Terjebak Gairah Dua Mafia

Terjebak Gairah Dua Mafia
28. Pulih


__ADS_3

Marinka sedang bercengkrama dengan dokter. Awal kedatangan dokter Psikiater itu Marinka merasa kurang nyaman karena dia selalu bertanya yang tidak jelas menurutnya. Tetapi dia sudah bisa berbicara santai, bahkan seperti layaknya teman.


"Nona sepertinya bukan asli orang Inggris." kata dokter, dia tahu sebenarnya. Tapi hanya bicara agar Marinka bicara banyak.


"Ya, saya dari Indonesia. Awalnya saya ini relawan di kamp pengungsian, tapi entah kenapa tuan Felix membawaku ke Inggris. Aku seperti tahanan olehnya, tapi di dalam rumah." kata Marinka.


"Apa tuan Felix menyakiti anda?" tanya dokter.


"Tidak sih, tapi dia tidak mau mengantarkan saya pulang ke negaraku atau di kembalikan ke kamp relawan di negara konflik itu." jawab Marinka.


Marinka memikirkan bagaimana Felix memperlakukannya sewaktu di mansinonnya, berbeda dengan Alex dulu. Awalnya sangat manis dan akrab, tapi semakin akrab dia semakin berbuat lebih menuntut dan terjadilah malam itu.


Marinka menunduk dan memeluk tubuhnya sendiri lalu menangis terisak. Merasa ketakutan ketika mengingat itu lagi, dokter pun memeluk Marinka. Menenangkan gadis itu yang sedang ketakutan mengingat peristiwa malam itu.


Dia mengingat dirinya yang mau di rudapaksa oleh Alex dan bom serta suara-suara tembakan secara bersamaan, membuat jiwanya terguncang. Yang paling membuat Marinka trauma adalah Alex yang memaksanya.


"Tidak, aku tidak mau!" teriak Marinka.


"Nona, tenanglah. Di sini aman, tidak ada yang memaksa nona untuk hal seperti itu." kata dokter.


"Tapi di sini, di villa ini?"


"Ya, tidak masalah. Saya dan yang lainnya akan menemani nona dan membuat nona nyaman." kata Lordes.


Freid, yang sejak tadi diam pun mendekat. Marinka sedikit beringsut, tapi Freid mencegahnya agar tidak takut padanya.


"Nona jangan khawatir, dokter di sini untuk membantu anda. Dan nanti setelah nona sehat kembali seperti dulu, nona akan kembali ke negara nona sendiri. Tuan Felix memerintahkan nona akan di kembalikan ke negara nona." kata Freid.


"Aku akan pulang ke negaraku?" tanya Marinka.


"Ya, tapi nona harus sehat lagi. Jangan takut lagi, jika nona takut seperti tadi. Nona akan tetap di sini sampai sembuh dan tidak lagi takut pada kami." kata Freid.

__ADS_1


Marinka diam, dia menatap Freid. Lalu pada Lordes yang tersenyum padanya kemudian mengangguk. Dokter serta suster dan penerjemah juga ikut tersenyum untuk meyakinkan Marinka bahwa semuanya baik dan tidak akan menyakitinya.


"Nona setuju kita akan melakukan wawancara?" tanya dokter.


"Ya, lanjutkan saja." kata Marinka.


"Yang lain boleh keluar. Mungkin ini pembicaraan pribadi dengan nona Marinka." kata dokter.


Semuanya pun keluar, hanya penerjemah dan suster yang mencatat poin apa yang dokter dan Marinka bicarakan. Freid merasa lega, karena Marinka mau bicara lebih intens dengan dokter psikiater yang dia bawa ke villa.


Lordes dan pelayan lainnya kembali ke dapur, membuat makan siang semua yang ada di villa tersebut.


_


Satu minggu sudah Marinka di bantu memulihkan traumanya oleh dokter psikiater. Dia juga di beri obat penenang dosis rendah dan juga obat tidur agar tidurnya nyaman dan tidak mengigau terus.


Menurut cerita Lordes, Marinka sering mengigau ketakutan jika tidur dan akhirnya tidak bisa tidur lagi. Dan kini dia sudah lebih baik, semua tampak senang.


Hanya saja Marinka merasa aneh, Freid ada di villa itu. Bahkan anak buah Felix juga ada, pelayannya juga ada. Tapi Felix sendiri, selama satu minggu ini tidak tampak bagi Marinka. Dia heran, kemana Felix?


"Ya, sekarang aku sudah bisa tidur tenang dan tidak merasa takut lagi. Tapi, jika mengingat itu rasanya sangat takut dan malu." kata Marinka.


"Jangan di ingat lagi, itu memang menyakitkan. Dan semoga nona tidak takut lagi dengan laki-laki, terutama yang akan jadi suami nona kelak." kata Lordes.


"Iya, aku tahu. Tapi butuh waktu juga aku menyesuaikan diri dengan rasa traumaku itu." kata Marinka.


"Tentu saja, nona bisa katakan pada laki-laki yang mencintai nona nantinya." kata Lordes lagi.


Marinka diam, lalu mengangguk. Dia menatap ke depan jendela, kemudian berjalan ke arah jendela tersebut. Lordes mengikuti dari belakang, dia tahu ada yang di pikirkan Marinka.


"Sebentar lagi nona akan kembali ke negara nona, apa nona senang?" tanya Lordes.

__ADS_1


Marinka berbalik, dia menatap Lordes tidak percaya.


"Benarkah?"


"Ya, seperti tuan Freid bilang kan minggu lalu. Nona akan kembali ke negara nona jika nona sudah sembuh. Tapi tunggu tuan Felix kembali." kata Lordes.


"Ah ya, kemana tuan Felix? Aku tidak pernah melihatnya di villa ini." kata Marinka.


"Ada urusan di Inggris nona, semua bisnisnya membutuhkan pengawasannya." jawab Lordes.


"Dia banyak bisnisnya?"


"Ya, dan tuan Felix yang mengendalikan semuanya." jawab Lordes lagi.


Marinka diam, dia berbalik menatap kembali ke arah jendela. Di mana di luar villa pemandangan sangat tenang di sana.


"Aku ingin keluar, Lordes." kata Marinka.


"Baiklah nona, ayo kita keluar. Tapi, tuan Freid berpesan jangan terlalu jauh. Sesuai batasan penjaga saja." kata Lordes.


"Ya, baiklah."


Marinka pun melangkah keluar dari kamarnya, di ikuti oleh Lordes di belakangnya. Freid di ruang khusus rapat melihat Marinka dan Lordes keluar. Mereka melewati ruangan itu dan menuju pintu samping rumah.


"Mereka mau keluar tuan, hanya di samping rumah saja." kata penjaga yang tadi di depan kamar Marinka.


"Ooh, baiklah. Biarkan saja.


Freid pun masuk lagi ke dalam ruangan tadi, meneruskan pekerjaannya melalui laptop. Dan malam ini, Felix akan datang ke villa. Membicarakan tentang kepulangan Marinka ke negaranya. Bagaimana nanti setelah kepulangannya ke negaranya itu, apakah Felix benar-benar akan melepas Marinka pulang dan membiarkan hidup di sana dengan laki-laki yang akan mencintainya.


_

__ADS_1


_


*******************


__ADS_2