
Setelah pengambilan janji suci di gereja. Kini kedua mempelai pun akan pergi ke hotel mewah bintang lima, mereka akan mengadakan pesta tertutup dan mewah. Hanya di hadiri oleh tamu undangan khusus, dan tak lupa dua orang wartawan senior Felix undang.
Di dalam mobil limosin, Felix dan Marinka tak pernah lepas dari genggaman tangannya. Felix juga selalu mencium bibir Marinka yang terasa candu baginya. Dia akan langsung masuk ke dalam kamar hotel lebih dulu untuk istirahat dan melakukan hubungan lebih intim lagi.
Karena memang acara pesta akan di adakan siang hari setelah keinginan Felix selesai. Mungkin setelah jam makan siang, itu yang di minta oleh Felix pada Freid untuk mengatur acara pestanya nanti.
"Sayang, kamu sangat cantik." kata Felix selalu memuji Marinka.
"Sejak di gereja tadi kamu selalu memujiku Felix. Apa tidal bosan mengatakan itu?" tanya Marinka.
"Tidak akan pernah bosan sayang. Kamu adalah ratuku dan juga bidadariku yang turu dari langit khusus untukku." kata Felix seperti menggombal.
"Hahah! Aku baru tahu kamu seperti menggombal Felix. Apa itu benar adanya?" tanya Marinka.
"Tentu saja sayang, kamu ratuku. Bidadariku, aku sangat mencintaimu. Kamu tahu?"
"Ya, aku tahu. Tapi aku baru tahu kalau kamu bisa menggombal juga. Hahah!" kata Marinka tertawa renyah.
Felix senang melihat tawa istrinya itu, kembali dia mencium bibir Marinka. Marinka terkejut dengan serangan ciuman bibir suaminya itu. Felix terus mencumbu bibir Marinka, tangannya menekan kepala Marinka dan tangan satunya mengelus punggungnya.
Kini dia beralih ke bagian leher Marinka, sesuatu yang dia tahan kini akhirnya bisa dia nikmati sebentar lagi. Marinka terbuai, hingga dia melenguh kecil dengan sentuhan Felix di bagian lehernya. Felix senang mendengar lenguhan kecil dari bibir Marinka, membuat dia bersemangat untuk terus mencumbu istrinya di dalam mobil.
Mobilnya memang tertutup dari supir dan juga Freid di depan. Felix lebih leluasa mencumbu Marinka, hingga gaun pengantin Marinka hampir terbuka di bagian punggungnya. Tangan Felix terus mengelus lembut punggung Marinka, sedangkan bibirnya masih berpaut di leher Marinka.
Lalu beralih ke bagian dadanya, Marinka semakin terbuai. Dia meremas rambut Felix, sesuatu yang belum pernah dia rasakan ternyata sangat membuatnya terbuai. Beberapa kali dia melenguh karena Felix berhasil membuka gaun bagian dadanya.
Tampak menyembul dua bukit kembar di depannya. Dan tanpa membuang waktu, Felix langsung memainka pusaka kembar milik Marinka itu. Lagi-lagi Marinka melenguh panjang, dia semakin terbuai dengan permainan Felix itu.
"Felix, aaah."
"Emm, kamu ternyata baru merasakannya?" tanya Felix kembali meraup bibir Marinka.
Marinka mengangguk, dia terus meladeni suaminya yang tampak sudah mesum sekali padanya. Tangannya sudah mulai bergerilya di bagian perut dan pahanya. Lenguhan kembali keluar dari bibir Marinka, dia tampak semakin gelisah.
"Felix."
"Iya sayang."
"Aku ...."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Tapi, apakah akan ...."
Tok tok tok.
Pintu mobil dari luar di ketuk, tandanya mereka sudah sampai di hotel. Felix mendengus kesal, dia pun membalas ketukan dari luar itu. Lalu membantu Marinka merapikan gaun pengantinnya.
"Kita keluar sayang, sudah sampai di hotel." kata Felix.
"Oh, sudah sampai?" tanya Marinka.
"Iya. Kita lanjutkan di kamar hotel saja." kata Felix kembali mencium bibir Marinka.
"Emm, ya." kata Marinka sedikit kecewa.
Felix tersenyum, dia tahu istrinya itu sudah hampir sampai. Tapi ternyata harus keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam hotel.
_
Setelah Felix memenuhi hasratnya pada istrinya, kini dia harus menghadiri pesta pernikahannya sendiri di ballroom hotel. Hampir semua sudah datang tamu undangan di dalam ball room tersebut. Dan Felix sedang bersiap, begitu juga dengan Marinka.
