
Waktu untuk keberangkatan Marinka dan ibunya ke Inggris sudah dekat. Semua paspor dan visa sudah di urus dengan baik, ada kemungkinan Marinka akan berpindah kewarganegaraan setelah jadi istri Felix nantinya.
Dia menyiapkan semuanya, membuat surat pengunduran diri ke kantornya. Kalau dia akan pergi ke Inggris, tapi tidak menjelaskan mau apa pergi ke Inggris.
"Ma, apa semua yang mama butuhkan sudah di masukkan ke dalam koper?" tanya Marinka.
"Sudah, tinggal mama mau bawa beras buat masak di sana. Mama ngga bisa ngga makan nasi di tempat mana pun." kata mamanya.
"Kan di minimarket khusus makanan Indonesia juga ada ma. Kenapa harus bawa beras juga." kata Marinka.
"Ngga apa-apa, di sana beli mahal. Harus pakau uang Euro kan? Mama mana punya uang begitu." kata mamanya lagi.
Marinka tersenyum lucu, tentu saja Felix akan menyediakan semuanya. Tapi dia hanya diam saja, lalu dia pun masuk ke dalam kamarnya. Memeriksa apa yang belum dia masukkan ke dalam kopernya.
"Marinka, kamu sudah membawa rendang yang mama buat untuk calon suamimu? Katanya dia suka dengan rendang." tanya mamanya.
"Oh iya, aku lupa ma. Apa mama sudah memasukkannya ke dalam kulkas?"
"Emm, ada. Tapi nanti mama bikin lagi deh, soalnya yang itu sudah lama. Nanti sampai di sana ngga enak lagi." kata mamanya.
"Emm, ya udah. Nanti aku makan sendiri aja."
Setelah semua di periksa isi koper dan barang apa lagi yang dia bawa. Kini Marinka merasa lega, dida duduk di kursinya. Menatap ponselnya, dan ponselnya menyala. Dia tersenyum senang kemudian mengangkat sambungan telepon dari sang kekasihnya.
"Halo?"
_
Marinka sedang berada di kantornya untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya ketika tamu yang tak di kenal datang ke rumah mamanya. Semua penjaga yang ada di sekitar rumah Marinka di buat tidak sadarkan diri.
"Jadi anak nyonya mau menikah?" tanya seorang laki-laki berperawakan tinggi dengan full senyum.
"Ya, dia sangat senang akan menikah. Dan ibu juga, setelah bertahun-tahun anakku selalu menolak untuk menikah." kata mamanya Marinka pada tamunya.
"Begitu ya. Dengan siapa Marinka menikah nyonya?" tanya laki-laki itu.
"Dia orang Inggris, namanya Felix. Ibu tidak tahu siapa dia, tapi dia orang baik." kata mamanya Marinka.
__ADS_1
"Ooh, Felix?"
"Ya. Anda kenal tuan?"
"Hahah! Tentu saja saya kenal nyonya, dia temanku. Aah, dia kalau mau menikah kenapa tidak mengatakannya padaku ya." kata laki-laki itu bersandar di sofa.
"Waah, benarkah? Dia teman tuan?"
"Iya. Dan saya kira, saya kemari tepat sekali ya. Saya berpikir akan membawa ibu dan Marinka padanya, memberikan kejutan." kata laki-laki itu dengan tersenyum smirik.
"Kejutan ya?"
"Iya. Felix pasti senang Marinka datang tanpa di duga."
Mamanya Marinka berpikir sejenak. Laki-laki itu mengambil minuman yang di sediakan mamanya Marinka lalu menenggaknya. Dia terlihat senang dengan minuman yang di suguhkan calon mertua Marinka tersebut.
"Bagaimana nyonya?" tanya laki-laki itu.
"Emm, saya tunggu anak saya pulang dulu." kata mamanya Marinka.
"Kalau menunggu Marinka pulang, pasti lama. Dia tidak mau nantinya jika membuat kejutan untuk calon suaminya. Makanya, biar nyonya saja yang membuat kejutan." kata laki-laki itu membujuk mama Marinka.
"Nyonya, begini saja. Anda bisa membelikan sesuatu untuk calon menantu anda. Misalnya beli oleh-oleh yang dia suka, nanti saya antar keliling mall untuk membeli barang yang akan nyonya beli." kata laki-laki itu lagi yang tahu mama Marinka itu mencari para penjaga.
"Baiklah, tapi saya memberitahu Marinka dulu." katanya.
"Silakan."
Perempuan paruh baya itu mengambil ponselnya di atas meja. Dia menelepon Marinka, dan laki-laki itu mendengarkan percakapan ibunya Marinka dan anaknya. Hanya sebentar, lalu menutup teleponnya.
"Sudah tuan, saya bersiap dulu. Tapi benarkan anda hanya mengantar saya saja?"
"Ya. Nyonya jangan khawatir, semua bisa kok saya yang membayar belanjaan anda."
"Waah, benarkah?"
"Tentu."
__ADS_1
"Aah, tidak tuan. Itu nanti bukan dari saya, saya memberikan dari uang pribadi saya sendiri."
"Ya, terserah nyonya saja."
Mamanya Marinka pun masuk ke dalam kamarnya, dia bersiap untuk pergi dengan laki-laki yang mengaku teman Felix. Tak berapa lama, mamanya Marinka pun keluar dengan berpakaian rapi dengan membawa tas jinjingnya.
Laki-laki itu tersenyum, dia pun berdiri dan menyodorkan tangannya.
"Anda sangat cantik nyonya." katanya memuji.
"Saya sudah tua tuan, jangan memuji yang berlebihan."
"Hahah! Mari kita keluar, mobil saya sudah menunggu anda." kata laki-laki itu.
Keduanya pun keluar, mama Marinka menutup pintunya dan menguncinya. Kunci dia simpan di bawah keset seperti biasanya. Laki-laki tadi sedang menelepon seseorang, dia seperti memberitahu kalau misinya berhasil.
Setelah selesai, dia menggiring mama Marinka masuk ke dalam mobilnya. Menariknya dengan sedikit memaksa dan membekap mulutnya.
_
Marinka pulang sore hari. Dia tidak melihat beberapa penjaga yang biasa menjaga rumahnya. Ragu Marinka masuk ke dalam rumahnya, pintu terbuka. Tapi kemudian dia penasaran mungkinkah ada tamu. Dan tamunya itu siapa?
Marinka masuk ke dalam, dia melihat seseorang yang sedang duduk bertopang kakinya. Menyeruput cerutunya, kemudian menyemburkannya ke atas. Marinka terdiam di tempatnya, wajahnya membeku melihat siapa laki-laki yang duduk di kursi tamu itu.
Dia menoleh pada Marinka dan tersenyum smirik. Dia pun berdiri dan melangkah mendekat pada Marinka yang terpaku karena kedatangannya yang tidak di sangka itu.
"Halo manis, kita bertemu lagi." ucapnya.
"Mau apa kamu datang kemari?!" teriak Marinka.
"Hahah! Tentu saja menjemputmu nona manis." kata laki-laki itu terus mendekat pada Marinka.
Tapi dengan sigap seorang laki-laki lagi menangkap Marinka dan membawanya pergi. Laki-laki tadi pun tertawa puas karena sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Mereka membawa Marinka pergi dengan mobil hitam.
Entah mereka membawa kemana, yang jelas Marinka kembali di culik dan akan di bawa lagi ke negara di mana laki-laki itu berada. Menghubungi seseorang untuk memberitahunya kalau gadis yang di cintainya sudah ada di tangannya.
_
__ADS_1
_
*********************