
Felix diam, dia menarik nafas kasar mengingat tadi Alex sangat menghinanya. Dia takut pada Marinka yang jadi tawanan Alex. Freid melihat bosnya sangat kacau, meski dia tidak mabuk-mabukan tetapi tetap saja Felix sangat kacau.
"Tuan, bagaimana rencana selanjutnya?" tanya Fried.
"Kamu pastikan anak buahmu masih mengawasi mansion Alex. Apa benar Marinka ada di sana, aku tidak mau dia celaka apa lagi Alex sampai menyentuhnya. Sebelum dia melakukan itu, kamu harus bergerak cepat Freid." kata Felix.
"Ya tuan, aku yakin tuan Alex pasti akan lebih waspada lagi dengan mansionnya. Dan aku rasa dia punya rencana lain." kata Freid.
"Kamu tahu kan tadi dia mengatakan apa? Itu pasti dia lakukan dan mungkin dia akan mengirim sesuatu padaku." kata Felix.
Kali ini, Felix lebih banyak berpikir dari pada minum-minum. Dia tahu nyawa calon istrinya dalam bahaya, apa lagi ibunya.
Felix dan Freid berpikir apa yang akan di lakukan oleh Alex pada Marinka. Apa lagi memberitahu keberadaan gadis itu padanya, ketika keduanya sedang berpikir. Masuk sekretaris Felix sambil membawa kotak berukuran dua puluh senti.
Felix dan Freid menatap kotak itu yang di letakkan di meja.
"Ada paket untuk anda tuan Felix." kata sekretarisnya.
"Apa ini?" tanya Felix.
"Saya tidak tahu tuan. Tapi sepertinya dari tuan Alex." kata sekretarisnya.
Freid dan Felix saling pandang, tentu saja itu adalah sebuah peringatan atau sebuah ancaman dari Alex untuk Felix.
"Kamu boleh pergi." kata Felix.
"Ya tuan."
Sekretaris Felix pun pergi dari hadapan bosnya. Freid dan Felix masih menatap paket yang tadi di kirim oleh sekretrisnya, belum menyentuh apa pun. Freid mencoba memegang paket tersebut, tapi di cegah oleh Felix.
"Tunggu dulu, apa kamu yakin itu paket bukan bom isinya?" tanya Felix.
"Aku yakin bukan tuan, pastinya sesuatu yang membuat anda kaget." kata Freid.
__ADS_1
"Cepat buka. Aku ingin tahu apa yang dia kirim padaku." kata Felix.
Freid pun membuka paket itu dengan hati-hati. Dia yakin itu bukan isi bom atau bahan peledak lainnya, yang dia pikirkan pasti itu sesuatu yang membuat Felix murka tentunya.
Sampai kotak aslinya terlihat, Freid melirik ke arah bosnya. Dia melihat mimik wajah penarasan dan tangannya di gigit-gigit karena cemas apa isi paket tersebut.
Sampai kotak itu di buka, ternyata di dalamnya isinya banyak lembaran foto-foto Marinka dengan berbagai posisi di dalam sebuah kamar. Felix mengambil lembaran foto-foto itu, melihat satu persatu.
Pada foto di mana Marinka yang sedang memakai handuk saja setelah mandi, membuat darah Felix berdesir. Dia menggeretakkan giginya tanda marah.
Benar saja, foto-foto Marinka di dalam kamar di ambil oleh Alex. Dari bangun tidur, selepas mandi di kamar mandi dan juga foto sedang memakai baju. Semuanya ada di sana, Felix mengambil foto-foto itu dan melemparnya ke sembarang tempat dengan berteriak.
"Aaaargh! Brengsek! Dia benar-benar ingin mati di tanganku!" ucap Felix dengan geram.
"Tuan, ada catatan di kartunya." kata Freid.
Freid menyerahkan kartu ucapan pada Felix. Felix pun mengambil dari tangan Freid dan membuka kartu tersebut. Dia membacanya.
'Aku juga memasang di kamar mandi. Uuh, betapa menyenangkan sekali melihat tubuhnya ketika mandi. Apa lagi menciuminya, aku sudah membayangkan semuanya tubuh kekasihmu itu. Rasanya ingin sekali aku mencumbunya dan menidurinya. Kamu akan kalah, Felix. Hahah!'.