"Kamu sakit sayang?" tanya Felix.
"Ya, dan lelah juga." jawab Marinka sedang di bantu oleh perias make up.
Felix tidak canggung bertanya seperti itu, karena periasnya adalah seorang laki-laki yang berwajah perempuan. Dia ahli make up yang sengaja di datangkan dari luar negeri untuk merias istrinya.
"Kalau begitu, bagaimana jika kamu tidak ikut saja di pesta itu. Kamu kelelahan dan sakit." kata Felix merasa cemas juga dengan istrinya.
Dia terlalu bersemangat dengan mengeksekusi Marinka. Karena sejak dulu memang dia ingin melakukannya dengan secepatnya. Begitu sudah menjadi istrinya, dia sampai lupa dengan keadaannya yang sekarang mau menghadiri pestanya sendiri.
"Sudah selesai tuan. Apa anda dan nyonya mau ke ball room?" tanya perias make up tersebut.
"Ya, kami akan kesana." jawab Marinka.
"Baiklah, saya permisi dulu." katanya lagi.
Perias itu keluar, Marinka mencoba berdiri di pegangi tangannya oleh Felix dan mereka melangkah pelan keluar dari kamar hotel. Freid sudah menunggu di depan kamar, dia sudah menyiapkan kursi roda untuk Marinka.
__ADS_1
"Anda menggunakan kursi roda saja nona, biar nanti saya yang mendorongnya sampai di ball room." kata Freid.
"Hei, kamu tahu sekali apa yang di butuhkan istriku." kata Felix menatap datar pada Freid.
"Karena aku tahu pasti, tuan tidak akan membiarkan mangsa lewat begitu saja di depan mata." kata Freid.
"Heh! Kamu sangat mengerti aku. Baiklah, terima kasih. Biar aku saja yang mendorong kursi rodanya." kata Felix.
Marinka diam, dia merasa terbantu dengan kursi roda itu. Akhirnya dia pun duduk lalu menatap suaminya agar segera pergi ke ball room untuk menghadiri pestanya di sana.
Tidak butuh waktu lama, hanya naik lift dari lantai tiga kemudian mereka sampai di ball room. Tampak sudah banyak yang hadir, Freid membisikkan sesuatu pada bosnya. Kalau semuanya sudah aman dan tidak ada undangan yang mencurigakan. Apa lagi Anderson, memang dia tidak di undang karena akan mengacau acara Felix saja.
Felix dan Marinka menuju pelaminan, musik sudah sejak tadi mendayu di ruangan ball room yang tertutup. Ada artis internasional yang sengaja di undang untuk menyanyikan lagu bagi kedua mempelai.
Felix menghadirkan penyanyi Adellie yang sudah mendunia, atau Elton Jhonny yang melegenda di Inggris dan sering di undang oleh keluarga kerajaan. Mereka adalah tamu spesial untuk hadir dan menyanyi di depan kedua mempelai.
Marinka sangat senang Felix menghadirkan kedua penyanyi terkenal itu. Dia memeluk suaminya dan menciumnya dengan cepat.
"Kamu memghadirkan mereka Felix?" tanya Marinka dengan berbinar.
"Tentu saja sayang, aku hadirkan mereka untukmu. Kamu mengidolakan mereka berdua kan?" tanya Felix.
"Oo, Felix. Kamu benar-benar memberiku hadiah yang sangat menyenangkan. Mereka adalah idolaku, apa aku bisa bersalaman dengan mereka?" tanya Marinka.
"Ya, tentu. Setelah mereka menyanyi untuk tamu. Dan aku meminta mereka menyanyikan khusus untukmu." kata Felix.
"Oh ya?!"
"Nanti dengarkan ya, I love you Marinka." ucap Felix menatap wajah istrinya yang berbinar karena senang dua idolanya hadir di pernikahannya.
Marinka tersenyum, dia menatap balik suaminya itu. Lalu Marinka memberikan ciuman pada Felix, tapi Felix justru menahan Marinka agar terus berciuman.
Tampak para undangan juga menikmati penyanyi yang di hadirkan oleh mempelai. Mereka banyak mengobrol masalah apa saja, terutaka tentang suhu politik di Inggris dan juga tentang pekerjaan masing-masing. Tak lupa juga Felix mengundang pangeran Gabriel tetapi dia belum datang di acara pesta pernikahan Felix dan Marinka tersebut.
_
_
********************
__ADS_1