Terjebak Gairah Dua Mafia

Terjebak Gairah Dua Mafia
34. Marinka Datang


__ADS_3

Tiga hari Felix di rawat. Dia memaksa ingin datang ke rumah Marinka, dia ingin meminta maaf pada ibunya Marinka karena telah menculik anaknya selama dua tiga bulan dari pengungsian.


Tapi Buddy melarangnya, dia berjanji akan membawa Marinka datang ke rumah jenderal Bima agar Felix tidak memaksa terus untuk datang ke rumah gadis itu. Karena dia tidak mau menanggung resiko lebih besar di banding yang aebelumnya.


Sudah pasti kali ini Felix akan terus di incar, keberadaannya saja sedang di lacak oleh gangster tersebut. Untungnya jenderal Bima bisa menyembunyikan Felix dari siapa pun.


"Apa-apaan si Buddy, dia melarangku pergi ke rumah Marinka. Aku di sini saja untuk apa? Lebih baik aku pulang ke Inggris." kata Felix bicara sendiri.


Dia bersiap untuk keluar dari kamar, senjata di selipkan di balik celananya. Memakai jasnya kemudian dia pun keluar dari kamarnya. Memaksa akan pergi ke rumah Marinka jika Buddy masih saja melarangnya datang kesana.


Baru beberapa langkah, Felix berhenti. Dia melihat di depannya Marinka juga berhenti menatapnya. Tangannya membawa sebuah kotak makan, lalu dia tersenyum pada Felix.


Felix mendekat, dia senang Marinka benar-benar datang. Buddy menepati janjinya membawa Marinka datang ke rumah jenderal Bima.


"Tuan, nona Marinka datang untuk menjenguk anda." kata Buddy.


"Terima kasih Buddy." jawab Felix.


Buddy diam, dia heran dengan ucapan terima kasih dari laki-laki yang sedang terpaku itu. Karena jarang sekali bosnya mengucapkan terima kasih.


Marinka menunduk, dia mendekat secara pelan. Begitu juga Felix mendekat, Buddy pergi meninggalkan keduanya.


"Tuan Felix sudah lebih baik?" tanya Marinka.


"Ya, kupikir jika kamu tidak datang. Aku yang akan datang menemuimu." kata Felix.


"Buddy datang ke rumahku. Dia membawa beberapa orang penjaga, apakah memang di sekitar rumahku ada penjahat juga?" tanya Marinka.


"Hanya untuk kewaspadaan saja, dan maafkan aku. Aku yang salah telah membawamu ke dalam duniaku." kata Felix.


Mereka menuju taman, di mana ada sebuah kursi panjang. Keduanya duduk, Felix mengeluarkan senjatanya dan meletakkannya di bangku sebelahnya. Marinka melihat senjata itu, rasanya ngeri, meski dia pernah melihat secara dekat milik papanya.


"Kamu tidak takut dengan senjata ini?" tanya Felix.


"Tidak, papaku pernah punya senjata seperti itu." kata Marinka.


"Emm, jadi kamu tidak takut lagi dengan suara tembakan juga."


"Tidak. Sekarang sudah tidak takut lagi."


"Baguslah, itu namanya kamu perempuan tangguh."


Marinka hanya diam, dia menunduk dalam. Felix memperhatikan Marinka, tangannya masih memegangi bekal kotak makan.


"Apa yang kamu bawa?" tanya Felix.


"Ini hanya masakan Indonesia buatan mamaku, mungkin kamu suka." kata Marinka.


Marinka memberikan kotak makan itu pada Felix , meski dia ragu tapi di berikan saja. Perbedaan kultur dan budaya serta masakan yang di makan akan susah di terima. Tapi Felix mencoba makanan yang di bawa ibunya Marinka.

__ADS_1


Dia bukan laki-laki yang terlalu percaya akan sebuah pemberian dari orang lain. Bahkan apa yang di berikan orang lain padanya, akan melalui proses pemeriksaan apa pun bentuk pemberiannya.


"Apa ini?" tanya Felix.


"Hanya daging yang di veri bumbu rempah khas Indonesia. Kupikir kamu bisa memakannya sedikit." kata Marinka.


Felix diam, dia masih memperhatikan daging berwarna hitam berbalut bumbu yang kental dan banyak. Dia menciumnya, seperti mencium bau sesuatu.


"Tadi Buddy sudah memeriksanya. Katanya tidak masalah anda makan ini." kata Marinka.


"Oh ya?"


"Ya, coba saja." kata Marinka.


Dia memberikan sendok garpu pada Felix, tapi laki-laki itu meminta Marinka mengambilkannya dan menyuapinya. Marinka menggeleng, tapi dia pun menuruti apa yang di inginkan Felix.


"Makanlah."


Felix membuka mulutnya dan mengunyah daging berbumbu kental itu. Dia mengunyah pelan, merasakan daging berbumbu itu. Awalnya dia merasa aneh, tapi kemudian dia mengunyah cepat lalu meminta lagi daging berbumbu itu.


