Terjebak Gairah Dua Mafia

Terjebak Gairah Dua Mafia
32. Pertemuan Mengharukan


__ADS_3

Baku tembak masih berlangsung, Felix ingin sekali membalas para pengejarnya itu. Tetapi Marinka masih dalam pelukannya karena takut dengan tembakan demi tembakan terjadi di dekatnya.


Saat mobil van itu bisa mengejar mobil Felix, penumpang bertopeng di dalam mobil tersebut sengaja mengarah Felix. Tepat ketika bersebelahan mobil mereka, satu tembakan mengarah pada Felix.


Dor! Dor!


Felix menghindar, dia lindungi tubuh Marinka dengan tubuhnya. Tangannya juga menyodorkan lalu membalas tembakan itu. Buddy juga menembaki mobil van tersebut di bagian rodanya.


"Sial! Mereka pintar sekali." umpat Buddy.


"Lajukan mobilnya dengan cepat!" ucap Felix dengan perintah.


"Baik tuan! Tapi kemana kita pergi?"


"Kemana saja, cari keramaian agar mereka tidak menembaki kita terus. Aku yakin polisi akan tahu jika mereka terus saja menembak." kata Felix.


"Iya tuan."


Mobil berbelok cepat, mereka menuju jalan kota yang ramai. Mobil van yang mengikuti mereka pun ikut pula, melalu pos polisi mobil itu diam seolah tidak pernah terjadi apa-apa.


"Sebaiknya kita pergi cepat, di depan ada lampu merah. Sebelum lampu merah menyala, kita harus cepat melewatinya." kata Buddy.


"Iya tuan."


Mobil yang di tumpangi Felix dan Marinka melaju kencang, menghindar dari kejaran mobil van tersebut. Satu mobil pengawal Felix ternyata di kejar lagi oleh teman dari mobil van tersebut.


Saat di lampu merah sebentar lagi menyala, mobil Felix mempercepat lajunya hingga tepat sekali setelah dia melewati lampu merah. Lampu menyala dan mobil van terhenti karena lampu merah menyala.


"Selamat tuan, mereka tertahan oleh lampu merah." kata Buddy.


"Baiklah, ayo kita ke rumah Marinka. Dia sudah ketakutan sekali." kata Felix.


Marinka pun terbangun dan melepas pelukan Felix. Dia menatap laki-laki itu kemudian membuang wajahnya karena malu telah memeluk laki-laki itu lama.


"Maaf." kata Marinka.


"Tidak masalah, selagi kamu aman bersamaku." kata Felix.


Mereka pun segera menuju rumah Marinka yang sebentar lagi sampai. Sebenarnya seharusnya sudah sampai lebih dulu, tapi karena di kejar oleh mobil tidak di kenal. Jadinya mereka harus menghindar lebih dulu.


_


Mobil Felix sampai di sebuah rumah tidak terlalu besar. Ciri khas rumah seorang pensiunan tentara. Marinka sangat gembira ketika dia melihat rumahnya di depan matanya.

__ADS_1


Ketika mobil berhenti, Marinka segera membuka pintu mobil dan berlari menuju rumahnya. Tampak sepi rumah itu, tapi Marinka tahu mungkin ibunya sedang tidur. Karena suasana malam hari.


Marinka mengetuk pintu rumahnya dengan tidak sabar dan memanggil ibunya.


"Mama! Aku pulang!" teriak Marinka.


Dari dalam mobil, Felix memperhatikan Marinka memanggil-manggil ibunya. Dia tersenyum tipis, meski dia sedih harus berpisah dengan gadis itu. Tapi dia merasa lega bisa mengantarkan Marinka dengan selamat. Buddy memperhatikan bosnya yang sejak tadi menatap Marinka.


"Apa tuan mau kesana?" tanya Buddy.


"Ya, sebentar dulu. Aku akan kesana." kata Felix.


Tak lama, pintu terbuka. Muncul wanita paruh baya berdiri di depan pintu dengan terpaku. Marinka tersenyum senang, kemudian dia memeluk ibunya.


"Mama, aku pulang." kata Marinka.


"Marinka?" ucap mamanya tidak percaya.


"Iya ma, aku pulang dengan selamat. Hik hik hik." kata Marinka kini menangis.


Mereka berpelukan sambil menangis haru, Felix pun mendekat. Dia berdiri agak jauh dari kedua perempuan yang sedang melepas rindu karena lama tidak bertemu. Apa lagi, Marinka di kabarkan hilang dari kamp pengungsian.


