Terjebak Gairah Dua Mafia

Terjebak Gairah Dua Mafia
12. Pencuri Ciuman


__ADS_3

Seperti apa yang di katakan Felix, setiap malam Marinka selalu di ajak makan malam romantis oleh Felix. Dia sangat senang ketika wajah kesal Marinka yang menurutnya lucu itu. Sudah lima kali dia melakukan makan malam dengan Marinka.


Marinka sendiri tidak bisa menolak, ketika menolak pun kepala pelayan akan memaksanya dengan berbagai alasan yang sekiranya membuat Marinka berpikir dua kali untuk selalu menolak ajakan Felix itu.


"Apa harus setiap malam makan malam seperti ini?" tanya Marinka pada Felix yang sedang makan dengan santai.


"Ya, kamu lupa dengan ucapanku kemarin?" kata Felix masih dengan santai.


"Ck, kenapa tuan melakukannya?" tanya Marinka.


"Melakukan apa?" Felix balik bertanya.


"Ck, makan malam. Kenapa tuan mau melakukan makan malam seperti ini setiap malam. Apa anda tidak punya kekasih untuk berkencan? Ajaklah kekasih anda itu untuk berkencan dan makan malam romantis seperti ini." kata Marinka lagi.


"Aku sudah bilang, kamu adalah wanita yang aku sukai. Dan lambat laun kamu akan jadi kekasihku." kata Felix lagi.


Meski laki-laki itu dingin sikapnya, tapi jika sudah menyukai wanita. Maka dia akan terus mengejarnya, tanpa harus menyatakan cinta. Karena menyukai bukan berarti dia mencintai, itu prinsip Felix.


Namun, anehnya. Dia masih bersabar pada Marinka. Justru dia sangat senang jika membuat Marinka kesal, suatu hiburan baginya jika meladeni Marinka yang sedang kesal.


Felix berdiri, seperti biasa dia mengajak Marinka berdansa. Dengan malam, Marinka pun akhirnya berdiri. Berdansa dengan lagu melankolis dan romantis.


Lambat laun keduanya menjadi dekat, tanpa sadar kini Marinka jadi lupa dengan keinginannya untuk meminta di kembalikan ke kamp pengungsian atau pulang ke negaranya. Atau karena dia sudah lelah meminta dan memohon pada Felix untuk kembali, semakin hari sikapnya semakin biasa, seperti teman saja.


"Kamu sekarang tidak lagi merajuk meminta di kembalikan?" tanya Felix ketika suatu malam terakhir dia dan Marinka berdansa.


"Untuk apa aku memohon terus? Kamu sendiri tidak mau menuruti kemauanku kan." kata Marinka.


"Hemm, ya. Aku tidak berniat mengembalikanmu, kamu tetap akan di sini bersamaku." kata Felix lagi.


"Carilah yang lain, biarkan aku pergi Felix." kata Marinka pelan.


"Oh, hahah! Sangat merdu sekali ucapanmu memanggil namaku, Marinka. Coba katakan sekali lagi?" kata Felix.


"Sudahlah, kalau berdansa sudah selesai. Aku mau tidur, aku mengantuk." kata Marinka lagi, malas menanggapi ucapan Felix yang semakin hari semakin terus merayunya.

__ADS_1


"Baiklah, aku antar kamu sampai kamarmu." kata Felix.


"Tidak perlu. Aku sendiri saja, kamu sana kembali ke tempatmu." kata Marinka mendorong dada Felix.


Dia lalu melangkah meninggalkan Felix yang masih tersenyum. Menenggak minumannya, masih menatap kepergian Marinka. Rasanya menyenangkan menggoda gadis itu, begitu pikiran Felix.


"Aah, aku tidak menyangka akan sejauh ini bertahan untuk tidak menyentuhnya. Sangat menyenangkan sekali dia sekarang lebih manis sikapnya." ucap Felix.


Freid mendekat pada Felix, dia berdiri di sampingnya. Felix menyerahkan gelas yang tadi dia minum isinya.


"Bagaimana menurutmu, Freid?" tanya Felix.


"Emm, menarik. Besok malam bisa anda bawa ke pesta pangeran Gabriel." kata Freid.


"Oh ya, aku lupa besok malam ada pesta dari pangeran Gabriel." kata Felix.


