Terjebak Gairah Dua Mafia

Terjebak Gairah Dua Mafia
47. Menikah


__ADS_3

Felix sudah pulang ke mansionnya. Dia di sambut oleh semua pelayannya, terutama Lordes yang senang juga bisa bertemu lagi dengan Marinka. Tak lupa juga mamanya Marinka ikut menyambut calon menantunya itu.


"Selamat datang di mansion lagi tuan dan nona Marinka." kata Lordes menyambut Felix dan Marinka sambil menunduk.


"Ya Lordes, terima kasih." kata Felix.


Marinka pun tersenyum, dia berbisik pada Lordes dengan mendekatkan kepalanya pada Lordes.


"Kita jumpa lagi Lordes." kata Marinka.


"Ya nona, saya senang sekali. Saya kira nona tidak akan kembali lagi." kata Lordes dengan senyumannya.


"Heheh. Aku juga tidak menyangka akan kembali lagi, tapi aku senang bisa bertemu denganmu lagi." kata Marinka.


Keduanya pun tertawa, Marinka menoleh ke arah ibunya yang heran dengan keakraban anaknya dengan pelayan mansion Felix itu.


"Kamu sepertinya dekat dengan pelayan itu, Marinka." kata mamanya.


"Ya ma, aku dekat dengan Lordes karena dia baik. Di mansion ini dulu aku di culik ma, dan Lordes itu yang selalu menemaniku dan selalu mendengarkan ceritaku." kata Marinka.


"Jadi kami dulu tawanan Felix?" tanya mamanya kaget.


"Iya ma, tapi dia baik. Dia selalu menjagaku, dan aku mencintainya. Sampai sekarang dia masih menjagaku untuk tidak menyentuhku." kata Marinka menatap ke depan.


"Aneh kamu, kemarin mama di culik oleh temannya. Dia mengatakan kalau Felix itu tidak baik, bahkan laki-laki itu mengatakan kamu mau di perdagangkan. Mama sangat takut Marinka jika benar Felix mau menjualmu." kata mamanya lagi.


"Tidak ma, besok aku dan dia akan menikah. Mama percaya saja sama aku, aku akan bahagia dengan Felix. Dia sangat baik dan sangat mencintaiku, tidak mungkin menjualku." kata Marinka menenangkan mamanya yang tiba-tiba panik karena ingat ucapan Alex bahwa Felix akan menjual Marinka pada para mafia perdagangan manusia.


"Lalu, apa pekerjaan calon suamimu itu?" tanya mamanya lagi.


"Dia pengusaha kaya ma, perusahaannya banyak. Dia juga punya perusahaan minyak di negara Timur Tengah, anak buahnya juga banyak. Mama jangan khawatir, aku akan bahagia dengannya." kata Marinka.


Dia tidak memberitahu sebenarnya siapa Felix itu. Seorang mafia penjual senjata pada negara konflik dan pemberontak. Juga pemilik kasino yang tersebar hampir di benua Eropa. Banyak sekali usaha Felix itu.

__ADS_1


"Kalau kamu mengatakan itu, mama bisa apa. Hanya berharap kamu bahagia saja. Dan mama jadi tidak enak dengan komandan Fajar yang selalu menunggumu. Tapi kamu justru mencintai orang asing yang tidak di kenalmu itu." kata mamanya.


"Maafkan aku ma, aku tidak menyukai komandan Fajar. Dia sudah aku anggap kakakku, jadi aku tidak bisa mencintainya apa lagi menerima cintanya. Aku sudah katakan padanya kemarin sewaktu menjenguk Rian di barak." kata Marinka.


"Ya, mama tahu. Sudahlah, yang terpenting kamu bahagia sayang. Mama selalu mendukungmu."


Marinka tersenyum, dia memeluk mamanya erat. Dia sangat senang kalau mamanya tidak pernah memaksanya untuk menikah dengan pilihannya. Marinka tahu mamanya itu khawatir dengan usianya, meski pun kini akhirnya mau menikah. Tapi tetap saja kekhawatiran mamanya padanya jika sudah menikah nanti.


Dari balik pintu, Felix tampak ikut bahagia dengan melihat anak dan ibu itu saling berpelukan. Meski dia tidak tahu apa yang di bicarakan, tapi dia senang. Hingga ingatannya pada mamanya dulu yang selalu memeluknya ketika mendapatkan apa pun yang dia raih. Terutama ketika mendapatkan juara dalam pertandingan olah raga bela diri ketika masih sekolah dasar.


_


Persiapan pernikahan sudah selesai, pagi ini Marinka di dandani layaknya pengantin dan seperti seorang putri raja. Dia sangat cantik sekali, mamanya menatap haru anaknya mau menikah.


