Terjebak Gairah Dua Mafia

Terjebak Gairah Dua Mafia
30. Naik Pesawat Pribadi


__ADS_3

Siang hari, semua sudah di siapkan, dan Felix memutuskan untuk mengantarkan Marinka dengan pesawat pribadi saja. Sesuai dengan pikiran Freid, takut Marinka di culik lagi oleh Alex. Maka dia pun akan mengantar Marinka dengan pesawat pribadi dengan beberapa anal buah yang akan menjaga mereka.


Sedangkan Freid akan kembali ke Inggris, mengurus semua bisnis Felix. Apa lagi sekarang Anderson masih gencar ingin kilang minyak yang di miliki oleh Felix.


Marinka senang dia akan kembali pulang ke Indonesia. Lordes merasa senang jika Marinka senang, tapi dia juga sedih karena tidak bisa lagi bertemu dengan Marinka.


"Nona senang mau pulang ke Indonesia?" tanya Lordes.


"Ya Lordes. Aku sangat senang, aku akan bertemu dengan mamaku." kata Marinka dengan senyum mengembang.


"Saya turut senang nona, tapi juga sedih. Tidak akan bertemu nona Marinka lagi." kata Lordes.


Marinka menatap Lordes, pelayan yang baik menurutnya. Juga dua pelayan lainnya, tapi Lordes sangat baik padanya. Marinka pun memeluk Lordes, dia juga sedih harus berpisah dengan pelayan itu.


"Mungkin suatu saat kita bisa bertemu lagi, Lordes." ucap Marinka untuk menenangkan pelayan itu.


"Ya, semoga nona." ucap Lordes, berharap Marinka akan datang lagi dan bertemu dengannya.


Setelah semuanya di siapkan, kini mereka pun keluar dari kamar. Tidak banyak yang di bawa, karena Marinka tidak punya apa-apa, hanya tas selempangnya dulu sewaktu dia di culik masih dia bawa.


Felix menghampiri keduanya, dia berpakaian jas lengkap. Tampak sekali wajah tampan nan dingin itu, membuat Marinka jadi merasa sedikit takut. Tapi kemudian dia di tenangkan oleh Lordes dan jangan takut lagi pada Felix.


"Kamu sudah siap?" tanya Felix pada Marinka.


Marinka menoleh ke arah Lordes dan dia pun mengangguk.


"Nona sudah siap tuan." jawab Lordes.


"Baiklah, alangkah baiknya kamu jawab saja. Jangan hanya mengangguk, aku tidak akan memakanmu." kata Felix dengan ketus.


Ucapan yang sama ketika pertama kali dia membawa Marinka ke mansionnya. Dan itu di ingat oleh Marinka. Marinka sendiri mendengus sebal dengan ucapan Felix itu.


"Kalau tidak mau mengantarku pulang, sebaiknya jangan ikut!" ucap Marinka lebih ketus lagi.


Membuat Felix dan Lordes kaget. Felix tersenyum miring, kemudian dia berhenti berjalan. Marinka kaget, dia pun menghentikan langkahnya.


"Kamu mau pulang sama siapa jika tidak di antar olehku?" tanya Felix tak kalah ketus.

__ADS_1


"Heh! Aku pulang sendiri!" ucap Marinka.


Semua yang ada di sana kaget dengan perubahan cepat dan aneh itu. Tapi tidak ada yang bersuara, begitu juga dengan Lordes. Dia membiarkan Marinka dan Felix berdebat seperti di mansion dulu.


"Naik apa kamu pulang?"


"Apa saja, yang penting aku pulang!" ucap Marinka kesal dan menatap tajam pada laki-laki yang sedang memandangnya sinis.


Felix mendekat, dia lalu tersenyum dan berdiri di depan Marinka.


"Kamu sungguh berani ya sama aku?" tanya Felix.


"Siapa kamu? Laki-laki yang hanya punya kekuasaan saja, bisanya memaksa. Apa karena kekuasaan dan kekayaanmu bisa membeli semuanya?"


"Tentu saja. Kamu belum tahu seberapa besar dan seberapa banyak kekayaanku." ucap Felix.


"Sudahlah. Antarkan aku pulang!" ucap Marinka menyingkirkan lengan Felix dengan kasar.


Dia melangkah dengan cepat meninggalkan Felix yang sejak tadi di depannya. Felix tersenyum miring, dia berbalik dan melihat kemana Marinka melangkah. Sesungguhnya dia senang jika Marinka berubah seperti itu, dan itu lebih baik dari pada takut padanya.