"Anda belum mengutusku untuk mencari wanita pendamping anda tuan. Apakah nona Marinka yang akan anda bawa besok malam?" tanya Fried.


"Hemm, boleh. Aku akan bawa dia, carikan gaun yang cantik dan suruh kepala pelayan mendandani dia dengan anggun. Berikan perhiasan mahal dan juga aksesoris yang dia pakai bernilai tinggi." kata Felix dengan senyum mengembang.


"Tidak usah, aku punya yang lebih menarik dari pada harus mengencani model yang di perebutkan dengan Alex." kata Felix dengan ketus.


"Hahah! Anda selalu kalah dalam urusan wanita tuan. Apakah aku harus bergerak cepat?" tanya Freid.


"Untuk apa? Sudah kubilang aku punya yang lebih menarik, Marinka lebih menarik dari siapa pun." kata Felix lagi.


"Anda sudah jatuh cinta rupanya pada nona Marinka tuan." kata Freid.


Dia diam, menatap tajam pada asistennya itu.


"Baiklah tuan, malam ini anda mau melakukan apa?" tanya Freid lagi menyudahi tatapan tajam sang bos.


Dia takut akan di beri tugas lebih berat jika meledek bosnya itu yang sedang sensitif hatinya dan pikirannya jika mengenai Marinka.


"Siapkan mobil, kita ke markas saja. Tapi aku harus melihat Marinka dulu, apa benar dia langsung tidur setelah dia mengatakan mengantuk tadi." kata Felix setelah lama berpikir dan menetralkan hatinya karena kesal pada Freid.

__ADS_1


"Baik tuan." kata Frieid.


Freid meninggalkan Felix sendiri, sedangkan Felix sepeninggal Fried dia pun masuk ke dalam rumah. Berjalan menuju kamar di mana Marinka di tahan. Meminta di buka pintunya pada penjaga kamar Marinka, lalu dia pun masuk kamar Marinka.


Melangkah terus menuju ranjang gadis itu. Dan benar saja, Marinka sudah tertidur. Sangat manis di mata Felix, dia semakin mendekat dan menatapnya lembut.


Felix berjongkok, masih menatap wajah manis dan cantik milik Marinka. Wajah Felix pun mendekat pelan, dia mencium bibir Marinka. Ya, dia mencium bibir Marinka pelan dan sangat lembut. Merasa kurang, Felix mencoba mengulum bibir mungil itu.


Lalu dia pun mendesaah pelan, berat sekali rasanya menyudahi ciumannya.


"Huh, kenapa aku jadi seorang pencuri ciuman? Apakah aku tidak bisa mencium paksa kamu? Atau menciummu dengan secara sadar. Sangat pengecut sekali, tapi aku suka." ucap Felix pelan masih menatap wajah Marinka yang tidak bergerak sama sekali.


Di elus pipi Marinka dengan lembut, dan sekali lagi dia mencium pipinya.


"Baiklah, setelah pesta besok malam. Kupastikan kamu akan jadi milikku seutuhnya Marinka. Aku benar-benar tergila-gila padamu." ucap Felix lagi.


Dia mencium bibir Marinka sekali lagi, lalu pergi dan keluar dari kamar Marinka. Dadanya berdegup kencang dengan apa yang dia lakukan tadi. Menarik nafas panjang dan membuangnya kasar.


"Tutup pintunya." kata Felix pada penjaga kamar itu.


"Baik tuan." ucap penjaga kamar itu.


Pikiran Felix sangat kacau, hatinya menggebu sekali. Dia harus menyelesaikannya sendiri, dia benar-benar kesal sekali kenapa ingin menyentuh Marinka tapi tidak bisa dia lakukan.


"Aaargh! Brengsek! Kenapa aku jadi lemah begini!" ucap Felix masuk ke dalam kamarnya dengan cepat.


Dia lalu melepas bajunya dan segera masuk ke dalam kamar mandi, sesuatu harus dia selesaikan sendiri. Dan itu sangat menyebalkan bagi Felix.


Sejak dia sering mencium bibir Marinka secara diam-diam, dia seperti di siksa sendiri. Namun anehnya juga dia masih saja diam dan bersabar dengan diamnya Marinka yang tidak menanggapinya dalam berciuman.


_


_


********************

__ADS_1


__ADS_2