
Malam hari, Felix kembali lagi ke villa itu. Dia tidak sabar ingin melihat perubahan Marinka, ketika Freid menceritakan kalau Marinka sudah pulih dari traumanya meski ada sedikit ingatannya yang membuat dia menjadi tidak bisa di dekati.
Dia senang Marinka sembuh, tapi dia juga sedih karena Marinka harus kembali ke negaranya. Itu janjinya.
Helikopter yang membawanya itu berhenti di landasan yang jauh dari villa. Mobil sudah siap untuk membawanya pergi ke villa di mana Marinka berada. Rasa rindu untuk melihat Marinka semakin menggebu. Satu minggu dia tidak melihat gadis itu, hanya cctv secara langsung yang dia dapatkan dari Freid.
"Nona pasti sedang tidur tuan." kata Freid yang menjemput langsung sang bosnya.
"Tidak apa. Aku hanya ingin melihatnya malam ini, besok bisa bertemu langsung dan bicara dengannya." kata Felix.
Mobil melaju kencang, karena Felix ingin segera sampai di villa. Tak lupa juga mobil pengawalnya di belakang ikut mengawal di belakang.
Setengah jam perjalanan, akhirnya sampai juga di villa. Felix langsung turun dan segera masuk ke dalam villa, dia hendak langsung ke kamar Marinka. Tapi di urungkan, kemudian dia berbalik dan masuk ke dalam kamarnya.
Freid dan Buddy hanya saling pandang, sebenarnya mereka kasihan pada bosnya. Baru kali ini Felix jatuh cinta pada seorang gadis, tapi harus merelakan gadis yang dia cintai pergi. Entah bagaimana jadinya nanti jika Marinka benar-benar pulang ke negaranya.
Felix keluar lagi dan memanggil Freid untuk masuk ke dalam ruang kerja sekaligus untuk rapat itu.
"Freid, bagaimana dengan visa serta tiket untuk kepulangan Marinka?" tanya Felix.
"Sudah siap semua tuan, sebenarnya tidak perlu itu kan juga bisa. Anda bisa mengantarnya dengan pesawat pribadi saja." kata Freid.
"Tidak. Aku hanya mau mengantar sampai bandara saja, biarkan dia pulang sendiri dengan pesawat komersil." kata Felix.
Freid menatap bosnya, sungguh di luar dugaan dan aneh menurutnya. Biasanya Felix acuh saja dan setelah dia menyewa perempuan model, dia akan diam saja. Bahkan tidak memiliki rasa apa pun. Berbeda dengan Marinka, dia justru membiarkan Marinka pergi dan kembali ke negaranya.
"Tapi tuan, apa anda tidak khawatir nanti tuan Alex akan menculiknya lagi ketika di bandara?" tanya Freid.
Membuat Felix berpikir kembali, benar saja. Alex pasti akan mengincar Marinka lagi, lagi pula dia juga akan menyewa orang untuk mengawasi Marinka ketika sudah pulang. Selama setahun dia akan mengawasi Marinka melalui orang suuhannya.
"Freid, aku berencana membiarkan Marinka pulang. Tapi tetap harus di jaga di sana, aku akan mengawasi dia dengan mengirim orang untuk menjaganya selama satu tahun. Jika satu tahun itu dia aman, orang suruhanku itu sudah cukup mengawasinya." kata Felix.
"Maksudnya bagaimana tuan?"
"Marinka akan terus di awasi, utus dua orang untuk mengawasi dia selama kegiatan di luar rumah. Hanya mengawasi, agar Alex tidak bisa menculik dia lagi Freid. Aku tidak mau dia trauma lagi." kata Felix.
"Tuan, anda begitu baik sama nona Marinka. Apakah anda tidak mau menikahinya?" tanya Freid langsung saja pada Felix.
__ADS_1
"Aku tidak tahu." jawab Felix.
"Kurasa nona Marinka akan mau jika menikah." kata Freid.
"Dia habis trauma Freid. Aku tidak mau traumanya kembali kambuh dengan laki-laki yang asing baginya. Aku asing bagi dia Freid, jadi aku ragu untuk rencana itu." kata Felix.
