
Felix pergi meninggalkan mansion Anderon, dia mendapat kabar dari Buddy kalau data perusahaan milik Anderson pun sudah dia retas.
"Bagus, hancurkan semuanya sekalian. Sahamnya segera lemahkan, agar perusahaan itu bangkrut." kata Felix.
"Baik tuan." ucap Freid.
Mobil melaju kencang menuju mansion Felix. Dia akan beristirahat dengan tenang setelah menghancurkan Anderson dan aset perusahaannya. Dia puas telah menghancurkan Anderson, bukan hanya asetnya tapi juga fisiknya juga sudah dia buat cacat.
Sampai di mansion, Felix berganti baju lebih dulu sebelum masuk ke dalam menemui istrinya itu. Dida tidak mau Marinka curiga kalau dia habis membalas dendam pada Anderson.
"Buang bajunya semua ke tempat sampah." kata Felix.
"Baik tuan." ucap Freid.
"Oh ya, kamu boleh istirahat Freid selama dua hari. Biar nanti aku bekerja dengan sekretaris saja, dan menunggu kabar hancurnya perusahaan Anderson dari Buddy. Carilah pasangan yang setia Freid, seperti diriku. Kamh bebas mau menikah dengan siapa pun, tapi tetap kamu adalah asistenku yang setia." kata Felix pada Freid.
"Apa liburnya tidak bisa satu minggu tuan?" tanya Freid.
"Kamu ngelunjak Freid. Lima hari saja, tidak ada tawar menawar lagi." kata Felix.
"Hahah! Baiklah tuan, terima kasih semuanya. Aku akan mencari pasangan setelah liburan ini." kata Freid.
"Erick ajak liburan juga Freid, tapi hanya tiga hari saja. Setelah itu, tugaskan dia ke Timur Tengah untuk mengecek kilang minyak di sana." kata Felix lagi.
"Baik tuan."
"Oh ya, nanti Troy dan Buddy bergantian liburnya. Jadi atur saja semuanya sebelum kamu pergi liburan. Jangan melebihi batas dari lima hari liburnya." kata Felix.
"Baik tuan." ucap Freid lagi.
Felix pun masuk ke dalam, Freid membungkuk hormat pada Felix. Kemudian dia pun masuk lagi ke dalam mobil, siap meluncur untuk persiapan liburannya selama lima hari. Tetapi dia harus mengatur lebih dulu liburan Buddy dan Troy lebih dulu, baru dia akan berlibur dengan tenang. Agar semua berjalan baik dan tidak ada hambatan apa pun.
Sementara itu, Felix masuk ke dalam kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Sudah tentu istrinya itu sudah tidur. Dia melihat Marinka tidur dengan nyenyak di atas ranjangnya, Felix mendekat dan mencium bibir Marinka beberapa kali.
Hingga gadis itu pun terusik dan membuka matanya. Dia melihat Felix masih menikmati bibirnya dan wajahnya bergoyang.
"Kamu sudah pulang?" tanya Marinka bangkit dari tidurnya.
"Maaf aku membangunkanmu ya." kata Felix.
Dia duduk di samping Marinka dan membelai pipi gadis itu. Marinka tersenyum, matanya masih tampak mengantuk, tapi dia paksa untuk membukanya. Rasanya dia rindu dengan dekapan Felix, dia pun memeluk suaminya itu dan mencium aroma tubuhnya.
"Kamu sepertinya rindu padaku." kata Felix membalas pelukan istrinya.
"Iya, sejak kemarin kamu tidak pulang. Bahkan tidak bisa aku hubungi di ponselmu." kata Marinka.
"Maaf, aku terlalu sibuk. Dan ponselku sepertinya mati." kata Felix berbohong.
Marinka melepas pelukannya, dia tersenyum. Felix kini mulai mencumbu istrinya, dia juga sangat merindukan Marinka. Lama mereka bercumbu, hingga akhirnya keduanya pun terhanyut dalam gairah panjang.
Tanpa menunggu lama lagi, mereka pun meneguk nikmat bercinta di dalam yang dingin itu. Felix sangat bahagia dengan hadirnya wanita yang pernah jadi tawanannya, tapi kini jadi istrinya. Begitu juga dengan Marinka, Felix yang dingin dan penuh misteri dalam hidupnya kini jadi suaminya dan dia hidup bahagia dengan laki-laki dingin itu.
