Terjebak Gairah Dua Mafia

Terjebak Gairah Dua Mafia
15. Di Dalam Pesta


__ADS_3

Felix tampak senang sekali membawa Marinka ke pesta. Tapi dia juga merasa khawatir akan ada laki-laki yang mendekati Marinka dan bicara dengannya.


Meskipun begitu, dia sengaja membawa anak buah dan ikut berjaga di luar agar tidak ada yang mengganggu Marinka. Namun, di pesta itu tidak boleh ada orang tanpa undangan, memang kebanyakan undangan membawa bodyguard masing-masing, tapi hanya satu orang saja yang boleh masuk ke dalam.


"Tuan, di dalam pesta semuanya tidak boleh masuk, kecuali satu bodyguard. Menurut anda, apakah aku harus ikut juga?" tanya Freid dari sambungan komunikasi pada Felix.


"Kamu ikut denganku, menjaga Marinka jika aku di ajak bicara dengan tamu yang lain." kata Felix menatap Marinka.


"Baik tuan."


Marinka mengerutkan dahinya, dia juga menatap Felix. Namun kemudian dia menggeleng kepala karena rasanya dia tidak akan bebas di dalam pesta. Lagi pula, di sana siapa yanv mengenalnya?


"Apa yang kamu pikirkan Marinka?" tanya Felix.


"Tidak ada. Hanya aneh saja, kenapa aku harus di jaga oleh anak buahmu?" tanya Marinka.


"Karena di sana berbahaya, meski itu pesta yang di jaga ketat. Tapi mata laki-laki akan selalu mencari celah agar bisa dekat denganmu yang terlihat cantik ini." kata Felix.


"Kalau begitu, kenapa kamu membawaku ke pesta?" tanya Marinka.


"Untuk memperlihatkan betapa aku sangat senang membawamu pergi ke pesta. Tanpa adanya persaingan lagi." kata Felix dengan santai.


Dia akan melihat bagaimana terkejutnya Alex ketika dia membawa Marinka. Meski dia juga takut Alex akan menginginkan Marinka juga. Karena laki-laki itu tidak akan puas jika Felix lebih tenang dalam hidupnya. Dia tidak mau Marinka jatuh ke dalam pelukan laki-laki itu, meski dia menganggap Marinka gadis yang akan di jadikan pelampiasan gairahnya.


Mobil berhenti di depan gedung mewah, beberapa orang memeriksa keadaan mobil dan juga memantau dengan cctv. Felix keluar dengan di bukakan pintu oleh Freid.


Dia menggandeng Marinka untuk masuk dan di periksa sebelum memasuki area pesta. Penjagaan ketat dengan berbagai cara, ada yang juga dengan light detector dan pemeriksaan tubuh juga.


"Jangan periksa dia, dia tidak membawa apa-apa." kata Felix ketika salah satu penjaga ingin memeriksa Marinka.


"Baik tuan, hanya light detector saja." kata penjaga itu.


Dia lalu menempelkan alat light detector ke seluruh tubuh Marinka. Freid sendiri karena bodyguard, dia di perbolehkan membawa senjata api hanya satu saja. Salah satunya dia berikan pada anak buanhya yang berjaga di depan.


Felix dan Marinka masuk ke dalam gedung yang sudah terlihat mewah dari luar. Marinka merasa takjub dengan gedung itu, matanya mengelilingi semua aksen gedung yang di buat begitu mewah.


Felix membawa Marinka berjalan dengan pelan, dia melihat sekeliling orang yang menatap padanya. Terutama pasangan Felix yang tidak biasa membawa orang selain dari ras Eropa.


Bisik-bisik pun di mulai membicarakan Felix yang membawa Marinka. Felix hanya tersenyum miring, dia yakin orang-orang itu membicarakan Marinka.


Laki-laki berjas hitam dengan tersenyum lebar menghampiri Felix. Dia adalah pemilik pesta mewah itu.


"Hahah, tuan Felix datang juga akhirnya. Siapa yang anda bawa tuan Felix?" tanya pangeran Gabriel memandang Marinka dengan penasaran.


"Hanya seseorang, anda tidak akan mempedulikannya." jawab Felix.


Dia melihat pangeran Gabriel menatap Marinka berbeda. Dia kesal juga, tapi akhirnya mereka pun mengobrol berbasa basi. Sedangkan Marinka bingung harus melakukan apa.

__ADS_1


Felix sibuk menyapa beberapa orang kenalan di sana, sedangkan Marinka masih diam saja. Dj belakangnya Freid menjaganya kemana dia berjalan.


"Apakah seperti ini pesta orang-orang penting?" tanya Marinka pada asisten Felix.


"Ya nona, mereka bertemu dan sebentar lagi ada acara intinya." jawab Freid.


"Acara inti? Apa itu?"


"Biasanya pelelangan benda kuno yang di miliki kerajaan. Dan ada juga yang mau menawarkan sebuah saham atau apa pun itu. Banyak yang di lakukan di acara inti tersebut, tapi biasanya itu tidak membuat orang tertarik. Mereka akan tertarik dengan saling sapa pasangan mereka." kata Freid lagi.


"Jadi, aku harus menyapa mereka?" tanya Marinka.


"Tidak, tuan Felix tidak mengizinkan anda menyapa mereka. Anda tetap bersama saya." kata Freid.