Freid diam, memang benar Felix asing bagi Marinka. Tetapi jika di dekati, atau berteman lebih dulu. Mungkin saja bisa. Dia tidak mau bosnya itu akan uring-uringan karena Marinka pulang ke negaranya, dan dia sendiri akan kacau nanti pekerjaannya karena Felix akan selalu marah.
"Aku akan bantu anda tuan." kata Freid.
"Sudahlah, jangan katakan apa pun tentangku. Biarkan saja Marinka sendiri yang menyadarinya, kupikir jika Marinka adalah milikku suatu saat nanti. Dia pasti akan datang padaku." kata Felix.
"Aku hanya khawatir anda akan berbuat di luar kendali tuan. Dan semuanya akan repot." kata Freid.
"Jadi kamu tidak suka dengan perintahku?!" ucap Felix menatap tajam pada asistennya.
"Tidak tuan, terserah anda saja. Baiklah, aku akan menuruti keinginan anda itu." kata Freid yang tidak mau berdebat dengan bosnya.
Felix mencibir, dia lalu keluar dari ruang kerja itu. Dia melangkah menuju kamar Marinka, menyuruh penjaga untuk membuka pintu kamarnya dan dia pun masuk. Melangkah lebih dalam dan mendekat menuju ranjang Marinka.
Dia mencoba melakukan itu, tapi tiba-tiba Marinka membuka matanya. Gadis itu terkejut dan terlonjak kaget, lalu mundur membentur kepala ranjang. Mengambil bantalnya dan menutupi bagian dadanya dengan tatapan tajam pada Felix.
Felix pun berdiri, dia juga kaget. Menatap sedih kenapa Marinka jadi takut padanya.
"Jangan takut, aku Felix." kata Felix mencoba menenangkan Marinka.
"Kamu mau apa?" tanya Marinka penuh waspada.
"Tidak. Aku tidak mau apa-apa sama kamu aku hanya ...."
"Kamu mau memaksaku?"
"Tidak. Aku tidak mau memaksamu melakukan itu, kamu tenang saja. Jangan takut." kata Felix lagi menenangkan Marinka.
Marinka diam, dia masih menatap tajam dan rasa takut pada Felix. Dia tahu Felix tidak akan memaksanya, tapi perasaan takut untuk dekat dengan laki-laki jadi lebih besar.
"Aku akan pergi. Kamu tidur lagi saja, maafkan aku." kata Felix.
__ADS_1
Dia pun berbalik lalu melangkah pergi meninggalkan Marinka. Hatinya benar-benar marah melihat Marinka masih merasa ketakutan. Tangannya mengepal karena menahan marah, dia berjanji akan membuat Alex babak belur. Bahkan bila perlu akan membunuhnya, begitu yang ada dalam benak Felix.
"Tuan Felix!" panggil Marinka.
Felix pun berhenti, dia diam saja mendengar panggilan Marinka padanya.
"Tuan Felix." panggil Marinka lagi.
Felix berbalik dan melangkah kembali mendekat pada Marinka. Gadis itu masih menutupi tubuhnya dengan bantal, masih dengan wajah takut menatap Felix.
"Kenapa memanggilku?" tanya Felix berwajah datar.
"Kata tuan Freid, anda akan mengantarku pulang ke negaraku?" tanya Marinka.
Felix diam, dia menatap dingin pada gadis itu. Tapi kemudian dia tersenyum, dia sadar jika Marinka sedang ketakutan.
"Ya, kapan kamu mau pulang ke negaramu?" tanya Felix.
"Benarkah?"
"Ya. Kamu bisa pulang sesuka hatimu." jawab Felix lagi.
"Kalau begitu, besok aku ingin pulang ke negaraku tuan. Bisa kan?" kata Marinka.
"Baiklah, tunggu semuanya beres. Mungkin malam hari bisa pulang, kamu jangan khawatir." kata Felix.
"Terima kasih tuan Felix." kata Marinka senang.
"Ya, semoga kamu senang." kata Felix.
Dia pun berbalik dan pergi meninggalkan Marinka. Dia menarik nafas berat lalu keluar dari kamar dan hilang dari pandangan mata Marinka. Marinka. Sedangkan Marinka pun diam, kemudian dia kembali berbaring. Menutup matanya dan meneruskan tidurnya lagi.
_
_
*******************
__ADS_1