Terjebak Gairah Dua Mafia

Terjebak Gairah Dua Mafia
19. Felix Murka


__ADS_3

Freid masuk ke dalam gedung kantor Felix, dia masuk dengan tergesa karena informasi yang dia dapatkan dari cctv itu. Masuk dalam lift dan memencet tombol angka lima belas, di mana ruang kantor Felix itu berada.


Berhenti di lantai lima belas, Freid pun keluar dari lift dan langsung menuju ruangan bosnya. Dia berjalan tergesa untuk menyampaikan apa yang dia dapatkan dari cctv itu.


Ceklek!


Freid masuk dan melihat Felix sedang ada tamu wanita yang penampilannya lumayan seksi. Wanita itu duduk di pegangan kursi Felix dan tangannya membelai dada Felix dengan pelan. Berharap Felix tertarik padanya.


Freid tahu siapa wanita itu, putri dari seorang dubes Inggris di Amerika. Dia mengejar-ngejar Felix, tapi laki-laki itu tidak pernah menggubrisnya.


Freid melangkah ke depan dan berdiri di depan meja Felix, Felix pun berdiri. Dia sebenarnya muak dengan wanita yang selalu mengganggunya itu.


"Ada apa Freid?" tanga Felix.


Wanita tadi menatap Freid dengan kesal, dia lalu duduk di sofa dengan bertumpang kaki. Hingga terlihat bagian pahanya dan hampir terlihat bagian segitiga pengamannya. Freid menatap wanita itu, lalu tersenyum sinis.


"Anda sedang ada tamu tuan Felix." kata Freid melirik lagi ke arah wanita seksi tersebut.


"Caroline hanya berkunjung saja." kata Felix masih sedikit sopan.


"Kamu keberatan akan kedatanganku kemari? Aku sahabat Felix." kata Caroline dengan santai.


"Tidak nona, hanya saja. Ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan tuan Felix, dan tidak bisa di dengar oleh orang lain." kata Freid.


Secara halus dia mengusir Caroline, Felix tersenyum tipis. Carolinw pun menatap tajam pada Freid, dia lalu berdiri dan mendengus kesal sekali. Jauh-jauh dia pulang ke Inggris hanya ingin menemui Felix, namun asistennya itu mengganggu saja.


"Baiklah, besok aku datang lagi kemari. Ingat Felix, aku ingin makan malam denganmu. Setelah itu kita lanjut ke hotel atau ke mansionmu." kata Caroline dengan senyum mengembang.


Felix diam saja, meski pertahanannya kokoh akan rayuan Caroline itu. Namun Caroline itu pemaksa, tapi dia tetap tidak menyukai wanita itu. Freid pun membungkuk hormat ketika Caroline pergi.


Felix menatap dingin pada asistennya itu, apa yang akan di sampaikan laki-laki itu hingga dia bisa mengusir secara halus Caroline.


"Ada apa Freid? Apa yang kamu dapatkan?" tanya Felix duduk di sofa, melonggarkan dasinya.


"Aku tidak tahu nona Caroline sudah datang tuan Felix? Biasanya anak buahku memberitahuku kalau nona Caroline sudah ada di negara ini." kata Freid.


"Dia tadi mengatakan memang pulang secara diam-diam, agar para wartawan tidak mengejarnya." kata Felix.


"Hemm, dia terlalu naif mengharapkan anda terus ya tuan." kata Freid lagi.


"Jangan membahas dia. Apa yang kamu dapatkan? Apakah kamu sudah mengetahui di mana dan siapa yang membawa Marinka?" tanya Felix tidak sabar.

__ADS_1


"Tuan, anda pasti akan terkejut dengan apa yang aku dapatkan." kata Freid.


"Apa?! Cepat katakan! Di mana Marinka?!" ucap Felix dengan keras.


"Huh, aku merasa takut jika anda begini." kata Freid.


"Heh! Jangan membuatku marah Freid!"


"Nona Marinka ada bersama ..."


Ceklek!


Pintu ruang kantor terbuka. Nampak laki-laki berwajah flamboyan dengan senyum mengembang. Di belakangnya asistennya ikut masuk, lalu di belakangnya lagi sekretaris Felix mendekat dengan rasa takut.


"Tuan Felix maafkan saya. Saya tidak bisa mencegah tuan Alex masuk." kata sekretris Felix menunduk.


"Kamu keluar saja." kata Felix menatap tajam pada Alex yang masuk tanpa permisi.


"Felix, kamu sekarang kalah." kata Alex.


