
Marinka baru sampai di rumahnya, dia melihat ada tetangga baru keluar dari dalam rumahnya dengan membawa keranjang. Berpapasan dengannya kemudian tersenyum, baru kali ini ada tetangga berkunjung sejak ada penjagaan ketat di depan.
Dia masuk ke dalam rumah dan melihat ibunya sedang membereskan buah-buahan. Marinka mendekat.
"Tumben ma, bu Meri datang ke rumah. Bawa buah lagi." kata Marinka mencicipi buah jeruk di meja.
"Iya nih, biasanya dia hanya menyapa di depan. Tapi dia datang ke rumah dan bawa buah-buah ini." kata mamanya.
"Dia kan orangnya suka syirik ma, aneh aja gitu datang bawa buah." kata Marinka.
"Ya, mungkin dia ingin berubah dengan kita."
"Ya, karena kita ngga pernah ladeni dia kalau ngomong sama tetangga lain kan."
"Sudah, jangan bicarakan dia terus. Yang penting dia hari ini sedang baik, dukung dong kalau orang mau berbuat baik." kata mamanya.
"Ya, kalau mau berbuat baik tidak ada maunya sih ngga apa-apa ma. Takutnya dia malah ada sesuatu datang kemari bawa buah lagi." ucap Marinka meletakkan jeruknya karena terasa asam.
Dia melangkah masuk ke dalam kamarnya, mamanya melihat Marinka masuk. Tapi kemudian dia berteriak.
"Kami besok jadi jenguk adikmu di barak, Marinka?!" tanya mamanya berteriak.
"Ya ma, aku sudah bilang sama supir penjaga tadi." jawab Marinka.
Marinka masuk ke dalam kamarnya, rasanya lelah sekali. Tadi di mobil Felix meneleponnya beberapa menit lalu terputus, dia mencoba menghubungi lagi tapi ragu.
"Dia sibuk sepertinya. Apa sesibuk itu ya mengurus perusahaan banyak miliknya? Meski aku tidak tahu apa lagi yang dia kerjakan, tapi sepertinya memang sangat sibuk sekali." ucap Marinka.
Pikirannya menerawang jauh pada kekasihnya, dia membayangkan senyum laki-laki itu dan ketika di rumah jenderal Bima. Sangat berbeda dari penampilannya ketika belum menjadi kekasihnya. Dingin dan datar saja wajahnya, dan terlihat begitu tegas.
Tapi ketika sudah menjadi kekasihnya, bahkan terlewat posesif. Juga lembut, Marinka tersenyum mengingat itu. Sangat lucu sekali dengan Felix yang garang dan berwajah dingin pada musuh-musuhnya.
"Kamu sedang apa Felix?" gumam Marinka.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Tuuut.
Marinka terkejut, dia meraih ponselnya di nakas. Melihat siapa yang meneleponnya. Dan wajahnya tersenyum ketika panggilan video call tersambung di ponselnya.
"Halo?"
"Halo sayang, maaf ya tadi terputus. Kamu sudah sampai di rumah?" tanya Felix di seberang sana.
"Ya, ini baru sampai. Kamu sedang apa?" tanya Marinka.
"Aku mau tidur, baru sampai di mansion. Sebelum tidur, aku rindu sama kamu." kata Felix.
Marinka tersenyum, wajah manisnya terlihat jelas ketika sedang tersenyum di layar Felix. Dia benar-benar merindukan Marinka, ingin dia memeluknya.
"Sayang, i love you." ucap Felix.
"Love you too." balas Marinka dengan senang hati.
__ADS_1
"Uuh, aku sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu. Dan menikah denganmu, apa aku harus datang lagi kesana?" tanya Felix.
"Tidak, sabar saja. Dua minggu lagi kan aku akan menemuimu."
"Aku tidak sabar sayang."
"Besok aku ingin berkunjung ke barak adikku. Mengunjungi dia lebih dulu, lalu pergi ke makam papaku." kata Marinka.
"Hemm, ya baiklah. Ternyata kamu lebih sibuk dari aku ya, banyak sekali yang kamu kunjungi. Ke kantormu, dan ke yayasanmu. Apa lagi?"
"Hei, kamu tahu apa yang aku lakukan semuanya?"
"Tentu saja sayang, aku harus tahu apa yang kamu lakukan dan pergi kemana saja. Aku harus tahu."
"Ish! Posesifnya kamu."
"Aku harus memastikan milikku baik-baik saja, meski dia bebas pergi kemana pun. Kamu tahu diriku dan siapa aku."
"Ya ya, kamu banyak musuhnya. Dan kenapa aku jadi terlibat?"