_
"Huek! Huek!"
Suara orang muntah di wetafelmembuat Felix dia bangun dari tidurnya. Dia menoleh ke arah Marinka yang ada di westafel sedang memuntahkan isi perutnya. Sontak saja, Felix langsung bangkit dan berlari mendekati Marinka.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Felix.
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Tiba-tiba kepala pusing dan mual, lalu aku muntah. Tapi tidak ada muntahannya, hueek! Hueek!"
Marinka kembali muntah, Felix bingung apa yang harus dia lakukan. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Lordes untuk segera naik dan masuk ke kamarnya. Mengatakan dengan panik luar biasa mengetahui keadaan Marinka yang sejak tadi masih saja memuntahkan isi perutnya.
"Cepat kamu ke kamarku Lordes! Aku takut istriku keracunan! Bawa semua pelayan kemari!" ucap Felix dengan marah.
"Baik tuan."
Klik!
Felix menghampiri istinya yang kini terduduk lemas. Dia mengangkat Marinka dan membawanya ke ranjangnya, di baringkan tubuh Marinka yang lemas itu. Dia mengusap pipi Marinka yang terlihat pucat.
"Kamu sudah lebih baik sayang?" tanya Felix masih cemas dengan Marinka.
"Aku tidak apa-apa Felix. Jangan khawatir, hanya mual saja tadi." kata Marinka menenangkan suaminya itu.
Kalau sampai kamu kenapa-kenapa, akan aku pecat semua pelayan itu." kata Felix dengan geramnya.
"Jangan marahi mereka. Kalau aku keracunan, sejak tadi malam aku sudah terasa dan pingsan. Tapi kan aku tidak pingsan, hanya mual dan muntah saja." kata Marinka.
"Tetap saja, ini karena makanan mereka yang sajikan." kata Felix lagi.
Pintu di ketuk kemudian terbuka, masuk empat orang pelayan dengan wajah ketakutan. Tapi tidak dengan Lordes, dia begitu tenang. Mereka pun mendekat di ranjang Marinka, Felix menoleh ke arah semua pelayannya.
"Apa yang kalian sajikan tadi malam untuk makan istriku hah?!" tanya Felix dengan tatapan tajam.
"Maaf tuan, apa yang terjadi dengan nyonya?" tanya Lordes tidak menjawab pertanyaan Felix.
"Dia mual dan muntah. Makanya aku tanya pada kalian, apa yang kalian berikan pada istriku?!" tanya Felix lagi.
"Felix, sudahlah. Jangan marahi mereka. Aku tidak apa-apa kok." kata Marinka.
Tiba-tiba Marinka beranjak lagi dan berlari menunu westafel. Dia kembali muntah, Felix pun mengejarnya. Dia mengelus punggung Marinka dengan lembut, tapi dia tetap panik. Sedangkan Lordes hanya tersenyum, membuat ketiga pelayan di belakangnya heran.
"Lordes, ada apa dengan nyonya? Kenapa kamu tersenyum?" tanya salah satu pelayan.
"Ya, aku bahagia. Ternyata nyonya Marinka hamil." kata Lordes.
"Apa? Hamil?!"
"Ya, cepat kamu hubungi dokter keluarga. Kemungkinan memang nyonya hamil, tuan Felix tidak tahu kalau itu adalah tanda hamil." kata Lordes.
"Jadi begitu. Baiklah, aku pergi dulu memberitahu dokter untuk datang kemari." ucap pelayan itu.
Dia pun pergi, Lordes masih memandang Marinka yang sedang muntah. Dia pun mendekat pada keduanya dan mencoba menyentuh tengkuk Marinka.
"Jangan menyentuhnya Lordes!" ucap Felix.
"Nyonya perlu mengeluarkan semuanya dengan di pijat bagian tengkuknya tuan. Anda pijat tengkuknya saja." kata Lordes.
"Apa yang kamu katakan?"
"Hueek! Hueek!"
Felix menurut, dia pun memijat tengkuk Marinka. Dan Marinka pun menyelesaikan muntahannya. Felix pun menggendong Marinka dan membawanya ke ranjang. Kembali di baringkan di atasnya, dia benar-benar takut Marinka akan pergi meninggalkannya.
