Terjebak Gairah Dua Mafia

Terjebak Gairah Dua Mafia
46. Felix Tertembak


__ADS_3

Felix tersungkur karena tembakan Alex dua kali. Darah mengucur dari pinggangnya dan juga lengannya.


"Aku sengaja menembakmu di samping, karena kamu pasti memakai baju pelindung. Hahah! Aku tidak bodoh, laki-laki pecundang!" teriak Alex pada Felix yang tersungkur di lantai.


Marinka menjerit kuat melihat kekasihnya tertembak lagi di depannya. Dia menangis, sedangkan Freid berusaha untuk menyelamatkan bosnya.


Freid maju ke depan, Alex menatap tajam pada Freid dan mengarahkan senjatanya pada asisten Felix itu. Freid terus maju untuk mengalihkan pandangan Alex pada Marinka.


Sedangkan Buddy dan anak buahnya sekarang sedang melumpuhkan anak buah Alex di berbagai tempat tersembunyi. Setelah beberapa anak buah lumpuh, kini Buddy segera menarik Marinka dan membawa selimut tebal untuk mrnutupi tubuh Marinka yang tampak jelas sekali lekuk tubuhnya dengan baju transparan itu.


Felix pun berusaha berdiri dengan susah payah, Freid mendekat perlahan. Alex masih mengacungkan senjatanya padanya.


"Kamu mau menyelamatkan bosmu?" tanya Alex sinis.


"Tentu saja, apa tuan Alex merasa semua anak buah anda masih ada?" tanya Freid.


Alex menatap tajam, dia pun menoleh ke sekeliling tempat itu. Dia melihat banyak anak buahnya bergelimpang. Sementara Freid pun berusaha memapah Felix yang tertembak di bagian pinggangnya. Karena memang dia tidak mau memakai baju anti peluru, jadi Alex dengan leluasa menembakinya.


"Kamu pikir kamu hebat? Semua apa yang kamu bisa kamu dapatkan? Ambisi yang buruk, sama halnya dengan keluargamu. Tidak ada yang bagus dan jahat!" ucap Felix memegangi pinggangnya yang terus saja mengalirkan darah.


Freid khawatir dengan bosnya itu, dia di tarik tapi tidak mau pergi juga. Alex menatap sinis pada Felix.


"Matilah kamu, darahmu pasti kehabisan karena peluru itu sangat berbahaya." ucap Alex.


"Sebelum aku mati, kamu yang lebih dulu aku bunuh!" ucap Felix dengan mata yang tajam dan fia mendekat.


Dengan sisa tenaganya dia menyerang Alex, dan lagi-lagi Alex kembali mengarahkan senjatanya. Menembakkannya pada Felix, tapi Felix menghindar dengan cepat. Dia berbalik lalu menoleh ke arah Alex dan dia menghantamkan kepalan tangannya ke arah wajah Alex.


Bug!


Satu pukulan mengenai mata kiri Alex, kemudian Felix pun menghujamkan pukulannya lagi di bagian perut serta pipi Alex. Satu tendangan kuat mengarah ke perutnya. Alex tersungkur, dia pun terjatuh.


"Aaargh!"


Teriakan Alex menggema di sana, Felix mengambil senjata yang terlempar dan mengarahkannya pada Alex.


"Kamu pikir hanya kamu yang pintar? Aku mungkin bisa kamu tembaki. Tapi kamu lupa kalau aku adalah juara vela diri!" ucap Felix.


Alex tersungkur dan terbatuk mengeluarkan darah. Dia berusaha bangkit dan hendak menyerang Felix lagi. Tapi Felix menendang tubuh Alex dan dia pun terjatuh. Felix menembak dua kaki Alex di bagian lututnya.

__ADS_1


Dor! Dor!


"Aargh!"


Felix mendekat, dia berjongkok dan menengadahkan kepala Alex.


"Pecundang! Anak buahmu yang konyol tidak biaa di andalkan. Bahkan asistenmu sendiri mengambil alih usaha milikmu, kamu bodoh!" ucap Felix.


Dia mendapat kabar kalau perusahaan milik Alex yang tidak di perhatikan oleh laki-laki itu, kini di ambil alih oleh Jhon. Asisten Alex yang setia, tapi kini laki-laki itu berhianat dari bosnya.


Dua perusahaan besar milik Alex di ambil alih oleh Jhon. Alex sendiri terkejut dengan ucapan Felix itu, dia menatap tajam dan tersenyum sinis.