Wajah Marinka pun berubah kembali datar. Secara perlahan wajah itu berubah jadi tadi sewaktu melihat Felix takut. Lordes yang menyadari perubahan itu pun langsung mendekat pada Marinka.


Felix pun mendengus kasar melihat perubahan wajah Marinka tadi. Rasanya dia tampak kecewa lagi, tapi dia pun segera melangkah keluar dari villa. Dia menuju mobil yang sejak tadi sudah siap, menatap Marinka.


"Marinka! Cepatlah, kamu mau pulang atau mau tinggal di sini?" tanya Felix.


"Ayo nona, tuan Felix sudah menunggu anda." kata Lordes.


Marinka pun mengangguk, dia melangkah pelan dan masuk ke dalam mobil Felix. Marinka ragu, tapi akhirnya pintu di tutup. Dia mendengus pelan, mobil pun melaju dengan pelan seiring nafas Marinka berhembus. Begitu kira-kira perkiraan Marinka, dia pun menoleh pada Felix yang duduk dengan tenang.


Dia menggunakan kacamata, duduk dengan mata memandang ke depan. Sejenak Marinka terkesima dengan penampilan Felix itu, dia menatap dengan lama. Kemudian dia sadar dan menoleh ke arah jendela.


Dia senang sekarang rasa takutnya pada laki-laki di sebelahnya itu sudah hilang. Marinka pun tersenyum tipis, ternyata Felix bisa menghilangkan rasa traumanya saat ini.


Tak terasa mobil pun sampai di landasan khusus, mobil berhenti dan Felix pun keluar dari mobil. Marinka masih diam, Felix menunduk dan menatapnya heran.


"Cepat turun?" tanya Felix.

__ADS_1


"Oh ya." kata Marinka.


Dia segera turun dari mobil. Dia melihat pesawat putih berlogo nomor dua puluh satu dengan angka besar dan ada tulisan kecil di sana. Juga berbendera negara Inggris.


"Ayo kita masuk pesawat. Sebentar lagi akan berangkat, perjalanannya jauh. Jadi kita harus cepat masuk." kata Felix.


Marinka mengangguk, dia melangkah mengikuti Felix di belakang. Lima anak buah Felix juga ikut masuk dan ada juga yang berjaga. Sejenak Felix memberi perintah pada anak buahnya untuk memberi kabar pada Freid.


Marinka masuk dalam pesawat, ternyata di saja juga ada dua pelayan perempuan dan juga Buddy. Buddy yang akan menjaga dan mengawal Felix sampai di negara Marinka, serta bodyguard Felix ikut serta.


Perjalanan kali ini benar-benar sangat di kawap dengan ketat. Meski di dalam pesawat dan siapa yang akan menyerangnya, tetapi ketika sampai di negara Indonesia Felix harus waspada. Karena bisa jadi anak buah Alex juga mengincarnya di sana.


Dia punya rencana lain ketika sampai di negara itu, tapi dia harus tahu keadaan di sekitar rumah Marinka. Felix sudah berkordinasi dengan beberapa orang mafia di negara Marinka. Dia sudah menyiapkan semuanya ketika Marinka pulang ke kotanya.


"Kamu senang mau pulang ke negaramu?" tanya Felix saat mereka duduk bersebelahan.


"Ya, aku senang. Dan terima kasih tuan Felix." kata Marinka.


"Jadi, kamu sudah tidak takut lagi denganku?" tanya Felix.


"Sedikit." jawab Marinka.


"Hemm, baiklah. Kamu ternyata masih takut sama aku, padahal kita selama dua bulan bersama. Tapi kamu masih takut saja denganku." kata Felix dengaj dingin.


"Maaf." jawab Marinka merasa bersalah.


"Tidak apa. Itu prinsipmu, selalu waspada pada orang asing. Dan itu bagus, jangan percaya apa pun pada orang lain yang tidak kamu kenal." kata Felix memberi nasehat pada Marinka.


"Ya, akan aku ingat nasehatmu." kata Marinka.


Keduanya diam, Felix pun pindah duduknya di depan. Karena memang duduk di kursi depan adalah khusus untuknya. Felix memejamkan matanya, dia harus tidur saat ini. Karena masih di wilayah negaranya. Jadi ketika sudah keluar wilayah teritorial negaranya, dia harus waspada.


_


_


******************

__ADS_1


__ADS_2