Terjebak Gairah Dua Mafia

Terjebak Gairah Dua Mafia
51. Merusak Pesta Anderson


__ADS_3

Mansion Anderson kini di sambangi oleh anak buah Felix dan juga Felix. Mansion itu tidak di jaga dengan ketat, karena memang Anderson bukan seorang mafia. Hanya saja dia sangat berani melawan Felix.


Meski tahu Felix adalah mafia, tapi sepertinya Anderson memang mengincar bisnis Felix saja. Terutama bisnis minyak mentahnya.


Felix memaksa masuk ke dalam mansion Anderson itu, dia menyuruh anak buahnya untuk mengurus semua penjaga di mansion tersebut.


"Apa anda akan membunuh tuan Anderson di mansionnya sendiri?" tanya Freid.


"Bila perlu." jawab Felix.


"Tapi, apa nona Marinka tidak tahu jika anda melakukan itu?" tanya Freid lagi.


"Tidak. Untuk apa dia tahu tentang ini? Dan jangan sampai tahu aku membunuh banyak orang yang menggangguku." kata Felix lagi.


Freid diam, dia memang tidak memberitahu siapa Felix sebenarnya. Tapi Marinka tahu kalau suaminya adalah mafia yang harus mengalahkan semua musuh-musuhnya dalam bisnis atau pun perang senjata.


Kali ini perang bisnis dengan Anderson, laki-laki masih tidak tahu kekuatan besar milik Felix itu.


Felix melangkah masuk ke dalam, dia berjalan dengan tenang. Di sampingnya Freid dengan setia mengikuti langkah Felix. Sampai mereka di depan pintu di cegah oleh anak buah Anderson.


"Mau apa kalian?!" tanya penjaga itu memgacungkan senjata ke arah Felix dan Freid bergantian.


"Mana bosmu?!" tanya Felix dengan dingin.


"Jangan sekali-kali mendekat atau pun masuk kedalam!" katanya lagi.


Felix melirik pada Freid, dan Freid pun mengerti. Dia mengambil senjatanya dan menembakkan ke arah kaki penjaga tersebut, dan terlepaslah senjatanya. Felix menyingkirkan senjata yang jatuh dengan kakinya, dia melangkah masuk ke dalam.


Freid mengikat penjaga itu agar tidak berteriak dan kabur memberitahu bosnya. Felix sudah geram sekali dengan tingkah Anderson. Dia tidak pernah mengusik orang yang selama tidak mengusiknya, tapi tidak dengan Anderson. Justru laki-laki itu menantangnya.


Felix mengeluarkan senjatanya dan menembakkannya ke atas dua kali. Agar semua di dalam mansion tahu kedatangannya itu, terutama Anderson.


Maid dan juga beberapa orang di dalam pun terkejut. Mereka melihat siapa yang menembak mansion Anderson malam-malam. Felix mengarahkan senjata pada mereka yang melihat.


"Di mana majikan kalian hah!?!" tanya Felix dengan garang.


Semua nampak diam saling pandang. Felix sekali lagi menembakkan senjatanya ke lantai kali ini.


Doorr! Doorr!


Dua kali dia tembakkan, maid itu pun terkejut dan memegangi telinga mereka. Mereka takut dengan Felix, tapi tidak juga memberitahu atau menjawab pertanyaan Felix itu.

__ADS_1


"Kalian takut, tapi di tanya diam saja!" ucap Felix lagi.


Freid dan anak buah Felix masuk, mereka mendekati Felix dan berdiri di belakangnya.


"Cari bos mereka!" kata Felix pada anak buahnya.


"Baik tuan!"


Tiga anak buah Felix pun berpencar, mereka mencari di mana Anderson berada. Felix pun melihat ke lantai atas, dia melangkah menuju tangga. Berniat untuk naik ke lantai dua, dia berpikir pasti Anderson ada di lantai dua.


Sedangkan Freid mengintrogasi para maid itu, mereka menjawab kalau Anderson memang ada di lantai atas sedang berpesta dengan para wanita sewaan dengan teman-temannya.


Anderson tidak mendengarkan apa yang terjadi, beberapa kali suara tembakan Felix itu tidak membuat Anderson keluar dari kamarnya karena kamar itu kedap suara. Freid pun mengikuti Felix naik tangga, dia akan memberitahu Felix kalau tuan Anderson sedang pesta di dalam kamarnya dengan para wanita sewaan.


"Tuan Felix, mereka ada di kamar atas." kata Freid.


"Aku tahu. Pasti mereka sedang asyik dengan pestanya kan?" kata Felix.


"Iya tuan, dan ruangan itu kedap suara. Jadi mungkin pintunya juga sangat kuat dan akan susah di buka." kata Freid.


"Aku tahu. Lakukan apa yang sesuai dengan keadaan di dalam, ambil senjata yang bisa menembus pintu itu."


