Terjebak Gairah Dua Mafia

Terjebak Gairah Dua Mafia
06. Mencari Marinka


__ADS_3

Sementara itu, di kamp pengungsian masih belum sadar kalau Marinka tidak ada. Mereka pikir Marinka memang berada di barak bagian selatan dan belum bisa kembali ke barak utama khusus tempat para relawan medis.


Sang ketua juga belum menanyakan kemana Marinka berada. Dia berpikir Marinka ada di barak bagian selatan.


"Kita kekurangaj obat-obatan kak." kata salah satu rombongan Marinka satu kelompok.


"Kurang ya, apa yang kurang?" tanya ketua rombongan.


"Alkohol sih dan juga obat pereda nyeri serta kain kasa dan plesternya. Semua ada di kotak obat yang di bawa Marinka tiga hari lalu." kata anggotanya itu.


"Jadi, kita harus memanggil Marinka kesini?" tanya ketua kelompok.


"Ya, tidak harus dia kesini. Tapi kotak obatnya barangkali masih ada, kalau minta ke pusat akan lama datangnya. Tadi aku lihat ada korban yang terkena serpihan bom, kulitnya melepuh. Harus di bersihkan dulu dengan alkohol, nanti langsung di obati sebelum kulitnya infeksi." kata anggota lainnya.


"Baiklah, aku segera kesana. Mengambil kotal obat pada Marinka, dia sepertinya sangat di butuhkan di barak bagian selatan dan sibuk sekali. Sehingga tidak menghubungi kita ya. Kasihan sekali." kata ketua kelompok Marinka itu.


Febri, ketua kelompok Marinka itu segera pergi menuju barak bagian selatan. Di mana Marinka bertugas di sana, berjalan cepat menunu barak agar tidak terkena serangan sasaran dari para pemberontak yang setiap hari selalu menyerang para gerilyawan itu.


Sampai di barak selatan, Febri menemui ketua barak. Dia bertanya padanya tentang Marinka yang bertugas tiga hari lalu di barak selatan itu.


"Marinka? Siapa? Dari tiga hari lalu memang meminta relawan medis kemari, tapi tidak ada yang datang. Apa lagi bernama Marinka, apa dia relawan laki-laki?" tanya ketua barak tersebut.


"Dia perempuan, baru bertugas sepuluh hari lalu. Tapi dia datang kemari, bahkan dengan utusan dari barak selatan yang memintanya. Saya yang menyuruh dia ikut ke barak ini." kata Febri.


"Sejak tiga hari lalu tidak ada yang datang ke barak ini. Kemarin ada yang datang dan membantu, tapi dia laki-laki. Itu pun dari barak bagian barat. Bukan dari barak tengah." kata ketua barak tersebut.


"Lalu kemana Marinka?" tanya Febri.


"Coba cari ke barak timur, kemarin ada yang minta datang kesana. Ada yang datang, dan itu relawan perempuan. Barangkali dia di sana." kata ketua barak selatan.


Febri menghela nafas panjang, dia cemas juga jika Marinka tidak ada. Dia khawatir Marinka kena sasaran tembakan dan tidak di ketahui oleh yang lain. Pikirannya kemana-mana, dia berharap semua apa yang dia pikirkan itu salah.


_

__ADS_1


Dua hari Marinka di cari ke setiap barak di wilayah itu. Febri sebagai penanggung jawab relawan rombongan kali ini pun ikut khawatir, dia mencari ke setiap sudut kota itu. Takutnya justru tertembak atau di culik oleh para pemberontak.


"Kak, bagaimana ini. Marinka di setiap barak tidak ada, apa dia di culik sama pemberontak itu?" tanya salah satu temannya.


"Iya, kita tenang dulu. Cari tahu semuanya, kita sebarkan foto dia di setiap barak dan meminta bantuan pada yang lain." kata Febri.


"Tanda pengenalnya ketinggalan di barak tengah, tentu saja dia tidak di kenali oleh yang lain. Karena dia baru seminggu bertugas." kata Suni teman satu tempat tugas itu.


