
Di dalam kamar mandi, Marinka berpikir bagaimana caranya keluar dari kamar mandi itu dengan selamat. Tanpa di ketahui oleh asisten Felix itu.
Satu orang perempuan masuk, dia westafel untuk cuci muka. Marinka memperhatikan perempuan itu, dia pun mendekat dan bicara padanya tentunya dengan bahasa Inggrisnya.
"Maaf, apakah di sinj ada pintu keluar selain di depan?" tanya Marinka.
"Tidak ada." jawab perempuan itu.
"Ooh, begitu ya." ucap Marinka.
Dia lalu berdiri lagi, memikirkan bagaimana keluar dari kamar mandi itu dengan selamat. Dia melihat perempuan itu seperti basah bajunya, lalu Marinka pun akhirnya punya ide juga.
"Maaf, bajumu basah. Kamu bisa sakit kalau pakai baju basah begitu." kata Marinka.
"Iya, ini tadi terkena tumpahan anggur di depan." jawab perempuan itu.
"Kamu bisa mengganti bajunya dengan bajuku. Nanti bajumu aku pakai." kata Marinka.
"Tapi ukuran bajumu kecil. Lagi pula badanku agak besar." kata perempuan itu lagi.
"Tidak apa, coba aja. Kita bisa bertukar pakaian?" tawar Marinka.
Perempuan itu tampak berpikir, dia memperhatikan Marinka dari atas sampai bawah. Lalu dia pun mengangguk cepat dan tersenyum.
"Boleh kita bertukar pakaian."
"Baiklah, ayo ke kamar kecil."
Marinka dan perempuan itu akhirnya bertukar pakaian. Meski agak kecil baju yang di pakai Marinka untuknya, tapi tidak kelihatan kecil. Sedangkan baju perempuan itu sangat muat sekali pada Marinka meski agak kebesaran, tapi Marinka tidak mengapa. Dia ingin lolos dari pandangan Freid.
Setelah selesai, keduanya pun berkaca lagi. Marinka sangat senang, dia mengajak perempuan itu untu keluar bersama.
"Sebenarnya aku sedang menghindari seseorang. Kamu bisa bantu aku kan? Jalan bersama saja denganku." kata Marinka.
"Begitu ya? Apa orang di depan kamar kecil itu?" tanya perempuan itu.
"Ya, benar."
"Baiklah, ayo kita jalan. Biar aku tutupi kamu ya." kata perempuan itu lagi dengan tersenyum.
"Terima kasih." jawab Marinka senang.
Mereka pun berjalan beriringan, Marinka menundukkan kepalanya. Dia berdoa semoga saja Freid tidak melihat dan mencurigainya. Awalnya dia berjalan tenang, tapi ketika mendekati Freid yang berdiri di depan pintu. Marinka berdoa dalam hati semoga Freid tidak melihatnya.
Freid melihat dua perempuan berjalan melewatinya, dia mencurigai keduanya yang lewat seperti menghindar. Ketika dia berjalan mendekat, suara telepon berbunyi. Dia menjawabnya dan kembali ke tempat semula, namun matanya mengarah pada perempuan yang berbaju mirip dengan Marinka.
__ADS_1
"Nanti aku telepon lagi."
Klik!
_
Marinka merasa lega karena bisa bebas dari pandangan Freid tadi. Dia berjalan cepat untuk keluar dari pintu depan, tapi rasanya tidak mungkin dia akan melewati pintu depan itu. Akhirnya dia pun berbalik, tapi ketika berbalik dia pun menabrak seorang laki-laki.
Laki-laki itu terkejut menatap Marinka, begitu pun sebaliknya. Keduanya menatap, lalu Marinka memutusnya dengan membuang wajah ke samping.
"Halo nona, apa anda tersesat?" tanya laki-laki itu.
"Oh, tidak tuan. Saya mau keluar." jawab Marinka.
"Kenapa keluar? Bukankah acara pesta belum selesai?" tanya laki-laki itu lagi.
"Emm, tapi saya ingin keluar. Udara sangat dingin di sini." kata Marinka mengelus pundaknya.
"Apa lagi di luar, memang sebentar lagi musim dingin. Jadi kenapa anda berpakaian terbuka seperti itu?" tanyanya.
"Oh, ini karena saya suka. Heheh."
"Hemm, menarik. Namamu siapa nona? Kalau saya Alex." kata Alex memperkenalkan diri.
"Marinka dari ...." ucap Marinka terputus.
Dia meresa aneh, kenapa Marinka seolah takut dengan Felix.
"Kenapa kamu bersembunyi?" tanya Alex heran.
