Terjebak Gairah Dua Mafia

Terjebak Gairah Dua Mafia
24. Di Kamar Marinka


__ADS_3

Freid bersiap untuk pergi ke Yunani. Dia sudah memberitahu bosnya kalau villa itu memang ada Marinka di sana. Buddy sudah memberitahukan sewaktu di teleponnya.


Felix juga tidak kalah bersemangat, dia menyiapkan semua jenis senjatanya untuk melawan anak buah Alex dan akan merebut Marinka dari tangan laki-laki yang sejak remaja itu sudah menjadi musuh bebuyutannya.


"Tuan, kita berangkat malam ini." kata Freid.


"Semuanya harus di siapkan Freid. Jangan lupa mantel buat Marinka." kata Felix.


Dia merasa Marinka di sekap di dalam villa itu, meski itu tidak butuh membawa mantel. Tapi Freid meminta Lordes membawakan mantel juga sesuai perintah Felix.


Pergi ke Yunani tidak menaiki pesawat pribadi. Karena Alex pasti mencurigai dia datang ke Yunani dan akan merebut Marinka dari tangannya, tapi Felix ingin mengendarai helikopter yang biasa di gunakan untuk pengintaian di laut lepas dan mengawasi kilang minyaknya.


Mereka segera pergi dari mansion Felix, mobil sudah di siapkan untuk menuju landasan helikopter yang terletak di pesisir pantai. Tak jauh dari mansion Felix. Ada dua helikopter yang di siapkan untuk.membawa mereka. Satu helikopter akan di naiki Felix, Freid dan lima anak buahnya.


Sedangkan satu helikopter lagi akan di naiki sepuluh anak buah lainnya. Dengan perlengkapan senjata seperti mau berperang, menggunakan baju anti peluru.


Felix nampak tegang, bayangannya akan Marinka tidak bisa hilang dari pelupuk matanya. Kini mereka sampai di pesisir pantai, segera keluar dari mobil dan langsung menuju helikopter yang sudah siap untuk berangkat.


"Malam hari waktu yang tepat untuk datang ke wilayah tersembunyi itu tuan." kata Freid.


"Ini sudah gelap Freid, mau menunggu apa lagi?" kata Felix.


"Ya, makanya kita langsung berangkat saja. Sampai di sana akan tengah malam." kata Freid lagi.


"Di mana kita akan menginap?" tanya Felix.


"Buddy sudah menyiapkan tempat untuk kita, dan di jamin tempat itu tidak akan terdeteksi oleh radar milik tuan Alex." kata Freid.


Helikopter pun sudah terbang, mereka menuju negara di mana Marinka sudah di ketahui keberadaannya. Di villa tersembunyi, menurut Buddy. Alex selalu ada di sana dan tidak pernah keluar dari tempat itu.


Dia benar-benar menjaga Marinka agar gadis itu tidak bisa pergi atau ada yang menculiknya lagi. Sekali pun itu orang asing.


_


Sementara di villa, Marinka begitu frustasi karena kini Alex lebih berani mendekatinya dengan sentuhan yang membuatnya risih. Mata laki-laki itu terlihat begitu bernafsu ingin menyentuh Marinka.


Marinka merasa takut dengan Alex. Dia sebisa mungkin menjaga jarak dengan Alex jika berbicara atau berdekatan dengan laki-laki flamboyan itu.

__ADS_1


"Aku tidak tahu apa yang di inginkan Alex, tapi aku merasa takut jika dia berani menyentuhku lebih dari apa pun. Bahkan Felix yang terlihat begitu dingin saja tidak berani menciumku. Dia bahkan selalu berusaha ingin menciumku." gumam Marinka.


Hatinya benar-benar takut jika kesuciannya Alex ambil. Dia tidak akan menyerahkan itu pada siapa pun sesuai prinsipnya. Menyerahkan pada suaminya kelak.


Ceklek!


Pintu kamar Marinka terbuka. Alex masuk dengan pakaian hanya memakai piama saja. Marinka menatap tajam pada laki-laki itu, lalu membuang muka ke samping.


"Halo manis, kamu sepertinya sedang gelisah." kata Alex dengan senyum mengembang.


Berbeda senyuman itu dari pertama kali Marinka datang. Senyuman penuh misteri itu membuat Marinka takut, tapi dia berusaha tenang.


"Apa kamu butuh sesuatu yang membuat hatimu tenang?" tanya Alex mendekat pada Marinka.


"Tidak terima kasih." jawab Marinka.


Alex tertawa, dia mengambil botol berisi wyne yang ada di lemari kamar Marinka. Marinka heran, sejak kapan lemari itu berisi botol-botol wyne?