"Pokoknya kita cari dulu, sebarkan fotonya dan jika masih juga belum menemukannya. Kita akan minta bantuan tentara yang bertugas di perbatasan sana, mencari Marinka. Nanti kita minta bantuan lagi pada kantor kedubes di kota." kata Febri lagi menenangkan satu kelompoknya.


Dia yang bertanggung jawab atas Marinka, jadi dia harus mencarinya sampai ketemu. Sebenarnya dia cemas, dia pernah mendengar kalau ayah Marinka itu tewas di medan peperangan dalam tugas kebangsaan di wilayah perbatasan perang saudara seperti di negara ini. Tapi tidak di negara tersebut.


Hanya saja, jasadnya ada dan bisa di bawa pulang. Tapi ini Marinka tidak ada, kemana dia juga tidak ada yang tahu. Petugas dari barak selatan yang mengantar Marinka waktu itu sudah berpindah tugas. Jadi agak susah mencarinya.


Semua sibuk mencari Marinka, di samping tugasnya membantu para korban sipil yang terkena serangan bertubi-tubi. Para pemberontak juga sering melintas di barak utara, karena markas mereka dekat dengan barak utara.


Febri akan menelusuri markas pemberontak tersebut dengan membawa satu kelompok. Bertanya dan menyelidiki di mana keberadaan Marinka.


Marinka merasa aneh dengan penjagaan itu, pelayan juga tidak mengizinkannya pergi dari kamar itu. Dia merasa kesal sekali, ingin bicara dengan Felix.


"Kenapa dia tidak datang kemari? Aku ingin meminta dia membebaskanku. Apa salahku sehingga aku di tahan seperti ini." kata Marinka bicara sendiri.


Dia mengambil tasnya, mencari ponselnya. Tapi tidak di temukan ponselnya itu. Niatnya dia ingin memberi kabar pada Febri, ketua kelompoknya itu atau pada salah satu temannya kalau dia di tahan oleh Felix. Dan dia tidak tahu siapa itu Felix.


Marinka tidak tahu kalau dia berada di negara Inggris. Sudah lima hari dia di tahan di mansion Felix, sang mafia dari Inggris. Dari klan Oliver yang terkenal kejam juga pada lawan mafia lainnya.


Pintu kamar yang di tempati Marinka terbuka. Masuk seorang laki-laki, namun bukan Felix. Tapi dia asistennya, menatap Marinka lekat. Fia juga terkesima dengan wajah cantik Marinka yang alami.


Freid seumuran Felix, dia laki-laki berambut pirang dan tubuh tinggi. Mendekat pada Marinka dan berdiri di depannya.


"Nona Marinka, aku tahu kamu itu siapa." kata Freid.


"Lalu, kalau sudah tahu kenapa kalian tidak membebaskanku? Aku ini petigas medis, harus membantu mereka para korban peperangan di wilayah konflik. Teman-temanku pasti mencariku, tolong tuan lepaskan aku." kata Marinka.

__ADS_1


"Oh, kalau soal membebaskan nona. Tentu saja tidak bisa, tuan Felix akan marah padaku. Jadi maafkan saya nona." kata Freid.


"Heh, bukankah anda adalah temannya? Tolonglah jadi teman yang bail, bebaskan aku dari tempat ini." kata Marinka lagi memohon pada Freid.


"Hemm, jika saja tuan Felix membolehkan saya menyentuh nona. Sudah pasti akan saya bawa nona pergi." kata Freid lagi.


Tuuut.


Suara ponsel Freid berbunyi, dia berdecak kesal. Sudah pasti itu adalah bosnya. Lalu mengangkatnya dengan kesal.


"Halo?"


"Keluar kamu Freid! Jangan ganggu dia!"


"Oke, aku hanya ingin berkenalan saja tuan." kata Freid.


"Cepat kamu keluar! Atau kamu mau aku penggal kepalamu?!" kata Felix mengancam Freid.


"Iya, tuan Felix."


Klik!


"Maaf nona, saya harus pergi dari sini." kata Freid.


"Tuan! Tolong saya! Bebaskan saya!" teriak Marinka.


Freid terus berjalan tanpa mempedulikan teriakan Marinka. Dia menutup kembali pintunya lalu pergi keluar dari kamar Marinka.


_


_


******************

__ADS_1


__ADS_2