"Hemm, begitu ya." kata Marinka.


Sama saja dia di bawa ke pesta itu hanya sekedar menemaninya dari luar dan masuk ke dalam. Sedangkan sampai di tempat pesta dia di campakkan, Felix sendiri sibuk dengan rekan bisnisnya.


Tapi itu kesempatan Marinka untuk pergi dari tempat pesta itu. Mencari celah di mana dia bisa kabur, meski dia bingung harus pergi kemana. Dia buta akan negara ratu Elizabeth dua itu.


"Tuan Freid, bisakah saya ke kamar kecil? Saya harus buang air kecil dulu." kata Marinka mencoba menjalankan rencananya.


"Saya antar nona." kata Freid.


"Tapi, apakah anda akan ikut masuk juga?"


Marinka diam, dia lalu menurut. Mengikuti kemana Freid berjalan, matanya mengelilingi semua sudut ruangan pesta itu. Tangannya di cekal dari belakang, Marinka menoleh.


"Kamu mau kemana?" tanya Felix pada Marinka yang terkejut.


Freid pun menoleh dan mundur beberapa langkah. Marinka menoleh pada Freid.


"Aku mau ke kamar kecil, Freid mengantarkanku." jawab Marinka.


"Nanti saja, ikut aku." kata Felix.


"Tapi, aku mau buang air kecil." kata Marinka.


"Nanti aku antar, jangan membantah." kata Felix menekan suaranya.


Mau tidak mau Marinka pun menurut, ada rasa takut juga melihat wajah dingin Felix yang belum pernah dia lihat. Freid hanya diam di belakang, mengikuti kemana sang bos melangkah.


Felix berpapasan dengan Alex, tapi Felix tidak menghiraukan Alex yang mencibirnya dengan senyuman tipis itu. Wajah Marinka tertutup kepala Felix ketika Alex memandang sinis padanya.


"Kamu sudah tidak berminat bersaing lagi, Felix?" tanya Alex.


"Aku malas bersaing dengan pecundang sepertimu." jawab Felix.

__ADS_1


"Hahah! Jadi kamu mengakui kalau aku jago dalam menaklukkan apa pun. Kamu yang pecundang Felix! Hahah!" ucap Alex melangkah meninggalkan Felix yang terus berjalan tanpa berniat meladeni Alex yang meledeknya itu.


"Felix, mau kemana kita?" tanya Marinka.


"Ke sebuah kamar." jawab Felix.


"Apa?!"


"Jangan berteriak, Marinka!" ucap Felix menekan ucapannya.


"Tapi, mau apa di kamar?" tanya Marinka mulai gelisah.


Dia takut Felix melakukan hal yang di luar keinginannya. Sejak dia di bawa ke mansionnya, Felix seperti memandangnya sebagai perempuan pemuas saja. Tetapi kenyataannya, Felix tidak menyentuhnya sama sekali.


Kemudian kini? Dia takut Felix melakukan tindakannya itu. Felix menatap pada Marinka yang ketakutan, lalu dia tersenyum smirik.


"Apa yang kamu takutkan, Marinka?" bisik Felix.


Mereka berhenti tepat di tengah di mana khusus untuk berdansa. Dia menatap wajah Marinka yang ketakutan, tangannya mengelus pipi gadis itu dengan pelan. Tangannya pun menarik pinggang Marinka, lalu seolah musik sudah menunggunya. Felix menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri dengan menarik pinggang Marinka.


Mereka berdansa dengan orang-orang yang juga ikut berdansa lagu romantis. Felix menatap wajah Marinka yang ketakutan itu, ingin sekali dia mencium bibir yang merekah. Wajahnya maju mendekat pada wajah Marinka. Dan lagi-lagi Marinka pun menoleh ke samping.


Wajah Felix memerah, hatinya kesal sekali kenapa Marinka tidak mau dia cium. Matanya terpejam, giginya bergemeratak menahan malu dan kesal. Harga dirinya runtuh di depan Marinka.


"Kamu pergi sana, katanya mau ke kamar kecil." kata Felix meninggalkan Marinka.


Marinka tertegun, dia tidak mengerti kenapa Felix mudah sekali marah padanya. Hanya karena dia menolaknya di cium.


"Freid, antarkan Marinka ke kamar kecil!" ucap Felix.


"Baik tuan." kata Freid.


Marinka menatap kepergian Felix, lalu dia pun mengikuti kemana Freid melangkah. Tiba-tiba pikiran Marinka kacau, namun kemudian dia tersenyum.


"Nona, itu kamar kecilnya. Anda bisa masuk dan saya menunggu di depan pintu." kata Freid.


"Iya, terima kasih."


Marinka pun melangkah ke kamar kecil. Dia menoleh ke arah Freid, lalu masuk ke dalam.


"Bisa-bisanya tuan Alex hilang harga dirinya sebagai lelaki hanya karena di tolak mencium gadis itu. Tapi tetap saja melindungi gadis kecokelatan itu." gumam Freid.


Dia kini berjaga di depan kamar kecil, menunggu Marinka selesai membuang hajatnya. Sedangkan Marinka di dalam saja sedang berpikir bagaimana dia bisa kabur dari penjagaan Freid di depan kamar kecil itu.


_


_

__ADS_1


*******************


__ADS_2