
Alex sengaja kabur ke Amerika setelah pengeboman villanya itu oleh Felix dan anak buahnya. Karena memang sudah tidak aman di sana, anak buah Felix sudah mengetahui keberadaannya menyembunyikan Marinka.
Alex duduk di kursi kebesarannya, memikirkan bagaimana membalas pada musuh bebuyutannya, Felix. Selama ini dia yang selalu menang dalam masalah menggaet wanita. Tapi, kemarin ternyata Marinka tidak menyukainya. Dia marah dan kesal, hingga berbuat tidak senonoh dan membuat Marinka ketakutan.
"Aah, seharusnya aku harus lebih bersabar lagi dengannya. Jika bukan karena rasa kesal dan habis kesabaranku, dia sudah pasti aku miliki hati dan tubuhnya." gumam Alex memejamkan matanya.
Tok tok tok.
Suara pintu ruang kerja Alex di ketuk. Terbuka pintu tersebut dan masuk anak buahnya, Alex menatap laki-laki itu.
"Ada apa?" tanya Alex.
"Saya mendapat kabar yang sangat anda nantikan tuan." kata Jhon
"Hemm, katakan."
"Nona Marinka sudah pulang ke Indonesia di antar oleh tuan Felix langsung tuan. Dan di jalan mereka di serang oleh gangster lokal yang mengetahui kedatangan tuan Felix." katanya memberi laporan.
"Lalu?"
"Tuan Felix tertembak, tapi sekarang sudah kembali lagi ke Inggris. Tapi rumah nona Marinka di jaga ketat oleh anak buah tuan Felix, susah untuk tembus masuk ke rumah tersebut." katanya lagi.
"Hemm, kenapa seperti itu?" tanya Alex.
"Anda mungkin akan terkejut, menurut informasi dari seseoang yang saya mintai untuk menyelidiki ibunya. Katanya bulan depan mereka akan ke Inggris."
"Mau apa Marinka kembali lagi ke Inggris?" tanya Alex kaget.
"Dan menurut orang suruhan saya itu, nona Marinka akan menikah dengan tuan Felix."
"Apa?!"
"Iya tuan. Itu yang saya dapatkan informasinya."
"Jadi dia sudah mendapatkan hati Marinka? Kurang ajar! Ternyata gadis itu menolakku karena menyukai laki-laki itu?!"
Anak buah yang memberikan informasi itu diam sambil menunduk. Alex bangun dari duduknya, dia berjalan menuju jendela dan mengambil barang di meja.
__ADS_1
Prang!
Dia membanting asbak mewah seharga jutaan dolar. Wajahnya memerah, ternyata dia kalah dengan Felix. Wanita yang ingin dia miliki seutuhnya ternyata memilih Felix.
"Sialan! Brengsek! Akan aku balas dia!"
"Tuan, sekarang ini tuan Felix sedang sibuk mengurus masalah dengan tuan Anderson. Anda bisa memanfaatkan kelengahan tuan Felix itu. Kita bisa bernegosiasi dengan tuan Anderson untuk melawan tuan Felix." kata Jhon.
Alex tampak berpikir, dia mengambil botol wyne dan menuangkannya di gelasnya. Menenggaknya dengan cepat. Matanya menatap tajam pada asistennya itu, kembali dia menenggak wyne langsung dari botolnya.
"Heh! Baiklah, buat dia sibuk sampai lupa dengan wanitanya. Aku ingin mendekatinya lagi, merayunya dan segera menikmati tubuhnya." ucap Alex dengan senyum smirik.
"Tuan, bukankah nona Marinka tahu jika anda sangat jahat?" kata Jhon.
"Lalu kenapa?!"
"Begini, saya punya rencana. Menurut saya ini bagus, tapi jika anda menyukainya." kata Jhon lagi.
"Cuih! Rencanamu itu selalu saja gagal Jhon." kata Alex meledek Jhon.
"Lalu kamu? Apa kemampuanmu kalah dengan mereka?" tanya Alex sinis padanya.