Freid menghubungi salah satu anak buahnya untuk naik ke atas sambil membawa senjata yang bisa menembus pintu itu. Tak lama, anak buah pun naik. Dia memberikan senjata yang di minta Felix, anak buah itu pun ikut dengan keduanya. Melangkan ke arah ruanganya yang di duga adalah ruang kedap suara.


Mereka berdiri di depannya, Felix menembakkan senjatanya beberapa kali. Hingga pintu itu pun rusak karena tembakan. Orang-orang di dalam yang tadi terdengar riuh rendah pun berhenti. Suara musik dengan begitu menggema masih terdengar.


Felix, Freid dan anal buah Felix masuk ke dalam. Mereka melihat beberapa orang yang hampir telanjang itu sedang berpesta. Para wanita sewaan itu bahkan ada yang sudah telanjang dan sedang di cumbu oleh laki-laki di sana.


Felix menatap jijik dengan semuanya, dia masuk ke dalam. Mengacungkan senjata pada mereka secara bergantian.


"Mana bos kalian?!"


"Dia di dalam kamar." jawab salah satu dari laki-laki yang hanya memakai celana panjang saja.


"Menjijikan kalian. Pesta narkoba dan **** seperti ini sangat menjijikkan." ucap Felix.


Dia pun menuju kamar yang di tunjuk oleh laki-laki tadi. Freid mengikuti, dia menyuruh anak buahnya untuk menjaga orang-orang yang sedang berpesta itu. Dari mereka ada yang segera memakai baju dan juga menghentikan pesta mereka.


Sedangkan Felix mendekati pintu dan mendorong kuat dengan kakinya pintu itu.


Braak!

__ADS_1


Pintu terbuka dengan cepat, dia melihat Anderson sedang di cumbu dua orang wanita sewaan. Anderson pun terkejut, dia duduk dan segera mengambil piamanya. Menatap tajam pada Felix yang sudah berdiri di depannya dengan tatapan sinis.


"Berani sekali masuk ke dalam kamarku?!" teriak Anderson.


"Heh! Dan kamu berani sekali merusak hampir semua kasinoku, Anderson!" teriak Felix membalas ucapan Anderson.


Anderson menatap tajam pada Felix, dua orang wanita segera memakai bajunya dan pergi dari kamar itu agar tidak terkena amukan dua laki-laki di dalam.


"Heh! Kamu marah?" tanya Anderson dengan sinis.


Dia mengambil gelas berisi wyne di meja. Dengan senyuman sinis pada Felix itu, membuat dia ingin meledek Felix. Tapi Felix sepertinya sudah tidak tahan ingin menghajar laki-laki di hadapannya.


Dia maju dan melempar senjatanya di belakang lalu menyerang Anderson dengan beberapa kali pukulan dan tendangan. Anderson pun gelagapan dengan serangan mendadak Felix padanya. Dia tersungkur daj jatuh, tapi belum sempat berdiri. Felix sudah menyerangnya lagi dengan membabi buta.


Bug! Bug! Bug!


Set! Set! Set!


Beberapa kali Felix memukul dan menendang Anderson. Anderson pun melawan dengan kekuatan yang masih tersisa, dia menghindar dan menangkis serangan Felix itu. Tapi beberapa kali tetap saja dia kewalahan. Dan satu kali pukulan di bagian punggung Anderson, Felix memelintir lengan Anderson hingga laki-laki itu pun berteriak kencang karena kesakitan tangannya di tarik.


"Aaaargh!"


"Inilah akibatnya kamu berani mengusikku. Aku tidak peduli bagaimana kamu kalah dan mati secara perlahan. Jangan pernah kamu menggangguku lagi! Bahkan Alex pun sudah aku buat cacat seumur hidup. Apa lagi kamu hanya seekor lalat pengganggu!" kata Felix dengan geram.


Dia melepas tangan Anderson tersebut, ternyata ada tulang yang retak di lengan itu. Felix menatap tajam pada Anderson yang kesakitan. Wajah dingin dan sikap kejamnya mengintimidasi laki-laki itu.


"Kamu mengancamku?! Aku tidak akan membiarkan kamu Felix!" teriak Anderson.


"Silakan saja kamu mengancam balik atau membalasnya. Kupastikan kamu akan hancur dengan tubuhmu yang bau busuk itu!" kata Felix.


Dia pun melangkah pergi, Anderson melihat senjata Felix tergeletak tidak di ambil. Anderson pun mengambil senjata itu dan menembakkan ke punggung Felix, tapi dia sudah lebih dulu di tembak oleh Freid yang baru datang.


Dor! Dor!


Dua kali tembakan ke arah lutut dan tangan Anderson. Sengaja tidak di bunuh langsung, hanya di buat cacat saja. Agar dia tahu kalau Felix itu sangat berbahaya jika sudah di usik semua miliknya.


_


_


******************

__ADS_1


__ADS_2