
Sepanjang jalan Marinka banyak diam, dia senang sekaligus gelisah karena akan bertemu seseorang juga di sana. Ya, komandan adiknya bernama Fajar adalah laki-laki yang menyukainya sejak dulu.
Dia sering bicara mengenai rasa suka padanya, tetapi Marinka tidak menanggapinya. Dia selalu mengatakan kalau tidak mau berpacaran lebih dulu. Dan sekarang, dia akan menikah dengan laki-laki asing yang telah menculiknya. Itu aneh, kenapa dia menerima Felix bahkan menyukainya.
Dia sendiri tidak tahu, rasa cinta dan sayang tidak bisa di tentukan datangnya kapan dan pada siapa dia labuhkan. Tetapi, Marinka senang akhirnya tak lama lagi akan menikah.
"Sudah sampai nona." kata Erick.
"Hemm, ya. Apa kamu akan menunggu di sini juga?" tanya Marinka.
"Tentu nona, saya akan menunggu sampai anda selesai bertemu dengan adik anda." kata Erick.
"Baiklah."
Marinka pun keluar dari mobilnya setelah ibunya keluar. Mamanya sudah masuk ke dalam kantor untuk memberitahu akan kunjungannya pada anaknya. Marinka masuk, dia bertemu dengan anak buah komandan Fajar. Mereka berhenti dan sedikit membungkukkan badan tanda hormat.
Mereka tahu kalau Marinka adalah gadis yang di sukai komandan mereka. Marinka hanya tersenyum saja pada anak buah komandan Fajar, dia masuk lebih dalam menghampiri ibunya.
"Mama sudah memberitahu mereka?" tanya Marinka.
"Ya. Kita ke taman saja, nanti Rian akan datang ke taman." kata mamanya.
Mereka pun kembali keluar dari kantor itu, pergi menuju taman di mana biasanya semua pengunjung yang mengunjungi anaknya ada di taman sebagian. Waktu kunjungan juga tidak sembarangan, di beri waktu di jam istirahat dan paling lama dua jam.
Jadi, mamanya dan Marinka hanya punya waktu dua jam berkunjung. Mereka duduk di bangku panjang, menunggu Rian datang menghampirinya. Dan tak lama Rian datang dengan berlari kecil.
Laki-laki berkepala cepak itu tersenyum senang mama dan kakaknya mengunjunginya setelah dua tiga bulan baru bisa berkunjung padanya. Marinka bangkit dan memeluk adiknya, sangat lama sekali dia tidak bertemu dengan Rian adiknya.
"Kakak kangen sama kamu." kata Marinka dalam pelukan adiknya.
__ADS_1
"Syukurlah kakak selamat. Aku merasa takut kakak hilang dan tidak bisa kembali." kata Rian.
Mereka melepas pelukannya, Marinka mengusap kepala Rian dan tersenyum mendengar ucapan adiknya. Memang hilangnya dia di negara konflik itu sangat menggemparkan seluruh kota, terutama adiknya merasa takut juga akan terjadi seperti ayahnya yang gugur dalam misi perdamaian di negara konflik.
"Kakak baik-baik saja. Kamu terlihat lebih kurus, Rian?" tanya Marinka.
"Ini karena satu bulan lebih latihannya sangat ketat kak. Jadi kata komandan harus lebih kurus dan harus kuat." jawab Rian.
"Ooh, yang semangat ya sekolahnya. Kamu bilang mau seperti papa, jadi jangan pantang menyerah." kata Marinka.
"Iya kak." kata Rian.
Mamanya hanya melihat interaksi kakak beradik itu tersenyum saja. Ketiganya lalu duduk, mengobrol santai dan bercanda ria. Hingga waktu kunjungan hampir selesai.
Dari jauh, seorang laki-laki berdiri memperhatikan Marinka. Dia tersenyum senang bisa melihat gadis itu. Kemudian dia pun mendekat pada ketiga ibu dan anak itu. Rian menyadari ada komandannya berdiri kemudian dia berdiri dan memberi hormat.
"Kalain sudah selesai?" tanya komandan Rian bernama Fajar.
"Apa boleh saya bicara dengan Marinka?" tanya Fajar sang komandan.
"Ya." jawab Marinka.
Marinka pamit pada mamanya dan Rian untuk bicara dengan Fajar. Mereka berjalan-jalan sekitar taman, ada laki-laki yang Marinka kenal sedang memperhatikannya. Dia tersenyum dan memberi isyarat agar tenang saja.
"Kamu baik-baik saja Marinka?" tanya komandan Fajar.
"Ya, sejauh ini aku baik-baik saja. Mas Fajar jangan khawatir." jawab Marinka.
"Syukurlah. Aku merasa takut kamu terjadi apa-apa. Aku juga mengikuti berita dan mencari tahu tentang keberadaanmu, tapi tidak ada yang tahu di mana kamu berada. Hingga aku mendengar kabar kamu kembali dengan selamat, aku senang sekali." kata Fajar lagi.
__ADS_1
Marinka diam saja, dia menunduk dalam. Rasanya dia tidak tega jika harus bercerita jika dua minggu lagi harus pergi ke Inggris untuk menikah dengan orang yang menculiknya.
"Marinka, apa kamu masih mengingat ucapanku dulu?" tanya Fajar.
Mereka berhenti di sebuah taman berbagai macam bunga. Mereka berdiri di bawah pohon bunga nusa indah, bunga yang tidak harum tapi bunganya berbulu halus dan empuk.
"Ya mas, tapi maafkan aku. Aku belum bisa menerimanya." kata Marinka.
"Kenapa Marinka? Apa aku kurang baik? Aku sangat mencintaimu, sejak dulu." kata Fajar.
"Terima kasih mas Fajar mencintaiku sejak dulu. Tapi bagiku sejak dulu mas Fajar itu aku anggap kakakku. Aku tidak bisa menerima cinta mas Fajar karena aku tidak mencintai layaknya mas Fajar mencintaiku." kata Marinka.
"Apa kamu sudah punya tambatan hati lain? Sejak dulu kamu selalu beralasan ingin sendiri dan menikmati semua kegiatan apa pun tentang kemanusiaan. Aku terima itu, tapi sekarang kamu menolakku lagi Marinka." kata Fajar lagi dengan lemah.
"Maafkan aku mas. Tentang perasaan itu tidak bisa di paksa, aku sendiri tidak bisa memaksa diriku untuk mencintai mas Fajar. Karena ...." ucapan Marinka menggantung, membuat Fajar menghela nafas panjang tanda kecewa.
"Sudah kuduga, kamu sudah punya tambatan hati lain. Kenapa tidak dari dulu kamu mengatakannya? Sebelum aku menunggumu pulang, Marinka." kata Fajar.
"Maafkan aku mas Fajar." kata Marinka.
"Sudahlah, aku juga minta maaf. Aku yang salah, sudah tahu kamu selalu menolakku dengan berbagai cara. Tapi tetap saja menunggumu menjawab iya dengan pertanyaanku." kata Fajar lagi.
Marinka diam, dia kembali menunduk dalam. Di tarik nafasnya pelan, rasanya dia tidak enak hati dengan Fajar yang sejak dulu selalu menunggunya untuk membalas perasaannya. Tapi dia memang tidak bisa mencintai Fajar seperti keinginannya.
Keduanya pun berjalan kembali, mengobrol santai menceritakan tentang perkembangan pendidikan ketentaraan adiknya. Marinka senang akhirnya Fajar tidak lagi kecewa padanya dan kini mereka akrab lagi seperti biasa bertemu.
_
_
__ADS_1
********************