"Tidak sayang, kamu tidak aku libatkan dalam masalahku. Tapi mereka memang ingin memancingku untuk marah dan berbuat di luar kendaliku. Aku hanya takut kehilangan kamu." ucap Felix.
Marinka diam, dia kemudian tersenyum. Wajar saja Felix bersikap posesif padanya, karena Marinka sendiri memang menyukai laki-laki itu. Dan dia harus siap apa yang akan di lakukannya untuknya.
"Ya aku mengerti." jawab Marinka.
"Beri aku ciuman sayang."
"Tidak mau!"
"Itu hanya semu. Seperti orang gila saja, mencium layar ponsel?"
"Hahah! Baiklah, terserah kamu."
"Kamu sudah mengantuk Felix."
"Tidak. Tunggu sebentar, aku ingin melihat wajahmu Marinka."
Marinka merubah posisinya, wajahnya di sesuaikan di layar ponsel agar Felix bisa melihatnya secara jelas. Kemudian dia tersenyum, lalu bibirnya mengerucut seperti mencium. Felix tertawa, dia membalasnya sama seperti Marinka.
Keduanya pun tertawa, lalu menatap wajah masing-masing dan saling berbisik juga di layar.
"Aku tutup ya? Kamu harus istirahat."
"Oke sayang, daah. I love you."
"Love you too."
Klik!
Marinka menatap ponselnya, lalu meletakkannya lagi ponsel di meja. Dia memejamkan matanya dan bergumam sendiri.
"Aku juga rindu kamu Felix."
__ADS_1
_
Marinka bersiap untuk pergi ke barak bersama dengan ibunya juga. Tak lupa menyiapkan bekal untuk adiknya itu. Dia tahu adiknya menyukai makanan kue mafin buatannya.
Tadi pagi dia membuat secara mendadak, karena dia lupa semalam selesai menelepon Felix langsung tidur.
"Kamu sudah siapkan semuanya Marinka?" tanya mamanya..
"Iya ma. Kue yang aku buat juga sudah aku siapkan. Aku buat sedikit karena semalam aku lupa membuatnya." kata Marinka.
"Tidak apa. Kalau banyak pun biasanya dia bagikan juga dengan teman-temannya.
"Ya sudah, ayo berangkat. Sebentar lagi waktu istirahat jam makan siang." kata mamanya.
"Iya ma."
Marinka membawa bekal kotak makan berisi makanan dan kue buatannya. Dia senang akan bertemu dengan adiknya di barak tamtama. Sejak dia sibuk mengurus jadi relawan kemanusiaan dan sampai sekarang, belum bertemu lagi.
Entah adiknya itu tahu atau tidak statusnya hilang dan di culik sejak jadi relawan di negara berkonflik. Marinka dan mamanya segera masuk dalam mobil yang di bukakan oleh bodyguard Marinka.
"Mama anda ikut juga nona?" tanyanya.
"Iya, sekalian kita di sana."
"Baiklah."
Marinka duduk dan meletakkan bekalnya. Sang bodyguard menghubungi seseorang untuk mengikutinya dari belakang. Keamanannya sekarang dua orang agar lebih mudah menjaganya. Marinka melihat tiba-tiba dari jauh ada dua mobil yang sengaja memang di panggil oleh bodyguard mengikuti mobil Marinka.
"Mereka temanmu, Erick?" tanya Marinka pada bodyguard bernama Erick.
"Iya nona. Biar aman sampai di barak." kata Erick.
"Baiklah, aku seperti seorang putri kerajaan yang harus di kawal setiap pergi." ucap Marinka pelan.
"Resiko punya kekasih seorang bos besar dan kaya raya nona." jawab Erick mengetahui ucapan Marinka dengan pelan.
"Hei, kamu mengerti apa yang aku katakan?" tanya Marinka.
"Saya belajar banyak bahasa nona dan sangat cepat menguasainya." jawab Erick.
"Oh, Tuhan. Ternyata Felix mempekerjakan orang-orang handal semua. Apa lagi yang kamu bisa Erick?" tanya Marinka.
"Apa saja. Memasak pun saya bisa, tapi maaf jika memasak makanan negara nona. Saya tidak bisa. Heheh." kata Erick.
"Waah, ternyata kamu bisa bercanda juga Erick."
"Hanya kali ini. Selebihnya, saya terlalu serius untuk bekerja nona." kata Erick.
"Ya baiklah, pasti bosmu akan marah ya jika kamu bekerja tidak serius." kata Marinka.
Erick tersenyum saja, dia melajukan mobilnya sesuai petunjuk jalan menuju barak TNI untuk menemui adik Marinka yang sedang menempuh pendidikan TNI.
_
__ADS_1
_
******************