"Panggilkan dokter!"
"Sudah tuan." jawab Lordes.
__ADS_1
Felix menatap tajam pada Lordes. Tak lama dokter pun datang dengan kepanikan juga, karena dia di beritahu kalau istri dari Felix sakit.
"Cepat kamu periksa istriku!" ucap Felix.
"Iya tuan. Ini saya periksa."
Dokter itu pun memeriksa semua dari suhu tubuh, denyut nadi dan juga detak jantung. Dia memeriksa beberapa kali, kemudian dokter mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Maaf nyonya, apa nyonya telat datang bulan bulan ini? Atau bulan lalu?" tanya dokter.
Marinka pun berpikir, benar juga. Dia telat datang bulan bulan ini dan sepertinya memang telat.
"Ya dokter, sepertinya aku telat." jawab Marinka.
"Coba nyonya pastikan dengan alat ini, kemungkinan ada janin di dalam perut anda." kata dokter.
"Apa?!"
"Coba saja."
Marinka dan Felix saling pandang, Marinka pun mengambil alat tes kehamilan dari tangan dokter. Dia kemudian beranjak dari duduknya lalu menuju kamar mandi, Felix tidak mengerti apa yang di maksud oleh dokter. Tapi dia menunggu Marinka keluar, dan tak lama Marinka keluar dari kamar mandi.
Dia tersenyum senang dan mendekat pada suaminya.
"Garis dua dokter." kata Marinka.
"Jadi, nyonya sedang hamil tuan Felix. Anda akan jadi seorang papa." kata dokter tersenyum senang.
"Benarkah? Jadi istriku hamil?" tanya Felix tidak percaya.
"Ya, beruntung sekali pelayan tadi menghubungi saya. Saya pikir mungkin sepagi ini nyonya mual muntah karena itu gejala morning sicknes." ucap dokter.
Felix menatap Marinka, awalnya diam kaku. Tapi kini wajah itu berubah jadi ceria dan gembira. Dia pun memeluk Marinka dengan erat, menciumi wajah Marinka dengan rasa bahagia. Lordes dan ketiga pelayan itu pun melangkah pergi.
Begitu juga dengan dokter, dia akan menunggu di bawah saja. Karena jika sudah seperti itu, Felix tidak boleh di ganggu. Dia akan marah, tapi itu hanya perkiraan mereka saja. Felix benar-benar bahagia, sampai dia lupa orang-orang tadi itu sudah keluar semua dari kamarnya.
"Terima kasih sayang, kamu memberikan keturunan untukku. Terima kasih, i love you istriku." kata Felix memeluk Marinka dan kembali menciumi wajah istrinya itu.
"Felix, sudah. Kenapa jadi begini." kata Marinka yang risih Felix terus menciuminya beberapa kali.
"Aku bahagia sayang, aku sangat bahagia." kata Felix masih menciumi wajah Marinka.
Marinka pun pasrah, tapi dia ingat Lordes dan ketiga pelayan tadi serta dokter yang ada di kamar itu. Dia pun melihat ke arah depan, tapi sudah kosong.
"Lho, mereka sudah keluar?" tanya Marinka.
"Mereka mengerti kalau aku sedang bahagia. Sudah biarkan saja, aku nanti turun kebawah." kata Felix.
Dia memeluk istrinya lagi, kemudian Marinka pun membaringkan tubuhnya. Memegang perutnya yang masih rata, rasa bahagia kini dia alami. Menikah dan tak lama dia hamil anak Felix. Dia pun membalas pelukan suaminya, dia sudah tidak menginginkan apa pun lagi. Menjadi istri yang baik dan mengurus anak-anaknya kelak.
Kebahagiaan telah datang untuknya dan Felix, mereka akan mengasuhnya bersama. Itu janji Felix, dia juga berjanji tidak akan melibatkan anaknya dalam dunia mafia. Dunia yang kejam dan penuh balas dendam. Dia tidak mau anaknya kelak jadi laki-laki kejam seperti dirinya, dan dia yakin Marinka akan mendidiknya jadi lelaki yang tangguh dan penuh kebanggan untuknya kelak.
****************** the end *******************
_
_
*******************
__ADS_1