Terjebak Gairah Dua Mafia

Terjebak Gairah Dua Mafia
27. Rencana Felix


__ADS_3

Setelah Felix tenang, Buddy dan Freid keluar dari kamar itu. Kamar untuk beristirahat Felix, sedangkan dia duduk di tepi ranjangnya. Memejamkan matanya lalu menghela nafas panjang. Semakin lama lagi dia bisa mendekati Marinka.


"Brengsek Alex! Dia harus mendapatkan balasanku!" kata Felix sangat kesal sekali pada musuh bebuyutannya itu.


Dia pun berdiri, lalu keluar dari kamarnya dan pergi menuju kamar Marinka. Di sana gadis itu masih tertidur pulas, Felix mendekat dan berdiri di depannya. Menarik nafas panjang, dia merasa bersalah telah membawanya ke duanianya.


Dunia penuh dendam dan pembalasan, Marinka gadis yang tidak tahu menahu siapa dirinya dan siapa pula Alex. Dia hanya gadis yang di culiknya dari kamp di negara konflik.


"Maafkan aku, aku telat menyelamatkanmu." kata Felix lirih.


Dia berjongkok, menggenggam tangan Marinka yang keluar dari selimutnya. Menciumnya lembut, setelah Marinka sadar. Dia berjanji akan mengantar gadis itu pulang ke negaranya.


"Aku akan mengembalikanmu ke negaramu, tapi sebelumnya. Kamu harus sembuh lebih dulu, Marinka." kata Felix masih menggenggam tangan Marinka.


Meski dia tidak rela jika Marinka kembali ke negaranya, tapi demi kebaikan gadis itu. Dia harus melakukannya meski hatinya saat ini sudah merasakan getaran cinta pada Marinka.


Setelah cukup dia menatap Marinka, Felix pun pergi dari kamar Marinka. Benar-benar dia merasa marah melihat gadis yang sekarang mulai dia cintai itu terganggu mentalnya karena lama di sekap bahkan mau di rudapaksa oleh Alex.


_


Esoknya, benar saja Freid membawa dokter psikiater yang akan mendampingi Marinka. Dia membawa dokter perempuan agar Marinka nyaman untuk bercerita.


"Tuan, dokternya sudah datang dengan penerjemahnya juga." kata Freid.


"Baguslah, suruh mereka masuk saja ke kamar Marinka. Biarkan mereka bicara santai, jangan lupa Lordes juga di dalam. Kurasa Marinka akan lebih nyaman dengan Lordes di kamar." kata Felix.


"Iya tuan." jawab Freid.


Freid pun mengantar dokter psikiater dan penerjemahnya juga masuk ke kamar Marinka. Di sana juga ada Lordes yang akan menemani Marinka. Felix hanya menatap keduanya masuk ke dalam, dia belum berani bertemu dengan Marinka jika gadis itu tidak tidur.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Troy menghubunginya. Felix pun menjawab sambungan telepon dari Troy.

__ADS_1


"Ada apa Troy?" tanya Felix.


"Maaf tuan, bisakah anda pulang ke Inggris?"


"Kenapa? Apa ada yang begitu penting?" tanya Felix.


"Ya tuan. Tuna Anderson ingin bertemu dengan anda, masalah kilang minyak itu. Sepertinya tuan Anderson ingin bernegosiasi dengan anda." kata Troy.


"Ck! Laki-laki itu, apa kamu tidak bisa mengatasi dia?"


"Masalahnya mereka mengancam tuan. Tuan Samuel yang anda utus untuk pelelangan pabrik milik tuan Alex juga sudah mendapatkan pabrik itu. Dan akan di lakukan penanda tanganan serah terima berkas kepemilikan pabrik." kata Troy.


"Hemm, jadi Samuel sudah mendapatkannya. Baguslah, biar dia saja yang menanda tanganinya. Baiklah, aku akan pulang ke Inggris. Dan Freid yang akan menjaga Marinka di sini." kata Felix.


"Baik tuan, nanti aku akan menyuruh orang untuk menjemput anda di landasan." kata Troy.


Klik!


Felix memanggil Freid dan masuk ke dalam ruangan yang memang khusus untuk pembicaraan rahasia semua masalah Felix.


"Ada apa tuan?" tanya Freid.


"Kamu jaga Marinka, biar aku yang akan pulang ke Inggris untuk mengurus semua masalah di sana. Sialnya Anderson itu memaksa ingin bertemu denganku mengenai kilang minyak itu." kata Felix.


"Anda akan bernegosisasi dengan tuan Anderson?" tanya Freid.


"Tidak. Hanya saja, aku ingin tahu. Sejauh mana dia berani memintaku menyerahkan kilang minyaknya. Dia memang memiliki dekingan dari raja minyal, tapi dia tidak bisa mengintimidasiku. Karena aku sendiri yang akan bernegosiasi langsung dengan raja minyak itu." kata Felix.


"Hemm, benar juga. Anda memang cerdik tuan. Tuan Anderson memang sedang mengintimidasi anda, tapi nanti dia sendiri yang akan kalah karena salah berurusan dengan anda." kata Freid.


"Maka dari itu, biar aku yang pulang ke Inggris. Dan kamu jaga Marinka di sini, tetap waspada di setiap tempat. Radar pengintaian juga harus selalu siaga, Freid." kata Felix.

__ADS_1


"Ya tuan, Buddy selalu mengecek setiap penjagaan di luar. Anda jangan khawatir, dan berapa lama anda di Inggris?" tanya Freid.


"Mungkin satu minggu." jawab Felix.


"Baiklah, aku pastikan selama anda pergi nona Marinka baik-baik saja dan kembali seperti semula." kata Freid.


"Oh ya, jika Marinka sudah sembuh dari trauma. Aku akan mengantarnya pulang ke negaranya." kata Felix.


"Nona Marinka kembali ke negaranya?"


"Ya, aku tidak mau menahan dia terlalu lama di sini." kata Felix.


"Tapi anda ...." ucap Freid terputus.


"Tidak, aku tidak mau hanya karena keinginanku dia jadi tersiksa Freid. Meskipun aku sangat menginginkan dia, aku tidak mau dia tertekan. Lagi pula, mungkin keluarganya pasti kebingungan di mana anaknya pergi." kata Felix.


Freid tertegun dengan ucapan Felix itu, baru kali ini dia merasa Felix adalah laki-laki berprikemanusiaan masalah wanita. Apa karena dia benar-benar jatuh cinta pada Marinka? Bukan hanya sekedar ingin menyentuhnya saja.


"Nanti malam aku akan berangkat, siapkan helikopter untukku pulang Freid. Dan juga anak buah untuk berjaga." kata Felix.


"Ya tuan, biar nanti Buddy yang akan mengantar anda pulang ke Inggris." kata Freid.


"Ya, baiklah. Aku akan istirahat, bangunkan aku jika dokter psikiater itu selesai. Aku ingin bicara dengannya mengenai Marinka." kata Felix.


"Ya tuan."


Felix pun masuk ke dalam kamarnya. Dia ingin beristirahat lebih dulu, merebahkan tubuhnya sejenak. Dan nanti setelah dokter yang menangani Marinka selesai, dia ingin bicara dengannya.


_


_

__ADS_1


*****************


__ADS_2