Alex mengambil gelas dan menuangkan isi botol wyne. Satu gelas untuknya dan satu lagi untuk Marinka.


"Minumlah, minuman ini bisa menenangkan hatimu." kata Alex.


"Hahah! Kamu ternyata tidak pernah minum? Ini bukan wyne yang mengansung alkohol, hanya sedikit saja. Cobalah." kata Alex.


"Tidak tuan Alex, maaf jangan memaksaku untuk minum itu." kata Marinka berusaha menolak tawaran Alex.


"Hemm, baiklah. Mungkin lain kali kamu akan meminumnya karena penasaran seperti apa rasanya wyne ini. Ini sangat enak dan menghangatkan tubuh." ucap Alex lagi menenggak minumannya.


"Saya tidak tahu kalau lemari itu berisi botol-botol berisi minuman wyne." kata Marinka.


"Ooh, apa kamu tidak pernah memeriksanya?"


"Tidak. Saya tidak pernah merasa penasaran, yang saya pikirkan adalah ingin pulang ke negaraku." kata Marinka.


"Hahah! Itu tidak mungkin sayang, sudah aku bilang aku menyukaimu dan ingin memilikimu seluruhnya. Tubuhmu, wajahmu, dan hatimu." kata Alex menatap aneh pada Marinka.


Kembali wyne dia tenggak hingga habis dan tersenyum penuh seringai. Marinka merasa senyuman Alex itu menakutkan. Dia pun menghindar dan menuju jendela kamar itu.

__ADS_1


Alex memperhatikan Marinka yang menjauh darinya. Dia lalu berjalan mengikuti Marinka menuju jendela kamar.


"Lihatlah, di luar sangat gelap. Di luar juga begitu banyak binatang malam untuk menyanyikan kemenanganku Marinka. Dan sebentar lagi akan jadi milikku. Kamu akan jadi milikku Marinka." kata Alex.


Alex menarik tangan Marinka, Marinka terkejut. Dia menepis tangan Alex dan menatap tajam padanya.


"Tuan Alex, jangan menyentuhku!" teriak Marinka.


"Hahah! Berteriaklah Marinka, di sini tidak akan ada yang mendengar teriakanmu." kata Alex kembali menyeringai.


Dia melangkah maju ke depan Marinka. Marinka mundur cepat, senyum miring Alex sangat menakutkan. Mata dan bibir laki-laki itu sudah tidak sabar ingin sekali mencium bibir Marinka.


"Tuan Alex anda mundur! Kalau tidak?!"


"Apa? Berteriak? Silakan berteriak Marinka, aku ingin menikmaati tubuhmu. Hanya kamu yang lama sekali aku nikmati, tapi kenapa aku begitu sabar. Dan sekarang, aku akan menyentuhmu!"


"Alax!"


Alex tidak peduli teriakan Marinka. Dia menarik tangan Marinka dan langsung menangkap tubuhnya. Dia berusaha mencium bibir gadis itu, tapi Marinka berusaha menghindar dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. Kepala Marinka di tekan bagian belakangnya oleh tangan Alex.


Hingga wajah Marinka tepat di depan wajah Alex. Alex langsung menyambar bibir Marinka dengan cepat dan dia mencium kasar bibir Marinka. Mencoba untuk membuka mulut Marinka, tetapi Marinka terus mengatupnya.


Dia terus berusaha menghindarnya, tapi Alex terus mencium bibir Marinka meski gadis itu berusaha menolaknya. Alex membopong tubuh Marinka dan di lempar di atas ranjangnya.


Baju Marinka di tarik hingga sobek. Mata penuh gairah Alex sangat kentara kalau laki-laki itu benar-benar ingin menyentuh Marinka. Dia terus menarik baju Marinka hingga bagian atasnya robek.


"Alex! Saya mohon jangan lakukan ini!" teriak Marinka.


"Aku tidak peduli! Aku ingin sekali menyentuhmu, kamu tahu. Kamu adalah taruhanku, jika aku bisa menyentuhmu untuk yang pertama. Maka Felix akan kalah. Hahah!"


"Kamu laki-laki brengsek Alex!" teriak Marinka.


Alex terus menarik baju Marinka, hingga roknya juga sudah lepas. Marinka beringsut ke belakang dan menutupi bagian bawah serta dadanya. Alex semakin senang melihat sebagian tubuh Marinka itu. Gairahnya semakin meningkat, dia lalu menarik kaki Marinka hingga gadis itu akhirnya ada di bawah kungkungan Alex.


"Kamu tidak bisa menolakku Marinka!"


_

__ADS_1


_


********************


__ADS_2