Terjebak Gairah Dua Mafia

Terjebak Gairah Dua Mafia
35. Rasanya Sama


__ADS_3

Hampir tiga jam Marinka berada di rumah jenderal Bima menemani Felix yang kini mereka semakin dekat. Felix tidak membiarkan Marinka pergi, dia terus memeluk gadis itu dan selalu menciuminya. Membuat Marinka risih dengan perlakuan laki-laki dingin yang berubah jadi sedikit posesif.


"Aku pulang ya." kata Marinka.


"Jangan, di sini saja." kata Felix.


"Tapi aku sudah tiga jam lebih di sini. Mamaku pasti khawatir." kata Marinka.


"Sebentar lagi." kata Felix tidak mau melepas pelukannya pada Marinka.


Marinka diam, dia tidak tahu jika Felix jadi aneh seperti itu. Terlihat dingin ketika belum mengetahui perasaannya, bahkan berkesan menjaga jarak.


"Kamu aneh." kata Marinka.


"Aneh kenapa?"


"Aku pikir kamu laki-laki yang selalu dingin dan terlihat menakutkan seperti pada lawan-lawanmu. Kenapa sekarang lebih posesif." kata Marinka lagi.


"Kamu adalah nyawaku, akan aku jaga selamanya. Jadi jika dengan orang lain, aku tidak peduli dan seperti apa yang kamu katakan." kata Felix.


"Tapi jika seperti ini, aku tidak bisa bergerak bebas." kata Marinka.


"Oh ya? Kamu ingin bebas?"


"Bukan begitu, lepaskan pekukanmu." kata Marinka.


Felix diam saja. Dia semakin mengeratkan pelukannya. Rasanya dia tidak mau Marinka pergi.


"Kamu ikut denganku ya." kata Felix.


"Tidak mau!" ucap Marinka.


"Hei! Kamu membantahku?" tanya Felix melepas pelukannya pada Marinka.


"Aku baru bertemu mamaku, aku ingin melepas rindu dengan mamaku dulu." kata Marinka.


Felix menghela nafas panjang, menatap Marinka. Kenudian dia kembali meneluk Marinka lagi.


"Baiklah, kamu boleh di sini dulu. Bulan depan aku akan jemput kamu dan mamamu. Kalian berdua ikut denganku." kata Felix.


"Hei, mau apa ikut denganmu?"


"Tentu saja akan menikahimu. Kamu pikir aku akan membiarkanmu di rebut oleh laki-laki lain? Atau kamu yang akan kabur dariku?" tanya Felix.


"Ooh Tuhan, laki-laki ini. Baru juga tadi mengungkapkan cinta, kenapa sekarang jadi aneh begini?" ucap Marinka yang tidak di mengerti bahasanya.


"Kamu bicara apa?" tanya Felix.


"Tidak. Hanya bicara biasa saja." jawab Marinka.

__ADS_1


Setelah memaksa untuk pulang, akhirnya Marinka pun bisa juga pulang. Tapi Felix ikut mengantarnya pulang ke rumahnya. Awalnya Buddy melarang bosnya ikut, karena kelompok yang dulu menembakinya masih mencari keberadaannya.


Tapi Felix bersikeras harus mengantar sendiri kekasih yang baru beberapa jam di akuinya itu. Marinka sendiri tidak bisa mencegahnya, karena Felix memang keras kepala.


Akhirnya, dengan penjagaan ketat. Dua mobil dengan anak buahnya mengiring sampai di rumah Marinka. Dan sampai di rumah Marinka, kembali Felix meminta bertemu dengan ibunya Marinka. Dia akan meminta izin nanti akan menikahi Marinka satu bulan lagi.


"Kamu susah ya di cegah." kata Marinka.


"Jangan mencegahku untuk melakukan sesuatu yang ingin aku lakukan. Percaya saja, aku ini baik sekali." kata Felix.


"Terserah kamu, aku hanya khawatir ada yang mengincarmu lagi." kata Marinka.


"Lalu, aku harus bersembunyi? Itu sikap tidak jantan. Sudahlah, akan aku hadapi mereka dan selagi meraka tidak menganggu milikku. Aku biarkan mereka terus mengintaiku, karena Buddy itu pengawal pilihankunyang sudah terbukti bisa di andalkan." kata Felix lagi.


Mereka pun masuk ke dalam rumah Marinka, para penjaga rumah Marinka dan juga anak buah sejak di rumah jenderal Bima selalu berjaga di luar dan di tempat tersembunyi.