"Apa maksudmu?!" tanya Felix.


"Emm, apa anak buahmu belum mencari wanitamu?" tanya Alex meyeringai.


"Hahah! Informanmu sangat lamban sekali." kata Alex.


"Tuan Felix, nona Marinka kini berada sama tuan Alex." bisik Freid.


"Apa?!"


"Hahah!"


"Jadi kamu sudah tahu Freid? Baiklah, aku tidak tahu kenapa kamu menculik gadis relawan itu di kamp pengungsian? Tapi aku tahu, dia wanita yang sangat menarik." kata Alex lagi meledek Felix.


"Lepaskan dia!" teriak Felix.


"Hahah! Tidak akan. Aku bahkan tertarik padanya." kata Alex lagi.


"Kurang ajar kamu!"


Buk! Buk!

__ADS_1


Felix memukul cepat Alex di bagian wajahnya dua kali. Membuat Alex tersungkur dengan serangan tiba-tiba itu. Freid pun menarik tubuh Felix dan membawanya mundur.


Sedangkan Alex pun terhuyung dan mengelap bibirnya yang berdarah. Asistennya pun mengambil tisu dan memberikannya pada Alex. Alex menatap tajam pada Felix, dia benar-benar marah.


Namun, dia tahan. Rasanya dia ingin terus meledek Felix dan membuatnya terus marah.


"Hahah! Aku semakin yakin kalau gadis itu sangat berarti bagimu. Meskipun kamu menculiknya dengan paksa, tapi aku berterima kasih sekali sama kamu. Aku menyukai gadis itu. Marinka, ooh. Nama yang cantik, wajahnya juga cantik. Mungkin tubuhnya juga sangat menggairahkan." ucap Alex lagi.


Felix pun menyerang kembali Alex, tapi laki-laki itu pun bersiaga menangkis serangak Felix itu. Freid pun segera menarik tubuh Felix dan membawanya ke belakang.


"Tuan, bersabarlah. Jangan terpancing olehnya. Dia sangat senang jika tuan seperti ini." kata Freid.


"Dia menculik Marinka, Freid!" teriak Felix.


"Aku tahu, tapi biarkan saja. Gadis itu tidak berarti di banding pabriknya yang akan kita ambil alih secepatnya." kata Freid melirik Alex.


Alex yang mendengar itu jadi geram, matanya menatap tajam pada asisten Felix itu. Dia memang akan melelang pabrik di Amerika, namun jika yang mendapatkan Felix dia tidak akan pernah menyerahkannya.


"Omong kosong! Kamu tidak akan pernah mendapatkan pabrik itu. Tidak akan aku biarkan kalian terdaftar di pelelangan itu!" ucap Alex menyeringai.


"Aku bisa saja melakukan apa saja Alex, tanpa sepengetahuanmu." kata Felix membalas ledekan Alex itu.


"Oh ya? Tentu saja, silakan. Aku tidak peduli sebenarnya. Memang kalian aku undang dalam pelelangan itu, tapi saat ini prioritasku adalah menjaga Marinka agar dia tidak kamu ambil. Aku juga menginginkannya. Hahah!" kata Alex dengan tawa kerasnya.


Dia lalu pergi meninggalkan kantor Felix dan pemiliknya yang sedang marah dan geram dengan kedatangan Alex itu.


"Aaaargh! Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku Freid?!" tanya Felix benar-benar kesal sekali.


"Aku tadi mau mengatakannya tuan, aku sudah menemukan dari cctv kalau nona Marinka pergi dengan tuan Alex. Tapi dia datang lebih dulu." kata Freid.


"Brengsek! Awasi mansionnya dan juga kantornya. Aku ingin membuat perhitungan dengannya. Bila perlu ledakan juga mansionnya itu." kata Felix sangat marah sekali.


Dia tidak tahu kalau Alex yang membawa Marinka. Freid merasa kasihan sekali pada bosnya, sekali jatuh cinta dan menyukai seorang gadis. Justru Alex mengganggunya dan selalu saja dia yang memenangkannya.


"Aku sudah menyuruh Buddy mengawasi mansion tuan Alex. Dua hari pelelangan pabrik itu akan di laksanakan. Apa anda akan datang sendiri?" tanya Freid.


"Suruh orang lain, dan pastikan lelang itu jatuh padaku." kata Felix lagi.


Pikirannya benar-benar pada Marinka. Dia takut Alex akan memperdaya Marinka dan membuatnya jauh darinya. Bahkan melupakannya.


_

__ADS_1


_


********************


__ADS_2