
Ledakan di villa itu hampir mengenai tubuh Felix jika tidak di tarik oleh Buddy. Mereka bersembunyi di balik pohon dan tanaman perdu yang mengitaru villa. Kini Felix dan Buddy segera pergi, wajah Felix terkena pecahan kaca. Hingga darah mengalir di pipinya.
"Tuan, pipi anda berdarah." kata Buddy.
"Hanya sedikit, jangan pikirkan itu. Sekarang ayo kita pulang. Sepertinya Alex selamat dan dia kabur. Sampai di Inggris kamu siapkan semua penjagaan di setiap aset milikku. Aku yakin dia akan merusak salah satu aset milikku." kata Felix.
"Iya tuan." jawab Buddy.
Mereka lalu segera pergi, helikopter di pantai audah menunggu mereka. Felix dan Buddy berlari dan masuk ke dalam helikopter. Setelah keduanya duduk, Feliix melihar tidak ada Freid dan Marinka.
"Kemana Freid?" tanya Felix.
"Mereka sudah pergi tuan dengan helikopter satunya." kata anak buah yang lainnya.
"Marinksa sudah dia bawa pergi juga?"
"Ya tuan. Anda jangan khawatir."
"Baguslah, berarti Marinka sudah selamat. Ponselmu mana Buddy?" tanya Felix.
"Ini tuan. Anda mau menghubungi tuan Freid?" tanya Buddy.
"Ya, hanya memastikan kalau Marinka baik-baik saja." ucap Felix.
"Tapi di sini tidak bisa menghubungi lewat ponsel tuan." kata Buddy.
"Aah benar. Ya sudah, kita langsung ke tempat markas sementara di kota Arachova. Di sana ada villa yang di sewakan di dekat kaki gunung Parnassos. Kita akan menginap beberapa hari, dan semuanya berjaga. Aku tidak mau ketenanganku terganggu." kata Felix.
Dia akan membayangkan kembali menatap Marinka dan berdansa kembali dengannya. Senyumnya mengembang, karena Marinka sudah selamat dan sebentar lagi dia akan bertemu.
_
Malam hari, helikopter Felix sampai di villa yang dia sewa untuk satu minggu itu. Dia ingin memulihkan ketakutan Marinka lebih dulu sebelum pulang ke Inggris.
Felix langsung turun dari helikopter dan langsung berlari menuju villa. Dia ingin segera bertemu dengan Marinka, gadis yang selama ini mengusik pikirannya. Freid menghampiri Felix dan menahan bosnya itu agar bersabar untuk bertemu dengan Marinka.
"Tuan, nona Marinka sudah tidur." kata Freid.
__ADS_1
"Aku ingin melihatnya! Kenapa kamu menghalangiku?!" kata Felix membentak Freid.
"Dia trauma tuan." kata Freid menjelaskan.
Felix diam, dia menatap tajam pada Freid. Lalu tanpa mempedulikan asistennya itu, Felix langsung masuk ke dalam kamar Marinka. Dengan jalan pelan, dia melangkah mendekat ke ranjang di mana Marinka membaringkan tubuhnya.
Di sisinya ada Lordes yang sedang menemaninya hingga tidur. Lordes menoleh ke arah Felix dan langsung berdiri kemudian membungkuk hormat.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Felix menatap wajah Marinka.
"Nona sudah tidur tuan, jiwanya terguncang saat sampai di villa ini. Tapi untunglah, sudah lebih baik ketika aku tenangkan." kata Lordes.
"Terima kasih Lordes, kamu bisa keluar sebentar. Aku ingin melihatnya dari dekat." kata Felix.
"Baik tuan." ucap Lordes.
Lordes pun berjalan meninggalkan Felix yang berdiri berjarak dua meter dari ranjang Marinka. Felix menatap wajah gadis ayu itu dengan sedih, dia sedih karena Marinka mengalami trauma juga. Entah apa yang di lakukan oleh Alex, sehingga mmebuat Marinka jadi trauma.
Felix pun mendekat, dia masih menatap wajah Marinka. Dia duduk pelan agar Marinka tidak terusik dengan kehadirannya di sisinya.
"Marinka, aku merindukanmu." bisik Felix.
"Tidak Alex! Jangan sentuh aku! Jangan sentuh aku!" teriak Marinka dalam tidurnya.
Felix tertegun, darahnya kembali derdesir. Amarahnya kembali mencuat, wajahnya berubah dingin. Dia lalu bangkit dan keluar dari kamar Marinka. Tangannya mengepal, dia pun menuju meja berisi perabot dan memukulinya satu persatu sambil berteriak.