"Kamu mau pamit sama mamaku? Atau mau apa?" tanya Marinka.


"Meminta anaknya untuk kunikahi bulan depan." kata Felix lagi.


Marinka menggeleng, dia masuk lebih dalam. Memanggil ibunya untuk keluar dan menemui Felix. Tak berapa lama, Marinka dan mamanya menemui laki-laki itu.


"Selamat siang nyonya." sapa Felix menyapa mamanya Marinka.


"Siang tuan Felix. Anda sudah sehat?" tanya mamanya Marinka.


"Ya, aku sudah lebih baik dan sehat." jawab Felix.


"Jadi, kamu mau membawa anakku lagi?" tanya mama Marinka.


"Iya nyonya."


"Padahal, saya baru bertemu dengan anakku ini."


"Bulan depan nyonya, Marinka bisa tinggal di sini dulu." kata Felix.


Keduanya diam, Marinka memberikan pengertian pada mamanya agar jangan terlalu khawatir. Bila perlu, dia akan membawa mamanya juga pergi ke Inggris setelah menikah dengan Felix.


"Nyonya juga bisa tinggal di sana setelah kami menikah nanti." kata Felix.


"Nanti aku pikirkan."


Lama mereka mengobrol santai, Buddy memberitahu kalau waktunya sudah selesai. Dia akan menyiapkan semuanya sebelum nanti malam berangkat lagi ke Inggris.


Felix pun berpamitan. Dia di antar oleh Marinka sampai di dalam mobil, karena Felix memaksanya masuk ke dalam mobil.


Dia menarik tangan Marinka masuk ke dalam mobil, dia pun menarik mepala Marinka dan mencium bibir gadis itu lama. Marinka pun membalasnya, setelah di rasa cukup dia melepasnya dan tangannya mengelus bibir Marinka.


"Aku berat berpisah denganmu." kata Felix.

__ADS_1


"Hanya satu bulan." ucap Marinka.


"Tapi sedetik berpisah denganmu, akan terasa menggunung rasa rinduku sama kamu." kata Felix.


"Hahah! Seorang mafia bisa menggombal juga." kata Marinka tertawa renyah.


"Sungguh sayang. Aku tidak menggombal, atau aku culik kamu lagi saja ya?"


"Hei! Jangan membuat mamaku marah sama kamu." ucap Marinka kesal.


"Ya ya, baiklah. Satu bulan kamu adalah milik mamamu, tapi bulan depan. Kamu milikku seutuhnya." kata Felix kembali mencium Marinka.


Marinka mendorong dada Felix agar melepas ciumannya itu. Dia seperti mengingat ciuman Felix itu sepertinya pernah dia rasakan sewaktu masih di mansion laki-laki itu.


"Rasanya kok sama." kata Marinka.


"Apa yang sama?" tanya Felix.


"Ciumanmu." jawab Marinka malu.


"Dengan siapa?!" tanya Felix berubah jadi datar.


"Emm, waktu mimpi di mansionmu. Aku pernah bermimpi di cium olehmu sewaktu di mansion." kata Marinka malu.


"Ooh, itu. Memang aku mencuri ciumanmu setiap malam ketika kamu tidur." kata Felix dengan tersenyum smirik.


"Jadi kamu menciumku setiap malam waktu di mansion?"


"Ya."


"Kamu ya." ucap Marinka menatap tajam pada Felix.


"Tapi sekarang aku tidak mencurinya lagi, aku bisa menikmatinya setiap saat. Cup." kata Felix kembali mencium bibir Marinka.


"Ish!"


"Hahah!"


Marinka tampak kesal, tetapi kemudian dia pun tersenyum dan menyenderkan kepalanya di dada Felix. Dia senang, orang yang pertama menciumnya adalah Felix.


"Nanti aku akan telepon kamu setelah sampai di Inggris." kata Felix.


"Ya. Kamu harus memberiku kabar." kata Marinka.


"Tentu saja, aku tidak mau membuat kekasihku khawatir." kata Felix.


Mereka pun akhirnya berpisah, Marinka keluar dari mobil Felix. Dia melambaikan tangannya ketika mobil hitam itu melaju pelan meninggalkannya. Marinka masuk ke dalam rumahnya, di jaga oleh anak buah Felix yang dia sewa selama satu bulan penuh itu.


_

__ADS_1


_


*******************


__ADS_2