"Dia asistenku yang setia! Tidak mungkin dia berhianat padaku!" ucap Alex dengan keras.


"Heh! Lalu, kemana dia sekarang? Apa dia membantumu? Dia bahkan sedang bersenang-senang dengan wanita penghibur di klub malam dasar laki-laki bodoh!" ucap Felix lagi.


Dia lalu bangkit dan pergi meninggalkan Alex yang masih terkejut dengan ucapannya tadi. Apa benar Jhon menghianatinya?


Freid pun memapah Felix hingga keluar dari pagar. Dia harus secepatnya membawa Felix ke rumah sakit untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di lengan dan pinggangnya.


_


"Kamu selalu tertembak ketika ada aku." kata Marinka menatap laki-laki itu yang sedang duduk di ranjangnya.


"Akan aku lakukan apa pun untuk melindungimu. Jangan khawatirkan aku, aku baik-baik saja." kata Felix.


"Bagaimana tidak khawatir, kamu selalu membuatku cemas." kata Marinka.


Dia hampir menangis lagi di depan Felix. Felix menarik tubuh Marinka dan memeluknya. Mencium ujung kepalanya dengan lembut dan memeluknya erat sekali.


"Maafkan aku, aku menarik Erick dari menjagamu. Kupikir selama hampir satu bulan itu kamu baik-baik saja, jadi aku ganti dengan yang lain. Padahal Erick selalu waspada dan sigap menjagamu." kata Felix.


"Aku takut ketika dia datang lagi dan membawa mamaku. Aku juga takut kamu tidak bisa menyelamatkanku." kata Marinka.


Rasa traumanya dengan penculikannya dari Alex terulang lagi. Bahkan dia lebih parah lagi, selalu memantaunya melalui cctv di setiap sudut kamarnya. Bahkan di kamar mandi juga, dia baru tahu ketika Alex membicarakan semuanya tentang gairahnya menatap tubuhnya di dalam kamar mandi.


Dari situ Marinka merasa takut sekali, dia tidak pernah sembarangan melepas bajunya ketika masuk kamar mandi. Karena memang selalu di pantau di setiap sudut kamarnya.


"Dia sudah terluka, dan tidak bisa lagi menculikmu. Setelah pulang dari rumah sakit, kita harus secepatnya menikah sayang." kata Felix melepas pelukannya.

__ADS_1


Dia mencium bibir Marinka dengan lembut, rasanya dia sangat rindu sekali dengan kekasihnya itu. Dia pun melepasnya dan tersenyum senang, membelai pipi Marinka.


"Aku tidak akan membiarkan siapa pun melukaimu. Kamu adalah milikku Marinka." kata Felix kembali mencium bibirnya.


Lama mereka bersentuhan bibir hinga hanyut dengan gairah Felix. Felix mencoba menahannya, tapi dia cepat sadar dan langsung melepas ciumannya itu. Masih menghargai pilihan Marinka untuk tidak di sentuh sebelum menikah.


"Maafkan aku." kata Felix.


"Kamu tidak sabar?"


"Tentu saja. Sudahlah, jangan bahas itu. Aku lapar." kata Felix dengan wajah memerah.


Marinka tersenyum, dia menatap wajah Felix yang memerah itu. Dia lalu mengecup bibir Felix dan menatapnya lagi.


"Terima kasih ya. Ayo kita menikah secepatnya?" kata Marinka.


"Sekarang?" tanya Felix terkejut.


"Emm, setelah kamu sembuh." ucap Marinka mengambil makanan di meja dan akan menyuapinya pada laki-laki itu.


"Huh! Padahal jika sekarang pun tidak mengapa, aku pasti akan menyiapkannya untukmu." kata Felix.


"Mana bisa kamu menyiapkan semuanya, pasti yang sibuk Freid. Kasihan dia, biarkan dia bekerja dengan tenang. Jangan di repotkan dengan urusan pernikahan lagi." kata Marinka.


"Dia asistenku, dan dia juga harus siap dengan tugas dariku." kata Felix membuka mulutnya karena tangan Marinka menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Ya, tapi katanya perusahaanmu sedang rumit. Dan harus di tangani secepatnya." kata Marinka.


"Dari mana kamu tahu?"


"Aku menguping dari pembicaraanmu dengan Freid kemarin."


"Kamu itu ya."


Mereka bicara dan bercanda dengan santai. Felix senang kini Marinka lebih ceria lagi, dia sangat bahagia karena setiap hari selalu di temani oleh kekasihnya yang sangat dia cintai.


_


_

__ADS_1


*********************


__ADS_2