Prang! Prang! Prang!
"Aaargh! Brengsek Alex!"
Felix terus melempar barang-barang yang ada di depannya. Membuat Freid dan Buddy terkejut, mereka pun menghampiri Felix menahan tubuhnya serta tangannya.
"Tuan Felix, anda harus sabar!" teriak Freid menenangkan bosnya yang sedang meluapkan amarahnya.
"Bagaimana aku bisa tenang?! Dia telah menyentuh Marinka! Dia telah menyentuh wanitaku!" teriak Felix lagi melempar perabot yang dapat dia gapai di depannya.
Prang! Prang! Prang!
__ADS_1
Freid dan Buddy menarik sekuat tenaga agar Felix tidak kembali merusak barang-barang pemilik villa tersebut. Mereka menarik Felix ke kanar agar tidak mengganggu Marinka yang sedang beristirahat di kamarnya.
"Tuan, tenanglah. Nona Marinka tidak apa-apa, anda pasti bualan tuan Alex agar anda marah? Dia memang sering meledek anda tuan. Jadi, anda tenanglah. Nona Marinka tidak apa-apa." kata Freid lagi.
"Tapi tadi Marinka mengigau, dia menyebut Alex dan berteriak jangan menyentuknya!" teriak Felix menjelaskan keadaan Marinka tadi di kamarnya.
"Bersabarlah, nanti kita panggil dokter psikologi untuk memeriksakan kesehatan mental nona Marinka. Dia akan di periksa tentang traumanya itu, tapi aku yakin kedatangan kita itu menyelamatkan nona Marinka dari perbuatan Alex." kata Freid kembali menenangkan bosnya.
Felix mulai tenang, dia mendengus kasar kemudian duduk di ranjangnya. Mengusap wajahnya dengan pelan lalu menunduk.
"Aku tidak mau Marinka jadi terganggu kejiwaannga karena penyekapan oleh laki-laki brengsek itu. Jika benar dia sampai menyentuh Marinka, akan aku bunuh laki-laki itu." kata Felix.
Freid dan Buddy diam, mereka saling pandang. Lalu Buddy pun keluar dari kamar itu. Freid bicara lagi dengan Felix.
"Untuk sementara ini, kita tinggal di sini. Semua di jaga dengan ketat villa ini tuan. Buddy akan memanggil bantuan agar penjagaan di perketat. Dan nona Marinka akan di periksa oleh dokter psikiater. Lordes yang akan mendampingi nona Marinka selama pemeriksaan. Aku akan kembali ke Inggris, memastikan semua berjalan dengan aman. Karena sepertinya tuan Anderson sudah mulai bergerak." kata Freid.
"Lakukanlah, aku akan menemani Marinka di sini." kata Felix.
"Tapi, anda harus sabar tuan. Nona Marinka tidak mudah di dekati sekarang, jika bertemu dengan orang laki-laki. Dia akan ketakutan." kata Freid.
"Tapi kamu bisa mengantarnya pulang kemari. Apa dia tidak ketakutan selama di perjalanan?" tanya Felix.
"Awalnya nona Marinka tenang di dalam helikopter. Tapi ketika tiba di villa, dia ketakutan dan ingin berlari. Dia tidak mau masuk ke dalam villa, dia juga berteriak nanti di dalam villa ada Alex yang akan menyentuhnya. Dia menangis, tuan. Hingga Lordes bisa menenangkannya dan membawanya masuk ke dalam villa." kata Freid.
"Apa separah itu?" tanya Felix.
"Dia tertekan tuan, sejak anda membawanya ke mansion, lalu di bawa ke mansion tuan Alex. Lalu di bawa dan di sembunyikan di villa di pulau terpencil itu. Dan entah apa yang di lakukan tuan Alex padanya, hingga nona Marinka merasa ketakutan dan berteriak jangan menyentuhnya." kata Freid.
"Alex pernah bilang dia pernah mencium Marinka, kupikir dia juga menyentuh semua tubuhnya. Tapi ...."
"Tidak tuan, mungkin sebatas mencium bibirnya saja. Karena nona Marinka bercerita pada Lordes belum sempat menyentuh seluruh tubuhnya. Kita sudah datang lebih dulu dan merusak villanya." kata Freid.
Felix menghela nafas lega, tapi dalam hati dia akan membuat perhitungan dengan musuh bebuyutannya itu.
_
_
__ADS_1
*******************