"Ini enak, biasanya daging di buat steak tapi tidak banyak bumbu." kata Felix.


"Kalau aku makan ini dengan nasi, rasanya semakin enak di mulut dan membuat kenyang." kata Marinka.


"Oh ya? Kenapa kamu tidak membawa nasi? Aku juga ingin mencobanya." kata Felix kembali menguyah daging berbumbu itu.


"Oh, baiklah. Nanti aku bawakan juga dengan nasinya. Tapi ..." kata Marinka ragu, menatap Felix.


Marinka menunduk, dia tersenyum tipis lalu menggeleng.


"Anda pasti akan pulang kan?" tanya Marinka.


Felix diam, dia baru sadar jika sekarang ini bukan ada di mansionnya di negaranya. Tapi berada di negara Marinka, dia menatap Marinka lalu menghela nafas panjang.


"Aku akan tinggal satu hari lagi di sini." kata Felix.


"Tidak, anda banyak sekali pekerjaan. Tentu tidak bisa di tinggalkan."


"Hahah! Lucu kamu. Anak buahku banyak, asistenku juga ada. Mereka semua sudah aku pekerjakan sesuai tugasnya masing-masing. Aku bos, jadi aku bebas mau apa saja." kata Felix dengan sombongnya.


"Ooh, tentu saja. Tapi keamanan anda sedang tidak baik di sini." kata Marinka.


"Kata siapa?"


"Kemarin saja anda di tembak oleh orang tidak di kenal. Dan di jalan, di kejar bahkan di tembaki. Itu rasanya mengerikan sekali, aku takut anda akan ....." ucapan Marinka terhenti.


"Kamu mengkhawatirkan aku?" tanya Felix.


Dia berani mendekati Marinka, lebih dekat. Menatap gadis itu yang sepertinya bingung dengan dirinya kenapa bisa mengkhawatirkannya.

__ADS_1


"Emm, aku ...."


"Marinka."


"Ya?"


Marinka berani menatap wajah Felix, Felix mendekat. Wajahnya maju ke depan wajah Marinka, dengan pelan dan berharap Marinka tidak lagi menolak dia menciumnya. Wajah Felix berhenti beberapa senti di depan wajah Marinka. Menatap wajah ayu itu, Marinka pun sama. Kembali wajah Felix mendekat bibirnya mencoba mendekat pada bibir Marinka.


Marinka memejamkan matanya, dan Felix tahu bahwa itu lampu hijau untuknya. Langsung saja dia mencium bibir Marinka. Keduanya pun hanyut dalam suasana hati yang saling menginginkan. Mereka masih hanyut dalam perasaan cinta yang belum terucap.


Felix terus mengulum bibir Marinka, tangannya memegangi kepala. Mereka menikmati ciuman yang sama-sama merasakan kebahagiaan. Hingga suara panggilan dari jauh, membuat Marinka melepas paksa ciuman Felix dan mendorong dadanya.


"Tuan Felix!"


Felix mengepal tangannya dan menggeram. Lalu menatap tajam ke arah sumber suara yang memanggilnya itu.


"Buddy! Kamu menggangguku!" bentak Felix pada anak buahnya itu.


"Maaf tuan, saya ..."


"Pergi sana!"


Buddy melihat Marinka berbalik merasa malu, dia pun tersenyum lalu kembali pergi dengan berkata keras.


"Tuan, malam ini harus siap pulang ke Inggris!"


"Buddy!"


Marinka mengambil kotak makannya dan menutupnya. Dia merasa malu sekali karena sudah mau di cium oleh laki-laki di depannya. Wajahnya memerah, sedangkan Felix tidak membiarkan Marinka pergi.


Dia menarik paksa tubuh Marinka dan kembali menciumnya. Dia sudah lama sekali ingin mencium bibir gadis itu dengan puas. Lama mereka berciuman, hingga Marinka merasa nafasnya sudah terengah dan mendorong dada Felix.


"Tuan, sudah. Aku tidak bisa bernafas." kata Marinka.


"Oh, maaf. Aku sangat senang sekali hari ini." kata Felix.


Dia lalu memeluk tubuh Marinka, mengecup ujung kepalanya dan berkali-kali mengucapkan kata cinta untuk Marinka.


"I love you, Marinka. I love you so much." ucap Felix penuh perasaan.


Marinka diam, dia tersenyum dan membalas pelukan laki-laki itu. Laki-laki dingin yang selalu menjaganya dan bertahan untuk tidak menyentuhnya hingga saat ini.


"Terima kasih, Felix. Terima kasih." ucap Marinka.


"Aku benar-benar mencintaimu, Marinka. I love you, i love you."


Mereka saling berpelukan, rasanya Marinka seperti mendapatkan perasaa yang lain. Dia tidak menyangka akan di cintai oleh seorang laki-laki dingin dan juga seorang mafia. Dia juga tidak mengerti kenapa bisa jatuh dalam pelukan Felix, laki-laki yang baru di kenalnya sewaktu di pengungsian.


_

__ADS_1


_


********************


__ADS_2