Lama mereka berpelukan dan menangis haru. Keduanya pun melepasnya, mama Marinka meraba wajah anaknya. Kemudian menciumnya lalu memeluknya lagi.


"Mama khawatir sama kamu Marinka, dari yayasan yang mengirimmu ke kamp itu mengatakan kamu hilang. Di cari-cari kemana-mana tidak ada. Kedubes juga mencari dan tidak juga ketemu. Hik hik hik." kata mama Marinka.


"Siapa yang membawamu? Apa mereka pemberontak? Tapi, kamu tidak apa-apa kan?" tanya mamanya kembali memeriksa anaknya itu hingga Marinka di bolak balik.


"Ngga ma, aku ngga apa-apa. Mama tenang saja, dan sekarang aku sudah pulang dengan selamat." kata Marinka.


Felix hanya mendengar percakapan yang tidak di mengerti olehnya. Dia senang melihat keakraban dan pertemuan mengharukan seperti itu. Membayangkan ibunya dulu sangat senang mendapat kelulusan di perkuliahan dengan nilai tinggi. Pada akhirnya dia jadi seperti papanya.


Marinka melihat Felix, begitu juga ibunya Marinka. Marinka mendekat pada Felix dan tersenyun, dia membungkuk memberi hormat pada laki-laki itu.


"Terima kasih tuan Felix. Anda menepati janjinya memulangkanku ke negaraku dan bertemu ibuku." kata Marinka.


"Tidak masalah, yang penting kamu bisa pulang dengan selamat dan berkumpul lagi dengan ibumu." kata Felix.


Marinka tersenyum, ibu Marinka merasa heran dengan laki-laki yang di sama anaknya.


"Marinka, dia siapa?" tanya mamanya.


"Dia tuan Felix ma, yang membawaku pulang kemarin." jawab Marinka.

__ADS_1


"Ooh, tuan Felix. Terima kasih telah mengantar anakku pulang." kata mamanya Marinka.


"Mamaku bilang dia mengucapkan terima kasih." kata Marinka menerjemahkan ucapan mamanya.


"Oh ya, tidak masalah." jawab Felix.


Mamanya Marinka bingung, tapi Marinka hanya tersenyum saja dengan ucapan Felix.


"Marinka, apa sebaiknya dia di suruh masuk? Tidak baik hanya mengantar kamu sampai di sini. Lagi pula, dia dengan suka rela mangantarmu pulang. Ajak dia makan, kebetulan mama memasak banyak. Mama selalu berharap kamu pulang, Marinka. Jadi, dia bisa kok makan bersama. Untuk mengucapkan terima kasih telah membawamu pulang " kata mamanya pasa Marinka.


"Tuan Felix, kata mamaku anda masuk saja dulu."


"Ini sudah terlalu lama aku di sini. Tidak usah masuk lagi."


"Tapi, mamaku bilang beliau masak banyak. Anda di ajak makan sama mamaku." kata Marinka.


Dia tahu sebenarnya makanan buatan ibunya tidak akan cocok dengan lidah Felix, tapi hanya menawarkan saja. Barangkali dia mau, dan Felix sepertinya sedang berpikir.


"Baiklah, aku ikut masuk." kata Felix.


Marinka tersenyum dan memberitahu ibunya kalau Felix ikut masuk ke dalam rumahnya. Kemudian mereka pun hendak masuk, tetapi dari jauh ada peluru yang melesat tepat di pundak Felix bagian kiri.


Sreet!


"Aaargh!"


Tanpa ada suara tembakan lebih dulu, Felix terkena tembakan yang memakai peredam suara. Felix terkulai jatuh, Marinka terkejut ketika melihat Felix jatuh.


"Tuan Felix!"


Buddy langsung saja mengejar Felix yang terjatuh karena tertembak. Dia menyuruh anak buahnya untuk mencari penembak jitu itu, dia yakin mereka memakai penembak jitu.


"Nona Marinka masuk!" teriak Buddy.


"Tapi Buddy, tuan Felix?"


"Biar saya yang urus. Nona masuklah cepat!"


Tanpa menunggu lagi, Marinka dan mamanya masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan Buddy segera membawa Felix ke dalam mobil. Menelepon jenderal Bima, meminta bantuan untuk menempati rumahnya bersembunyi Felix dan semua anak buahnya.


Tak lupa juga, dia menelepon seseorang untuk menambah anak buah berjaga di sekitar rumah Marinka.


_

__ADS_1


_


*******************


__ADS_2