Terjebak Gairah Dua Mafia

Terjebak Gairah Dua Mafia
31. Di Serang


__ADS_3

Enam belas jam lebih perjalanan dari Inggris ke Indonesia. Kini mereka mendarat di landasan milik TNI yang Felix kenal baik itu, TNI itu juga punya kerja sama dengan perusahaan minyak milik Felix. Jadi, sebelumnya dia meminta izin untuk mendaratkan pesawatnya di landasan tersebut.


Marinka masih tertidur di pesawat itu, Felix melihatnya merasa tidak tega harus membangunkan Marinka dari tidurnya. Hingga dua menunggu beberapa menita Marinka bangun dan segera turun ke bawah.


"Kamu sudah bangun? Ini sudah sampai." kata Felix.


"Oh ya?!" tanya Marinka tidak percaya.


Dia pun segera bangkit dari tidurnya dan segera turun. Tidak sabar dia ingin segera bertemu dengan ibunya, yang tentu saja sangat khawatir karena hilang kontak saat di kamp pengungsian.


Mereka naik mobil sedan hitam yang sudah di siapkan. Felix bicara pada jenderal TNI lebih dulu di kantor itu, setelah semua beres. Baru mereka pun melajukan mobilnya menuju rumah Marinka.


Felix sengaja mendaratkan pesawat pribadinya du landasan TNI, agar jika memang orang-orang Alex tidak tahu. Tapi bukan hanya Alex saja, tiba-tiba ada mobil van hitam melaju membuntuti mobil Felix.


Awalnya mobil itu biasa saja. Tetapi di lihat dari kaca jendela mereka seperti orang-orang yang sengaja mengikuti mobil Felix. Buddy yang duduk di depan pun waspada.


"Tuan, sepertinya kita di ikuti seseorang." kata Buddy.


"Siapa mereka?" tanya Felix.


"Saya tidak tahu tuan." kata Buddy.


"Apa mereka orang suruhan Alex?" tanya Felix.


"Sepertinya bukan tuan. Tapi saya akan coba deteksi melalui data satelit di sini." kata Buddy lagi.


"Kamu bisa melakukannya?"


"Saya sedang mencobanya, tapi saya yakin bukan orang suruhan tuan Alex." ucap Buddy lagi.


Marinka di sebelah Felix pun bingung, kenapa ada yang mengikuti mereka. Dia mendengar pembicaraan Felix dan Buddy. Dia menatap Felixyang begitu dingin wajahnya. Perubahan itu dia belum pernah tahu, wajah yang sangat mengerikan dan penuh waspada, tangan Felix sudah siap dengan senjata apinya.

__ADS_1


"Tuan Felix, ada apa sebenarnya?" tanya Marinka heran dan bingung.


"Kita di ikuti. Kamu tenang saja, kamu pasti pulang ke rumahmu. Tapi maaf, nanti agak lama karena harus menyelesaikan pekerjaan di depan." kata Felix.


"Tapi, kenapa anda punya musuh? Selain tuan Alex?" tanya Marinka semakin bingung.


"Dunia kami memang ada saja musuhnya, jadi kami harus waspada setiap saat. Apa lagi di luar kekuasaan kami, nona." jawab Buddy.


"Dunia kalian?" tanya Marinka semakin bingung.


"Dunia mafia. Duniaku, Marinka." kata Felix menatap tajam dan dingin pada Marinka.


Marinka memundurkan wajahnya, dia merasa ngeri melihat wajah Felix yang berubah jadi menakutkan. Felix menatap mobil van hitam itu, keadaan jalanan masih ramai kendaraan.


Mobil Felix berputar-putar mencari jalan aman dan sepi. Satu mobil di belakang adalah anak buahnya juga sudah siap untuk menyerang. Menunggu perintah tuannya di mobil depan.


Buddy terus berkordinasi dengan mobil di belakang, juga dia mencari data satelit dengan meretas masuk ke bagian data pengguna mobil. Dia masuk dengan cepat dan mencari nomor polisi mobil di depannya melalui ponsel khususnya.