"Aaaargh! Bangsat Alex, laki-laki brengsek!" teriak Felix.
Dia marah membabi buta, semua barang di ruangan itu di lemparnya. Freid kaget sekali melihat Felix begitu marah membaca kartu itu. Dia mencoba menenangkan bosnya, tapi sia-sia saja.
Felix masih saja marah dan melempar benda yang tersisa. Freid diam, dia mengambil kartu yang tadi di baca oleh Felix. Tentu saja dia marah, karena Alex sepertinya tahu akan kemarahan Felix bagaimana.
Jika di lihat dari foto-foto yang berserakan itu, memang sepertinya Alex memasang cctv di kamar Marinka dari berbagai sudut. Dan memang mungkin saja di dalam kamar mandi sesuai dengan ucapannya di kartu ucapan tersebut.
"Tuan, tenanglah. Kita akan menyelamatkan nona Marinka. Anda jangan khawatir, aku sudah menyuruh Buddy untuk mengintai mansion tuan Alex. Pasti Buddy menemukan celah bagaimana bisa nanti kita menyelamatkan nona Marinka dan ibunya. Anda jangan khawatir tuan." kata Freid menenangkan bosnya yang masih marah dengan tindakan Alex.
"Kamu harus secepatnya menyelamatkan Marinka! Sebelum laki-laki itu lebih jauh melakukan apa pun pada Marinka." kata Felix.
"Iya tuan. Buddy sedang menyadap semua sambungan komunikasi di mansion itu. Dan juga memeriksa keamanan di sana." kata Fried.
__ADS_1
"Secepatnya Freid. Malam ini juga, kamu harus mendapatkan informasi itu. Aku ingin kesana secepatnya." kata Felix.
"Ya tuan. Aku akan memberitahu Buddy secepatnya agar dia segera melumpuhkan sistem keamanan di mansion tuan Alex." kata Freid.
Felix diam, pikirannya benar-benar kacau. Setelah melihat beberapa foto Marinka dan juga membaca kartu ucapan itu, hatinya semakin kacau. Dia mengambil gelas dan mengisinya dengan wyne. Kemudian menenggaknya hingga habis.
Freid merasa lega bosnya sudah lebih tenang. Dan dia pun menghubungi Buddy, mencari tahu sejauh mana informasi yang dia dapatkan.
"Halo Buddy, bagaimana dengan tugasmu?" tanya Freid.
"Sebentar lagi tuan, saya sedang meretas sambungan komunikasi. Dan sepertinya memang nona Marinka ada di mansion tuan Alex. Tapi belum tahu di ruangan sebelah mana, sedang saya selidiki." kata Buddy.
"Malam ini kita bergerak Buddy. Kita harus secepatnya menyelamatkan nona Marinka. Tuan Felix sedang kacau, dia takut nona Marinka di apa-apa oleh tuan Alex." kata Freid melirik bosnya yang sedang minum.
"Ya tuan, sebentar lagi saya sudah selesai meretas sistem keamanan mansion tuan Alex. Dan sepertinya saya sudah tahu di mana nona Marinka di sembunyikan." kata Buddy.
"Cari juga mamanya nona Marinka, beliau juga harus di selamatkan. Karena kemungkinan rencana tuan Alex pasti akan memanfaatkan ibunya nona Marinka. Aku berpikir sepertinya rencana tuan Alex seperti itu." kata Freid.
Sejak tadi dia menebak-nebak apa rencana Alex pada Marinka. Bisa jadi akan memanfaatkan ibunya agar mau menyerahkan dirinya, dengan mengancam akan membunuh ibunya. Freid tersenyum dengan tebakannya itu.
"Sudah tuan, lalu apa yang harus saya lakukan?" tanya Buddy.
"Kamu selamatkan lebih dulu ibu nona Marinka. Fokuskan pada beliau dulu. Nanti nona Marinka yang akan di selamatkan oleh tuan Felix." kata Freid.
"Baik tuan. Anak buahku akan bertindak sesuai dengan perintah anda."
"Jangan sampai salah, Buddy. Biarkan lebih dulu nona Marinka, kamu fokuskan menyelamatkan ibunya nona Marinka."
"Baik tuan."
Klik!
_
__ADS_1
_
*********************