"Kalau saya ahli dalam membuat rencana. Saya rasa rencana saya anda pasti suka." kata Jhon lagi.
"Ya yaya baiklah. Katakan apa rencanamu?" kata Alex.
Lalu Jhon menceritakan rencananya secara rinci, dia akan menyewa orang untuk terus menyidiki rumah Marinka. Karena rumah itu sangat ketat di jaga oleh orang sewaan Felix, maka Jhon menyewa bukan orang yang biasanya.
"Hemm, jadi nanti bisa kok tetangganya kita manfaatkan untuk bisa masuk ke dalam rumah itu. Atau memberikan sesuatu pada mereka yang sedang berjaga." kata Jhon.
"Lalu, menculik Marinka lagi?"
"Anda bisa memanfaatkan ibunya tuan." kata Jhon.
Alex tampak berpikir dengan rencana asistennya itu. Dia menenggak lagi wyne dari botolnya. Terasa pahit di mulutnya, tapi terus ketagihan. Alex menatap Jhon, lalu tersenyum senang.
"Bagus kamu Jhon, aku tambahkan. Biar aku lanjutkan rencanamu itu." kata Alex.
__ADS_1
"Silakan tuan. Nanti aku siapkan tempat yang tidak bisa di lacak oleh mereka tuan." kata Jhon.
"Tidak. Tidak! Aku ingin Felix tahu kalau akulah yang jadi pemenangnya. Dia yang akan menyaksikan kekasihnya menjadi milikku, menyerahkan dirinya padaku. Hahah!" kata Alex dengan tawa menggelegarnya.
"Maksud anda apa tuan?" tanya Jhon.
"Kita sandera ibunya, sudah pasti Marinka yang dengan suka rela menyerahkan dirinya untuk tidur denganku. Uuuh, rasanya aku sudah tidak sabar sekali menyentuhnya." kata Alex.
"Hemm, menarik tuan. Lalu, apakah tuan Felix akan tahu semuanya?"
"Ya, dia harus tahu. Dia akan menyaksikannya sendiri, Marinka lebih memilihku dari pada dia." kata Alex.
"Tapi, waktunya satu bulan lagi tuan mereka berangkat ke Inggris." kata Jhon lagi.
"Kalau begitu, lakukan dengan cepat!" ucap Alex dengan menatap tajam.
"Baik tuan. Oh ya, pabrik itu sudah sah menjadi milik tuan Felix. Tuan Alex." kata Jhon.
"Aku tidak peduli!" teriak Alex.
"Oh, maaf. Saya pikir anda akan mengambil kembali pabrik itu." kata Jhon.
"Aku hanya ingin Marinka! Dan mengalahkan laki-laki pecundang itu! Aku tidak bisa di kalahkan oleh dia. Setiap wanita yang dia inginkan, aku harus memilikinya. Termasuk Marinka, aku ingin memilikinya!" ucap Alex dengan keras.
Jhon diam, dia tahu bosnya itu sangat ambisius ingin mengalahkan Felix dalam segala hal. Tetapi Felix memang tidak pandai mendapatkan wanita, selalu saja di dahului oleh Alex. Lebih tepatnya selalu merebutnya.
Tapi, tentang Marinka. Felix mencintainya, dan Alex hanya ingin merebutnya, membuat Felix marah. Setelah itu dia akan membuangnya, seperti itu yang di lakukan oleh setiap wanita yang di inginkan Felix.
"Laki-laki itu sudah mendapatkan cinta dari Marinka. Aku tidak akan kalah, aku mungkin tidak bisa mendapatkan hatinya. Tapi aku akan mendapatkan tubuhnya lalu membuangnya begitu saja. Hahah! Felix! Aku tidak akan kalah!" ucap Alex menatap tajam ke arah jendela.
Sementara itu Jhon sudah pergi sejak tadi. Alex menikmati wyne di botol hingga habis dan akhirnya dia pun mabuk. Bicara apa saja dan mengumpat laki-laki yang dia benci selama ini.
_
_
********************
__ADS_1