"Mereka bukan orang suruhan tuan Alex, tuan. Sepertinya mafia dari wilayah sini yang tahu keberadaan anda. Mereka tidak tahu tujuan anda datang kemari. Dan kemungkinan mereka juga tidak tahu nona Marinka." kata Buddy.


"Sepertinya mereka hanya ingin mencoba menghalangi anda. Mungkin mencoba kekuatan baru dan mereka punya ahli IT, jadi tahu anda datang." kata Buddy lagi.


"Kekuatan mereka seperti apa?" tanya Felix lagi.


"Lumayan, tapi yang sekarang ini sepertinya sedikit. Kita bisa mengatasinya tuan, tanpa meminta bantuan jenderal Bima." kata Buddy lagi.


"Baiklah, kita cari tempat aman. Serang mereka, jangan sampai membuat keributan di negeri orang. Apa lagi di negeri wanitaku." kata Felix dengan tegas.


Marinka tertegun, dia mendengar Felix menyebut dirinya adalah wanitanya? Apa itu maksudnya?


Dia kembali menatap jalanan, menoleh ke arah mobil van yanh selalu mengikutinya di sebelah mobil Felix. Marinka masih bingung dengan dunia mafia yang di sebut Felix tadi.

__ADS_1


Bukannya tidak tahu apa itu mafia, tapi hanya terkejut. Dia berhadapan langsung dengan ketua mafia dari Inggris?


"Jadi kamu ketua mafia di Inggris, tuan Felix?" tanya Marinka pelan.


"Kenapa? Kamu terkejut dengan duniaku?" tanya Felix.


"Ya, ini di luar dugaanku. Kupikir aku berhadapan dengan orang biasa, orang yang punya bisnis banyak. Dan bukan mafia." kata Marinka.


"Hahah! Dunia orang-orang kaya itu, di belakangnya adalah mafia Marinka. Di negaramu juga banyak yang seperti itu, mereka menggeluti dunia bisnis gelap di bawah tanah. Yang kadang tak tersentuh oleh pihak berwajib. Atau bahkan pihak berwajib tahu, tapi kekuatan dunia bawah mereka terlalu besar. Jadi tidak bisa di sentuh oleh mereka." kata Felix.


"Tapi, aku baru tahu hal seperti itu." kata Marinka melemah suaranya. Tidak menyangka dengan dunia mereka.


"Sudahlah, jangan pikirkan. Di depan umum, mereka seperti orang biasa saja. Tapi tidak semua orang kaya menggeluti dunia mafia, Marinka." kata Felix lagi.


Marinka diam, dia menarik nafas panjang. Ternyata Felix adalah seorang mafia yang selalu di incar keberadaannya bagi mereka yang tahu siapa Felix. Sangat mengerikan akan selalu berjibaku dengan senjata api.


Baru saja Marinka berhenti memikirkan laki-laki di sampingnya. Tiba-tiba suara tembakan mengarah ke mobil mereka. Buddy sudah siap dengan senjatanya, begitu juga dengan Felix. Dia menyodorkan senjatanya, tangan satunya mendorong kepala Marinka agar menunduk ke bawah.


Marinka ketakutan, kejadian di villa Alex pun kembali terbayang di benaknya. Dia pun memeluk Felix dengan tiba-tiba, membuat laki-laki itu terkejut. Tapi kemudian dia menyuruh supir untuk segera melajukan mobilnya, menghindar dari serangan tembakan mobil van di sampingnya itu.


"Buddy, menghindar! Biarkan mobil di belakang yang melawan. Aku tidak mau Marinka jadi ingat kembali dengan traumanya!" teriak Felix.


"Baik tuan!"


Dia memeluk gadis itu erat, sesekali matanya melirik ke arah mobil van hitam itu.


Dor! Dor! Dor!


Dor! Dor! Dor!


_

__ADS_1


_


********************


__ADS_2