Sedangkan Felix sudah berada di gereja katredal, menunggu Marinka selesai di dandani oleh make up artis terkenal. Memang semua sudah di persiapkan oleh Freid, kalau sepulang dari rumah sakit. Marinka dan Felix akan langsung menikah.


Karena Felix sudah tidak sabar ingin menikahi Marinka secepatnya. Maka dari itu, Freid mempersiapkan semuanya, meski nantinya mengadakan pesta secara mewah dan tertutup di hotel berbintang milik Felix.


"Nona sudah siap? Tuan Felix sudah berada di gereja menunggu anda." kata Lordes.


Dia melihat jam di tangannya, masih pukul tujuh. Dan semua sudah siap. Apa pendetanya tidak repot jika pagi sekali mereka menikah.


"Tuan Felix yang meminta segera pagi ini menuju altar, jadi nanti siangnya akan ada pesta mewah dan tertutup di hotel. Hanya tamu tertentu saja yang di undang, tapi tuan Felix mengizinkan beberapa wartawan untuk meliput sedikit. Selebihnya tidak boleh ada yang meliputnya." kata Lordes lagi.


"Hemm, begitu ya."


"Iya nona. Ayo kita pergi ke gereja nona. Mobil pengantin sudah menunggu di depan." kata Lordes.


Marinka tersenyum, dia sangat cantik sekali dengan gaun pengantin yang mewah dan elegan tersebut. Mamanya menggandengnya dengan senang hati. Marinka masuk ke dalam mobil yang sudah di hias, banyak pengawal yang menjaga mobil pengantin tersebut agar Marinka selamat sampai di gereja.


Meaki gereja tidak terlalu jauh dari tempatnya berdandan, tapi yang di rasakan Felix di gereja sangat lama. Dia gelisah dan selalu bertanya pada Freid apakah Marinka akan datang dengan selamat sampai gereja.


"Tenang tuan, nona Marinka sebentar lagi sampai." kata Freid.

__ADS_1


"Lama sekali mobilnya. Pendeta juga sudah menunggu sejak tadi. Apa supirnya mengantuk?" tanya Felix.


"Tidak tuan, nah itu rombongan sudah datang. Anda tenanglah, biar saya yang menjemput nona Marinka dan menjadi pendampingnya." kata Freid.


Dia pergi meninggalkan Felix yang sedang gelisah menyambut Marinka di depan gereja. Dia tersenyum menatap Marinka yang cantik sekali di hari pernikahannya itu. Marinka membalas senyum Freid. Tangannya di sambut oleh asisten Felix tersebut lalu melangkah masuk ke dalam gereja.


"Nona sangat cantik, pasti tuan Felix akan terkejut dengan penampilan nona yang berbeda ini." kata Freid memuji Marinka.


"Terima kasih Freid. Aku sangat gugup sekali." kata Marinka.


"Tenanglah nona, tuan Felix tidal sabar menunggu anda di dalam." ucap Freid lagi.


Mereka berjalan dengan di iringi musik-musik rohani dan pernikahan. Feliz tampak kagum melihat Marinka berjalan menuju arahnya dengan Freid. Dia menatap tanpa berkedip, sangat menikmati kecantikan Marinka yang biasa dia lihat berpenampilan biasa saja.


Tiba-tiba dia merasa posesif di hatinya, hanya dirinya saja yang melihat kecantikan Marinka. Tidak boleh siapa pun yang melihatnya dan mengagumi Marinka.


"Ini tuan calon pengantinmu." kata Freid membuyarkan lamunan Felix.


Marinka tersenyum tatkala melihat wajah Felix gelagapan ketika Freid bicara padanya. Tatapan kesal dari laki-laki calon suaminya itu membuat Marinka merasa lucu.


"Cepat sana pergi. Aku ingin segera menikahi bidadariku." ucap Felix menyambut tangan Marinka.


"Cih! Padahal aku yang sibuk sejak dua hari yang lalu mempersiapkan semuanya. Tapi anda kenapa marah padaku." ucap Freid melangkah menuju kursinya.


Pendeta sudah menunggu di depan kedua mempelai pengantin. Felix berkali-kali memuji kecantikan Marinka dan dia ingin sekali menciumnya. Tapi keadaan sedang serius, pendeta membacakan beberapa wejangan dan nasihat.


Lalu pendeta mengambil janji dan sumpah keduanya untuk mengikat tali suci perkawinan di depan pendeta dan para undangan yang hadir menyaksikan mereka menikah.


Setelah semua terucap dan kini sudah resmi menjadi suami istri, Felix langsung membuka tirai penghalang di wajah Marinka dan langsung menciumnya sangat lama. Dia benar-benar bahagia sudah menjadi suami istri dengan Marinka.


_


_

__ADS_1


*******************


__ADS_2