"Emm, saya hanya tidak mau bertemu Felix." jawab Marinka masih menatap Felix berjalan menjauh.
"Feilx? Kamu kenal dia?" tanya Alex.
"Ya, dia yang menculikku dan di bawa ke mansionnya." jawab Marinka kembali bersembunyi di belakang lengan Alex.
"Menarik. Ceritakan padaku kenapa nona bisa bertemu dengan Felix?" kata Alex.
"Panjang ceritanya, tapi ... Apakah tuan bisa membantuku?" tanya Marinka.
"Emm, tergantung. Saya bisa membantu nona, tapi ceritakan dulu kenapa nona bisa kenal Felix." kata Alex lagi tidak sabar mendengar cerita Marinka.
"Bisakah anda bawa saya keluar dulu? Nanti saya ceritakan di jalan." kata Marinka lagi.
"Baiklah. Saya akan bawa nona ke mansion, dan nona bisa menginap lebih dulu di mansionku." kata Alex dengan senyum mengembang.
__ADS_1
Senyum kemenangan di bibir Alez, dia akan meledek Felix nanti setelah tahu dengan cerita Marinka. Kini Alex membawa Marinka keluar, tapi gadis itu meminta agar anak buah Felix tidak tahu kalau dia keluar dengannya.
"Nona tenang saja, anak buahku juga banyak. Mereka juga berjaga dengan baik di depan. Saya akan menghubungi mereka agar bisa mengalihkan pandangan anak buah Felix. Agar nona tidak terlihat oleh mereka." kata Alex.
"Tapi, tuan mau menolong saya kan?" tanya Marinka menatap Alex penuh harap.
"Tentu, nona jangan khawatir." kata Alex.
"Baiklah, saya ikut dengan anda tuan." kata Marinka.
"Itu lebih baik." kata Alex.
Alex menelepon seseroang, dia memerintahkan anak buahnya untuk mengalihkan pandangan anak buah Felix. Dia mengira pasti Felix akan mencari gadis yang bersamanya itu.
Jika Alex tahu kalau Marinka gadis yang sangat di jaga dan di lindungi oleh Felix. Maka sudah pasti dia akan mencarinya, tapi sebaliknya jika Felix menganggap Marinka perempuan biasa. Maka dia tidak akan mencarinya, satu-satunya dia mengetahui kalau Marinka itu adalah simpanan Felix. Dia harus tahu cerita dari Marinka.
Alex membawa Marinka masuk ke dalam mobilnya. Dia sangat senang sekali, melirik pada Marinka. Wajah gadis itu berbeda dengan wanita yang sering dia bawa untuk di jadikan wanita penghiburnya.
Senyum Alex lagi-lagi mengembang, dia tertarik pada Marinka yang baru saja dia temui itu.
"Ceritakan padaku nona. Nona dari mana, sepertinya bukan orang Eropa. Dan kenapa nona bisa kenal dengan Felix." kata Alex ketika mobil melaju dengan pelan pergi menuju mansionnya.
"Tapi, apakah anda kenal tuan Felix?" tanya Marinka.
Karena dia takut nanti Alex akan memberitahu Felix tentang keberadaannya.
"Emm, ya. Tapi tidak terlalu dekat, lebih tepatnya sih kami ini saingan." kata Alex lagi.
"Jangan katakan pada tuan Felix kalau saya bersama anda." kata Marinka lagi.
"Tidak, coba nona katakan padaku kenapa anda bisa dengan Felix." kata Alex lagi tidak sabar mendengar cerita Marinka.
Marinka pun menceritakan awal mula dia bertemu Felix, hingga akhirnya dia jadi tawanan Felix sudah beberapa minggu itu. Awalnya dia percaya kalau Felix akan melepaskannya, tapi lama kelamaan Felix semakin menahannya.
"Hahah! Jadi nona itu tawanan Felix yang kabur?" tanya Alex.
"Bisa di bilang begitu, makanya tuan bisa membantu saya pulang ke negara saya?" tanya Marinka.
"Emm, akan aku pikirkan. Nona bisa menginap dulu di mansionku ya, aku jamin nona akan aman dari Felix." kata Alex lagi.
Tatapannya penuh misteri, dia punya rencana lain untuk meledek Felix dan mempermainkan laki-laki itu. Senyuman Alex penuh kemenangan pun terus mengembang sepanjang jalan menuju mansionnya, membuat Marinka merasa aneh. Tapi gadis itu hanya diam saja, berharap ucapan Alex itu benar akan menolongnya untuk kembali ke negaranya atau ke kamp pengungsian setidaknya.
_
_
__ADS_1
********************