di depannya. Saya langsung membawa anda pergi." kata Buddy.
"Ya, tentu saja dia akan khawatir. Tapi, bagaimana penjagaan di rumahnya itu?" tanya Felix lagi.
"Sudah di jaga dengan aman tuan, dan jenderal Bima menambah personel untuk penjagaan di sana." kata Buddy lagi.
"Syukurlah, aku ingin kesana." kata Felix.
"Kemana? Ke rumah nona Marinka?"
"Ya, aku ingin pamit padanya untuk pulang." kata Felix.
__ADS_1
"Tidak tuan, anda akan di incar lagi." kata Buddy.
"Buddy, kenapa kamu yang cerewet sama aku?!"
"Karena saya khawatir sama anda tuan." kata Buddy.
"Cuih! Kamu sama saja dengan Freid." kata Felix kesal.
Jika tidak dalam keadaan seperti itu, dia akan langsung ke rumah Marinka. Hanya berpamitan saja, begitu pikir Felix.
"Begini saja tuan, nanti saya jemput nona Marinka kemari. Biar nona Marinka yang datang kemari menjenguk anda. Tapi setelah anda lebih baik." kata Buddy.
"Hei, hangan membuatnya khawatir. Aku tidak mau!"
"Setelah anda sehat tuan, jangan membantah lagi." kata Buddy lebih galak lagi.
"Kamu anak buah kurang ajar, Buddy!" ucap Felix geram dengan orang kepercayaannya itu, berani melawannya dalam keadaan lemah seperti itu.
"Itu demi kembaikan anda dan harga diri anda tuan. Jika anda tidak mau terlihat lemah di depan nona Marinka." kata Buddy.
"Buddy!"
Buddy pun pergi dari kamar Felix itu dengan tersenyum menang. Felix susah di lawan ucapannya, tapi kali ini dia harus menurut padanya. Demi keamanan dan juga kesehatannya.
Jenderal Bima hanya menggeleng, tidak di sangka seorang mafia lemah di depan seorang perempuan.
"Anda benar-benar jatuh cinta pada anak gadis komandan Ragil tuan Felix?" tanya jenderal Bima.
"Jangan membahas itu, dia bahkan tidak menyukaiku." kata Felix kesal.
"Hahah! Anda tidak bisa meluluhkan hati seorang wanita ternyata."
"Jenderal Bima!"
"Oke. Maafkan saya tuan Felix. Hahah!"
Felix mendengus kesal. Kenapa sekarang dia yang di goda oleh mereka hanya karena menyukai Marinka dan tidak bisa mendapatkannya. Jenderal Bima pun keluar dari kamar Felix, sedangkan laki-laki dingin itu menyandarkan punggungnya di bantal. Membayangkan wajah Marinka, gadis yang belum bisa dia taklukkan.
_
_
__ADS_1
******************